Saturday, August 04, 2012

Jonah Lehrer, dan Middleman Penulis Sains Lain

Saya sedang ngikutin berita tentang Jonah Lehrer yang membuat-buat quote Bob Dylan di bukunya, Imagine. Jonah Lehrer ini penulis sains yang populer. Buku sebelumnya, How We Decide juga best seller.

Biasanya saya suka penulis seperti Jonah Lehrer, yang banyak menulis fascinating things tentang riset-riset terbaru dengan cara populer. Saya suka penulis yang menurut saya juga satu genre seperti Lehrer, seorang middleman yang berdiri di tengah para saintis dan pembaca awam seperti saya, yang menyampaikan dengan baik riset para saintis untuk masyaralat awam. Contohnya ialah Charles Duhigg, yang ngarang The Power of Habit ; Joshua Foer, yang nulis Moonwalking with Einstein ; Geoff Colvin (Talent is Overrated) dan tentu saja Malcolm Gladwell.

Para penulis ini menambah value untuk society, soalnya ya akui saja, kadang-kadang periset hebat bukan penulis populer yang hebat. Skill set saintis itu meriset dan menulis untuk jurnal, sementara para middleman ini jago banget bercerita dengan fluid, bikin penasaran, dan kadang-kadang malah ada suspense-nya. Padahal, riset yang dilakukan saintis itu banyak yang sangat menarik, dan berguna. Jadi, sayang kalau ga bisa disampaikan ke khalayak ramai. Sementara buat para pembaca awam, baca jurnal itu berat, dan aksesnya juga kadang-kadang ga mudah. Abis baca "Talent is Overrated" dan "Moonwalking with Einstein" saya telusuri jurnal tentang Deliberate Practice-nya Anders Ericsson. Gile ngabisin satu paper aja lama dan capek banget.

Nah tapi enggak tau kenapa, saya gak pernah baca buku Lehrer. Kayaknya saya punya satu kopi How We Decide (mungkin terjemahan, saya ga inget), dan seinget saya itu ga membekas di saya, tanda buku yang ga berkesan. Saya sempat menimbang beli Imagine, tapi akhirnya urung juga. Kayaknya ga seru. Saya juga dengerin talk-nya di Ted atau di 99percent, dan ga rame juga, hehe... Tapi saya baca kolomnya di New YOrker, tentang Grit, dan yang itu harus diakui bagus, meskipun juga bisa didapatkan dari penulis lain yang juga bahas deliberate practice.

Nevertheless, biar kata ga baca Lehrer, pertanyaan saya waktu pertama denger Lehrer fabricate Dylan quotes itu: Why oh why? Kenapa? Kenapa orang se-talented dia, yang jago baca banyak riset, dan bisa menceritakan kembali dengan sangat baik, merasa perlu untuk ngebikin-bikin quote untuk mendukung ceritanya?

Banyak dugaan, tapi yang paling saya suka adalah tulisan Felix Salmon disini dan tulisan Seth Mnookin disini. Felix's blog is on of my daily reads, and if you're into finance, I really recommend it. Kata Felix, ada dark side dari overemphasis ke narrative story (dia kasih contoh TED talk dimana Lehrer salah satu penggiatnya), dan kata Mnookin, itu tanda arogansi penulis, yang merasa bisa aja mengubah-ubah dan ngebikin-bikin untuk bikin ceritanya lebih meyakinkan. Kalau fiksi sih boleh, tapi Lehrer itu kan science writer.

Emang kerasa sih, menulis yg rigor itu susah. Saya sekarang lagi bikin management report proyek saya, yang sebenernya ga seakademis tesis, tapi teteup aja menuntut rigoritas (apakah ada kata ini? hehe) tertentu, dan kadang-kadang ada aja godaan untuk : ok tulis aja gini...(sambil mengambil cara termudah) daripada ngubek-ngubek data. Tapi ya itu ga etis, dan ga boleh.

Penulis yang baik (dan orang yang baik sih, sebenernya), juga sebisa mungkin ga arogan - artinya kalau ditunjukin kesalahan ya tinggal cek, dan kalau emang salah tinggal akui dan koreksi. Ga usah bikin-bikin alasan sampe bohong segala seperti Lehrer. Menulis itu untuk berbagi kan? Bukan unuk menunjukkan diri pinter atau mau terkenal. Apa yang dituliskan lebih penting dari siapa yang menulis, karenanya penting untuk menjaga isi tulisan tetap benar.

Penulis sejati biasanya humble. Itu juga tanda dia nyaman dengan dirinya dan ga ngerasa mengkoreksi diri sendiri itu berarti kalah.

Moga-moga suatu saat saya bisa sampai level itu, aamiin ;p

No comments:

Post a Comment