Tuesday, July 17, 2012

Tiga Hal tentang Kehilangan Barang


Tadi pagi sepeda saya ilang. Preett. Sebel banget. Pernah inget momen saat pertama menyadari barang anda hilang? Rasanya aneh. Feeling of disbelief. Terus kayak ada yang ambles (“bless” gituh), dari kepala terus ke bawah.

Itu sepeda penuh kenangan. Batavus model sepeda cewek (iya yg kerangkanya itu cekung bukan lurus, soale buat saya lebih nyaman) dengan 6 pilihan gigi kecil (versneeling dalam bahasa belanda, persneling di bahasa Indonesia) dan 3 pilihan gigi besar. Berarti ada kombinasi 18 mode yg bisa dicoba! Berwarna kuning emas, dengan tas sepeda di belakang, lampu yg digerakkan oleh perputaran roda depan jadi ga perlu batere (“green lamp”;-p), dan lampu belakang yg menyala dan bisa terlihat dari 100 meter ke belakang, yang artinya mobil di belakang punya waktu 6 detik untuk menghindar kalau  dia kaget liat sepeda saya dan lagi jalan dengan 60 km per jam – kecepatan rata-rata mobil di jalan kota sini. Super aman, super nyaman.
Ban belakangnya baru. Cuma bel-nya aja ga bunyi, yang bisa dengan gampang digantikan dengan teriakan. Rem bekerja sempurna & super pakem.

Saya beli seharga 125 euro dari Erwin Mols, tukang sepeda di utara Tilburg. Saya pernah kehilangan kunci sepeda, sementara sepeda saya ditinggal dalam keadaan terkunci (2 kunci pula). Untuk kunci pertama, yg mengkaitkan sepeda saya dengan tiang tempat sepeda, saya punya cadangan. Kunci kedua, kunci roda belakang, saya ga punya. Jadilah saya di suatu winter yg dingin menyeret, literally menyeret, soalnya pan roda belakang ga jalan, dari stasiun ke Erwin Mols minta dibuka itu kunci. Si Erwin ngakak aja, and actually congratulated me for “adding some muscle”. Yeah right. Transfer kekayaan dari saya ke Erwin, 44 euro. 15 euro buat jebol kunci, 29 euro buat ganti ban dan pasang baru – tentu saja hukum fisika menyatakan kalau anda menyeret sepeda anda di jalanan kasar sejauh 3 kilometer, gaya friksinya cukup untuk membuat bolong ban anda.

Itu sepeda juga saya bawa di kereta dengan tiket khusus sepeda 6 euro dari Tilburg ke Eindhoven waktu saya pindah. Menemani hari-hari saya bike to work ke kantor di sini.

Jadi, mengingat komitmen dan perbuatan saya, tentulah attachment saya tinggi sekali sama si sepeda.
Dan dengan seenaknya itu maling ngambil sepeda saya!

Pertama tentu soal harga dan biaya yg telah dikeluarkan. Kalau anda udah keluar banyak untuk sesuatu, biasanya anda makin sayang kan? Tapi ya itu sunk cost. Ga bisa balik. Sebagai manusia yg sadar tentang loss aversion dan sunk cost fallacy, harusnya bisa move on dong. Ya kan? Well, ternyata ga mudah. Sebel. Tapi yo wis lah.

Kedua ya masalah attachment tadi. Ini bukan hanya soal barang – tapi kenangan bersama barang tadi. Saya bukan orang sentimental, tapi saya berencana untuk ngirim ini sepeda ke Indonesia, kebetulan udah nemu shipping company yg murah dan bisa kirim sepeda lewat laut. Tapi seluruh kenangan dan harapan itu buyar!
Ketiga, tentu konsekuensi dari kehilangan tadi. Saya jadi nge-bis ke kantor. 1.3 euro berangkat, 1.2 euro pulang. 2.5 euro sehari buat mahasiswa kere itu berarti sekali. To put that into perspective, grocery saya seminggu cuma 25 euro – termasuk beras. Jadi transportation cost signifikan sekali di keranjang pengeluaran saya. Jadilah ada biaya tambahan, terus mikir-mikir lagi apa rencana terbaik.

Yang rupanya masalah pikir-pikir rencana terbaik tadi jadi bagian terbaik dari kehilangan. Anda jadi memikirikan alternative dan nyoba hal baru. Meskipun tadinya anda tahu, tapi kan belum nyoba. Saya jadi tau bahwa sepeda saya waaaayyy overpriced, soalnya ada batavus dengan specs mirip-mirip juga dijual 65 euro doing (Damn, Erwin!). Terus ternyata populasi sepeda di Belanda ini lebih banyak daripada warganya lho! Di tiap stasiun penuh aja gitu sama sepeda, yang kadang-kadang ga diambil. Saya juga sempat tergoda ke stasiun malem-malem terus beli ama jasa “ambil sepeda” disana (anda pilih sepeda apa aja dari parkiran, itu orang bukain kuncinya, anda bayar sekitar 25 euro, bawa pulang itu sepeda. Jangan lupa beli kunci baru ;-p). Tapi yo jangan itu dosa.

Jadi misi saya minggu ini adalah beli sepeda secepatnya, maksimum budget 70 euro lengkap dengan semua (keranjang dan kunci). Terus harus beramal kayaknya nih. 

1 comment:

  1. I must say that ini cerita kehilangan yang penuh ilmu. Hahahaha :))

    Semoga rizkinya diganti dengan yang lebih baik.

    ReplyDelete