Thursday, July 19, 2012

Teori tentang Kemalangan

Saya punya hipotesis begini: kalau anda kena sial, biasanya beruntun dan datang bareng-bareng. Kayaknya semuanya salah aja, dan ada aja gituh. Mari kita bahas.

Di posting kemarin saya cerita tentang kehilangan sepeda. Dan itu bareng dengan gusi belakang saya, tempat tumbuhnya geraham, sakit banget, sampe bengkak. Kayaknya tumbuh wisdom tooth saya (seriously, at this age?), dan gak pada tempatnya jadi nabrak gigi lain. Terus lagi kulit di bawah bibir saya juga kayak pedes dan gatal gituh, yang jeleknya lagi, kalau dioprek-oprek malah merah dan lama-lama item aneh. Tadinya saya biarin aja tuh. Tapi sakit banget dan kayaknya harus ke dokter gigi. Eh, nambahin kemalangan aja, kartu asuransi saya belum dateng, dan saya belum pernah daftar ke dokter umum atau dokter gigi di Belanda (disini sistem kesehatannya ribet tapi well-organized. Kudu daftar dulu ke general practitioner di wilayah anda, terus baru bisa bikin appointment. Ke rumah sakit kalau terpaksa aja, dan ga bisa maen dateng aja ke dokter). Buat daftar ya perlu kartu asuransinya.

Nah tuh, bad luck tends to come in streak, almost simultaneously.

Istri saya sebel banget kalo saya mikir begitu. Soale karena itu yang diyakini, jadi kepikiran terus, dan (anehnya), jadi emang kejadian. Ga tau itu masalah interpretasi saya aja atau emang semesta sedang bersekongkol.  

Setidaknya ada tiga penjelasan. Saya pernah baca tentang bioritme. Kira2 tentang tingkat eling lan waspodo seseorang. Karena ritmis, ya ada saatnya di atas, saat semua yg dilakukan benar dan bagus, saat tubuh sedang fit-fitnya, dan semua pekerjaan beres. Tingkat eling lan waspodo hampir 100%. Ada juga saat di bottom. Pas lagi kurang sehat, lagi kurang waspada.   Ada aja salahnya. Saat banyak lupa. Saat banyak melakukan hal bodoh. Buat olahragawan yang biasanya jago, low biorythm itu saat off day. Ga perform aja gitu. Nah, bad luck datang saat bioritme anda sedang lemah. Anda jadi ga waspada dan ga bersiap. Melakukan kesalahan. Dan karena sedang di low biorythm, you make mistakes a lot. Jadi kemalangan datang beruntun. Ini cuma bahasa sok modern dari hari bagus dan hari jelek aja dalam banyak tradisi. 


Yang kedua adalah.. soal pikiran aja. Maksudnya adalah bias pikiran anda. Yang baca Kahneman pasti tau kalau pikiran kita kadang-kadang inherently ga rasional. Ada fenomena overconfidence, misalnya. Nah ini juga. Karena anda yakin banget anda sedang kena bad luck, dan itu membekas di emosi, pikiran anda jadi bias ke hal-hal negatif dan menginterpretasikan itu sebagai ketidakberuntungan. Dalam kasus saya, karena saya sebel banget sepeda ilang, dan itu membekas, saya mulai menginterpretasikan negatif hal-hal di sekeliling saya. My thinking: oh, I got a bad luck. Look at the evidence: wisdom tooth hurt, skin inflammation, and no insurance card! perfect! Padahal namanya bias, ya itu ga bener. Di hari yang lain, misalnya, saya sakit gusi juga, sakit juga di bawah bibir, terus ga ada kartu asuransi, ditambah sepeda saya yang baru dibeli bermasalah - saya ga merasa sedang dalam kondisi bad luck. Jadi, ini sejenis anchoring. You have one event that really dents to your emotion, and you interpret it as bad luck - eventually to other following events as well. Interpretasi anda terjangkar pada satu event nyebelin yang anda interpretasikan sebagai kemalangan, padahal statistically sih pada hari-hari yang lain sama aja gitu. 


Yang ketiga - shit happens. Period. 


Mana penjelasan yang kira-kira benar? Dan apakah hipotesis saya bahwa bad luck terjadi beruntun itu benar? Teori bioritmis dan perhitungannya konon pseudosains, ga jelas dasar ilmiahnya. Saya lumayan percaya penjelasan kedua. Bias terhadap event gara-gara anchoring. Dan paling gampang percaya tentu sama teori ketiga. Shit just happens, and that's it. 


Jadi kudu ngapain kalo kena sial? harusnya ya nerima aja: shit happens. Ga usah lebay tentang bad luck dst yang bikin anda bias menginterpretasikan semua kejadian. Terus kalau udah bisa nerima, ya lakukan sesuatu atuh. Bioritmis mungkin ga ada ilmiah-ilmiahnya, tapi ya hidup emang kadang di atas kadang di bawah. Dan hal yang bagus saat merasa di bawah, atau di titik nadir adalah, you can't fall any lower than that - the only way is to go up. Abis sial banget ya ga mungkin sial lebih jelek lagi - setidaknya untuk periode tertentu hehe. Semua hal akan membaik. Asal beraksi! *gw udah kayak motivator*

Hal yang baik dari kemalangan juga, itu nasihat yang paling membekas dan membuat berpikir. Saya ngehubungin pihak asuransi agar kartunya dikirim pdf aja - saya dari kemaren udah minta, tapi dasar Londo, mereka bilang itu bukan kebijakan mereka, tapi kali ini saya maksa soale sakit banget dan harus segera ke dokter. Akhirnya mereka mau tuh. Saya kubek-kubek terms & conditions polis saya, ternyata dental treatment bahkan kehilangan di-cover. Siap-siap nge-klaim, hehe. Terus saya udah daftar dokter dan dokter gigi, lumayan jadi tau dokter disini dibandingin dokter di Indonesia. Tentang sepeda, saya akhirnya beli sepeda murah, tentu lebih jelek, tapi setidaknya saya beli dari Spanish girl yang *hawt* banget, wekekekeke...

Dan apakah bad luck itu emang datang beruntun? Ga juga ah. Di hari yang sama saya beresin presentasi dan supervisor saya puas-puas aja. Terus thesis saya juga ada progress. Dengan painkiller sederhana dan kumur2 pake air garam, ini gusi bisa sedikit reda sakitnya. Tidur saya juga enak. Nilai terakhir saya yang keluar juga bagus :)). Jadi beneran bias aja.

Saya ga tau, kalau diitung di kehidupan manusia, apa bener ada orang yang lebih beruntung daripada orang orang lainnya. Mungkin ada, soalnya jelas yang lahir di dunia ketiga atau keempat mungkin lebih tidak beruntung daripada yang lahir di dunia pertama. Tapi kalau orang-orang itu comparable, apa iya ada yang lebih beruntung daripada yang lain? Saya curiga, kalau bandingin orang-orang yang cukup comparable, frekuensi event beruntung sama event malang mirip-mirip.

Ini mengingatkan saya pada studinya Jim Collins di Great by Choice. Dia ngitung tuh frekuensi event beruntung dan ga beruntung di 2 perusahaan yang satu sukses banget dan yang satu biasa aja. Dari semua perbandingan dia, emang mirip-mirip tuh frekuensi beruntungnya. Jadi apa yang beda? Kata si Jim, yang membedakan itu Return on Luck. Yang lebih sukses bisa mengoptimalkan keberuntungan yang menghampiri dibandingkan yang kurang sukses. Jadi return dari tiap event beruntung lebih gede daripada kompetitornya. Perfectly make sense, Imho.

No comments:

Post a Comment