Sunday, July 22, 2012

Krisis Eropa di Keseharian

Eropa katanya krisis. Itu yang sering kita baca. Dari setaun lalu atau lebih deh gejalanya. Tapi nggak beres-beres juga ini krisis. Cuma pindah-pindah aja. Creeping crisis, ceunah. Menunggu "Lehman moment", yang sampai sekarang semua orang berusaha mencegah "lehman moment" tadi. Mencegah lho ya, ga menyelesaikan krisis. Cuma nambal doang.

Terus emang gimana kalau di keseharian, itu krisis kerasa nggak di Eropa?

Di Belanda, sependek pengamatan saya, masih ga kerasa. Orang-orang masih rame belanja, cafe-cafe penuh, bar student malah kudu ngantri buat masuk. Perusahaan-perusahaan juga masih hiring. Pertanda bagus, mengingat susahnya memecat orang disini, jadi kalau dia memutuskan untuk merekrut orang baru, berarti itu sinyal bahwa kondisi ke depan masih baik atau bearable, lah. Cuma saya ga ngerti hiring-nya untuk ekspansi atau mengganti yang keluar dari pasar tenaga kerja aja. Buat engineering, saya masih yakin hiring-nya emang buat ekspansi. Capable engineers masih sangat dibutuhkan Belanda, yang surprisingly ternyata lumayan bagus juga urusan high tech business-nya. Gw kirain cuma jualan tulip doang, hihihi...

Krisis emang banyak di negara periferi Eropa (mau ngomong pinggiran kok ya ga enak). Portugal, Irlandia Utara, Spanyol, Italia, Yunani. Belum sempat liburan kesana, tapi dari cerita orang-orang yang saya temui disini, emang lumayan kerasa sih. Di Italia, temen saya orang Itali curhat karena dia udah ga bisa beli apartemen di Roma lagi. Mahal banget!! Saya heran, biasanya krisis diikuti atau barengan dengan property bust. Cuma kata dia, sejak Euro, harga properti di Roma emang merangkak naik. Well, wajar aja kalau liat yield Italian bond di awal-awal euro yang rendah, free capital movement gara-gara pake single currency, dan kota Roma yang indah. Capital inflow banyak masuk ke Itali, termasuk ke properti. Harga ya jadi naek. Saya juga ga pernah denger Itali invest banyak di properti - ga kayak Spanyol yang mengalami properti bust dan proyek-proyek berhenti di tengah jalan, dan kota mati tanpa penghuni (dan gak pernah dihuni juga).

Yang kasian Yunani ama Spanyol. Saya magang dengan orang Yunani dan Spanyol. Lumayan banyak juga disini. Orang Yunani temen saya sih udah pasrah aja, oblivious. Temen Spanyol saya paling banyak disini. Ada sekitar 6-7 orang dari 12-13 yang magang. Semuanya engineer: telco, computer, electrical. Di suatu makan siang, mereka asik ngobrol dalam bahasa Spanyol. Saya penasaran dong. Terus salah satu dari mereka cerita, mereka lagi menghujat government-nya jadi ya ga enak kalo cerita dalam bahasa inggris, hehe. Ternyata mereka lagi curhat karena Madrid baru aja naikin tax rate-nya. Austerity, austerity everywhere.

Saya nanya seberapa buruk emang kondisinya? Wah jelek banget, kata dia. Terutama buat dia dan temen-temenya yang mau lulus atau lulusan muda. Dari 10 orang yang lulus, kata dia, 8 temennya ga dapet kerja. Dia lagi taun terakhir master. Ada sih kerjaan-kerjaan, tapi part time ga jelas gituh. Yang seminggu kerja, terus seminggu lagi kagak. Terus yang kerja juga digajinya rendah. Dia bilang diantara temen-temennya, dia yang paling lumayan gajinya. Waduh kesian amat, pikir saya. Dia kan magang, dan disini pemagang dapet 900 euro+150 euro transport allowance, yang sebenernya peanuts untuk standar sini (upah minimum disini 10 euro per jam). Pemagang itu tenaga kerja murah yang ngerjain kerjaan supervisornya karena supervisornya terlalu sibuk dengan kerjaan lain, hehe. Tapi kerjaannya ya beneran dibutuhin ama supervisor & company, lha wong di-outsource-kan. Yang magang juga master+ PhD.

Gw ngebayangin, 1050 euro gross aja yang terbaik buat master engineering? (Inget pajak, asuransi dan potongan lain 30-40%!). Lah bahkan beberapa fresh grad atau young grad di Indonesia yang lebih murah aja bisa dapet lebih dari itu, setelah pajak. Biaya hidup di Spanyol emang lebih murah di banding Belanda, kata dia, tapi cuma sedikit lebih murah aja.

Karena kondisi begitu, banyak lulusan temen-temen dia yang eksodus ke negara Eropa yang lebih sehat, kebanyakan ke Jerman dan Belanda yang industrinya masih jalan. Di Spanyol, kata dia, industri high tech pada ditutup. Well, iya juga sih. Ada yang pernah denger powerhouse-nya Spanyol? Yang saya tau cuma Inditex (Zara, Bershka. Itu juga dibuat di bangladesh & di Spanyol cuma dikit manufacturingnya, jadi pusat logistiknya aja) . Dan Barcelona dan Real Madrid, wehehehe...(Barca & Madrid juga banyak utang ;p).

Tambahan lagi, karena subsidi ke perguruan tinggi berkurang (austerity, austerity everywhere!), tuition fee jadi mahal. Dia khawatir, dengan banyaknya eksodus tenaga kerja bagus dari Spanyol, ditambah makin susah perguruan tinggi, Spanyol akan lebih kehilangan daya kompetitifnya di masa depan. Dia juga khawatir. soalnya deep down ya dia mau kerja di negaranya, cuma ya gimana ga ada kerjaan.

Tapi saya bilang, ya baguslah minimal kalian bisa kerja gampang dimana aja di Eropa. Cuma inget, biarpun udah Uni Eropa, free workforce movement ga seperti yang diharapkan. Ide Uni Eropa, salah satunya, karena pengen UE itu jadi kayak United States, yang warganya menikmati kebebasan kemana aja di negaranya, free trade & capital movement. Dagang ama modal itu emang makin bagus menurut statistik. Tapi tidak dengan labor movement. Orang itu sticky banget dengan tempat tinggalnya. Pindah itu lebih susah. Terus lagi, bahasanya juga ga sama. Ga ada negara kontinental Eropa yang bahasanya Inggris. Itu orang Spanyol yang magang juga bahasa inggrisnya ga bagus-bagus amat. Belajar bahasa belanda atau jerman susah, dan minimal perlu waktu. Aturan mungkin bisa direlaksasi dan diselaraskan, tapi bahasa dan lingkungan lebih sulit.

Satu temen saya disini malah seumuran ama saya, artinya dia udah lulus lama, sempat kerja pula, tapi ke Belanda sini untuk jadi intern. Saya ga nanya kenapa dia mau pindah dari kerjaan lamanya, ga enak. Cuma ya kalau ga perusahaannya ditutup, offering di Belanda lebih bagus. Pacarnya kemarin datang, yang kayaknya sih highly educated juga. Kemarin baru interview...buat jadi pelayan di italian bar disini. Dia bilang, it's not the best job, but... Duh. Saya jadi kesian.

Waktu 98 di Indonesia saya masih kecil, dan kebanyakan kita mungkin ga punya memori yang baik untuk mengingat betapa sulitnya kondisi saat itu. Yang kita ingat sekarang-sekarang ini, pas punya tanggungjawab pengeluaran sendiri, alhamdulillah masih baek-baek aja. In fact, Indonesia sedang booming. Terutama buat saya dan anda kelas menengah yang punya waktu 15-30 menit baca artikel ini.

Situasi di beberapa negara Eropa kira-kira mirip dengan kita di 98. Saya juga cerita tentang gimana Indonesia melalui krisis 98. Lebih parah, saya bilang, soalnya krisis kemana-mana. Pemerintahan jatuh. Riot. Pemerintahan Spanyol paling jatuh lewat pemilu, dan riot 'cuma' saat demo, ga kerusuhan massal. Tapi Indonesia bisa bangkit, salah satunya karena rupiah terdepresiasi jauh, sehingga ekspor Indonesia menarik lagi. Dengan segala kekurangannya, ada beberapa program reformasi. tapi ya kita juga baru bisa balik ke kondisi pra 98 setelah 5-7 taunan (secara statistik).

Namun Spanyol ga punya kemewahan buat cetak euro banyak-banyak. Itu masalahnya. Euro emang melemah, tapi yang untung ya Jerman dan negara pengekspor besar - menarik kan pas saat krisis-krisisnya ekspor jerman mencapai rekor?

Mereka ga liat ada solusi dari krisis ini. Putus asa aja gituh. Duh.

1 comment:

  1. spanyol buat wisata solo bagaimana? Amankah?

    ReplyDelete