Friday, November 14, 2008

Mencari Mimpi Indonesia (1)

Buat saya, hal paling menarik dari kemenangan Obama ialah peristiwa itu membuktikan bahwa American Dream itu ada. Mimpi bahwa jika anda, warga negara Amerika Serikat, dengan latar belakang apapun, mau bekerja keras, maka anda bisa menjadi apa saja. Termasuk menjadi Presiden Amerika. Bagaimana jika anda negro, dan muslim pula? Ya! Minimal itu yang disiratkan oleh Colin Powell. Kemenangan Obama,arguably,menginspirasi bahwa nothing is impossible (and impossible is nothing). 40 tahun yang lalu di Amerika, tak terbayang bahwa AS akan dipimpin seorang presiden afro-amerika. Sekarang terjadi. Jadi, presiden AS yang muslim, kenapa tidak? Meskipun saya juga tidak yakin dalam berapa puluh (ratus?) tahun itu akan terjadi.

Oke, Obama adalah pencilan, extreme outlier dalam kurva probabilitas. Tetap saja warga utama Amerika adalah WASP (White-Anglo Saxon-Protestan). Namun, saya kira pesan dari kemenangan Obama, untuk seluruh warga Amerika dan dunia (sampai taraf tertentu) bisa sampai: inilah American Dream! Land of freedom, negeri harapan para pengungsi dan imigran legal maupun ilegal, negeri dimana kebebasan berusaha dijamin, pursuit of happiness tercetak jelas pada dokumen pendirian negaranya dan dijaga hingga kini, hingga setelah ratusan tahun merdeka, seorang keturunan negro bisa menjadi presiden.

Saya jadi berpikir, adakah ada Indonesian Dream? Mimpi bersama Indonesia, sebagai sebuah bangsa?

Ini jadi pertanyaan yang sama sulitnya dengan membincangkan tentang karakter bangsa. Pertama, bangsa yang mana? Lalu, karakter itu apa? Dan ketika ‘karakter’ berada di sebelah ‘bangsa’, apakah itu? Sama seperti karakter bangsa, perbincangan mengenai mimpi Indonesia ini juga samar-samar, meski sama-sama dapat kita rasakan. Lagi-lagi kita seperti membicarakan kentut, tak jelas terlihat namun (baunya) dirasakan semua.

Paling mudah ya dengan menganalogikan mimpi Indonesia dengan American Dream yang saya jelaskan di paragraf awal itu. Sekarang kita balik lagi, ada nggak sih mimpi Indonesia itu?

American Dream gampang dirasakan di pop culture-nya. Lihat film-film Amerika yang mengisahkan cerita perjuangan dan kepahlawanan, yang biasanya berfokus pada individu dan lebih personal. American Dream juga kelihatan di media-media sana. Ia hadir dalam kesimpulan saat kemenangan Obama. American dream does exist.

Sepanjang hidup saya di sini, saya belum berhasil mengidentifikasi, apa sih Mimpi Indonesia itu? Anda punya ide atau jawaban?

Saya melihat bahwa mimpi Indonesia itu belum definitif dan masih berada dalam medan pertarungan ide. Contestation of memes, kalau kata teman saya Galih. Sekarang ini, yang kelihatan, tanpa bermaksud untuk membandingkan apalagi mempertarungkan, setidaknya ada dua ide utama, dua kandidat mimpi Indonesia.

Pertama, mimpi bahwa Indonesia adalah negeri keragaman. Terbentuk dari banyak suku dan latar belakang budaya, dan menjadi satu. Mimpi Indonesia yang toleran, yang pada titik ekstrem, menoleransi segala hal. Indonesia yang pluralis, di mana anda akan aman menjadi apa pun, dari suku mana pun, beragama (ataupun tidak) apapun, berorientasi seksual bagaimanapun. Makanya kita dengar ide itu di media, bahwa hal-hal seperti itu adalah Indonesia. Unity in Diversity. Bhinneka Tunggal Ika.

Kedua adalah mimpi tentang Indonesia yang Islami. Mimpi bahwa Indonesia ialah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dan karenanya berhak diatur dengan hukum Islam, atau minimal hukum yang lebih Islami. Pada titik paling kanan, malah Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi tidak relevan. Yang relevan adalah menggantinya dengan Negara Islam Indonesia. Atau malah kekhilafahan internasional sekalian.

Dalam tahun-tahun belakangan ini dan mungkin beberapa tahun kedepan, kontestasi kedua mimpi ini akan kelihatan. Akan selalu ada kontroversi tentang aturan-aturan yang dipersepsikan “lebih Islami”, atau untuk lebih halus, “hanya untuk golongan tertentu”. Kita lihat kontroversi perda-perda syariah. Kita lihat ramainya pembahasan UU tentang pornografi. Kita lihat pada kasus Ahmadiyah. Sampai taraf tertentu, ini juga berlaku sewaktu pemilihan presiden antara kaukus “poros tengah” dan kaukus “nasionalis”.

Dalam mengidentifikasi kedua kandidat mimpi tadi, boleh dibaca ulang, saya tidak memaksudkannya sebagai pertarungan Islam versus Nasionalis. Ini kontestasi antar warga negara dengan mimpi yang berbeda, itu saja.

Celakanya, kontestasi itu membuat Mimpi Indonesia selalu jadi mimpi yang dalam proses, dan belum definitif. Belum menjadi kesepakatan umum seperti contoh American Dream. Lalu, tanpa mimpi yang jelas, mau kemana bangsa ini akan maju? Lebih celaka lagi, citra diri kita sebagai bangsa (jangan-jangan) sudah rusak. Anda pernah mendengar keluhan, atau malah pengakuan jujur, bahwa bangsa kita adalah korup, munafik, dimana hukum bisa dibeli, dengan warga negara yang malas dan ingin serba instan? Ini gawat: kita dikelilingin citra diri negatif, dan kita tak tahu mau kemana kita menuju.

Saya pikir sebagai langkah awal, kita perlu membentuk konsensus dulu tentang Mimpi Indonesia. Mungkin kita perlu merekonsiliasi dulu tentang kedua mimpi tadi, dan menemukan Mimpi Bersama Indonesia. Hasil rekonsiliasi haruslah berbeda dengan kompromi, apalagi kompromi dengan satu pihak mengorbankan sesuatu dan seolah memberi “kemenangan” kepada pihak lain. Ini akan sulit kalau kedua pihak sama-sama ngotot dan tak mau dialog.

Kita perlu pemimpin yang mampu me-lead the way. Menjelaskan hutan yang akan dilalui sambil menjelaskan keindahan taman yang dituju. Kita tidak perlu pemimpin yang muda, atau tua, tentara atau sipil, perempuan atau lelaki, beriklan atau tidak; kita perlu pemimpin yang bisa menangkap aspirasi dan mimpi-mimpi rakyat dan mengagregatkannya menjadi Mimpi Indonesia.

Saya harus berhenti dulu disini. Kalau diteruskan akan kelihatan seperti buku-buku Mario Teguh atau “pembicara motivasional” lain. Paling bagus kelihatan sebagai pamflet kampanye..=p

2 comments:

  1. Kang Lucky,
    IMHO,american dream justru bisa terdefinisi karena tercantum jelas di deklarasi kemerdekaannya. "life,liberty, and pursuit of happiness".
    Wajar, karena yg mendefinisikan mimpi itu pertama kali pastilah founding fathers-nya tho?

    Analogi yg sama dengan nilai inti di setiap perusahaan yg memang harus muncul dari top management atau pendiri perusahan tsb. (one lesson from book "Good to Great" & "Built to Last",hehehe...)

    Dan menurut saya,hal yg sama juga (idealnya) berlaku utk Indonesia. Konsensus itu (seharusnya) sudah ada, terjadi, dan mengeluarkan hasil yg tertulis dan diwariskan (pembukaan UUD? ga tau juga. udah lupa apa isinya. Hehehe.)

    Kita memang butuh pemimpin yg lead the way, tapi tidak untuk menangkap dan mengumpulkan mimpi2.


    *just my 2cents...great writing,as usual :)

    ReplyDelete
  2. Hm, without bold (original) identity, it's difficult to state our (original) dream Bang Luck. Kalo baca literaturnya Vlekke sama Raffles soal orang Indonesia jaman dulu, kok rasanya banyak yang saya nggak tahu soal "kerumunan" orang bernama Indonesia ini ya ?- Kalau susah disebut "negara-bangsa".

    Peradaban itu lahir karena kompromi orang- orang yang punya mimpi sama, walaupun bisa jadi tidak sama semuanya. Ada kompromi....

    Pada akhirnya, yang harus dipahami, bahwa negara, jamaah, perusahaan, adalah "Kumpulan Orang". Yang inti kekuatan, tetap di "Orang"....Ya tho ?

    Jadi kalau mau maju, lihat kebelakang nampaknya juga penting Bang Lucky.

    ReplyDelete