Sunday, April 27, 2008

Pemimpin & Jenis Kelamin

Siang itu saya terlibat percakapan (pseudo)intelektual dengan Igun. Kalau dulu-dulu sih sering juga terlibat jenis percakapan sok intelek ini dengan Igun, Viar atau Miftah, di momen-momen pengangguran saat kerjanya nonton bioskop, download film atau TV serial, dan ikutan nongkrong gak penting di ruang server sambil menikmati nescafe cappucino 3500 perak dari Circle K.

Namun tetap saja pseudointelektual, karena sok ilmiah tapi tetap asbun...hehehe.

Pada siang naas lagi panas itu Igun mengulang lagi teorinya (yang entah dari mana) tentang apa yang ia sebut “masyarakat yang mature”. Teorinya ini menemukan konteksnya dan tiba-tiba ia bicarakan menyangkut suatu peristiwa, yang kelihatannya sih tidak terlalu penting untuk saya tulis disini.

Ciri masyarakat mature, kata Igun, ialah saat pemimpinnya adalah perempuan.

Sengaja saya tulis satu paragraf dan dalam kalimat singkat untuk mendramatisir efeknya. Kalau tidak juga, biar saya ulangi.

Ciri masyarakat mature adalah saat pemimpinnya perempuan!!!

Sudah saya kasih tanda pentungan (!!!) tiga biji, seharusnya bisa menjadi klimaks.

Memangnya apa itu masyarakat mature? Tentunya harus kita definisikan dulu bukan? Kami tidak bicara lebih lanjut sih, jadi demi mudahnya, dari percakapan itu saya menangkap definisi masyarakat mature adalah masyarakat saat sedang dipimpin perempuan.

Tentu saja anda yang belajar Logika di salah satu bab Matematika tiap zaman sekolahan menyadari bahwa itu logika siklis yang tidak logis (kalimat ini juga siklis dan tidak logis). Apa boleh buat, sudah saya bilang ini pseudointelektual.

Ada petunjuk lagi tentang masyarakat mature ini. Setelah mature, yang dapat terjadi dengan masyarakat itu adalah: decline. Collapse. Gagal.

Yang ini juga saya sanggah. Teori bilang, saat matang malah bisa menjadi kesempatan untuk meningkat kembali. Lewat creative destruction, atau inovasi.

Igun memberi contoh: masyarakat sunda (disini, masyarakat, budaya, komunitas, umat, campur baur. Pseudointelektual...hehehe). Jelas sebagai orang Sunda saya sanggah lagi: Sunda adalah masyarakat patriarkis. Igun bertahan: ya, tapi dengan penghargaan tinggi (pemujaan?) terhadap wanita. Jelas saya setuju. Pria sunda memuja wanita, kalau dia tidak gay.

Masyarakat yang mature mementingkan keselarasan, harmoni. Ini wajar karena saat itu ia ada di ‘puncak’. Saya kira yang dimaksud ‘puncak’ disini ialah puncak lokal, kematangan lokal yang tak absolut (ingat titik puncak lokal dan absolut di Kalkulus 1?). Bisa juga ‘puncak relatif’. Artinya, puncak yang memang hanya bisa diraih untuk masyarakat itu. Nah, baru saya mengerti apa itu mature dalam masyarakat mature. Artinya ialah kondisi puncak yang dapat dicapai suatu masyarakat itu, bukan berarti kejayaan, serba kemajuan yang terjadi di masayarakat itu. Bila dibandingkan dengan masyarakat lain, misalnya, tentu saja akan ada yang lebih puncak, seperti juga ada puncak absolut dan puncak lokal.

Menjadi logis saat suatu masyarakat di puncak, yang dipentingkan ialah harmoni. Dan, pada masyarakat itu, pimpinan terbaik ialah perempuan, dengan karakter khas perempuan (yang entah konstruksi sosial atau alamiah atau stereotip palsu belaka; you think about it).

Ini berbeda dengan masyarakat belum matang, yang serba agresif bahkan invasif. Pemimpin laki-laki, adalah ciri masyarakat ini.

Ini pandangan bias gender? Silakan tuduh tanya Igun.

Mari kita buktikan dengan contoh nyata dan lumayan kontemporer saja. Indonesia dipimpin Megawati, yang jika menuruti teori diatas, berarti saat itu masyarakat Indonesia teah mature dan menuju decline. Jika menuruti teori juga, masa menanjak hingga mature itu dicapai di era-era sebelumnya, yang boleh kita bilang: masa Soeharto. Masa Habibie & Gus Dur adalah daerah landai di puncak matang, dan kematangan menuju decline ditandai dengan naiknya Megawati.

Berarti, jika tak ada inovasi, saat ini kita sedang decline. Anda sepakat? Susah menjawabnya, tetapi selain ukuran-ukuran yang katanya ukuran demokrasi (kebebasan pers, kebebasan berpendapat, kebebasan berpartai, penegakan HAM, dll), hampir di semua sektor Indonesia menurun.

Oke, dengan argumen yang akrobatik, teori tadi bisa diterima.

Mari kita lihat Margaret Thatcher. Inggris saat itu berada dalam perekonomian yang menurun. Dan dengan pemimpin wanita, alih-alih menjaga harmoni, Thatcher malah menggebrak. Tunjangan sosial dikurangi, undang-undang perburuhan direformasi, perusahaan negara diswastanisasi, dan buku Hayek jadi kitab suci membangun ekonomi. Bibit-bibit yang sekarang dibilang neoliberal tumbuh.

Ekonomi Inggris menggeliat dan bangkit. Thatcher juga bisa dibilang salah satu PM terbaik Inggris.

Sebuah teori harus segala benar di segala situasi yang memenuhi persyaratan teori tadi. Jadi, saya kira teori tadi menjadi tidak absah.

Masalahnya bukan di sex alias jenis kelamin apalagi di hubungan perkelaminan. Ini tentang corak kepemimpinan, yang untuk menambah ribet literatur tentang kepemimpinan (ada kepemimpinan transformasional, transaksional, situasional, dan lain-lain) akan dinamai dengan kepemimpinan feminin dan kepemimpinan maskulin.

Kepemimpinan feminin adalah ketika pemimpin lebih mengutamakan keselarasan dan harmoni. Ia menjaga hubungan baik dengan semua, memelihara citra, dan bertekad ini adalah kepemimpinan bersama.

Kepemimpinan maskulin adalah kepemimpinan yang agresif dan bisa invasif. Ia mendobrak, pragmatis, mengutamakan pencapaian tujuan tanpa peduli cara apalagi citra.

Dan masing-masing jenis kepemimpinan ini tidak berkorelasi dengan jenis kelamin. Corak kepemimpinan SBY ialah feminin, sementara Thatcher maskulin. SBY setau saya jendral yang juga seorang pria, dan Thatcher disanggul rambutnya oleh Johny Andrean (atau siapa gituh perancang rambut Indonesia).

Kepemimpinan feminin cocok untuk masyarakat dengan konflik nyata atau laten. Cocok untuk masyarakat yang saling curiga, masyarakat yang terbelah. Karena berfokus pada pengeratan hubungan, maka mengenai pencapaian masyarakat bisa menunggu nanti.

Kepemimpinan maskulin cocok untuk masyarakat stabil tetapi butuh mimpi dan pencapaian. Masyarakat yang mapan dan butuh tantangan (atau menciptakan tantangan) aga bisa lebih maju dan tidak decline.

Ini bukan perkara mana yang lebih baik atau buruk, dan saya sebisa mungkin tidak bias gender disini. Ini hanya masalah situasi dan mana yang lebih cocok saja.

Di Amerika Serikat, misalnya, para pemimpin Republik bisa dibilang lebih bercorak maskulin daripada feminin, sementara Demokrat sebaliknya. Di konvensi partai Demokrat, misalnya, Hillary lebih bercorak kepemimpinan maskulin daripada feminin, meskipun ia juga seorang istri dari suami yang serong. Gaya Hillary pun laki-laki sekali: rambutnya kaku, pandangannya keras, dan bajunya tak terlalu manis. Citranya ialah: kuat. Perhatikan sikapnya tentang perang Irak. Sekarang perhatikan Obama, yang lebih bercorak pemimpin feminin. Perhatikan pesonanya, perhatikan pilihan kalimatnya: “sekarang ada dua jenis warga amerika”, yang mencerminkan keprihatinannya akan Amerika yang terbelah dan perlu bersatu di pundak “harapan baru” alias Obama. Perhatikan Bush Jr. yang sangat bloon maskulin. Kekeraskepalaan, kedogolan, sekaligus kepragmatisan dan ketidakpeduliannya (yang penting kepentingan saya!) khas sekali sikap laki-laki.

Jangan heran kalau sekarang pendulumnya menuju ke yang feminin, setelah kenyang hampir 8 tahun dipimpin secara maskulin.

***

Bagaimana dengan pemimpin yang mampu memadupadankan kedua corak tadi: ia menjaga harmoni sambil bergerak invasif? Perlukah kita menciptakan kategorisasi dan definisi baru: Kepemimpinan Banci, misalnya? Hyuuukkk yak hyuuuukkk... =p

Atau jenis pemimpin yang mampu menswitch dari maskulin ke feminin, misalnya 2 tahun pertama periode kepemimpinan maskulin, lalu sisanya bergaya feminin? Anda lebih sepakat disebut apa: Kepemimpinan Ganti Kelamin atau Kepemimpinan Transeksual atau Kepemimpinan Transgender?

Rupanya masalah pemimpin dan kelamin ini tak bisa tuntas dalam 1100 kata begitu saja.

=p

Kredit:

Igun, tentu saja.

6 comments:

  1. kalau saya pikir, karakter yang ditampakkan (terlihat) belum tentu menjadi dasar utama dalam corak kepemimpinan nya.

    contohnya sederhana, orang yang dikenal skeptis dan keras (tidak menunjuk siapapun :p), sebenarnya banyak mengedepankan 'unsur perasaan' (harmoni) dalam sikap kepemimpinannya.

    ReplyDelete
  2. hmm...jadi inget kuliah TKM..

    The question is..which one are you, ky??
    hehe...

    ReplyDelete
  3. Anonymous8:29 PM

    Ha..ha..ha..
    terdapat _coret_pembunuhan_/coret_ pemopuleran karakter terhadap seseorang nih.

    tapi btw, ide-ide kalo sudah disentuh tulisan lucky jadi menarik. Ayo cky, ngobrol lagi.. mau gw racunin ide-ide gila. Tapi syaratnya harus ditulis di blog.
    he..he..he..

    ReplyDelete
  4. Luk..long time no see.

    Kata "mature" di sini ambigu:

    1. Mature dalam terminologi sosiolog
    2. Mature dalam terminologi awam (bisa disamakan dengan madani nantinya nih..)

    Siapa si yg bikin teori ini?? Ga suka dee..gw..

    Yang jelas anak ITB coret_bloon_coret gak mature milih pemimpin KM ITB perempuan.. (maaf untuk semua pendukung..maaf..maaf)

    Aku lebih suka bicara soal gaya kepemimpinan.

    Bung Lucky, kita juga perlu mempertimbangkan kultur politik di Barat dan di sini. Di Barat kulturnya sangat meritokratis dan perempuan yg bisa unjuk gigi di arena politik biasanya tidak lagi perempuan "biasa" dg sifat dan gaya yg feminin, that is why, regarding this case I noted that "Perempuan yg maju menjadi pemimpin biasanya adalah perempuan yg telah mengalami trauma di salah satu momen kehidupannya." Lihat Thatcher, Rice, Albright, Golda Meir, apalagi Hillary! Wah..itu warna "mutasi" karena traumanya berperan besar dalam menumbuhkan karakter kepemimpinan yg kuat dan "tega".

    Sementara di negara ini, perempuan maju jadi pemimpin dikit kali korelasinya dengan kapabilitas. Di negara ini berlaku hukum "Barangsiapa yg (tampak) terdzalimi akan berpeluang maju jadi pemimpin pada periode berikutnya". Bangsa sinetron.

    ReplyDelete
  5. @ trian: betul,,,
    @ vetri: pemimpin skeptical...(teteup,,,hehehe)
    @ igun: ide kemaren bagus gun,,,tapi belum terkonsolidasi jadi rangkaian ide utuh utk ditulis,,,hehehe
    @ ika: 'mature'-nya tentu dalam definisi tulisan ini atau pembuat teori dong,,,peduli amat ama 'mature' definisi sosiologis, psikologis, de-el-el..yang penting, digunakan konsisten di teori, gak perlu lah gamblang dijelasin,,,=D.

    buat pilihan anak ITB...no comment. tapi ya itulah demokrasi =P

    yang terakhir betul. mungkin.

    ReplyDelete
  6. hmmm...
    beberapa kali baca blog lu, menarik juga ky..
    bahasanya mantep... :P

    ReplyDelete