Saturday, April 19, 2008

25 Tahun Mendatang

Sewaktu mahasiswa, saya pernah terlibat obrolan dengan seorang teman (saya lupa siapa. Yang saya ingat, ada beberapa kali obrolan, masing-masing dengan seorang teman yang berbeda-beda.) tentang 20-25 tahun setelah kita semua meninggalkan kampus. Saya bisa maklum: dia berada dalam doktrin agung (“Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel Bangsa!”), berada di kampus yang bercitra terang-benderang, dan dijejali trainer atau buku-buku motivasi dengan filsafat progresifisme modern ; maka inilah kalimat heroik yang dia katakan, “coba kamu liat nanti luk, 20 atau 25 tahun lagi. Saat kita semua menjadi sesuatu”.

Saat itu saya kagum. Yakin sekali dia. Hebat!

Sekarang saya khawatir. Naif sekali dia. Kasihan.

Namun pembaca yang waras akan berkesimpulan beda: dasar megalomaniak.

Saya pernah ngobrol juga (kali ini dengan Kang Firman, BI ’97) tentang topik mirip ini. Ia berbicara tentang sebuah generasi (generasinya, saya, dan anda), dan sebuah keniscayaan bahwa suatu hari, seluruh posisi dan peran di masyarakat, berpindah ke generasi ini.

Dan itu bukan sesuatu yang hebat. Ini hanya masalah giliran: generasi sebelumnya sudah atau sedang menerima, generasi kita sedang menunggu, atau sedang belajar menjadi.

Itu cukup masuk akal dan acceptable buat saya. Namun kalau itu diteruskan dengan doktrin standar “ kalian kan mahasiswa, 2 % dari penduduk Indonesia”, apalagi ditambah “kalian kan mahasiswa I*B”, saran saya untuk mahasiswa sekarang ialah: jangan dengarkan. Minimal, jangan dengarkan dengan serius.

Pikiran ini timbul lagi setelah saya membaca The Class (Erich Segal). Ide kisahnya sederhana sekaligus cemerlang. Tentang suatu angkatan Harvard ’58, ketika mereka reuni, 25 tahun dari tahun 1958.

Khas novel Erich Segal yang tebal, kisah ini pun terdiri dari beragam tokoh yang masing-masing kompleks, dengan rentang waktu yang panjang (silakan baca, misalnya, karya Segal yang lain seperti The Doctors atau Nobel Prize). Yang juga khas Segal, Harvardisme Segal kental sekali disini. Ia sendiri adalah pengajar sastra latin di Harvard, jadi maklum saja.

The Class menceritakan tentang Andrew Eliot, entah keturunan Eliot keberapa yang masuk Harvard (Eliot sendiri menjadi nama wisma mahasiswa di Harvard) ; Danny Rossi, mahasiswa musik cemerlang ; Theodore Lambros, mahasiswa sastra latin keturunan Yunani ; Jason Gilbert, keturunan Yahudi yang dibesarkan dengan terlalu Amerika dan George Keller, imigran Hungaria yang menjadi mentee Henry Kissinger.

Ini menarik, karena disana-sini saya menemukan hal yang analog antara alam pikiran mahasiswa Harvard (Atau MIT. Atau Stanford. Atau any other Ivy Leaguers) dengan mahasiswa ITB disini (Atau UI. Atau UGM. Atau any other state universities).

Saat mahasiswa, mereka datang dengan sangat percaya diri (hampir-hampir arogan, kalau boleh dibilang). Dibesarkan sebagai yang terbaik (atau among the best lah) di sekolahnya, dicitrakan ‘brilian’ oleh masyarakat (dan dibenci oleh beberapa banyak orang). Pokoknya Te O Pe Be Ge Te dah. Dalam bahasa Segal, ‘ memiliki kepercayaan tak terbatas akan kemampuan mereka’. Penuh dengan impian besar. Untuk mahasiswa Harvard, ‘menjadi pemimpin-pemimpin dunia’. Untuk mahasiswa I*B, ‘calon pemimpin bangsa’. Serba menggelegar dan menggetarkan.

Jelas ini generalisasi brutal. Tidak pernah ada penelitian yang menguatkan atau memperlemah sangkaan ini. Namun, ini dapat dirasakan, seperti bau kentut yang anda hirup di ruangan. Anda tak bisa membuktikan berapa persen sulfur yang ada di kandungan udara di ruangan tersebut, tetapi baunya tercium.

Apa yang terjadi sejak mahasiswa hingga 25 tahun setelah lulus? Banyak hal, yang tak semua baik. Yang saya catat, dalam tokoh-tokoh Segal, apa yang dialami 25 tahun mendatang bisa dilacak sejak mahasiswa. Bukan berarti yang hebat saat mahasiswa juga hebat setelah 25 tahun, tetapi karakter yang membentuk 25 tahun berikutnya bisa di-trace sejak mereka mahasiswa. Andrew Eliot yang selalu kurang percaya diri tapi paling manusiawi , Jason Gilbert, bintang universitas yang selalu gamang akan identitas Yahudi-nya karena selalu diamerikanisasi oleh ayahnya, Ted Lambros yang sejak awal merasa ‘kurang Harvard’ dan haus sekali akan pengakuan dari almamaternya, Danny Rossi yang terobsesi musik dan ketenaran, George Keller yang seumur hidup selalu merasa sendiri.

Eliot menjadi bankir (sekedar meneruskan usaha keluarga) dan ketua panitia reuni karena memiliki hubungan baik dan selalu tulus kepada teman-temannya. Gilbert menyelesaikan konflik identitasnya dengan menjadi Yahudi sepenuhnya, dan bahkan mati sebagai tentara Israel. Lambros akhirnya diterima di komunitas Harvard dan menjadi dekan, Rossi menjadi pianis terkemuka dunia, dan Keller menjadi calon menteri luar negeri.

Yang pahit (atau unexpectable), perkawinan Eliot gagal dan bahkan anak lelakinya menolak menjadi seorang Eliot lagi. Gilbert, yang sangat berprestasi dan dibayangkan dapat menjadi apapun yang dia mau di Amerika malah menjadi relawan kibbutz di Israel. Hubungan cinta Lambros yang terbina sejak kuliah hancur karena dia selingkuh. Rossi menderita tremor di tangannya dan menghentikan karirnya. Keller, sang calon menlu itu, bunuh diri.

Ya, beberapa dari mereka menjadi sesuatu. Something big, malah. Dengan beragam cerita dan catatan buruk di periode 25 tahun itu. By the way, Lambros adalah mahasiswa miskin yang diremehkan, Rossi selalu ditolak di wismanya saat main piano, dan Keller adalah imigran yang kemampuan bahasa inggrisnya nol besar saat masuk Harvard.

Apa yang dirasakan ketika reuni ke-25 itu? Segal menulis,

Tapi siapakah orang-orang asing itu – botak, berkacamata, tambun, dan malu-malu?...

Anehnya, sebagian besar dari mereka dilanda ketakutan lebih besar membayangkan harus kembali ke Harvard daripada ketika mereka tiba pertama kali sebagai mahasiswa baru. Sebab, kini ada yang hilang dari rohani mereka – kepercayaan tak terbatas terhadap kemampuan mereka.

Mereka tidak lagi seperti astronaut yang menjelajahi orbit penuh harapan dengan langkah lebar, siap untuk terbang ke bulan, bahkan lebih jauh lagi. Sebagian besar dari mereka tampak seperti pelancong yang kelelahan, yang cakrawalanya berakhir di kawasan parkir kantor.

Dan kendati segala keberhasilan mereka yang gemilang...mereka sadar telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan,...masa muda mereka.

...

Kata saktinya adalah kompromi...

Ya, setelah 25 tahun dan berusaha berkompetisi sambil saling membuktikan (dan membandingkan), pada akhirnya memang kompromi. Oh, ambisi lama itu telah pergi, entah mewujud atau tidak. Oh, kebanggaan dan kompetisi saat kuliah dan seterusnya itu sudah tak ada dan terganti dengan sejenis kepasrahan.

Tetapi kini mereka berinteraksi dengan suatu kehangatan baru. Tidak ada tingkat-tingkat kedudukan. Mereka bertemu untuk pertama kali sebagai sesama manusia...

Selain kompromi dan perasaan ‘yaa,,sudahlah,,’, hal lain yang pada akhirnya tersisa adalah yang paling bermakna untuk tiap perseorangan, atau sebuah tragedi. Rossi kembali setia pada istrinya setelah serangkaian petualangan, Eliot mengumpulkan kembali teman-temannya, Gilbert mati dengan senyum demi sesuatu yang ia bela, Lambros akhirnya diterima Harvard sepenuhnya. Yang tragis, Keller tetap merasa hampa dan memilih mengakhiri hidup.

Begitu jugakah suasananya di reuni 2027 nanti?

***

Dalam sebuah artikel menjelang Idul Fitri, Jalaluddin Rakhmat pernah menelisik asal kata dosa dalam bahasa arab (atau tobat? Maaf kalau ingatan saya agak samar). Ia menulis bahwa kata ‘dosa’ (atau akar katanya) juga biasa digunakan untuk menunjukkan ‘jejak’, seperti jejak kaki kita di gurun pasir. Tobat, atau ampunan, atau confession (pengakuan ikhlas akan dosa), kata kang Jalal, menghapus dosa tadi, atau jejak, hingga samar atau hilang. Seperti angin yang meniup pasir hingga menutupi jejak. Tanpa pengampunan, jejak tadi menetap. Mungkin mengeras.

Padang Mahsyar adalah juga sebuah reuni. Mengingat kembali segala jejak kita (kita disini mengacu pada semua umat manusia), termasuk juga jejak dosa kita.

Saya pikir saat itu kompromi sudah tidak ada.

Astagfirullah. Ya Allah, hapuskanlah jejak dosa saya.

Semoga kita bisa bereuni di tempat yang terbaik nanti.

Kredit:
- The Class
by Erich Segal (c) 1985, terjemahan Bahasa Indonesia oleh Threes Susilastuti, Oktober 2007 (Cetakan Kedua), Gramedia Pustaka Utama.
- "Selamat Datang Putra-Putri Terbaik Bimbel", saya baca di blog Ika. Pernah terpasang di salah satu sudt kampus ITB.

10 comments:

  1. seperti biasa..
    selalu menggigit pusat syaraf..

    btw punya segal yg 'nobel' ga bang?
    baru baca setengahnya kemarin bukunya dah ilang :((
    lagi cari pinjeman nih :D

    ReplyDelete
  2. Anonymous9:38 PM

    OOOO..
    akhirnya itu toh :)

    seperti novel misteri. saya udah nebak yang "ia-ia" :)

    btw saya tertarik dengan yang ini bang :

    "Tidak ada tingkat-tingkat kedudukan. Mereka bertemu untuk pertama kali sebagai sesama manusia..."

    ini manusia jenis apa? bukankah merupakan fitrah jika kita memikirkan tingkat kedudukan? pun Allah melihat tingkat ketaqwaan?

    ah,jadi berprasangka terhadap novel. dari pada bang lucky capek jelasin, mending saya dipinjemin bukunya. gimana? :)

    ReplyDelete
  3. lama ga baca buku, bahkan cenderung males baca yang berat2 hehe.

    long time no see, apa kabar ky? :p

    ReplyDelete
  4. dasar megalomaniak ;p

    Ki.. Mikin keren uey... tak sabar rasanya menunggu menjadi apa lucky 25 tahun dari 2002 (males ngitung)

    ReplyDelete
  5. dasar viar...
    moso ente butuh kalkulator tuk mengetahui 25 tahun dari 2002??
    ini bukan pengaruh Palangka kan hehehe

    apa kabar bro viar?

    iye sepakat ama bang viar, bos lucky di tahun 2027 udeh kaya apa ya??

    sehat bro??

    ReplyDelete
  6. will he (lucky) be that bitter and cynical old man??

    ;p

    viar..bram..trian..pa kabar??
    (loh..malah jadi silaturahmi disini ^_^)

    iya2..gw inget tu ki..pernah ngobrolin masalah ini juga sama lo, di suatu pagi di depan himpunan, setelah lo "marah-marah" pas pemilu diulang
    (man.. do I have a fine memory or what?hehe)

    ReplyDelete
  7. Aku juga suka novel ini. Yg paling gw suka tu karakter si Keller dan Si Yahudi.

    Gw si khawatirnya.. orang2 yg idealis dan vokal di kampus nantinya malah ga jadi apa2 (karena gw takut termasuk irisan di dalamnya.walau sedikiit)

    Luck.. itu link-ku salah tulis. Benerin dunk.. (batal beken ntar soalnya:-B)..)

    Ada film yg bisa melengkapi diskursus ini, yaitu film Since You've Been Gone, film ttg reuni SMA.

    ReplyDelete
  8. @ zamzam: saya juga pinjem di penyewaan novel deket rumah, mas...hehehe
    @ arif: bukunya di kosan. Silakan ditukar dengan makan siang ratisss...=p
    @ aul: belum cukup banyak koleksinya...tapi moga2 ntar bisa, aamiin.
    @ trian: kabar baik mas,,,sampeyan piya? tahun ini atau tahun depan? *emang apaan ya?* hehehe
    @ viar: 2027, mas. pan ada di tulisannya juga =p
    @ adit: sehat, alhamdulillah,,,
    @ vetri: skeptic, nut cynical =p. yang mana vet? Gak nyangka gw sebegitunya membekas di memorimu,,,wahahahaha
    @ ika: kok khawatir? berarti emang kualitasnya segituh,,,=). not a bad thing juga sih.

    ReplyDelete
  9. Anonymous10:59 AM

    Luke, ayo kita janjian, 25 taun lagi dari sekarang, kita janjian!
    Nanti kita saling tanya udah bisa apa kamu sekarang?, dah bisa ngasih apa kamu sekarang???
    Kumaha, siap?!
    Hahaha

    ReplyDelete