Saturday, February 09, 2008

Pertapa

Jangan mengganggu:
aku, satria itu, sedang bertapa dalam sebuah gua, atau sebutir telur, atau sepatah
kata -- ah, apa ada bedanya. Pada saatnya nanti, kalau aku sudah dililit akar, sudah merupakan benih, sudah mencapai makna -- masih beranikah kau menyapaku, Saudara?


Sapardi Djoko Damono, Kumpulan Sajak (1982)


9 comments:

  1. {Mode sok tau on}
    Bertapa dalam sepatah kata jangan terlalu lama, kelak kata itu kan pupus ditelan waktu yang tak terbuktikan.
    Persaudaraan itu adalah menerima ia (mereka) apa adanya, kekurangan dan kelebihannya. Tenang Luk, masih akan disapa ? :)
    -Dibilang juga mode sok tau

    ReplyDelete
  2. Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
    -- swaranya bisa dibeda-bedakan;
    kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
    Meskipun sudah kau matikan lampu.
    Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
    - - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

    (sihir hujan, 1984, sapardi djoko damono)

    PS. semoga msh bisa denger suara huajan dalam pertapaannya, luk :D

    ReplyDelete
  3. duh,kalah cepat komenya dgn dua bidadari diatas :p.


    hm,bertapa ky.jangan lama2.karena ada sesuatu yang menunggu.dan tidak ada kata yang terlalu cepat atau lambat untuk di ucapkan.. :)

    ReplyDelete
  4. Anonymous3:55 AM

    Are we in space? Do we belong?
    Someplace where no one calls it wrong
    And like the stars we burn away
    The miles

    What though that light,through storm and night ,
    So trembled from afar...
    what could there be more purely bright
    In Truth's day star?

    Starlight
    I will be chasing a starlight
    Until the end of my life
    I don't know if it's worth it anymore


    --
    agak maksa dan seenak udel,Hehe.....

    Dengan segala kebencian Tatu,
    dan obsesi kematiannya Allan Poe,
    Juga optimisme Muse yang tidak menentu

    Moga sang pertama punya mimpi
    dan sekali lagi...
    berdamai dengan kenyataan

    Jika sudah dililit akar,
    kubur identitas dengan anonimitas
    Jika sudah merupakan benih,
    reborn atau mungkin bangkit dari kubur
    Jika sudah mencapai makna,
    Bukankah berarti dunia meaningless pertanda..
    kini tiada guna..
    No more kehakikian, semuanya bermakna juga fana...
    dan sekali lagi,
    seharusnya sudah bisa berdamai dengan dunia nyata

    Masih beranikah kau menyapaku?
    Seratus persen ya...
    kerena....
    Sang satria telah meninggalkan semuanya dalam gua
    Mati...
    Karena Toh...
    Tujuan bertapa
    Adalah dunia diluar gua

    ReplyDelete
  5. Ada apa ya? kok perasaan lagi musim Sapardi Djoko Damono nih...;))

    Btw, Luck...ulah lami teuing tapa na, khawatir ada bidadari yang turun ke bumi dan nyariin. Kasihan kan? daripada direbut ku saya...haha

    ReplyDelete
  6. @ Dika: terima kasih. puisi (?) balasannya spontan, dan baik sekali.
    @ Echa:

    Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
    sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu.
    Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa
    berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang
    bertanya kenapa.

    Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
    memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
    menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan
    rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.

    (Pada suatu pagi, SDD)

    *ya, hujan memang menyihir. Apalagi saat sedih.
    Atau saat sedih dan gembira, sekaligus ;). Terima kasih.
    *beneran berkaca-kaca waktu denger puisi ini*

    @ trian: Bidadari? Mas Hendro, tolong rayuannya di lain tempat saja, hehehehe,,,
    kata-kata apa yang tidak terlalu lambat atau cepat diucapkan?
    o iya, "dengan ini saya talak tiga dirimu!' ;p

    @ anonymous: wah, pada berbakat ya? tentang Muse, saya lagi dengerin Muscle Museum-nya Muse, edun pisan. masih keren setelah didenger jutaan kali pada suatu malam (*berlebihan*). Tujuan bertapa adalah dunia luar. Nice line.

    @ donny: ada pembacaan puisi-puisi cinta sapardi kemaren kang, makanya rame...
    Bidadari mah dicari atuh,,,:p

    ReplyDelete
  7. aduh, aku lagi nyari buku kumpulan puisi Sapardi, kira-kira bisa beli di mana ya?

    ReplyDelete
  8. Anonymous3:06 PM

    wah..daripada bertapa mending bertualang...
    http://sulistyaadhi.wordpress.com

    ReplyDelete
  9. Setelah baca buku tentang Psikologi (lebih tepatnya psikologi suami istri) saya jadi tahu bahwa pertapaan itu aktivitas yang lumrah dari seorang laki-laki. Tapi kalo perempuan tidak tahu, bisa-bisa saat keluar dari bertapa, ia tak disapa. hati-hati, Luk !

    (Sharing bacaan saja)

    ReplyDelete