Friday, December 14, 2007

Kepada Para Mahasiswa: Jadilah Mahasiswa Fundamentalis Pasar!!!

Waktu zaman saya mahasiswa dulu , selalu saja ada teman-teman yang bersemangat dan bertanya-tanya ‘quo vadis mahasiswa sekarang’, ‘gimana nih kemahasiswaan’, dan lain-lain. Karena banyak juga yang heboh nanya-nanya dan membahas, dan saya hanyalah mahasiswa yang ngikut tren, jadilah pula saya memikirkan.

Saya baca sejarah. Rasakan semangat zaman di tiap eranya. Dengerin doktrin omongan senior-senior, yang bener maupun keblinger. Zaman dulu kayak apa sih? Sekarang zamannya apa ya? Kecenderungan ke depan gimana? Apa hubungannya ama mahasiswa? Jadi, seharusnya mahasiswa gimana?

Kesimpulan saya dulu sederhana: khilafah conscientizao atau consciencetization. Ada yang menerjemahkan konsaintisasi (aneh banget!). Kemarin di Kompas ada yang menggunakan kata ini dan diterjemahkan sederhana: kesadaran kritis. Yang lain-lain itu cuma pernak-pernik, dan dilakukan dalam rangka mengkampanyekan kesadaran kritis ini. Bukan membangun institusi, melakukan pergerakan bersama, apalagi melawan tirani. Emang, buat apa membangun institusi kalau arahnya juga tidak jelas? Ngapain ngotot mau gerak bareng di tengah era fundamentalisme hedonisme (istilah yang aneh...)? Tirani mana yang mau dilawan?

Conscientizao adalah tujuan pendidikan Paulo Freire, dalam Pedagogy of the Oppressed. Buku yang konon jadi buku wajib mahasiswa ITB. Makanya saya cari mati-matian (susah bo nyarinya! Udah ga terbit lagi tuh buku...), akhirnya nemu di Palasari, dan saya baca *bahan untuk ngantuk menjelang tidur*.

Kesadaran kritis itu, intinya, adalah kondisi pikiran dalam mempersepsi lingkungan sekitar (dalam pengertian luas, semua hal lain yang kita hadapi) dengan melihat aspek sistem dan struktur. Bisa aware dan menganalisis secara kritis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, dan budaya (termasuk pelakunya), dan jika ada (pasti ada sih...),mengidentifikasi dan menyadari ketidakadilan dalam masyarakat dan bagaimana mentransformasikannya. Misalnya kasus kemiskinan. Seharusnya kita sadar kemiskinan bukanlah masalah takdir dan kemestian (ada yang kaya, ya ada juga yang miskin...). Kalau ini sih kesadaran magis, kata Freire. Kemiskinan juga bukan karena kebodohan, kesalahan, kekurangrajinan orang-orang miskinnya sendiri (blaming the victim; kata Freire ini orang dengan kesadaran naif). Tetapi, kemiskinan harus dilihat: jangan-jangan yang terjadi adalah pemiskinan? Karena ada pembatasan akses kepada kesejahteraan, misalnya dengan sekolah yang mahal atau diprivatisasi. Atau malah ada perampokan oleh korporat yang ’berdiplomasi’ dengan pemerintah, sementara rakyat kebanyakan dibiarkan tetap miskin. Atau karena korupsi. Jadi, setiap masalah dianalisis dengan kaidah-kaidah saintifik (makanya ada kata ’science’ dalam conscientization), lalu dilihat: oh, ternyata ini yang menyebabkannya...

Sebenarnya conscientizao itu target minimal, soalnya yang lain tak kelihatan feasible untuk dilakukan saat itu. Pikiran sederhana saya waktu itu, karena kita kan pasti ga jadi mahasiswa lagi (entah lulus atau DO), minimal kesadaran kritis ini terbawa lah setelah keluar. Jadi, misalnya dia ntar kerja di KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama), minimal dia tau dan sadar bahwa operasinya nanti diganti lewat cost recovery (atau mungkin gaji dan fasilitasnya? Overhead kantor juga cost recovery kan?), jadi dia kerja dengan bertanggungjawab dan seefisien mungkin, karena ntar-ntar juga diganti ama duit negara pajak rakyat. Yang jadi bos-bos di perusahaan minyak negara nanti, misalnya, bisa nurut kalau pemerintah sekarang katanya mau mengefisienkan BUMN, termasuk lewat pengurangan fasilitas pegawai. Konsekuensi yang bergerak di pemerintahan atau sektor amal sosial mah udah jelas lah ya...

Namun ternyata itu juga susah, bahkan gagal. Sampai saya lulus, ga jelas dan ga berhasil juga...Masih ga cocok dengan zamannya, mungkin?

Ini ada sebuah ide. Saya jamin cocok dengan zamannya.

Belajar yang rajin, lulus cepat, dan jadilah makhluk kaya sekaya-kayanya. Kalau ada tawaran aktivitas, timbanglah: apa manfaatnya buat saya? Apa bisa mempercantik CV saya sehingga bisa dijual ntar, apakah akan menambah jaringan saya ke politisi-cum-pemilik dana ga jelas untuk diserahkan pada proposal bisnis yang nanti saya bawa? Apa bisa mengajari skill dan keahlian sehingga saya bisa jadi engineer yang ekstra spesialis yang dibayar sejam 4000 dolar? Apa ada relasinya yang bisa jadi klien saya ntar? Kalau tidak ada manfaatnya, tolak saja! (manfaat tak harus moneter, tanya juga: apa ada yang potensial untuk menjadi pacar kamu?). Hal-hal ga jelas itu hanya akan memperlama waktu kamu di kampus! Dan kalau omongan senior-seniormu itu benar, bahwa kuliah di ITB itu dibayar PAJAK RAKYAT, maka mendingan lulus cepat bukan? Biar rakyat ga lama ngebayarin kamu. Jangan dengerin senior kamu, apalagi yang lulus 7 tahun: dia sendiri paling lama menikmati pajak rakyat. Mendingan kamu, tho? Cuma dibayarin rakyat 3,5 tahun.

Sekali lagi, jangan pernah dengerin senior-senior dengan paradigma mahasiswa lama yang kolot dan tidak progresif. Ini era fundamentalisme pasar, bung! Homo paling oeconomicus lah yang akan menang. Jadilah mahasiswa dengan paradigma masa kini, market-paradigm!

Jangan pernah mau diospek ga jelas, apalagi kalau dibilangin kalian harus berjiwa sosial, peduli sesama, dan lain-lain. Mana ada altruisme yang menyelesaikan masalah? Pasar lah yang akan mengatur dan menyelesaikan masalah, bukan kebaikan para filantrop. Berapa yang telah disumbangkan Bill dan Melinda Gates, Warren Buffet, atau orang-orang dermawan lain? Berapa jumlah penduduk yang masih miskin?

Lebih banyak yang bisa kamu lakukan kepada rakyat dengan menjadi kaya sekaya-kayanya. Buatlah korporasi besar, berapa juta jiwa yang akan kamu gaji? Dari berapa juta jiwa itu, berapa jumlah keluarganya? Belum lagi yang kena multiplier effect. Banyak sekali kan? Efeknya lebih besar daripada sumbangan 100 juta dolar sekalipun.

Lho, tapi kan nanti ada ketimpangan? Yang kaya makin kaya, yang miskin tetap miskin? Bukan salah kamu! Itu pemerintah yang gak bener. Yang gak bikin institusi dan regulasi yang baik untuk rakyat. Kamu bayar pajak, kamu taat hukum, bahkan kamu menggaji banyak karyawan. Peraturan keblinger tentang Coporate Social Responsibility juga kamu ikutin. Salah siapa? Jelas bukan kamu. Ini salah pemerintah.

Dan siapa sih pemerintah itu? Senior-senior kamu juga, dengan paradigma lama yang tidak progresif dan ketinggalan zaman dulu itu. Senior-senior kamu dulu yang menceramahi kamu untuk berjiwa sosial, yang karena gak ada kerjaan masuk partai atau LSM, lalu kebelet untuk berkuasa dan sekarang di pemerintah. Nah, keliatan kan? Mereka malah gak bener kerjanya, dan jadi pihak yang paling berpengaruh memiskinkan rakyat. Jelas, mendingan kamu, wahai mahasiswa rajin-lulus cepat-lalu kaya dahsyat.

Jadilah pegawai di perusahaan terbaik di dunia, kalau bisa ya jadi ekspatriat di negeri orang dengan gaji dollar. Lagi-lagi kamu berjasa: kamu bawa dolar dari luar negeri dan menjadi pahlawan devisa yang lebih banyak membawa duit daripada para pahlawan devisa tapi selalu disiksa pemerintah dan aparatnya itu (ingat, siapakah mereka? Senior kamu juga dulu!). Kamu membawa dolar, mengharumkan nama Indonesia sehingga tak hanya dikenal karena pemerintahnya yang aneh. Sekali lagi, siapa yang lebih nasionalis, lebih berjasa buat bangsa Indonesia?

Jadilah kritis! Skeptislah dengan omongan senior-seniormu, apalagi dengan paradigma kolot. Nanti, di masa depan, kamu yang gantian menyalahkan dia: hoi pemerintah, kerja yang bener! Makan duit pajak gw aja lu!

Bangun kesadaran kritis: lihatlah, jadi siapa yang menyengsarakan Indonesia? Pemerintah, yang isinya senior-senior kamu dulu!

Ingat, pikiran ini harus disebarkan. Ada omongan senior kamu yang benar: bahwa kampus adalah tempat kampanye beragam pemikiran. Sudah bosan kan kamu, dengan fundamentalis agama yang macem-macem, dari mulai yang apolitis sampai yang kerjanya demo nuntut khilafah? Dengan mahasiswa sosialis dari sosialis yang ‘pasar-sosial’ (istilah apa pula ini?) sampai yang kiri-utopis? Tapi masalah tak juga selesai? Bayangkan kalau mereka mewariskan pikiran-pikiran lamanya yang tak menyelesaikan masalah ke teman-teman dan adik-adik kamu! Mau jadi apa negara ini? Kamu harus bisa membuat kutub baru, para mahasiswa fundamentalis pasar. Ya, ini buat kebaikan kamu juga, tapi seperti yang telah kamu baca di atas, akhirnya bangsa dan rakyat juga untung kan? Kamu untung, bangsa untung. Pertamina aja kalah.

Sebarkan! Buat mentoring. Kuasai lembaga kemahasiswaan yang dulu jadi sarang senior kamu yang tidak progresif itu, karena strategis sekali untuk kampanye pikiranmu. Koalisi dengan rektorat, yang tampaknya lebih progresif meskipun lebih tua (siapa bilang yang muda yang progresif?) dan bisa mendukung pikiranmu. Ih egois banget! Ini buat kamu doang? Katakan dengan keras: YA! Tapi secara makro, semua nanti juga akan untung. Minimal, lebih baik daripada usulan solusi mereka, yang dari jaman mulai pergerakan mahasiswa dulu tak menyelesaikan masalah.

Salam hebat! Biarkan uang yang bekerja untuk anda!

;p

27 comments:

  1. "Biarkan uang yang bekerja untuk anda!"

    Ck..ck..ck *sambil geleng-geleng kepala, kagum :p

    ReplyDelete
  2. zamzam8:29 AM

    nice.. as usually

    btw, ente sekarang di jkt bro ya?!

    ReplyDelete
  3. ilma_is_mail4:03 PM

    "Money isn't everything.."
    Maunya ngomen gitu..(idealis mahasiswa..?)
    Nyatanya, we are nothing without money..

    Sigh..

    ReplyDelete
  4. baru kali ini saya bisa 100% setuju dengan kamu Luk!!

    ReplyDelete
  5. arif rahman12:25 PM

    cara pandang yg menarik :)

    "jangan jadi masalah. baru kamu bisa jadi solusi" :)

    kita harus kaya :)
    banyak zakat banyak buka lapangan kerja.


    btw, apa pandangan bang lucky ttg "kerja di perusahaan asing" yg mengeruk isi bumi Indonesia?

    "priyayi" zaman belandakanh?
    penolong negara?
    atau netral, karena secara "hukum", pengerukan itu legal?


    kmaren napa ga "maju" capres km 2006 dengan ide ini?
    pasti menarik :)

    ReplyDelete
  6. *sigh* Gw kena sindir lucky nih.. Menghabiskan pajak rakyat.
    he..he..he..

    Buat pembaca tulisan lucky: *Marilah kritis juga terhadap tulisan lucky. Awas, jangan sampai termakan tulisan lucky yang [intinya] adalah pembenaran tindakan dirinya yang setelah lulus trus bekerja di perusahaan as*** (dan melupakan idealisme nya dulu). He..he..he..

    *itu becanda lho luck, he..he..he..

    ReplyDelete
  7. jadi intinya...ayo, rame-rame jadi orang kaya, gitu luck? *siul2*

    ReplyDelete
  8. To all:
    Tentunya semua ngerti setengah bagian terakhir yg pandangan masahasiswa fundamentalis pasar itu satire...tapi waktu saya nulis juga saya sadar, 'hey, it can be logically right!'
    hehehe...meskipun belum tentu yang 'secara logis benar' itu benar...

    To hapsari: "org miskin adalah org yang mengejar uang. orang kaya? dikejar-kejar uang! Biarkan uang yg bekerja untuk anda! *koar-koar di seminar* ;p
    Salam kenal, mbak.

    Zamzam: iya bro...Meniti jalan fundamentalisme pasar ;p

    Ilma: you're not nothing without money. you just don't exist ;p

    Amircool: baru kali ini? mmm...akhirnya terbukti juga 'great minds think alike' *narsis mode:ON* :D

    Arif: mau pandangan mana nih? mahasiswa fundamentalis pasar, fundamentalis kiri, atau fundamentalis agama? I'll offer what you wanna hear, hehehe...

    *serius* Setahu saya, selama perusahaannya itu bergerak di bidang yg halal (dalam pengertian luas) ya oke-oke aja...dan pengertian halal tidak mengenal nasionalitas, yg penting apa yg dilakukan perusahaan itu...that's one perspective.

    lho, tapi kan mereka 'merampok' resources kita? Sebentar...

    terus...IMHO sih, masalahnya bukan di 'asing' atau 'pribumi', tapi keadilan (I'm very tempted to saya also 'kesejahteraan', tapi ntar ada partai yg ge-er, hehehe). Kalo ada juga perusahaan lokal yg mengelola hasil bumi, tapi tetep tak menyejahterakan sebesar2nya rakyat (malah ditimbun buat jadi org terkaya Ina versi Forbes, mislanya, hehehe) ya apa bedanya...

    so...siapa yg bisa menjamin keadilan itu terjadi? ya kita...sayang, bukan kita langsung, kita konon mewakilkan kepada pemerintah yg kita pilih 5 taun sekali (kata mhs fnmentalis pasar: senior2 kamu dulu! hehehe).

    masih panjang euy, tapi ntar lah rif...

    Igun: untung sampeyan ga pernah mendoktrin junior2mu seperti mahasiwa jaman dulu yang tak progresif ituh! ;p
    Pembenaran? hehehe...satir, bos, belum tentu saya tidak seperti itu, wehehehehe

    Donny: jelas. Tinggalkan paradigma mahasiswa lama. Ganti slogan demi rakyat yg penuh tipu daya itu dengan demi diri saya sendiri!

    ReplyDelete
  9. Anonymous1:27 AM

    jadi ngerefresh lagi tuk mengkaji kembali islam politis dan ideologis, tapi dari postingan2nya...klo bisa diberi pendefinisian yang jelas...istilah fundamentalisme pasar agak sulit untuk dipahami maksudnya kemana, karena kombinasi kata fundamentalisme dan pasar adalah kombinasi kata yang cukup asing bagi saya....

    dan mengenai solusi jadilah fundamentalisme pasar menurut saya adalah pandangan yang solutif yang bersifat individualistis, memang kemiskinan membuat posisi lemah dan tak berdaya tetapi solusi yang harusnya dikemukakan adalah solusi sistemik, yang lebih bersifat grass root...solusi ini mungkins solusi kontemporer temporer, dan secara sinergis harus dipersiapkan plan secara sistematis..

    ReplyDelete
  10. Anonymous12:46 PM

    Ruar biasa tulisan lucky..selama baca2 tulisan km luck, kayanya ini yang paling lucky banget he he.

    Menurut saya si itu kaya anekdot Ikan Nila dalam kolamnya luck. Ikan nila menganggap dunia hanya sebesar kolam itu, apa yang ia rasakan dan ia ketahui di kolam itu seakan semuanya telah ia tahu. Tapi setelah ia keluar dari kolam,mungkin dia baru tahu kalau ternyata ada dunia lain yang bahkan akan membuatnya lbh bebas atau bahkan mati....
    hehe..

    ReplyDelete
  11. @ Eecho: fundamentalis pasar adalah istilah Soros yang menganalogkan kapitalisme 'baru' yang berkembang sekrang2 ini dengan ragam fundamentalis lain...kredit harusnya untuk soros, dan rasanya dia juga setengah berseloroh waktu bikin istilah ini, yang jadi makin cocok untuk dipakai di tulisan ini. 'Fundamentalisme' memang tak cocok disandingkan dengan 'pasar'.

    Solusi sistemik, bersifat grass roots? jangan bilang membangun 'sesuatu' apalagi 'sesuatu yang besar', apalah-itu-namanya. Saya sedang skeptis ;p.

    Tetapi jelas saya mendoakan, semoga berhasil. Makasih kritikannya.

    @anonymous: kok tiba2 ikan nila? tapi iya sih, pengetahuan kita akan dunia selalu tak sempurna, tapi gimanapun kita harus memilih mana yang 'final'. yang laen mah cabang aja, dan tetep open mind. Jadi pengalaman ikan nila itu niscaya, kecuali nila keras kepala yang sukanya berada di kolam yang sama.

    tapi kalo nila keluar kolam kan mati ya?

    ReplyDelete
  12. arif rahman9:05 PM

    sepakat luck. keadilan dan kesejahteraan :)

    tp selain itu, yg harus dijaga "keringat kita itu untuk siapa". untuk kita pribadi(sehingga kita ngga jadi masalah) dan untuk asing. atau untuk kita pribadi(kita ngga jadi masalah) dan untuk kesejahteraan rakyat (solusi) :)

    nah. menurut saya. ngga masalah jadi priyayi. tp titik tekannya kita jadi priyayi yg mana. priyayi sukarno n budi utomo (dapat ilmu utk berjuang). atau priyayi yg jadi bupati dan wedana (dapat ilmu utk mengabdi ke belanda).


    karena seperti kata lucky : belum tentu yang'secara logis benar' itu "benar"...dan belum tentu yg menurut "hukum" benar itu "benar"

    ReplyDelete
  13. kok? Imho ya, saya mah menganggap bekerja, dimanapun, adalah konsep kemitraan. Jadi, kalimat yang dipakai adalah 'join', not 'work for'. Pada konsep kemitraan ini, saya pikir sih tak relevan berpikir 'untuk siapa keringat kita', karena jelas the company get sthg from me, and i get sthg from the company...yg adil aja. kalo berasa ga adil ya jangan gabung, kalo dianggap adil ya gabung. Sesederhana dan sesulit itu, karena kriteria adil juga susah didefinisikan secara konsensus. Apakah yang adil buat seseorang adil juga buat saya? ya belum tentu...

    Kesejahteraan rakyat? kata mhs fundamentalis pasar sih biarkan pasar yg bekerja, ditambah pembangunan institusi yang kuat ;p. Artinya, kalo tiap org mengejar their respective (bukan selfish) interest, cukup bebas untuk melakukan usaha itu, didukung dgn institusi dan regulasi kuat untuk menjamin hal itu, kondisi yg optimal untuk so-called rakyat (mungkin) bisa tercapai. Tentu saja usaha2 pengorbanan, sumbangan atau apapun tetap baik dan harus didukung.

    Kedengaran seperti pembenaran? apa boleh buat, mungkin ada yang salah dengan yang saya pahami.

    Wallahu a'lam.

    ReplyDelete
  14. arif rahman4:27 PM

    hmm :) sepertinya saya harus lebih banyak belajar fundamentalis pasar :)

    btw, imho itu apa ky?

    (Astagrfirullah rif..cape deh :) )

    ReplyDelete
  15. Anonymous5:48 AM

    Jelas, sindrom bayi biru,seorang ibu yang tidak terima slip gaji nya di potong pajak.

    Gw sejujurnya mengharapkan tulisan Luki yang menentang institusi agama seandainya saja 2.5 % gaji nya di potong untuk zakat, seperti kasus pegawai negeri lombok. Sayangnya belum mungkin.

    Atau bahkan berharap tulisannya akan menentang Tuhan, karena telah semena-mena menetapkan peraturan aneh??!! Yang merugikan kelas menengah!!

    Kenapa mengeluh Luk??!! Apakah terlalu banyak kebutuhan??!!Atau mau Nikah??!! Jika demikian, tidak sepantasnya Luki mengolok-olok para koruptor!!

    Karena apa??!!! Karena koruptor sangat-sangat tidak ingin memperkaya diri, hanya saja kebutuhan mereka banyaknya Naudzubillah. Tak ada seoarang pun didunia ingin memperkaya diri,mereka cuma ingin kebutuhan mereka terpenuhi, sayangnya sampai mati pun semua orang tidak akan pernah memenuhi kebutuhannya.

    Awalnya,gw mengira salah seorang murid freire telah sadar. Bukankah tujuan pendidikan freire adalah juga memerdekakan penindas??!!

    Penindas Luki yang menyesali perbuatannya semasa menjadi mahasiswa dan menjadi bagian sistem bodoh yang dianggap Luki dibuat oleh senor-senior kolotnya. Penindas yang tidak berani meminta maaf secara jujur karena telah menindas, tapi hanya bisa menyalahkan ketidakberdayaan. Namun, jika ditranparansi dari tulisannya (istilah dekontruksi kurang pas), ternyata sindrom bayi biru lah yang terlihat. Sangat-sangan pro pengusaha, dan anti pemerintah. Seandainya Baitul Maal menjadi instutusi publik, bagaimana reaksi Luki??!! Terlebih jika Baitul Maalnya dikelola oleh senior-senior nya itu. Mudah-mudahan juga anti agama.

    Harap tersinggung....amien...

    ReplyDelete
  16. Sebenernya mungkin nggak seribet itu, Luck. Jika segala sesuatunya didasarkan pada syariat (Al Quran dan As Sunnah), INSYA ALLAH semua akan baik-baik saja.. :)

    Semoga Lucky nggak pernah bosan untuk terus belajar memahami, bahwa : "in the final analysis, it is between you and God ; It was never between you and them anyway.." dalam arti yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  17. Luk,..
    komen dikit,..
    satire yang bagus..
    tetapi memang ga bisa dipungkiri apa yang kamu tulis itu benar adanya,.. bahwa pasar memiliki ruang dalam hubungan manusia di masa sekarang dan juga akan datang. namun tidak dipungkiri pula celah pasar yang sangat jurang dapat membunuh keadilan sosial, sekaligus membunuh norma-etika budaya.

    Kita ga mungkin berkutat dengan ala pejuang sendirian, keukeuh dengan penolakan, tetapi tidak mencoba bermain pola dalam kondisi yang ada . Revolusi bukan itungan jam atau bulan. Tetapi itungannya tahunan.

    Mungkin kaum utopis kiri dan fundamentalis agama bisa teriak "ini demi masa depan anak cucu kita, masa depan yang lebih baik" .. tetapi sekali lagi, hidup itu adalah sekarang. Perubahan bukan degan menolak, tetapi dengan "MENGUBAH" ..

    Satire yang bagus, sekaligus memberi makna ganda ..
    at least buat yang berpikir, akan bertanya "jadi apa yang terbaik?"

    jah, jadi koment panjang..

    ReplyDelete
  18. asti 'yang itu'3:07 PM

    Itulah kenapa saya:

    - kuliah di universitas swasta (biar kuliahnya ga dibayarin uang rakyat).

    - ga pernah ikutan ospek (toh kalo kritis mah kritis aja ga usah di ospek juga. begitu pula kalo emang eksis mah eksis aja ga usah pake diospek segala).

    - ga pernah ikutan demo ke jalan (mendingan kuliah yang bener biar pinter).

    - (berusaha) lulus secepat-cepatnya.

    - cari suami kaya biar ga usah pusing-pusing cari duit (hehe). biarkan suami bekerja untuk anda!

    yuk mari :).

    ps. maaf komennya ga cerdas. biar pada mikirnya ga terlalu serius, hehe.

    ReplyDelete
  19. hehehe, maaf ndak setuju kang. betul, altruisme memang--sejauh ini--belum menyelesaikan masalah. tetapi itu bukan karena altruisme "tidak bisa", melainkan karena kekuatan pasar dan kapitalisme jauh lebih kuat.

    Coba hitung aja berapa sih yang sudah disumbangkan Gates dan Buffet (seperti akang sitir), dibandingkan dengan besaran peredaran uang kapitalis. Belum seujung kuku kang. Dan ingat pula, dua-dua orang itu, juga para altruis lain sejatinya adalah kapitalis juga.

    masalahnya, pasar tidak akan mengizinkan semua orang menjadi Bill Gates atau Warren Buffet.

    ReplyDelete
  20. kalo mahasiswa fundamentalis pasar punya bisa punya network g?

    kan kegiatannya dikit?

    mnurutmu sebagai orang yg udah kerja kita butuh network segitunyakah?

    ReplyDelete
  21. @ Arif:
    In my humble opinion rif...Tapi emang ada hal2 yg ngga sreg juga ;(..but for a greater good, insya ALLAH. doain aja..
    @ anonymous:
    saya tersinggung, sesuai harapan sampeyan, hehehe...
    Kalau dijawab panjang n bisa jadi satu postingan sendiri, tapi singkatnya: mhs fundamentalis pasar gak akan menantang institusi agama, bukan core competence-nya..kecuali interest nya terganggu. kasus Lombok, selama mekanisme nya demokratis, kenapa nggak? kalo mo protes juga prosedural. protes jalanan apalagi ampe vandal ganggu IHSG, hehehe...menentang Tuhan? mhs fndamentalis pasar: kekuasaan hanya berlaku jika anda setuju dikuasai. Kekuasaan Tuhan itu kan aneh, hanya mengikat jika anda sepakat, dan dikukuhkan oleh 'hamba2nya' yg bersemangat, baru deh kerasa. Jadi kalo mau lawan ya jangan Tuhan, hamba2 yg merasa sebagai perwakilan suci Tuhan (tapi menindas) aja...;p.
    Ini bukan keluhan, ini satire.
    Koruptor tak bisa disalahkan? mas, koruptor membuat ekonomi biaya tinggi, ga baik utk pasar karena jadi tak optimal mendistribusikan wealth. Mhs fundamentalis pasar is against corruptor in that sense. Penindas?Kalau sya dianggap menindas, ya saya minta maaf. mohon maaf. Bayi biru, pro pengusaha & anti pemerintah? mhs fundamentalis pasar ga anti pemerintah, malah ngedukung dalam artian minimal state. pro pengusaha? Pro pasar tidak sama dgn pro pengusaha. korporasi besar harus ditertibkan biar persaingan (menuju) sempurna tetap terjadi. Ini pro pasar, bukan pro pengusaha. baitul maal institusi public? will it be good for the market? hehehe...
    *masih satir mode*

    *serius* Ini satir mas, serius amat nanggepinnya. Kebetulan saya kalo mikir menciptakan tokoh2 dalam otak saya dgn beragam background,n si mhs fundamentalis pasar ini (capek nulisnya, ke depan akan saya panggil dia Sammy) tokoh yg baru ikut nimbrung di otak saya. Nah di sini pikiran2 Sammy yang keluar...

    ReplyDelete
  22. @ leksa:
    komen panjang yg berkualitas...
    *speechless*

    @ asti:
    kalo saya:
    - kuliah di negeri, murah. Jelas saya piih yg optimal buat kepentingan saya.
    - ikut ospek, keliatan bagus di CV.
    - Jarang (nggak pernah?) ikut demo, mendingan koar2 komentar tertulis ;p.
    - berusaha lulus secepat2nya, tapi kurang pinter jadi gak bisa ;p
    - cari istri yg mau hidup sederhana. Biar duitnya masuk pasar saham aja, daripada abis buat biaya kosmetik istri ;p.

    Iya ya neng pada serius amaaattt, hehe. Btw, selamat ya. terutama buat poin terakhir, saya ikut doa ;).

    @ daustralala:
    iya, mungkin benar. jadi gimana, kita ngarepin semua org jadi altruis, gituh? ga mungkin...

    @ junita: teori bilang yang menguntungkan secara ekonomi itu weak-ties, bukan temen2 deket kita. Sammy punya banyak network? tergantung. Apa sammy kerjaannya belajar aja? ya nggak, tapi network dia bakal optimal: hanya yg menguntungkan.

    kta ga perlu banyak network, kita perlu network yg menguntungkan ;p.

    ReplyDelete
  23. @ yellowbear:
    iya kali ya? tapi interpretasi dan aplikasinya emang agak ribet...

    ReplyDelete
  24. ckckckck...gitu aja kok repot ya???hidup udah susah kok dipikirnya juga susah....

    ReplyDelete
  25. Anonymous11:56 AM

    satire?? hmm, nggak buat gw.. hehe..

    Lucky Said : "Solusi sistemik, bersifat grass roots? jangan bilang membangun 'sesuatu' apalagi 'sesuatu yang besar', apalah-itu-namanya. Saya sedang skeptis ;p."

    Oh ya?? Maksudnya sedang skeptis selama 25 tahun, eh maksud saya 24 tahun ini? hehe..

    Nizar

    ReplyDelete
  26. Luck...kamana wae atuh? daripada kerja ngeganggu ngeblog, mending berhenti aja luck...>:)

    ReplyDelete
  27. Leonardo HG11:34 AM

    Bang Luki,,
    apa kabar niy..?
    selalu enak dibaca tulisannya,,
    Baru skrg mau ngucapin makasih atas masukannya,,
    huehue2..
    Sukses bang.. : )

    ReplyDelete