Friday, November 09, 2007

On Politic

Ini curhat. Kali ini gayanya kasual sajalah, tak perlu bungkusan teori macem-macem atau bahasa berbelat-belit.

Karena curhat, anda bisa jadi curiga ini akan membosankan. Tolong dimaafkan. Sebelum mulai, ada yang tau gimana buat emoticon di blogger? Tolong kasih tau ya... Norak nih saya...he33x.

Kalo anda liat di sidebar blog ini, salah satu wannabe list saya ialah ‘politician’. Alasannya sih saya ingin bisa bermanfaat buat orang lain (terus terang saya kesulitan untuk menuliskannya tanpa kelihatan berlebihan...). Apa politisi bisa? Kalau bener, ya Insya ALLAH. Satu diantara dua kelemahan umat, menurut Naquib al-Attas, ialah kepemimpinan (publik). Politisi yang baik bisa sedikit menutupinya.

Saya sebenarnya merasa nyaman-nyaman saja dengan hal yang namanya ‘politik’. Gak anti politik. Merasa ‘maklum’ saja kalo dipolitisasi, bahkan ketika saya sadar betul sedang dipolitisasi. Meski kadang-kadang dongkol, tapi ya wajar...namanya juga politik. Karena terkait power, buat saya politik itu ordinary, bahkan sehari-hari. Kuasa, dan relasi kuasa itu ada di tengah-tengah kita. Tak usah bicarakan tentang apa yang biasa kita sebut ‘dunia politik’; iklan, wacana, hingga obrolan ringan bisa dilihat dalam perspektif kuasa ini. Masalahnya adalah kesadaran dan pemahaman kita, akan segala peristiwa politik sehari-hari, dan kesadaran posisi: anda mempolitiki atau dipolitiki? Anda dalam kerangka hegemoni atau tirani?

Dian Sastro kelihatan cantik sekali di Lux edisi white glamour. Suaranya juga saya dengar di radio, mempromosikan tentang glam beauty. Saya membeli Lux, karena saya cinta Dian, dalam iklannya itu. See, Dian punya power yang membuat saya membuat saya membeli sabunnya (Padahal, mungkin saja Lux itu tidak bermanfaat buat saya...Toh saya gak mau jadi putih juga). Ia berkuasa atas saya. Buat saya itu politik: seni memanfaatkan kekuasaan untuk meraih tujuan. Kenapa Dian bisa lebih berkuasa dibanding SBY, misalnya (saya nggak mau beli Lux kalau di iklannya SBY mandi pake Lux!)? Ya karena Dian juga berjuang untuk meraih kekuasaannya itu. Dian memulai dari gadis sampul, terus bintang film indie, terus di momen yang tepat jadi bintang film yang jadi tonggak film Indonesia, bersamaan dengan masa late teenage saya. Klop. Dian meraih posisi kekuasaan tertinggi, minimal buat saya. See, itu juga politik: seni meraih kekuasaan.

Makanya, Dian Sastro for President! ;)

Sementara politik itu ordinary, tetapi ternyata saya baru sadar bahwa saya gak bisa terlalu nyaman dengan proses-proses politiknya. Terutama yang tidak subtil, meskipun tidak bisa dibilang vulgar juga. Sampai sekarang saya ndak tau kenapa.

Proses-proses politik di Indonesia itu mahal. Demikian tulis Kompas beberapa waktu lalu. Ada yang menyalahkan sistemnya: demokrasi kita (hampir-hampir?) liberal, yang memang menuntut high cost. Agak mirip-mirip Amerika lah...gak ada cerita presiden Amerika jaman belakangan ini yang bisa jadi Presiden dengan dana kampanye minim. Bahkan salah satu indikator kekuatan dan dukungan di Pemilu Amerika sana kan kemampuannya untuk menggalang dana. Sementara yang lain menyalahkan pelaku: elitnya aja yang ndableg. Yang nggak kreatif dalam kampanye, dan menganggap cara terbaik untuk menang, ya sediakan dana untuk fasilitas dan ‘gizi’. Pendapat lain yang bisa ditambahkan, konon ini adalah era market. Seluruh proses-proses politik pun berjalan di market, dan perlu marketing, yang tidak murah.

Politik yang high cost, itu hal pertama yang membuat saya gak nyaman. Pertama karena saya gak punya duit (he33x), kedua karena dengan high cost politic ini juga moral politik (demi kepentingan rakyat banyak!) menjadi rentan, bahkan bisa jadi diselewengkan. Motif-motif juga jadi sulit diterka: ini duit buat kebaikan atau menjual kebaikan buat duit? Mumet.

Hal kedua. Kemarin teman saya cerita tentang sahabat lamanya yang setelah cukup lama tidak berhubungan tiba-tiba menelepon. Bukan buat bertukar kabar, tapi dia ‘diprospek’. Kontan dia ngamuk. Bukannya nanya-nanya kabar dulu atau gimana...

Ini juga membuat saya gak nyaman. Saya gak enak aja kalo saya mau jadi walikota Cirebon, misalnya, terus tiba-tiba menghubungi kontak-kontak tertentu, keliling-keliling cari dukungan, bikin kongres macem-macem, bikin ikatan alumni atau organisasi macem-macem, dengan satu misi: dukung saya jadi walikota! Aduh. Kesannya koq gimanaaaa gituh...(maaf menggunakan kalimat nggak jelas mirip ABeGe. Soalnya saya juga susah menjelaskan).

Padahal itu kan wajar saja, tho? Namanya juga politik. Maklum lah. Biasa.Tapi nggak tau kenapa saya gak enak aja. Mungkin karena basically saya pemalu (halah!), atau karena proses-proses seperti itu terlalu vulgar dan kurang intelek ;p.

Aduh. Aduh. Aduh. Bisa gak ya kita punya proses-proses politik yang enak? Kepemimpinan dari bawah: karena kerja sosial tulusnya di masyarakat, masyarakat tersebut secara natural mengangkat dan memaksa dia menjadi pemimpin. Dia sendiri mungkin tidak mau dan keberatan, tapi terpaksa mau. Nah, karena basis sosialnya pun terbentuk tulus, yang mendukung juga banyak, kepemimpinannya pun dijalankan dengan tulus (kekuasaannya hanyalah jalan lain untuk mengabdi) ; dengan sendirinya kepemimpinan dia juga sukses. Kehidupan orang banyak menjadi lebih baik. Tentu tidak semua senang, tapi biarlah, toh musuh dia semua orang jahat. Dia meninggal, dan meskipun ia tidak mau, mau tak mau ia dikenang. Di akhirat pun masuk surga, lewat jalur pemimpin yang amanah.

Repotnya, orang macam begini ogah masuk high politic. Lihat Al Gore sekarang. Lihat Mahatma Gandhi.

Tapi mau gimana lagi luk...ini sistem demokrasi! Juga persoalan gak selesai dengan teriak-teriak tegakkan khilafah. Politik praktis, dengan begitu, bisa jadi salah satu alternatif jalan. For greater good.

Tetapi adakah ‘greater good’ itu? Bagaimana menjamin ‘greater good’ itu tercapai? Assurance-nya ya...lagi-lagi, proses-proses politik. Mau tidak mau, proses-proses politik yang dijalaninya pun harus sehat dan benar, untuk mencapai greater good.

Susah. Saya harus belajar menyamankan diri, apalagi kalo emang niat ‘berpolitik’. Pikiran lainnya, look at the bright side! Kalo gak rame politik-politik ini, kapan lagi menyapa kawan lama, menyambung silaturrahim, bertukar kabar, haha-hehe bareng, makan-makan...

After all, in the end it was always between you and God; it was never between you and them anyway.

_di malam hari abis pulang dari Dialog Alumni oleh IA-ITB Jakarta.

_ my official political statement and stand :)

_yaiyy, tulisan yang niat lagi setelah sekian lama! (tapi kok isinya jumpalitan gituh...)

6 comments:

  1. Dian Sastro for President,
    Lucky Luqman for Cirebon Mayor!

    ReplyDelete
  2. makan-makan di forum gede...
    jadi deja vu diklat danlap neh...ehehehe

    ReplyDelete
  3. Donny4:50 AM

    Luck, di mana sih dapetin buku2 Naquib? Kok susah banget ya nyarinya?

    Soal emoticon, sebetulnya itu image-image yang disimpen di layanan lain, trus diakses pake html di postingan kita. Blogger belum ada fasilitasi parser emoticonnya.

    ReplyDelete
  4. Ikram: :D
    AUl: deja vu gimana, ul?
    Donny: buku naquib ada di perpus salman (yg tentang sekularisme), terbitan jaman kuda, penerbit pustaka. ga ada lagi di pasaran euy...ada summary pemikirannya tentang pendidikan (filosofi pendidikan Islam gituh judulnya?), ditulis ama muridnya (wan muhammad wan islmail), yang ini terbitan mizan, taun-taun kemaren. masih ada kayaknya di gramedia.
    nuhun info emoticonnya! ;D

    ReplyDelete
  5. asti 'yang itu'2:49 PM

    Bapak..

    Baca tulisan Lucky jadi inget jaman (saya) kuliah. Awal-awal kuliah tuh mikirnya "Wow, kuliah politik. Gimana ya rasanya?".. Tapi setelah di jalani ternyata rasanya seperti kehidupan sehari-hari. Haha. Intinya meng-influence orang untuk melakukan apa yang kita mau dan mendapatkan apa yang kita butuhkan. Empat tahun kuliah politik dan berada di lingkungan orang-orang yang kerjanya 'berdiplomasi' bikin saya ngerasa bahwa politic is everyday life. Bukan cuma di gedung MPR, di Istana Merdeka, di kantor-kantor partai gurem, atau di ruang himpunan mahasiswa. Tapi juga di dapur dan di kamar tidur. Karena berpolitik itu, ya itu tadi, intinya meng-influence orang untuk melakukan yang kita mau, mendapatkan yang kita perlu.

    Komen yang kurang penting. Hehe.

    ReplyDelete
  6. diklat infiltrasi...kemaren dareng ke kongres IA g?

    ReplyDelete