Naomi Klein menyodorkan sebuah kemungkinan jawaban. Ia melihat, pada satu sisi demo-demo perlawanan kini telah dibuat lebih global oleh para selebriti rock and roll, dengan pelopornya penyanyi Bono dari kelompok musik U2. Bono dan kawan-kawan telah membuat banyak kaum muda sadar akan persoalan dunia. Berkat mereka kesadaran kaum muda akan adanya ketidakadilan global kian meningkat. Ratusan ribu kaum muda hadir dalam konser-konser amal yang mereka gelar dengan tema antikemiskinan, antipemanasan global, pembebasan dari utang, dan lain-lain.
Meski demikian, konon konser-konser itu membuat banyak penggemarnya kurang terdorong mencari solusi konkret. Mereka suka "terharu" akan berbagai penderitaan dunia, tetapi tidak berminat membongkar sistem dan struktur penyebabnya.
Muncul gejala menarik. Di satu sisi kian banyak kaum muda peduli penderitaan dunia, di sisi lain banyak yang sudah puas hanya dengan merasa tersentuh akan penderitaan itu. Oleh Klein gejala itu disebut sebagai Bonoisasi (Klein: 2007).
Menurutnya, berkat inisiatif mulia yang dipelopori Bono dan kawan-kawan, kini banyak kaum muda lebih suka pergi ke lokasi-lokasi konser untuk "melawan kemiskinan" atau ke mal dan membeli gelang warna-warni bertuliskan "Anti-Globalisasi" daripada turun ke jalan menuntut tata ekonomi dunia yang lebih adil. Klein mengamati, belakangan banyak kaum muda lebih suka melampiaskan semangat aktivisme politiknya melalui fasilitas blogspot di internet. Lokasi konser, mal, dan internet tentu lebih nyaman sebagai tempat "perlawanan", tetapi perlawanan macam itu apakah mampu mengubah struktur ketidakadilan? Perlu dipertanyakan.
Saya memakai blogger (blogspot), bukan wordpress atau penyedia layanan weblog gratisan lain. Jelas saya kena bonoisasi, he33x.
Ini pengingat yang baik, dan pengisi kekosongan tulisan bulan ini.