Wednesday, August 08, 2007

“Charming” itu Penting!

Saya menemukan tulisan dari jurnal ilmiah yang bagus dari cafesalemba, judulnya Beautiful Politicians (King & Leigh, 2007?). Mereka ingin membuktikan, apakah politisi yang beautiful (maksudnya disini bukan hanya cantik, tapi juga ganteng) lebih banyak untuk dipilih. Karena beragam alasan demi kepentingan penelitiannya, Australia dipilih sebagai wilayah penelitian. Hasilnya? Dalam kata-kata mereka sendiri: Beautiful candidates are indeed more likely to be elected, with a one standard deviation increase in beauty associated with a 1½ – 2 percentage point increase in voteshare. Tidak terlalu besar, tapi di Australia, dengan jumlah kandidat yang banyak dan perbedaan suara yang tipis, 1-2 persen bisa jadi sangat signifikan. Temuan lainnya lebih menarik: we find suggestive evidence that beauty matters more in electorates with a higher share of apathetic voters.

Hmm...Saya segera ingat pilpres 2004 lalu. Beberapa media menyebut bahwa kandidat terpilih sangat disukai terutama oleh kalangan ibu-ibu, yang mempersepsi kandidat tersebut sebagai “ganteng dan gagah”. Saya juga ingat beberapa analisis komentator politik kita, bahwa perilaku pemilih kita sejatinya kebanyakan apatis. Ha! Pantas kandidat itu bisa menang kan?

Jadi, tidak adil? Kandidat yang diberikan ketampanan atau kecantikan (kualitas yang given ?) bisa mendapat suara yang lebih banyak daripada yang tidak ganteng/cantik?

Sebenarnya, that beauty matters bukan hanya di ranah politik saja. Dari prolog di tulisan itu juga saya dapatkan kesimpulan dari penelitian-penelitian sebelumnya: di pasar tenaga kerja Kanada dan AS, orang yang lebih menarik mendapat gaji lebih baik (Hamermesh dan Biddle, 1994), termasuk untuk profesi seperti pengacara (Biddle dan Hamermesh, 1998) dan eksekutif periklanan (Pfann, Bosman, Biddle, dan Hamermesh, 2000). Hal ini juga ternyata berlaku untuk pasar tenaga kerja di Australia (Borland, 2001) dan Inggris Raya (Harper, 2000). Lho, semuanya kan di negara Barat, tentu tidak di Timur kan? TIdak, ini juga berlaku di China (Hamermesh, Meng dan Zhan, 2002). Untuk menambah ‘ketidakadilan’ itu, saya tambahkan: bahwa orang yang kurang menarik more likely to commit crime (Mocan dan Tekin, 2006). Saya juga pernah baca, bahwa orang yang lebih tinggi mendapat rata-rata penghasilan yang lebih besar daripada rekan-rekannya yang lebih pendek (bisa dicari di jurnal-jurnal atau artikel-artikel economics of beauty, mungkin).

Dunia tidak adil? Mungkin. Tapi mau gimana lagi, emang bekerjanya seperti itu...(setidaknya seperti yang ditunjukkan riset-riset).

Hanya saja, untuk mengambil kesimpulan definitif bahwa memang benar dunia hanya baik untuk orang yang ganteng/cantik perlu melewati beberapa pemikiran terlebih dahulu.

Sebenarnya, apa itu beautiful? Apa itu ganteng atau cantik? Lupakan perdebatan tentang apakah persepsi kita tentang kegantengan/kecantikan itu konstruksi sosial atau diberikan secara alamiah. Skripsinya Dian Sastro, katanya, menunjukkan bahwa pendefinisian cantik adalah konstruksi sosial. Saya tidak tahu, yang saya tahu ialah Dian Sastro menurut saya cukup cantik, entah itu karena konstruksi sosial atau memang pendapat alamiah saja. Yang jelas, riset tentang cross-cultural beauty ratings menunjukkan, dalam bahasa King & Leigh, beauty is not ‘in the eye of the beholder’. Tapi bukankan cantik itu relatif, seperti dalih orang-orang? Ya, di level mikro-individual. Saya menilai Mariana Renata, misalnya, cukup 7, sementara Anda menilai 9. Namun jika disurvei, pada level makro, secara aggregat bisa kita dapatkan, nilai Mariana Renata adalah X sementara Fulanita itu Y, dimana X>Y, yang berarti Mariana lebih cantik daripada Fulanita. Dan itu berlaku lintas budaya ( Langlois dkk, 2000).

Jadi, sebenarnya cukup aman menyimpulkan pada level makro beauty is universal, tidak peduli asal-usul penilaian itu, apakah konstruksi sosial atau alamiah.

Pertanyaan berikutnya, bagaimana yang beauty itu? Yang simetris-proporsional? Proporsional seperti apa? Atau mengikuti pendapat Oprah sewaktu mewawancara Charlize Theron, bahwa orang cantik adalah orang yang memiliki bentuk segitiga harmonis antara kedua mata, hidung dan bibir? (sudah, sudah, tak perlu mengecek diri dan melihat cermin, he33x). Atau mengikuti Pramudya, bahwa kecantikan adalah susunan tulang yang baik dengan daging yang menempel secara proporsional?

Ini bukan hasil riset, tapi opini pribadi. Saya sendiri menganggap berbeda antara ‘cantik’, ‘manis’, ‘cute’, ‘menarik/attraktif’, dan ‘jelita’. Karena menyangkut perasaan, saya sulit membuat pembatasan jelas tentang kategori-kategorinya. Ada yang menurut saya cantik, tapi somehow, kok tidak menarik. Ada juga yang sebenarnya kurang cantik, tapi somehow lagi, kok ya sangat menarik.

Saya mengusulkan kita menggunakan istilah charming untuk orang-orang yang tidak peduli cantik atau tidak, tetapi menarik. Berlaku untuk pria dan wanita. Istilah charming ini juga dipakai, supaya judul yang saya gunakan bagus dan berima (“charming” itu penting!)

Nah, menurut saya, charming itu tidak terkait dengan kecantikan fisik. Intinya, charming adalah kemampuan membuat nyaman dan enak untuk orang-orang dalam melihat kita. Jadi, charming ini saya usulkan untuk mengganti beautiful dalam literatur economics of beauty.

Seperti ditunjukkan dalam riset-riset, ternyata memang charming itu penting! Orang-orang charming mendapat penghasilan yang lebih besar, lebih sedikit berprilaku kriminal, dan lebih disukai untuk dipilih.

Sekarang, apakah dunia tidak adil? Sementara cantik/ganteng itu fisikal, kalau anda mau sepakat, charm itu tidak terkait dengan fisik. Anda bisa saja ganteng, tapi belum tentu charming. Anda mungkin kurang cantik, tapi bisa jadi charming (bisa juga tidak). Jadi, charm itu bukan kualitas yang given, tetapi kualitas yang bisa didapatkan, bisa dipelajari. Charm terkait dengan bagaimana kita ingin menampilkan diri kita. Personal branding. personal positioning, yang bisa dirancang. Nah, kalau begitu, dunia itu tidak tak adil. Netral. Karena jadinya tergantung kita, mau belajar jadi charming atau tidak?

Selanjutnya, bagaimana menjadi charming ? Nah, untuk yang ini saya juga masih perlu banyak belajar, he33x. Mungkin orang-orang yang telah charming di luar sana tertarik menjelaskan?

Wallahu a’lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui


9 comments:

  1. Siap menjelaskan lah Ki!!! tapi personal aja ya? ini modal virtual soalnya sayang kalo digratiskan Bwahahahaha

    Saya juga pernah baca artikel yang menjelaskan bahwa muka bagi orang marketing dan politisi adalah aset yang paling berharga selain bualan tentunya... tapi lupa di mana ya?

    Kalo soal charming, itu memang kualitas yang bisa didapatkan lewat usaha sih.. Tapi tetep aja ngga sih, Bahwa untuk menjadi charming jauh lebih gampang kalo kita udah beautiful dari sananya? Atau minimal ginilah.. Dengan tingkat ke-charmingan yang sama orang akan memilih untuk berdekatan dengan orang yang beautiful by default bukan?

    ReplyDelete
  2. Anonymous1:59 PM

    Gw sepakat deh ama viar, bahwa muka (selain bualan) penting buat orang marketing. Karena itu juga sih gw masuk marketing (huekk cuhh) hehe..

    Tapi gw ga sepakat untuk soal dengan tingkat kecharmingan yg sama orang akan lebih memilih untuk berdekatan dengan yg beautiful by default. Karena menurut gw kalo udah dinyatakan level charmingnya sama, variabel beautiful mestinya sudah indifferen..

    Yah tapi itu menurut gw sih, tahu apalah gw dibanding bang viar yg sudah experienced? Makanya kita jangan protes kalo akhirnya dia lebih memilih untuk dekat dengan "orang yg beautiful by default" huehehehe....

    Nizar

    ReplyDelete
  3. charming dari dalem tp kalo beautiful given or diusahakan.lebih susah utk jadi charming krn urusannya ama mind n soul.

    belom tentu org yg dah beautifull dari sononya gampang utk jd charming.bs jadi krn mereka udah ngerasa nyaman dgn itu,jd ga mw berusaha lebih.

    in my opinion, malah justru org2 yg ga punya kelebihan secara fisik lebih gampang utk jadi charming.karena mereka tertantang dgn kenyataan bahwa 'dunia hny utk org2 cantik',spt hasil2 riset yg udah dipaparkan.

    so, charming is inner beauty that can not only seen by eyes, but also by heart.

    *btw,lg nulis skripsi sosial yak??;P

    ReplyDelete
  4. @ viar: hehehe, ditunggu penjelasannya deh vi...n sepakat ma nizar, pernyatannya kurang konsisten tuh...
    @ nizar: wah, ini juga nih salah satu org yang gw harus berguru utk urusan charming2an...;p
    @ ratih putri: pilih charming atau beautiful, tih? ;p

    ReplyDelete
  5. Anonymous5:50 AM

    Wah, gw dulu agak psikohumanis, tapi skrg pure biologis.sunatullah kali.
    Cantik kontruksi sosial? itu zaman dulu, zaman paska perang, zamannya twiggy, atau zamannya artis india yang gendur2.
    Skrg gw percaya namanya pemaksaan Tuhan akan reproduksi dan regenerasi.
    Cantik itu jika ditarik garis muka bener simetris kiri-kanan. Efeknya katanya menghasilkan hormon yang bisa memperlancar regenerasi menghasilkan bayi (gw pernah nonton di tipi). Itu udah ada dikepala cowo, sehingga udah dari sononya cowo suka yg cakep, dan sadar atau ga, pengen menghasilkan bayi yang sehat.

    Justru yg bahaya itu kontruksi sosial itu sendiri. Bisa-bisa klo melanggar sunatullah, manusia bisa punya penyakit mulut dan kuku...hehe...

    Bayangin gini, udah dari sononya cewe suka cowo mapan. Alasannya pun bener-bener alasan luhur ketuhanan, genetis, yakni berharap bahwa calon suami tersebut bakal menghidupi anak2 dengan baik dan layak. Sama kaya binatang yang dimana betinanya mencari pejantan tersehat untuk menghasilkan anak2nya (bener2 luhur, meskipun dmikian entah kenapa manusia ga mau disamain ma binatang).

    Ketika muncul kontruksi sosial bahwa cari yang mapan sama dengan 'matre', gimana coba?

    kasian kan!!enkripsi genetis 'mapan' yang murni diciptakan Tuhan untuk menjaga keturunan, harus melawan resistensi false-conciousness ala Ayu Utami. Cewe jadi malu untuk menuntut, padahal perlu demi kelangsungan kehidupan.

    trus nasib orang yang ga simetris atau ga mapan gmn?

    disitulah fungsi kontruksi sosial. Diciptakanlah istilah inner beautylah dan semacemnya. Ada operasi plastik, sekolah kepribadian, dan lain-lain. Dan yang terpenting ada harapan.

    Lah wong bidadari aja generik ko, ga dibilang relatif atau sesuai selera masyarakat pragmatis.

    Dan tentang keadilan...... bukan berarti diciptakan 'jelek' tidak adil, tapi ngga' segampang bisa melahirkan orang yang cakep, namun masih bisa juga bereproduksi.

    Definitif keadilan yang masih dalam tataran kualitas penerimaan, tidak didefinisikan sebagai ketidakadilan karena belum ada yang miss, tapi kita sebut saja 'toleransi', toh masih bisa bereproduksi.

    Jadi,masalah kecantikan adalah masalah toleransi dan jauh dari namanya dunia adil atau tidak. Sehingga tidak aneh jika nantinya ada yang bilang cantik itu relatif, karena toh punya selang penerimaan.

    Masalah ketidakadilan baru terbentuk ketika terjadi suatu relasi. Klo dari relasi muncul diskriminasi baru itu tidak adil namanya.

    Jadi secara substantif, ' cantik dari sononya' sebenarnya tidak ada masalah. Yang masalah adalah mengani 'relasi' nya.

    Definisi anda tentang charming yakni mengenai bagaimana menampilkan diri, sudah termasuk dalam suatu relasi. Dan anda sangat mungkin berlaku tidak adil dengan definisi anda sendiri, ekstrimnya misalnya dengan menonjok muka orang yang menurut anda tidak bisa menampilkan diri. Iya kan??
    bukan dunianya yang tidak adil kan??

    ReplyDelete
  6. haha,posting yang fresh.

    gini kak luki,menurut saya sih cantik atau ganteng pada intinya adalah bahasa yang kita pakai untuk menggantikan bahasa maupun kata-kata yang menunjukkan bahwa dia "indah dilihat".

    saya setuju bahwa "indah dilihat' ini adalah definisi yang datang dari sananya.pake filing aja.

    tentang definisi cantik menurut TA dian sastro, kalo nggak salah yang lebih disinggung itu adalah bahwa atribut "cantik" itu dibentuk lewat media, seperti : kulit putih, rambut panjang berkilau,dll,dkk..

    menurut saya sih mungkin beberapa tahun lagi, atribut "cantik" adalah disaat seseorang nggak takut-takut jadi diri sendiri. ah nggak tau deng,hihi..

    ini blog-nya,kak.tapi jangan dibandingin lah ya..
    :)

    alia TI04

    ReplyDelete
  7. @anonymous: tentu saja adil tidak adil itu masalah relasi. makanya saya bilang, dunia tidak adil, karena juga trsusun dari manusia dan interaksinya, sebuah relasi. ALLAH adil, alam adil, tapi dunia bisa jadi tidak adil. tentu saja cantik dari sononya tak ada masalah, tapi ketika memaknai 'cantik', memberi nama 'cantik', bukankah telah terjadi suatu relasi? yang rentan ketidakadilan...
    @ alia: hoo..yang dibahas tuh atributnya ya...nuhun infona. blognya saya link yak ;)

    ReplyDelete
  8. sepakat aja deh Luck, eh OOT nih, weblog saya ganti ke www.bisnisfarmasi.wordpress.com

    Soalnya, saya susah banget kalo menuangkan yang di luar di sini, susah nulis kayak sampeyan ini nih...Hah...

    ReplyDelete
  9. Setuju
    Selanjutnya, harusnya konsep charming diterapkan secara langsung dalam dunia industri di Indonesia.

    hahaha.
    efek tv berwarna dan HD sekarangnya. Kayaknya buat orang ganteng dan cantik jadi buronan. Padahal kan yang ga ganteng dan cantik amat bisa jadi lebih ganteng dan cantik. Dengan tampilan HD.

    Betul?

    ReplyDelete