Saya menemukan tulisan dari jurnal ilmiah yang bagus dari cafesalemba, judulnya Beautiful Politicians (King & Leigh, 2007?). Mereka ingin membuktikan, apakah politisi yang beautiful (maksudnya disini bukan hanya cantik, tapi juga ganteng) lebih banyak untuk dipilih. Karena beragam alasan demi kepentingan penelitiannya, Australia dipilih sebagai wilayah penelitian. Hasilnya? Dalam kata-kata mereka sendiri: Beautiful candidates are indeed more likely to be elected, with a one standard deviation increase in beauty associated with a 1½ – 2 percentage point increase in voteshare. Tidak terlalu besar, tapi di Australia, dengan jumlah kandidat yang banyak dan perbedaan suara yang tipis, 1-2 persen bisa jadi sangat signifikan. Temuan lainnya lebih menarik: we find suggestive evidence that beauty matters more in electorates with a higher share of apathetic voters.
Hmm...Saya segera ingat pilpres 2004 lalu. Beberapa media menyebut bahwa kandidat terpilih sangat disukai terutama oleh kalangan ibu-ibu, yang mempersepsi kandidat tersebut sebagai “ganteng dan gagah”. Saya juga ingat beberapa analisis komentator politik kita, bahwa perilaku pemilih kita sejatinya kebanyakan apatis. Ha! Pantas kandidat itu bisa menang kan?
Jadi, tidak adil? Kandidat yang diberikan ketampanan atau kecantikan (kualitas yang given ?) bisa mendapat suara yang lebih banyak daripada yang tidak ganteng/cantik?
Sebenarnya, that beauty matters bukan hanya di ranah politik saja. Dari prolog di tulisan itu juga saya dapatkan kesimpulan dari penelitian-penelitian sebelumnya: di pasar tenaga kerja Kanada dan AS, orang yang lebih menarik mendapat gaji lebih baik (Hamermesh dan Biddle, 1994), termasuk untuk profesi seperti pengacara (Biddle dan Hamermesh, 1998) dan eksekutif periklanan (Pfann, Bosman, Biddle, dan Hamermesh, 2000). Hal ini juga ternyata berlaku untuk pasar tenaga kerja di Australia (Borland, 2001) dan Inggris Raya (Harper, 2000). Lho, semuanya kan di negara Barat, tentu tidak di Timur kan? TIdak, ini juga berlaku di China (Hamermesh, Meng dan Zhan, 2002). Untuk menambah ‘ketidakadilan’ itu, saya tambahkan: bahwa orang yang kurang menarik more likely to commit crime (Mocan dan Tekin, 2006). Saya juga pernah baca, bahwa orang yang lebih tinggi mendapat rata-rata penghasilan yang lebih besar daripada rekan-rekannya yang lebih pendek (bisa dicari di jurnal-jurnal atau artikel-artikel economics of beauty, mungkin).
Dunia tidak adil? Mungkin. Tapi mau gimana lagi, emang bekerjanya seperti itu...(setidaknya seperti yang ditunjukkan riset-riset).
Hanya saja, untuk mengambil kesimpulan definitif bahwa memang benar dunia hanya baik untuk orang yang ganteng/cantik perlu melewati beberapa pemikiran terlebih dahulu.
Sebenarnya, apa itu beautiful? Apa itu ganteng atau cantik? Lupakan perdebatan tentang apakah persepsi kita tentang kegantengan/kecantikan itu konstruksi sosial atau diberikan secara alamiah. Skripsinya Dian Sastro, katanya, menunjukkan bahwa pendefinisian cantik adalah konstruksi sosial. Saya tidak tahu, yang saya tahu ialah Dian Sastro menurut saya cukup cantik, entah itu karena konstruksi sosial atau memang pendapat alamiah saja. Yang jelas, riset tentang cross-cultural beauty ratings menunjukkan, dalam bahasa King & Leigh, beauty is not ‘in the eye of the beholder’. Tapi bukankan cantik itu relatif, seperti dalih orang-orang? Ya, di level mikro-individual. Saya menilai Mariana Renata, misalnya, cukup 7, sementara Anda menilai 9. Namun jika disurvei, pada level makro, secara aggregat bisa kita dapatkan, nilai Mariana Renata adalah X sementara Fulanita itu Y, dimana X>Y, yang berarti Mariana lebih cantik daripada Fulanita. Dan itu berlaku lintas budaya ( Langlois dkk, 2000).
Jadi, sebenarnya cukup aman menyimpulkan pada level makro beauty is universal, tidak peduli asal-usul penilaian itu, apakah konstruksi sosial atau alamiah.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana yang beauty itu? Yang simetris-proporsional? Proporsional seperti apa? Atau mengikuti pendapat Oprah sewaktu mewawancara Charlize Theron, bahwa orang cantik adalah orang yang memiliki bentuk segitiga harmonis antara kedua mata, hidung dan bibir? (sudah, sudah, tak perlu mengecek diri dan melihat cermin, he33x). Atau mengikuti Pramudya, bahwa kecantikan adalah susunan tulang yang baik dengan daging yang menempel secara proporsional?
Ini bukan hasil riset, tapi opini pribadi. Saya sendiri menganggap berbeda antara ‘cantik’, ‘manis’, ‘cute’, ‘menarik/attraktif’, dan ‘jelita’. Karena menyangkut perasaan, saya sulit membuat pembatasan jelas tentang kategori-kategorinya. Ada yang menurut saya cantik, tapi somehow, kok tidak menarik. Ada juga yang sebenarnya kurang cantik, tapi somehow lagi, kok ya sangat menarik.
Saya mengusulkan kita menggunakan istilah charming untuk orang-orang yang tidak peduli cantik atau tidak, tetapi menarik. Berlaku untuk pria dan wanita. Istilah charming ini juga dipakai, supaya judul yang saya gunakan bagus dan berima (“charming” itu penting!)
Nah, menurut saya, charming itu tidak terkait dengan kecantikan fisik. Intinya, charming adalah kemampuan membuat nyaman dan enak untuk orang-orang dalam melihat kita. Jadi, charming ini saya usulkan untuk mengganti beautiful dalam literatur economics of beauty.
Seperti ditunjukkan dalam riset-riset, ternyata memang charming itu penting! Orang-orang charming mendapat penghasilan yang lebih besar, lebih sedikit berprilaku kriminal, dan lebih disukai untuk dipilih.
Sekarang, apakah dunia tidak adil? Sementara cantik/ganteng itu fisikal, kalau anda mau sepakat, charm itu tidak terkait dengan fisik. Anda bisa saja ganteng, tapi belum tentu charming. Anda mungkin kurang cantik, tapi bisa jadi charming (bisa juga tidak). Jadi, charm itu bukan kualitas yang given, tetapi kualitas yang bisa didapatkan, bisa dipelajari. Charm terkait dengan bagaimana kita ingin menampilkan diri kita. Personal branding. personal positioning, yang bisa dirancang. Nah, kalau begitu, dunia itu tidak tak adil. Netral. Karena jadinya tergantung kita, mau belajar jadi charming atau tidak?
Selanjutnya, bagaimana menjadi charming ? Nah, untuk yang ini saya juga masih perlu banyak belajar, he33x. Mungkin orang-orang yang telah charming di luar sana tertarik menjelaskan?
Wallahu a’lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui