Wednesday, June 20, 2007

Krisis Seperempat Baya

Sebuah curhat.

Dari sini, tiba-tiba saya menemukan sebuah istilah yang cukup representatif menjelaskan apa yang sedang saya alami. Quarterlife Crisis. Dalam bahasa Indonesia, saya terjemahkan (dengan seenaknya, tentu saja. Namun, masukan perbaikan sangat dinanti!) jadi “Krisis Seperempat Baya”.

Dari ciri-ciri yang ditulis oleh Om Wiki (atau Tante Wiki. Kita tinggalkan saja perdebatan gendernya disini!), sebenarnya sih saya merasa belum sejauh itu (apalagi kalau ciri yang “desire to have children”). Cuma kalau menilik kapan biasanya ini terjadi (yang mungkin, benar atau tidaknya krisis ini terjadi juga secara ilmiah juga masih bisa diperdebatkan), rasanya saya perlu waspada. Mengutip wiki: ... they occur shortly after a young person – usually an educated professional, in this context – enters the "real world". After entering adult life and coming to terms with its responsibilities, some individuals find themselves experiencing career stagnation and/or extreme insecurity.

Oke, saya ralat. Dari pembacaan lebih jauh, ternyata saya tidak (belum?) mengalami krisis ini. Mungkin pre quarterlife crisis. Timbul saat kita lulus, saat ada begitu banyak kesempatan dan pilihan (atau sedikit kesempatan, tapi pilihan tetap banyak), dan tiba-tiba kita jadi gamang dengan kenyataan: hidup sulit!

Saya mengingat kembali keputusan-keputusan penting dalam hidup saya. Satu hal saya sadari, ternyata tidak ada sebuah keputusan yang saya ambil secara independen. Oh, ada, kemarin waktu nolak. Selain yang kemarin itu,sebenarnya agak malu juga mengakui secara publik, saya pikir sebelumnya saya percaya pada significant others dalam keputusan-keputusan penting. Saya pindah ke Cirebon dari Ciamis, ya ikut orang tua. Masuk TK-SD-SMP Islam Al-Azhar Cirebon, disuruh orang tua. Pindah ke Bandung terus masuk SMUN 3, karena saya tak menolak waktu diminta orang tua. MasukTI- ITB? Mmm, yang ini half-independent. Saya mendapat momen ‘Aha’ saya dalam memilih TI dari perbincangan sambil lalu dengan Agung (mungkin Agung juga nggak inget pernah ngobrol tentang ini...). Waktu itu lagi les SSC, kebetulan di sebelah saya Agung, dan saya nanya, “pilih apa, Gung?”
“TI”, kata dia.
“Kenapa?”
“Soalnya saya mau dapet yg teknik juga, tapi manajemen juga” (atau kalimat semacam ini). Kalimat ini diucapkan dengan gaya khas Agung yang tenang dan meyakinkan.

Wow. Saat itu segera saya teryakinkan, iya deh, kayaknya asyik. Pilih TI aja!

Dua tahun kemudian saya stress karena dengan bodohnya telat daftar praktikum di Mesin, dan diancam untuk di-E-kan oleh mas asisten. Saya juga bete karena TI koq kayak Mesin di awal-awal.

Dan kemana Agung? IF sodara-sodara. Setelah menjerumuskan saya, dengan seenaknya dia masuk IF (hehehe, peace Gung! =p ).

Masalah kedua dalam penentuan keputusan-keputusan penting saya ialah masalah klasik, informasi asimetris. Sekarang saya agak skeptis dengan perencanaan pribadi yang detil (tapi tetap saya buat, untuk kemudian kadang secara reguler atau seenaknya saya ubah), semata karena saya percaya informasi asimetris ini selalu terjadi, bahkan di zaman berlimpah informasi ini.

Meskipun dari dulu sampai sekarang saya selalu nurut dengan guru pengembangan diri (Tuliskan target-targetmu! Visimu! Dengan detil,dan rasakan itu hadir!), sekarang saya selalu siap untuk mereview dan mengubah-ubah lagi. Masalahnya sama, akan datang suatu masa di masa depan saat ada info atau pengetahuan baru masuk dalam kesadaran kita. Entah pengetahuan tentang diri, tentang hal yang menjadi target kita, atau tentang dunia. Ingat Johari Window? Selalu ada wilayah gelap, yang kita tidak tau dan orang lain juga tidak tau – saat ini. Di masa mendatang, ada pengetahuan-pengetahuan dari sini yang pindah kuadran, sehingga kita jadi tahu. Celakanya, atau untungnya, pertambahan ini bisa mengubah rencana kita.

Tetapi apakah visi-misi-tujuan-goal-legenda pribadi itu tidak berguna? Ya tidak juga. Mau nggak mau kan kita harus memutuskan, apalagi informasi asimetris itu niscaya. Harus ada suatu titik dimana kita merasa cukup lalu memutuskan, untuk kemudian juga harus ada fleksibilitas di masa depan untuk berani mengubah, entah realitas atau persepsi kita.

Nah, setelah lulus, kedua hal tadi makin gawat membuat bingung. Membuat semacam krisis. Tidak ada lagi yang membantu membuat keputusan penting, semua ditanggung sendiri (sebenernya dari dulu juga ditanggung sendiri...). Lalu, informasi asimetris itu selalu terjadi, ketika semua pilihan terbentang, and we think we know, but we actually don’t! Jadinya bingung.

Lho, emangnya lo nggak tau apa yang lo mau dari hidup lo? I think I know (with skeptic tone). Dan banyak yang saya inginkan, dari hal yang paling mulia hingga paling ‘sampah’ tapi bermakna buat saya.

Jadi? Pertama ya bersyukur...Ternyata momen-momen keraguan, kegelisahan, pertanyaan-pertanyaan itu datang lagi, setelah hampir 2 tahun ini hidup nyaman. Biasanya sih, setelah ini akan ada semacam insight, insya ALLAH. Bukankan setelah kesusahan ada kemudahan? Hidup yang tidak sulit juga bukan hidup yang pantas dirayakan...Terus? Mari berencana, mari menunggu apa yang akan datang, mari mengubah-ubah lagi yang kemarin. Lalu lakukan. Untuk kemudian tunggulah, berharaplah krisis berikutnya akan datang.

Mohon doanya.
Wallahu a’lam bis showaab.

8 comments:

  1. jadi sebenarnya berbicara ttg quaterlife crisis-nya hanya dua paragraf, selanjutnya ttg 'krisis yang lain'.. mungkin lebih baik jika judulnya pre-quaterlife crisis.:D

    Bukankan setelah kesusahan ada kemudahan?
    ada yang menafsirkan-nya, bersama kesusahan ada kemudahan.

    dan dengan krisis2 itu, 'tingkatan' manusia bisa naik. amin. :)

    ReplyDelete
  2. kalo tiap dateng krisis jadi tulisan, oke juga tuh luk,,,banyak krisis kan bisa bikin buku akhirnya :P (aamiin)
    Tetep smngat!!kalimat penyemangat favorit : hadapi semua dengan senyuman hehehe.. -keukeuh motivator wannabe mode on :D-

    ReplyDelete
  3. krisis itu bikin kita belajar ya luck...
    gw stuju, akan datang kemudahan setelah kesusahan..
    there always be a silver lining in every clouds...

    ReplyDelete
  4. hehehe ko pake bawa2 saya segala ki? 'menjerumuskan'? lha yang ngisi formulir SPMB kan situ:p lagian emang pilih TI ko, tapi pilihan ke-2. Setuju, tanpa krisis gak kepaksa maju nih...

    ReplyDelete
  5. desire to have children? kok bukan desire to have wife/husband sih? :D berarti gua masuk juga yak? ;))

    ReplyDelete
  6. @ trian: aamiin...
    @ etcha: aaamiiin....
    @ mona: setuju,,,,,
    @ agung: setuju,,,,,
    @ donny: welcome to the club! =p
    * contoh tanggapan pemalas, hehehe

    ReplyDelete
  7. =))

    Dasar pemalas...

    Itu namanya tidak apresiatif sama pengomentar blog, Luk..

    ReplyDelete
  8. Anonymous3:36 PM

    hmm, kalo tulisan yang ini agak2 menginspirasi..haha
    saya suka dengan kata2 "Bukankah setelah kesusahan ada kemudahan? Hidup yang tidak sulit juga bukan hidup yang pantas dirayakan..."
    haha, jujur, sebagai orang yang "merasa" bahwa sedang menghadapi krisis, saya menemukan tulisan ini semestinya menghibur, tapi malah agak nakutin.mungkin saya pesimis.

    -aliaTI04-

    ReplyDelete