Wednesday, June 06, 2007

Generasi Pemimpin Berikutnya

Ada dua artikel Kompas yang sangat menarik hari ini (6 Juni 2007). Yang pertama membahas formasi dan sirkulasi Ruling Elite di Indonesia menurut Anies Baswedan (Gerak Zaman dan Sirkulasi Kepemimpinan), hasil diskusi terbatas Kompas (laporan pertama). Yang kedua, Soekarno dan Gerakan Mahasiswa, opini dari Baskara T Wardaya.

Menurut Anies, ada 4 periode kepemimpinan (masing-masing 60 tahun) berdasar jalur rekrutmennya sepanjang tahun 1900 hingga 2020 dan selanjutnya. Pertama, yang terekrut lewat pendidikan modern, dan ruling elite-nya ialah intelektual (berakhir 1960-an). Inilah generasi Soekarno, Hatta, Syahrir, Natsir (Natsir pun hasil pendidikan ‘modern’ kan?). Kedua, terekrut lewat masa perjuangan fisik (mulai 1940), dan ruling elite-nya adalah angkatan bersenjata (Berakhir sekitar 2000-an). Inilah masa Moerdani, Try Soetrisno, dan tentu saja Soeharto (kok dari Angkatan Darat semua?). Ketiga, jalur rekrutmennya adalah organisasi massa/politik, dan ruling elite-nya ialah aktivis (sekarang masih berlangsung, surut pada 2020). Inilah generasi Amien Rais (pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, kontributor aktif Mingguan Mahasiswa Indonesia bersama juga Goenawan Mohammad dan Dawam Rahardjo), Akbar Tanjung (sempat menjabat ketua PB HMI), hingga Yahya Zaini (!). Terakhir, baru dimulai sejak 1990, yang terekrut lewat pasar/dunia bisnis, yang baru akan memulai periode maturitasnya pada tahun 2020-an. Ruling elite-nya: Pengusaha/pelaku bisnis.

Baskara membahas tentang gerakan mahasiswa masa Soekarno dkk dan sekarang (saya pribadi berpendapat, gejalanya mulai terlihat sejak 1960-an). Masa Soekarno: kuliahnya tekun dan selesai tepat pada waktunya (artinya, secara akademis cerdas! Pernah lihat bangunan hasil Bung Karno atau baca teori ekonomi Hatta? Wow!), sangat intelek (banyak membaca selain untuk keperluan studi formal), mengakar, dan berorganisasi. Masa sekarang (sejak 1960-an?), mahasiswanya relatif tak antusias dalam studi formal, cenderung sektarian, dan kurang intelek pula…

Dengan sedikit pengetahuan dari Pak Baskara (beliau juga pernah menulis artikel yang sangat bagus tentang Supersemar), dan saya tambahkan generalisasi brutal dan pengetahuan sok tahu, mari kita kenali lebih dalam per generasi. Juga, mari membuat semacam ramalan akan seperti apa generasi para business people nanti.

Masa 1900-an adalah masa saat Hindia Belanda sedikit beruntung karena politik balas budi pemerintah Belanda. Inlander bisa sekolah, yang lebih beruntung malah bisa sekolah di Belanda. Keseriusan para founding fathers kita bersekolah juga membentuk pola pikir yang akademis dan khas intelektual, yang nantinya terlihat dalam cara berprilaku politiknya. Kedekatan dengan rakyat dan semangat kemerdekaan juga memberi pengaruh. Setiap intelektual itu hampir selalu merasa self-righteous, dan ini juga kelihatan dari konflik-konflik antara Hatta-Soekarno, Soekarno-Natsir, atau Soekarno-Syahrir. Konflik yang terjadi khas intelektual: karena perbedaan pendapat apa yang dianggap benar. Bukan konflik golongan (meskipun nantinya menjadi konflik golongan, karena masing-masing punya pengikut dan para sejarawan demi kemudahan melakukan penggolongan). Seperti juga intelektual yang fair, konflik itu tidak terseret pada konflik antar personal. Hubungan antar pribadinya memang sempat menegang, tapi kemudian baik-baik saja. Kedekatan dengan rakyat dan semangat keindonesiaan juga membuat kompromi-kompromi (sikap mengalah?) terjadi, asal Indonesia bisa merdeka dulu (ingat sidang-sidang BPUPKI atau PPKI?).

Jeleknya ialah, karena masing-masing ngotot dengan apa yang dianggap benar, dan kompromi yang terjadi tidak diikuti dengan kerja sama yang apik setelahnya, bangsa Indonesia ini dibawa ke suatu arahan sangat ambisius oleh Soekarno, dengan konflik-konflik keyakinan/ideologis elitnya yang selalu terjadi.

Yang paling sebel dengan kondisi konflik seperti itu ya para pejuang fisik, mereka yang ada di barak. Dibesarkan dengan hirarki yang ketat, ketaatan pada pimpinan, suasana yang selalu ingin teratur-disiplin, dan pengetahuan sederhana: demi NKRI, ditambah adanya kesempatan yang diantaranya didorong para mahasiswa (angkatan 1965, yang kurang intelek dibanding generasi 1900-an), jadilah ruling elite-nya kaum yang bersenjata. Cirinya ialah kepemimpinan yang kuat, dan dibuat hirarkis. Ada Kodam, ada RT-RW, ada struktur rapi hingga ke pusat. Yang penting stabil untuk pembangunan ; kekuatan-kekuatan kritis dibungkam. Masa itu juga adalah masa perang dingin, yang meskipun secara teori politik luar negeri Indonesia ialah bebas-aktif, pembangunan ekonominya lebih bercorak kapitalistis daripada sosialis (lebih dekat ke blok Barat daripada Timur). Mungkin karena dibesarkan secara militer, ya tentu saja penggunaan kekerasan juga sah-sah saja. Namun, tak bisa terus menerus riak ditahan. Pada suatu waktu yang tepat, juga didorong lagi oleh para mahasiswa (yang lagi-lagi, kurang intelek), jadilah para aktivis yang mengambil peran sebagai penguasa.

Para aktivis, bersama para scholar sejati, sebenarnya menjadi warga negara istimewa kedua setelah orang-orang berpangkat. Mereka magang menjadi teknokrat di masa kejayaan Soeharto, menempati pos-pos sebagai menteri dan staf-staf ahli. Repotnya para pemimpin aktivis ini, dibesarkan dalam lingkungan yang makin sejahtera, tetapi gamang mencari penghidupan (karena kuliahnya jelek), jadinya arena politik menjadi karir (lihatlah karir Akbar Tanjung, sarjana Teknik Sipil UI yang saya ragu apakah pernah megang proyek konstruksi atau nggak setelah lulus). Jadi full-time politician, mencari penghidupan sebagai politisi. Ada juga yang serius menjalani profesi sebagai akademisi atau bidangnya dulu, dan mereka yang terakhir ini yang relatif lebih bisa dipercaya. Nurcholis Madjid, GM, atau Amien Rais misalnya. Sayangnya, mereka-mereka ini nggak terlalu marak di politik. Mereka yang magang bersama Soeharto belajar dan membentuk kultur yang pragmatis, oportunis dan korup, mungkin karena kekurangintelekannya dan tidak terlalu jelas ideologinya. Kaum kedua yang relatif lepas dari kekuasaan malas masuk ke pemerintahan, dan lebih suka berkoar-koar di luar sistem. Ketika masuk pun ternyata somehow terpengaruh dan koruptif (Mulyana Kusumah, atau kasus-kasus intelektual lain yang aktif di politik).

Sudahlah, sudahlah. Generasi ini akan surut pada 2020. Mari kita perhatikan the rising generation, generasinya para pebisnis. Bermula pada 1990: puncak kejayaan dan kesejahteraan Orba, awal maraknya revolusi teknologi informasi, dan sejak 1998, awal demokratisasi Indonesia. Ini juga masa ekonomi pasar digdaya meng-KO sistem komunis, dan masa pop kultur yang sangat massif (sebenarnya sejak 1980-an) menghajar. Zaman sekarang pemimpin kalangan business people juga punya contoh: Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, juga Surya Paloh, Fidel Muhammad, dll. Menurut Anies, “kader pemimpin masa depan adalah anak muda yang saat ini berusia 30-an dan berada di wilayah komersial. Sebagian besar memiliki latar belakang aktivis dan memiliki basis intelektual, dan masih tersembunyi dari publik serta bukan berasal dari kerajaan bisnis yang telah ada”. Sekarang, para pebisnis ini sering disebut middle class yang sangat diam, cenderung apatis. Kalangan bisnis zaman 1990-an yang akan memuncak mulai 2020-an akan berbeda dari zaman 1970-1980-an, karena masa itu kebebasan informasi yang mencerahkan tak semarak tahun 90-an.

Saya mencoba menduga, kenapa mereka ini memilih sektor privat? Karena kecewa, mungkin, melihat senior-seniornya di kampus dulu yang sekarang menjabat. Tapi mengingat zaman yang makin materialistis, saya menduga alasannya lebih duniawi: pengen kaya. Dan alhamdulillah, secara halal. Pada satu sisi, ini akan menjadi perkembangan bagus, karena motif berpolitiknya bukan motif finansial. Pada sisi yang lain akan menjadi gawat, ketika motifnya ialah untuk pengembangan bisnis atau menjaga bisnisnya. Apalagi sering disebut kapitalisme di Asia Tenggara adalah kapitalisme semu, crony capitalism. Tahun-tahun mendatang akan menjadi milik para pemodal juga masuk akal, mengingat proses-proses politik sekarang memerlukan biaya yang sangat mahal dibandingkan dulu.

Seperti juga para generasi sebelumnya yang dipengaruhi karakteristik lingkungannya (lingkungan epistemologis, istilah Yudi Latif), kira-kira sikap bagaimana yang akan ditunjukkan pemimpin dari kalangan bisnis ini?

Mungkin akan sangat well-managed, efektif, dan efisien. Get things done. Quick learner, and dare to take new challenge, with entrepreneurial spirit (loh, kok kayak strong points buat wawancara di MNC? hehehe…). Gawatnya ialah kalau terlalu probisnis, tetapi insya Allah kalau intelek dan keberpihakan ideologisnya jelas mereka akan jadi pemimpin yang sangat baik. Pemerintahan akan tampak seperti perusahaan, yang kalau dibawa ke titik ekstrem akan tidak baik.

Ini lagi pesan Anies, “jadi kira-kiranya, kalau ada anak muda tahun 1980-an berminat menjadi pemimpin dan masuk Akademi Militer (ya) salah jalur”. Seperti juga tahun 1900-an yang tak mengecap pendidikan modern, atau tahun 1940-an yang lupa masuk Akmil. Tahun sekarang? Masuklah sektor bisnis, dengan pengalaman beraktivitas, sambil tetap membaca beragam hal, membuka mata pada dunia, dan memupuk karakter.

Kita doakan para pemimpin berikutnya (dari kalangan manapun) akan membawa Indonesia ini bangkit! Aamiin.

7 comments:

  1. so..jadi ini tulisan sang calon pemimpin masa depan...

    ReplyDelete
  2. (dengan suara keras) AAMIIN! hehehe...

    ReplyDelete
  3. Jadi ingat, ada artikel yg menyinggung sedikit tentang wisuda sukarno.

    Pengusaha sebagai pemimpin? Jadi akan banyak lagi Aburizal Bakrie dan Soetrisno Bachir yang akan muncul ke permukaan dan memimpin negara?

    Wah kalo gitu mesti buru-buru jadi permanet resident di negara lain deh.

    ReplyDelete
  4. Luck, kalo Gus Dur, Megawati dan SBY itu masuk bagian mana ya? SBY sih militer, kalo gitu mestinya dia tenang di jaman Suharto yah?

    BTW kalangan scientist gak masuk bursa sebagai orang penting masa depan ya? Pantesan ya bidang2 ilmu dasar makin berkurang peminatnya :P

    ReplyDelete
  5. kalo kalangan profesional yang Quick learner, and dare to take new challenge, with entrepreneurial spirit kira2 bisa jadi ga luck?

    ReplyDelete
  6. @ Ikram: kalo jenis pemimpinnya kayak mereka emang rada ngeri ya kram...
    @ Edward: pengamatan yang bagus! ini generalisasi Pak Anies yg berlebihan atau mereka yg exceptional? soalnya kebanyakan jajaran pimpinan masa mereka pan juga aktivis...
    @ Amir: kalo kayak amir mah insyaALLAH bisa...(muji-muji biar ditraktir sebelum cabut...hehehe)

    ReplyDelete
  7. kalo pemimpin kayak dia2 mudah - mudahan bisa membawa yang lebih lain dari pada negara2 laen

    didoain dech...amieeen

    ReplyDelete