Monday, June 25, 2007

Blink atau Think?

Agak basi sih, soalnya kedua bukunya terbit sekitar 2005-2006-an. Tapi tak apalah. Baru dibaca hampir selesai keduanya baru-baru ini, dan baru kepikiran serta mensintesiskan (halah bahasanya!) juga sekarang-sekarang ini.

Blink itu bukunya Malcolm Gladwell, kolumnis the New Yorker. Membaca Gladwell itu, menurut saya, asyik banget, soalnya pengetahuan yang disajikan kadang-kadang hal yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Di Tipping Point, misalnya, ia berteori tentang hukum-hukum perubahan sosial. Teorinya masih spekulatif, tapi beragam kisah-kisah nyata yang dia ceritakan membuat pembacanya bergumam, “oh iya bener juga ya...”. Sampai-sampai di buku Change kedua Rhenald Kasali, dibahas juga tentang ‘teori’ Gladwell ini. Selain itu, Gladwell juga banyak mengilustrasikan dengan cerita dan kisah-kisah (nyata), yang kalau menurut buku yang dulu saya baca, argumentasi yang paling influential (saya nggak bilang baik atau benar) adalah dalam bentuk cerita ini. Itulah kenapa, di kitab-kitab agama, ada banyak sekali cerita. Nah, dari cerita-cerita yang diceritakan di bukunya itu, Gladwell menyambungkannya, membuat generalisasi, menarik konklusi.

Begitu juga di Blink. Gladwell membukanya dengan kisah di getty museum. Tentang pakar yang dalam beberapa detik pertama bisa merasakan ketidakberesan patung kouros (patung Yunani kuno) yang akan dibeli museum itu. Ia berteori, ada cuplikan tipis yang bisa dirasakan saat kita melihat sesuatu, dan dalam banyak kasus, kesan pertama itu benar. Terbukti patung kouros itu palsu.

Pesan dalam buku ini, otak manusia, bawah sadarnya (tapi bukan subconscious mind a la freudian) sebenarnya mampu melakukan proses blink, merasakan dan memberi penilaian yang akurat dalam 2 detik pertama. Dengan persyaratan tertentu. Tapi itu kita bicarakan nanti.

Michael R. LeGault, pernah jadi kolumnis juga di Washington Times (kayaknya agak beda kubu deh dengan New Yorker), menulis Think, untuk ‘menanggapi’ Blink. Sebenarnya kata ‘tanggapan’ atau ‘kritik’ atas Blink tidak tepat juga, soalnya tentang itu cuma dibahas di bab awal. Most of the book sih bicara tentang keprihatinan dia tentang bangsa Amerika yang terdegradasi semangat dan kemampuan berpikirnya. Kemampuan bangsa Amerika untuk berpikir kritis dan menganalisa sebelum memutuskan, menurutnya, menurun jauh. Padahal, Amerika pernah punya segerombolan filsuf yang melahirkan satu school of thought sendiri, pragmatisme. Bangsa Amerika lah yang berani lepas dari Inggris dan mendirikan suatu negara baru dengan konsep dan filosofi kenegaraan yang inovatif. Bangsa ini juga yang mencapai kemajuan sedemikian rupa, sehingga sekarang menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia.

Fenomena semacam blink ini, yang LeGault sebut psikologi/filosofi new age-feel good, yang salah satunya mendegradasi kemempuan berpikir bangsa Amerika. Ia juga menyebut faktor-faktor lain: egalitarian intelligence (pendidikan agar sesuai dengan benak seseorang, bukan membentuk otak seseorang), political correctness, media (terutama TV) dan kacaunya pemasaran, dan mitos tentang stress & informasi yang berlebihan. Akibatnya jelas, contohnya menurunnya peringkat siswa Amerika dalam matematika dan kemampuan membaca, serta kegagalan-kegagalan dalam keputusan publik (yang anehnya, tidak saya temukan contoh kegagalan terbesar dan terbodoh dalam public policy US gov: keputusan perang Irak).

Berbeda dengan buku-buku Gladwell, buku LeGault ini lebih mirip runtutan opini argumentatif dan kemarahan, dan karena ditujukan untuk publik Amerika, terasa sangat ‘patriotis’ dan amerika-sentris. Membacanya tidak terlalu fun (beda dengan Gladwell), tapi tetap penting untuk diikuti. Kadang-kadang saya sebel, karena sambil menunjukkan buruknya AS, tapi tetap aja mengagungkannya di atas bangsa lain (terutama Eropa, yang dianggap sekelas. Ya jangan tanya negara-negara dunia ketiga...). LeGault ini kayaknya jenis orang amerika yang konservatif, nasionalis-patriotis, dan republikan tradisonal. Pandangan-pandangannya mirip...

Nah, dari situ: blink atau think? Pandangan sekilas dan intuitif, cepat, dan konon bisa akurat (menurut Gladwell) atau pemikiran dan analisa mendalam dengan beragam data tetapi lebih lama?

Kasus-kasus yang dibedah Gladwell menunjukkan bahwa blink juga bisa akurat. Beberapa diantaranya malah signifikan secara statistik. Sementara conventional wisdom bilang bahwa keputusan dengan lebih banyak data dan pertimbangan lebih baik daripada keputusan intuitif.

Sebenarnya saya percaya dengan proses berpikir. Kemampuan inilah, berpikir secara mandiri yang bebas dari dogma dan mitos, yang membuat beragam penemuan, sehingga kita mencapai kemajuan sampai sekarang ini. Ada spekulasi (opini) dalam dunia Islam bahwa yang membuat peradaban Islam mundur adalah ketika muslim takut berpikir. Zaman pertengahan Islam, para ilmuwan muslim sangat terlecut untuk berpikir karena memang diperintahkan Qur’an. Sampai-sampai beberapa ilmuwan/filsuf ada yang dianggap kebablasan. Al-Ghazali, konon, sering dituduh sebagai pihak yang bertanggungjawab. Hujjatul Islam ini sebegitu cerdasnya, dengan Ihya Ulumuddin dan kitab-kitab lain, sehingga ‘mengalahkan’ para filsuf-pemikir bebas dalam dunia Islam seperti Averroes.

Opini itu,IMHO, sejenis perspektif renaissance dalam menilai sebab runtuhnya peradaban Islam. Tak perlu ditolak mentah-mentah, cukup dipikirkan secara kritis. Ketika muslim takut berpikir, semangat renaissance sendiri adalah Sapere Aude, alias berani berpikir! Semangat inilah, yang terus diwariskan dalam pendidikan Liberal Arts, yang membuat peradaban barat begitu maju. Sampai sekarang, bahkan di kurikulum sekolah bisnis pun, jenis mata kuliah seperti liberal arts ini masih ada.

Dogma atau mitos, bisa juga menyelinap dalam bentuk-bentuk lain. Inilah yang sejatinya menjadi concern LeGault. Kalau dulu yang menghambat dan membuat takut adalah otoritas gereja yang keterlaluan, sekarang adalah filosofi new age-feel good, yang dikhawatirkan LeGault makin merebak dan mendegradasi kemampuan berpikir Amerika. Juga political correctness. Ia menulis dengan ironis, masa’ iya seorang editor jurnal harus menyeleksi dengan mempertimbangkan political correctness-nya? Bagaimana dengan kebenaran ilmiah itu sendiri? Ia menyebut beberapa isu yang harus politically correct: multikulturalisme, gender/sex orientation equality. Kadang-kadang memang benar. Kalau di Indonesia, coba aja menulis di mainstream media, tentang pluralisme yang agak berbeda dengan pengertian politically correct pluralisme. Kalau dimuat bilang ke saya, ntar saya traktir =p.

Jadi, think lebih dipilih? Tidak juga. Coba bedah lagi buku Blink. Contoh-contoh di sana, yang melakukan Blink, semua adalah expert. Seoarang pakar. Yang terbiasa melatih diri, berpikir terus secara rutin dalam bidang-bidangnya. Gladwell menceritakan tentang proses blink ahli seni, para musisi profesional, pencicip makanan profesional, psikolog yang meneliti wajah lebih dari puluhan tahun. Memang, ia juga menceritakan mahasiswa-mahasiswa yang mampu secara akurat menebak dosen tertentu baik atau tidak dengan sekali pertemuan, yang hasilnya akurat dengan penilaian dengan proses yang lebih lama. Namun coba pikir lagi,mahasiswa telah mengenyam lebih dari 12 tahun pengajaran: mereka juga seorang expert dalam diajari. Contoh uji rasa Pepsi-Coca Cola menunjukkan juga kesalahan blink orang awam: penjualan Coca Cola selamanya lebih baik daripada Pepsi (meskipun saya prefer Pepsi, karena keberpihakan pada pihak tertindas, he33x).

Jadi? We can do both. Otak manusia memang mengagumkan. Dengan syarat tambahan untuk melakukan blink: jadilah expert dulu. Berlatih teratur, berpikir teratur tentang subyek itu. Ibu saya bisa memilih buah mana yang baik dari sekeranjang buah di pasar dengan sekali lihat, sementara saya selalu salah memilih buah meskipun berbelanja dengan durasi lebih lama. Itu jelas, karena Ibu saya telah lebih dari 40 tahun belanja buah.

Lakukan keduanya. Asal jangan malas berpikir aja. Ironis, karena akhir-akhir ini saya sedang mengalaminya. Semoga tulisan ini juga adalah upaya menyemangati diri.

Wallahu A’lam Bis Showaab.

16 comments:

  1. Blink atau Think?

    Dua-duanya belum baca, tapi beberapa hari yg lalu baru ngebahas sama Fajar ttg 2 buku ini.

    Hmm..kalo dari penjelasan Fajar, dan penjelasan Lucky ttg keduanya...

    Gw setuju ama Lucky (Fajar waktu itu cuma nyeritain doang, gak ngasih pendapat). Emang ada saatnya kita buat mikir lama dgn banyak analisa, dan ada saatnya harus tebak-tebak berhadiah... hehehe.. maksud: analisis singkat dan ambil keputusan...

    Hmmm..kayaknya, blink itu bisa dilakuin kalo kita udah terbiasa untuk think. Gitu ya kesimpulannya?

    Bukunya menarik sepertinya, ikutan basi juga ya, karena blm baca. Hehehe...

    ReplyDelete
  2. tony prima11:39 AM

    Kalau pengalamanku, di operational work yang hectic dan dikejar waktu, ternyata masih lebih baik 'think' daripada 'blink'. Keputusan yang diambil secara 'blink' (kok bahasanya ngaco gini jadinya) memang bisa solve suatu masalah, tapi biasanya lead to another problem because seome factors were not being considered ketika bikin keputusan itu..

    ReplyDelete
  3. keren juga anak teknik bisa baca buku di luar bidangnya. Saya belum baca sih bukunya, but tertarik untuk mengomentari karena setelah baca penjelasannya soal think or blink tergantung dari soal waktu. Bukan soal jenis kelamin, nih? Ibu anda memilih buah dengan benar karena beliau seorang perempuan atau karena terbiasa memilih berdasarkan intuisi? Cause laki-laki kadang merasa lebih baik berpikir berdasarkan data akurat en perempuan lebih memilih mengikuti intuisinya. Setidaknya teman-teman perempuan saya seperti itu. Sebuah artikel menarik dari peneliti di Australia mengenai perempuan yang berprofesi sebagai manajer di bidang pertanian sekaligus sebagai seorang ibu rumah tangga. Kebanyakan dari mereka merefleksikan diri sebagai the third sex alias bukan perempuan seutuhnya tapi juga bukan laki-laki. Kok bisa? Di rumah mereka menjadi perempuan yang nurut pada keputusan sang kepala keluarga sedangkan di luar rumah ia mengambil sikap dan cara berpikir layaknya seorang laki-laki. So? Tak ada pemisahan antara blink or think bagi perempuan-perempuan seperti itu. Both. Perempuan yang berkarir di luar rumah harus bisa keduanya. Serem gak sih kalo ketemu perempuan kayak gitu? Super women banget kan..Don't worry guys.., kalo kata Isan sih saat perempuan becoming men, laki-laki telah menjadi dewa....Huahahah..Orang ganteng itu emang tau caranya bikin perempuan cantik yang satu ini geram. Salam Kenal, Lucky..Saya ratih, buka link kamu dari blognya Isan.

    ReplyDelete
  4. @ mona: yap!
    @ tony prima: kayaknya blink tuh ga bisa buat yg situasinya kompleks ya? ga mungkin aja banyak info, banyak variabel, terus 'blink'...
    @ ratih: 3rd sex? ada ya? blink atau think ga bergantung jeis kelamin koq,,,paling kepakarannya aja yng ngebedai. iya si isan kan emang suka seksis gituh...(hehehe, peace bos!)
    Salam kenal juga ratih...

    ReplyDelete
  5. ulya R4:43 PM

    kebetulan banget, jumat ini ada half day sharing session tentang buku 'blink' ditempat kerjaku. Jadi tertarik ikutan, tp y ga bisa, kan hrs kerja.

    bisa melakukan blink setelah terbiasa melakukan think ? mmm g ngeliat ketersambungannya, bukannya justru sebaliknya,

    karena keduanya adlh hal yang berbeda dan melalui proses yang berbeda pula. Ingat pepatah "alah biasa karena biasa"? berarti
    (menurutku loh ya), kalau terbiasa melakukan blink dan hasilnya sering baik, maka justru akan aman untuk terus melakukan metode ini.

    Sebaliknya, kalau terbiasa think kemudian melakukan blink,kurang sepakat kalau hasilnya akan sebaik ketika dia melakukan think.

    Kalau di buku tersebut dicontohkan yang menggunakan blink contohnya adalah orang-orang yang pemikir,ya.. mungkin aja mereka punya bakat blink dan terasah dengan baik, kan mereka juga orang-orang cerdas.

    And I blink, salah deng :D, think, blink can be done by everyone in every situation depend on their braveness. Karena blink menurutku adalah anugrah dari pencipta Fikiran manusia, dan rada gambling juga, bisa bener bisa ngga. Ilmiahnya? Silahkan diteliti..

    Btw, enak dong kalau rapat bareng-bareng orang blink, bisa cepet he3x

    ReplyDelete
  6. nggak persis 'think dulu baru blink' sih ya..tapi contoh2 di blink, dan akurat, dilakukan oleh orang2 yg memang expert di bidangnya, artinya memang terbiasa berpikir (think), melatih diri, dan memang telah mendalami bidangnya...setuju juga ama Tony, untuk keputusan yang kompleks dan terstruktur, bnyk informasi, banyak constarint dan objective, enggak mungkin pake blink. kasus optimasi misalnya. pasti pake 'think', karena pan dibikin dulu persamaan matemastisnya, dll. kalo di kasus semacam itu pake blink, ya jadinya kurang bagus...pan emang kasus yg terstruktur dan bisa digunakan pendekatan ilmiah.
    di bukunya pun, blink pun bisa 'dikotori' prasangkagka dan emosi, sementara think bisa kurang baik, justru ketika informasi berlebih dan kita tidak memfilternya.

    Jadi? emang perlu keberanian but blink,hehehe...selain juga perlu pengetahuan mendalam dan pembiasaan akan objeknya. proses blink kan hanya mengambil elemen utama objek yg sedikit (thin slicing) untuk memutuskan...tanpa terbias 'think' about the object, kita juga ga bakal tau thin slicing-nya itu yg mana...

    btw, kalo nyari istri blink atau think? nyari istri tuh permasalahan terstruktur ga sih? gimana nih, mas tony? hehehe...

    ReplyDelete
  7. Anonymous1:33 PM

    dah lama ga baca tulisan lo luk..i really like this one...

    kynya emang kudu jd expert dulu ya baru snap judgment lo bisa dipertanggungjwbkan?? so proses berpikir yg terstuktur itu terjadinya di level bawah sadar sana,lewat jalur express neuron tertentu yg mgkn awalnya harus dibangun pelan2..
    but if youve been through those times, as an expert now, in some split seconds..other than really 'think', there it comes this 'snap judgment'..In a blink!
    -liva-

    ReplyDelete
  8. Aku yakin banyak pakar hebat merumuskan teorema sosial tidak bermula dari think, melainkan blink..

    Blink ini lahir dari kemampuan sejati manusia belajar seara involunteer..bawah sadar.

    Biasanya teori yg dihasilin ebih mantabb..

    (ini gw nulis make blink lohh..-B)..)

    Selama pendidikan, terutama di ITB, aku merasa blink-ku dimatikan perlahan..:)

    ReplyDelete
  9. owh...keren bangets...

    ReplyDelete
  10. Anonymous2:11 PM

    Seperti biasa nemu aja tulisan bagus di blog orang2.. =)
    Mau ikut komen ya,
    Kebetulan saya termasuk orang yang membaca blink dan think dengan urutan yang benar. Sempat terkesima sih dengan apa yang disebutkan blink, bahwa otak kita ternyata mampu menarik memori dari proses belajar yang bertahun-tahun itu lalu merangkumnya dalam suatu bentuk keputusan untuk kita, hanya dalam beberapa detik saja.
    Blink juga cuma menekankan penurunan kemampuan berpikir pada remaja amerika (secara egaranya dia), padahal menurut saya masih ada berjuta-juta remaja dunia lainnya yang lebih pantas dipedulikan kemampuan berpikirnya. Dunia sudah terlalu jomplang, sedikit terhambatnya perkembangan di amerika sana mungkin bisa jadi waktu “menyusul” buat kita yang negara dunia ketiga ini?hehehe
    ujung2nya cuma mau bilang setuju sama pendapat anda soalnya yang namanya berpikir itu kebutuhan bukan?

    -alia_TI04-

    ReplyDelete
  11. kang Lucky ini update blognya jarang, tapi sekali keluar tulisannya menggelitik hehe:) hmm...blink mungkin mirip ama yang namanya solusi "heuristik"-kalo di IF- (mirip cara cepat zaman kita SPMB dulu Ki), secara matematis tidak bisa dibuktikan, tapi untuk banyak kasus terbukti memberi hasil yang optimal jika dibandingkan dengan cara yang lebih panjang. Cara itu didapat lewat berbagai percobaan, jadi oleh yang ahli juga.Iya, jadi keinget cara cepat "Kurdi", dan yang lainnya hehehe, sekali liat soal dah tahu jawabannya tanpa ngotret

    ReplyDelete
  12. jejakpena1:07 AM

    Hmm gitu ya ternyata, blink itu berarti sebenarnya ujung expert dari keteraturan berpikir ya... :)

    Keren. Nice review :)

    Waa, pertama kemari, salam kenal Mas ^^

    ReplyDelete
  13. wow, ada yang nulis reviewnya ternyata. Mas gladwell memang memaparkan sebuah fakta yang sangat nyata terjadi. Cukup menarik memang, khususnya blink.. i've read that book and.. seperti gaya-gaya mas gladwell pada hampir semua bukunya, memikat! meski saya mencurigai beliau seorang missonaris (dalam buku-buku lainnya seperti leadership by influence sangat jelas..)CMIIW.

    mas lucky, kapan kita bisa sharing buku? i've a project about read and write habit..

    regards,

    ReplyDelete
  14. waduh, komentar2nya sangat berharga.
    @ beni: nuhun..
    @ liva: yep. kalimat lo menyingkat pesan yg gw tulisan satu postingan penuh :))
    @ warastuti: pakar hebat yang mana contohnya? proses insight setelah periode saturasi karena berpikir terus ituh blink juga kah?
    @ amir: nuhun...
    @ alia: ya, ya. berpikir itu wajib, dan tidak dosa. alo alia...blog-nya mana?
    @ agungpras: cara cepat = blink? mmm...
    @ bimo: salam kenal juga. thx udah mampir
    @ jejakpena: yap! salam kenal juga!
    @ army: sepakat, tulisan gladwell emang bagus. buku2 gladwell lain yang mana? perasaan saya baru dua deh bukunya, kalo artikelnya banyak...curiga misionaris? kagak yahudi-zionis sekalian? hahaha...;))

    ReplyDelete