Agak basi sih, soalnya kedua bukunya terbit sekitar 2005-2006-an. Tapi tak apalah. Baru dibaca hampir selesai keduanya baru-baru ini, dan baru kepikiran serta mensintesiskan (halah bahasanya!) juga sekarang-sekarang ini.
Blink itu bukunya Malcolm Gladwell, kolumnis the New Yorker. Membaca Gladwell itu, menurut saya, asyik banget, soalnya pengetahuan yang disajikan kadang-kadang hal yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Di Tipping Point, misalnya, ia berteori tentang hukum-hukum perubahan sosial. Teorinya masih spekulatif, tapi beragam kisah-kisah nyata yang dia ceritakan membuat pembacanya bergumam, “oh iya bener juga ya...”. Sampai-sampai di buku Change kedua Rhenald Kasali, dibahas juga tentang ‘teori’ Gladwell ini. Selain itu, Gladwell juga banyak mengilustrasikan dengan cerita dan kisah-kisah (nyata), yang kalau menurut buku yang dulu saya baca, argumentasi yang paling influential (saya nggak bilang baik atau benar) adalah dalam bentuk cerita ini. Itulah kenapa, di kitab-kitab agama, ada banyak sekali cerita. Nah, dari cerita-cerita yang diceritakan di bukunya itu, Gladwell menyambungkannya, membuat generalisasi, menarik konklusi.
Begitu juga di Blink. Gladwell membukanya dengan kisah di getty museum. Tentang pakar yang dalam beberapa detik pertama bisa merasakan ketidakberesan patung kouros (patung Yunani kuno) yang akan dibeli museum itu. Ia berteori, ada cuplikan tipis yang bisa dirasakan saat kita melihat sesuatu, dan dalam banyak kasus, kesan pertama itu benar. Terbukti patung kouros itu palsu.
Pesan dalam buku ini, otak manusia, bawah sadarnya (tapi bukan subconscious mind a la freudian) sebenarnya mampu melakukan proses blink, merasakan dan memberi penilaian yang akurat dalam 2 detik pertama. Dengan persyaratan tertentu. Tapi itu kita bicarakan nanti.
Michael R. LeGault, pernah jadi kolumnis juga di Washington Times (kayaknya agak beda kubu deh dengan New Yorker), menulis Think, untuk ‘menanggapi’ Blink. Sebenarnya kata ‘tanggapan’ atau ‘kritik’ atas Blink tidak tepat juga, soalnya tentang itu cuma dibahas di bab awal. Most of the book sih bicara tentang keprihatinan dia tentang bangsa Amerika yang terdegradasi semangat dan kemampuan berpikirnya. Kemampuan bangsa Amerika untuk berpikir kritis dan menganalisa sebelum memutuskan, menurutnya, menurun jauh. Padahal, Amerika pernah punya segerombolan filsuf yang melahirkan satu school of thought sendiri, pragmatisme. Bangsa Amerika lah yang berani lepas dari Inggris dan mendirikan suatu negara baru dengan konsep dan filosofi kenegaraan yang inovatif. Bangsa ini juga yang mencapai kemajuan sedemikian rupa, sehingga sekarang menjadi satu-satunya negara adidaya di dunia.
Fenomena semacam blink ini, yang LeGault sebut psikologi/filosofi new age-feel good, yang salah satunya mendegradasi kemempuan berpikir bangsa Amerika. Ia juga menyebut faktor-faktor lain: egalitarian intelligence (pendidikan agar sesuai dengan benak seseorang, bukan membentuk otak seseorang), political correctness, media (terutama TV) dan kacaunya pemasaran, dan mitos tentang stress & informasi yang berlebihan. Akibatnya jelas, contohnya menurunnya peringkat siswa Amerika dalam matematika dan kemampuan membaca, serta kegagalan-kegagalan dalam keputusan publik (yang anehnya, tidak saya temukan contoh kegagalan terbesar dan terbodoh dalam public policy US gov: keputusan perang Irak).
Berbeda dengan buku-buku Gladwell, buku LeGault ini lebih mirip runtutan opini argumentatif dan kemarahan, dan karena ditujukan untuk publik Amerika, terasa sangat ‘patriotis’ dan amerika-sentris. Membacanya tidak terlalu fun (beda dengan Gladwell), tapi tetap penting untuk diikuti. Kadang-kadang saya sebel, karena sambil menunjukkan buruknya AS, tapi tetap aja mengagungkannya di atas bangsa lain (terutama Eropa, yang dianggap sekelas. Ya jangan tanya negara-negara dunia ketiga...). LeGault ini kayaknya jenis orang amerika yang konservatif, nasionalis-patriotis, dan republikan tradisonal. Pandangan-pandangannya mirip...
Nah, dari situ: blink atau think? Pandangan sekilas dan intuitif, cepat, dan konon bisa akurat (menurut Gladwell) atau pemikiran dan analisa mendalam dengan beragam data tetapi lebih lama?
Kasus-kasus yang dibedah Gladwell menunjukkan bahwa blink juga bisa akurat. Beberapa diantaranya malah signifikan secara statistik. Sementara conventional wisdom bilang bahwa keputusan dengan lebih banyak data dan pertimbangan lebih baik daripada keputusan intuitif.
Sebenarnya saya percaya dengan proses berpikir. Kemampuan inilah, berpikir secara mandiri yang bebas dari dogma dan mitos, yang membuat beragam penemuan, sehingga kita mencapai kemajuan sampai sekarang ini. Ada spekulasi (opini) dalam dunia Islam bahwa yang membuat peradaban Islam mundur adalah ketika muslim takut berpikir. Zaman pertengahan Islam, para ilmuwan muslim sangat terlecut untuk berpikir karena memang diperintahkan Qur’an. Sampai-sampai beberapa ilmuwan/filsuf ada yang dianggap kebablasan. Al-Ghazali, konon, sering dituduh sebagai pihak yang bertanggungjawab. Hujjatul Islam ini sebegitu cerdasnya, dengan Ihya Ulumuddin dan kitab-kitab lain, sehingga ‘mengalahkan’ para filsuf-pemikir bebas dalam dunia Islam seperti Averroes.
Opini itu,IMHO, sejenis perspektif renaissance dalam menilai sebab runtuhnya peradaban Islam. Tak perlu ditolak mentah-mentah, cukup dipikirkan secara kritis. Ketika muslim takut berpikir, semangat renaissance sendiri adalah Sapere Aude, alias berani berpikir! Semangat inilah, yang terus diwariskan dalam pendidikan Liberal Arts, yang membuat peradaban barat begitu maju. Sampai sekarang, bahkan di kurikulum sekolah bisnis pun, jenis mata kuliah seperti liberal arts ini masih ada.
Dogma atau mitos, bisa juga menyelinap dalam bentuk-bentuk lain. Inilah yang sejatinya menjadi concern LeGault. Kalau dulu yang menghambat dan membuat takut adalah otoritas gereja yang keterlaluan, sekarang adalah filosofi new age-feel good, yang dikhawatirkan LeGault makin merebak dan mendegradasi kemampuan berpikir Amerika. Juga political correctness. Ia menulis dengan ironis, masa’ iya seorang editor jurnal harus menyeleksi dengan mempertimbangkan political correctness-nya? Bagaimana dengan kebenaran ilmiah itu sendiri? Ia menyebut beberapa isu yang harus politically correct: multikulturalisme, gender/sex orientation equality. Kadang-kadang memang benar. Kalau di Indonesia, coba aja menulis di mainstream media, tentang pluralisme yang agak berbeda dengan pengertian politically correct pluralisme. Kalau dimuat bilang ke saya, ntar saya traktir =p.
Jadi, think lebih dipilih? Tidak juga. Coba bedah lagi buku Blink. Contoh-contoh di sana, yang melakukan Blink, semua adalah expert. Seoarang pakar. Yang terbiasa melatih diri, berpikir terus secara rutin dalam bidang-bidangnya. Gladwell menceritakan tentang proses blink ahli seni, para musisi profesional, pencicip makanan profesional, psikolog yang meneliti wajah lebih dari puluhan tahun. Memang, ia juga menceritakan mahasiswa-mahasiswa yang mampu secara akurat menebak dosen tertentu baik atau tidak dengan sekali pertemuan, yang hasilnya akurat dengan penilaian dengan proses yang lebih lama. Namun coba pikir lagi,mahasiswa telah mengenyam lebih dari 12 tahun pengajaran: mereka juga seorang expert dalam diajari. Contoh uji rasa Pepsi-Coca Cola menunjukkan juga kesalahan blink orang awam: penjualan Coca Cola selamanya lebih baik daripada Pepsi (meskipun saya prefer Pepsi, karena keberpihakan pada pihak tertindas, he33x).
Jadi? We can do both. Otak manusia memang mengagumkan. Dengan syarat tambahan untuk melakukan blink: jadilah expert dulu. Berlatih teratur, berpikir teratur tentang subyek itu. Ibu saya bisa memilih buah mana yang baik dari sekeranjang buah di pasar dengan sekali lihat, sementara saya selalu salah memilih buah meskipun berbelanja dengan durasi lebih lama. Itu jelas, karena Ibu saya telah lebih dari 40 tahun belanja buah.
Lakukan keduanya. Asal jangan malas berpikir aja. Ironis, karena akhir-akhir ini saya sedang mengalaminya. Semoga tulisan ini juga adalah upaya menyemangati diri.
Wallahu A’lam Bis Showaab.