Monday, May 14, 2007

Berpikir Lagi tentang “Berpikir Positif”

Saya dulu suka banget buku-buku how to, buku-buku kepribadian/personal psychology/personal development, terutama yang berbau-bau bisnis dan manajemen (7 habits itu kategorinya buku bisnis lho…heran saya juga). Saya juga nggak tau kenapa bisa suka banget, mungkin karena perasaan kuat dan berdaya yang dirasakan setelah menghayati buku-buku semacam itu. Meskipun, tentu saja efeknya tidak selamanya. Namun, ketika efeknya hilang, cari aja buku sejenis lain, dan rasakan lagi semangatnya! Begitu terus, udah kayak candu aja.

Buku how to yang pertama kali saya baca dan benar-benar menyemangati ialah Think & Grow Rich dari Napoleon Hill. Ini buku how to klasik, yang mengawali dan menjadi long time best seller bersama buku-buku how to klasik lainnya: How to Win Friends and Influence People dari Dale Carnegie , The Best Salesman in The World dari OG. Mandino (?), Berpikir & Berjiwa Besar dari David J.Schwartz. Salah satu buku how to klasik lainnya, yang fokusnya terutama tentang berpikir positif ialah dari Norman Vincent Peale, Positive Thinking.

Kata Rolling Stone, too much love will kill you. Namun, terlalu banyak buku how to tak akan membunuh kita, tapi bikin muak, iya. Isinya kurang lebih sama lah. Ini rumus jualan buku how to: (1) Yakinkan bahwa resepnya akan bekerja untuk semua orang, kalau diikuti. Tentu saja ini demi kepentingan pasar. Kalau dispesialkan untuk orang yang sukses, pasarnya sedikit, hanya sekitar 20% dari populasi. Buku how to adalah untuk semua orang (2) Yakinkan pembaca bahwa mereka adalah ISTIMEWA! Tak peduli siapapun pembacanya, mau remaja bau kencur seperti saya waktu itu atau nenek-nenek bau tanah, semua spesial. Nah, disini ada trik-triknya, silakan diidentifikasi. Ada yang bilang kita spesial karena: (a) Kita manusia, makhluk istimewa ciptaan Tuhan (Bener ga sih kita istimewa, diciptakan sedemikian rupa? Kata Dawkins, “ah, itu sih kita aja yang bego dan mudah kagum…”) (b) Milyaran sel-sel ada di otak kita, tapi baru sekitar 4-5% digunakan (pernyataan ini udah lama, dan terbukti kita bego karena setelah sekian lama masih segitu persen juga yang digunakan oleh kita). Bahkan ada yang keterlaluan dan bilang (c) kita lahir dari kompetisi sperma yang ketat, dari berjuta-juta sperma, hanya anda, satu-satunya, yang berhasil membuahi ovum dan lahir (Kata siapa? Siapa tahu sperma sebelah membawa gen-gen yang lebih baik? Kuatnya sperma menembus ovum tidak menutup kemungkinan bahwa ada gen-gen yang lebih baik di sebelah) (3) Yakinkan pembaca bahwa sekalipun mereka istimewa, tapi mereka tak menjalankan hidup dengan benar. Karenanya, harus mengikuti petunjuk dalam buku ini, supaya bisa sukses, karena bagaimana pun, toh anda istimewa.

Begitulah. Semacam manipulasi psikologis: yakinkan bahwa tiap orang bisa sukses, karena tiap orang itu istimewa, asal caranya diikuti dengan benar. Apakah benar? Tidak penting. Yang penting anda senang (siapa yang gak seneng dibilang spesial?) dan buku/ceramah/seminar laku.

Itu pandangan saya ketika muak dulu. Sekarang sih membaik, asyik juga memberi candu pikiran untuk diri sendiri. Halal lagi. Nikmati ajalah sajian how to, ceramah-ceramah kepribadian, training-training motivasi. Apalagi yang gratis.

Namun rupanya Kazuo Murakami, Ph.D. ( di buku the Divine Message of the DNA) , menganggap serius sajian-sajian positif seperti anjuran “positive thinking”. Dengan argumen yang scientific, meski masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Ternyata, gen pun bisa dipengaruhi dengan berpikir positif!

Temui E.coli, bakteri legendaris (bersel satu?) yang dulu sering kita baca di Biologi SMA. Biasanya bakteri ini memakan glukosa, tapi ketika dalam lingkungan tanpa glukosa, ternyata dia bisa juga hidup dengan memakan laktosa. Apa ia mengembangkan kemampuan baru? Ternyata tidak. Kemampuannya sudah ada di gen-nya, hanya saja gen-nya tetap dorman saat dihadapkan pada lingkungan berglukosa. Di rangkaian gen kita, ternyata, ada mekanisme on/off yang dapat diaktifkan dengan lingkungan tertentu.

Menurut Murakami, lingkungan ini juga termasuk cara kita mempersepsi lingkungan, artinya: pikiran kita! Pikiran positif, akan mengaktifkan gen-gen yang positif pula, sementara pikiran negatif membuat gen positif tersebut tetap dorman. It’s in the gene!

Murakami sendiri masih melanjutkan penelitannya. Ia membuat pusat penelitian yang menyelidiki hubungan pikiran dan gen. Nah, buat para orang sinis-skeptis yang selalu merasa man of science di luar sana, rasanya penelitian ini lumayan berhasil membuktikan, bahwa pikiran positif itu benar-benar bermanfaat, scientifically!

8 comments:

  1. "Nah, buat para orang sinis-skeptis yang selalu merasa man of science di luar sana, rasanya penelitian ini lumayan berhasil membuktikan, bahwa pikiran positif itu benar-benar bermanfaat, scientifically!"

    Speak for urself ky? ahahahaha

    Btw, rasanya penelitian Murakami paralel ya ama penilitannya Masaru Emoto. Cuman kalo emoto kan pendekatannya ke air dan substansi paling banyak di tubuh kita itu air.

    Pinjem atuh buku2na ki.. :D

    ReplyDelete
  2. Chandra Suresh bilang, kalau nyawa itu ada, maka ia adanya di otak. Sepertinya saya juga perlu nih.

    Eh, Masaru Emoto itu bukannya masih diragukan kebenaran "riset"-nya?

    ReplyDelete
  3. viar: masih perlu riset lanjutan sih vi,,,sama kayak emoto, agak kotroversial juga. pseudoscience? soalnya dia ga nunjukin langsung di manusia, baru di E.coli (keep the healthy-scientific skepticism! =p)
    ikram: wah, di heroes sih yg gw dengerin Hiro, kram...itu juga cuma bagian:"yataaa!" hehehehe. btw, foto baru yak?

    ReplyDelete
  4. Blm pernah dicoba sih, tapi pengen membuktikan teori ini...
    "Sebelum tidur, ucapkan hal-hal yang positif yang bisa anda lakukan, yakinlah hal tersebut akan menjadi kenyataan..."

    Trus...kepikiran deh ini :
    "saya harus menikah dengan si anu, saya harus menikah dengan si anu, saya harus menikah dengan si anu..." ;))

    Mau nyoba? :D

    ReplyDelete
  5. Wah cky,
    menurut gw, pikiran-pikiran positif itu berguna buat orang yang udah maju, udah menanjak, udah top. Wajar aja dia ngomong gitu..

    Kalo untuk masyarakat awam, cara yg tepat untuk mendrive adalah dengan ketakutan..

    Jadi mari belajar menciptakan ketakukan

    *abis baca machiavelli..

    ReplyDelete
  6. Anonymous10:36 AM

    so u're just that 'genetically skeptical' one ya luk?? hehehe...
    -liva-

    ReplyDelete
  7. @ donny: ama "si anu"? nggak ah, saya maunya si....he33x =p
    @ gunawan.ep: kata Don Corleone, 'lebih baik kata-kata manis dan senjata daripada kata-kata manis belaka', he33x...tapi nggak ah, jgn bikin ketakutan. hegemoni aja,,,
    @ anonymous -liva- : belum pernah diteliti tuh...(keep the healthy skepticism! =p )

    ReplyDelete
  8. Iya ni Ky, ada juga yang berpikir positif untuk korupsi terus. Gimana dong?

    ReplyDelete