Monday, April 23, 2007

Karena Hormon (?)

Sewaktu jalan-jalan di Gunung Agung, nggak sengaja saya liat buku ini: the Female Brain. Ditulis oleh Louann Brizendine, di Indonesia diterbitkan oleh ufukpress. Saya scanning bentar, dan langsung pengen beli. Tapi apa daya, ga punya duit…

Alhamdulillah, ternyata di kosan, Aan udah punya. Langsung deh dipinjem.

Membaca buku ini, saya teringat guru Biologi saya di SSC, Pak Bambang, yang berhasil membuat saya (sedikit) jatuh cinta pada Biologi (mm, yang bagian hormon dan reproduksi aja sih…=p). Waktu itu beliau memberi wejangan pada para pria kalau menemui wanita yang sensitif, cepet banget marah, stress, sedih, dll. Saran beliau waktu itu sederhana: mengertilah, dan tanyakan, “sebentar lagi ‘dapet’ ya?” =p

Menjelang menstruasi, progesterone surut, begitu juga dengan efek menenangkan yang dibuatnya. Fakta-fakta semacam itu, banyak ditemukan pada buku ini. Saya jadi lebih paham, tentu saja ALLAH menciptakan dengan sebaik-baiknya manusia, pria dan wanita. Sangat alamiah, sampai saya berani menyimpulkan, dengan argumen yang biologis-ilmiah: ini bukan hanya konstruksi sosial, tapi kodrat. Paragraf-paragraf berikut akan membahas stereotyping yang biasa kita temukan, beserta penjelasan hormonalnya dari buku ini.

Stereotipe pertama: dalam hubungan sosial, perempuan lebih ‘emosional’ dan sensitif. Benar! Ini bahkan terjadi sejak perempuan masih bayi. Awalnya, semua otak manusia adalah otak perempuan, tapi pada perkembangannya, otak pria lebih banyak direndam testosterone sehingga mematikan sel-sel tertentu di pusat komunikasi, dan menumbuhkan lebih banyak sel di pusat seks dan agresi. Bayi perempuan lebih sensitive terhadap wajah-wajah yang dilihatnya. Mereka bahkan mengetahui emosi dari wajah yang dilihatnya, dan hanya dengan melihat wajah, ia akan menyimpulkan apakah dirinya diterima, dicintai, berharga, atau malah tak diinginkan dan menjadi beban. Menurut pengarangnya, anak-anak perempuan tak bisa menoleransi wajah yang datar. Wajah yang datar diinterpretasikan sebagai akibat dari kesalahan yang telah ia lakukan. Makanya sangat tak baik dibesarkan oleh ibu-ibu yang depresi, berwajah selalu sedih dan tak responsif. Bayi perempuan mungkin akan merasa tak diinginkan.

Semakin besar, anak perempuan juga semakin peka terhadap wajah, nada suara, dan suasana. Kalau ada orang dewasa sedih karena persoalan yang rumit, anak perempuan akan tahu dan menghibur. Ia tahu ada yang tidak beres meskipun tak mengerti masalahnya. Saat dewasa, misalnya, kemampuan ini makin hebat lagi. Perempuan bisa mencerminkan (merasakan sendiri) apa yang dirasakan atau dipikirkan pasangan yang dicintainya bahkan saat pikiran itu belum menyeruak di kesadaran si pria! Perempuan juga 4 kali lebih mudah menangis, para perempuan di sekitarnya juga akan tahu jika teman perempuannya akan menangis (dari kemampuannya membaca wajah), tetapi para prianya hanya akan heran dan berkomentar dogol: “kok gitu aja nangis?”. Para pria baru sadar gawatnya sesuatu baru setelah melihat air mata, dan saat itu sebenarnya sulit untuknya untuk melakukan sesuatu yang meredakan tangisan perempuan. Soalnya, otaknya akan berpikir: saya telah gagal dan telah tak diterima. Jadi, ia mungkin akan menunggu atau menghibur dengan rasa bersalah, sekaligus gengsi dan tidak nyaman.

Stereotipe kedua: perempuan tomboy karena pengasuhan. Sebenarnya, tidak! Ada sebuah kondisi defisiensi enzim yang disebut conginetal adrenal hyperplasia (CAH), yang membuat janin perempuan memproduksi testosterone, sehingga akibatnya menjadi lebih agresif, lebih tidak sensitive, dan mirip anak laki-laki. Tapi, ini cuma satu diantara sepuluh ribu bayi.

Stereotipe ketiga: perempuan suka drama dan dramatisasi. Ya, dan yang paling bertanggungjawab adalah estrogen dan progesteron, yang makin meningkat sejak remaja. Karenanya, perempuan bereaksi berbeda-beda, membuat dramatisasi yang fluktuatif seiring fluktuasi 2 hormon tadi. Ia mulai memperhatikan tubuhnya, dan timbul pikiran-pikiran seperti: do I look good with this…? Ia menjauhi konflik, karena kontak sosial dan keharmonisan memicu oksitosin yang memberi rasa nyaman.

Stereotipe keempat: laki-laki adalah pengejar dan perempuan pemilih. Menurut buku ini, benar. Dari perspektif evolusi, perempuan membutuhkan kondisi yang terbaik sehingga anak-ankanya bisa tumbuh dengan baik. Karenanya, ia cenderung memilih para pria yang dapat memberi keadaan ini, yang dalam kondisi zaman ini, berarti preferensi untuk pria yang kaya dan berkedudukan sosial. Ada penelitian lintas kultural yang membuktikan sterotipe ini, tidak peduli bagaimanapun kondisi finansial perempuannya. Sementara laki-laki mengejar perempuan yang menarik secara visual, dan ada penjelasan evolusionis lucu sekaligus logis dalam buku ini: menurut laki-laki, perempuan yang menarik secara visual merupakan perempuan subur dan most likely akan tak masalah dalam melahirkan keturunannya. Ini naluri purba dan bawah sadar, konon.

Stereotip kelima: perempuan (juga laki-laki) tidak rasional saat jatuh cinta. Saat jatuh cinta, sirkuit otak untuk berpikir kritis dimatikan. Saat itu, otak banjir oleh senyawa-senyawa pemberi kesenangan seperti dopamin, estrogen, oksitosin dan testosterone. Amigdala (sistem siaga-rasa-takut) dan anterior cingulate cortex (sistem kekhawatiran dan berpikir kritis) tak berfungsi. Aktivitas-aktivitas seperti memandang, menyentuh, membelai, memeluk, mencium akan menguatkan oksitosin-dopamin, dan menyebabkan efek seperti kecanduan (minimal 6-8 bulan). Saat jauh, pasangan yang saling jatuh cinta akan merasa sangat rindu (karena oksitosin-dopamin yang bisanya ada oleh interaksi intens tiba-tiba dicabut), dan butuh untuk bertemu kembali (dan berpelukan, seperti di film-film. Kenapa? Pelukan minimal 20 detik membuat oksitosin-dopamin aktif lagi).

Masih banyak lagi pengetahuan berharga yang bisa didapat dari buku ini. Ternyata, panjang vasopressin laki-laki berbeda-beda, dan panjang pendeknya menentukan kecenderungan seorang pria: monogamis atau poligamis (mungkin karena ini juga poligami itu dibolehkan, tapi saya gak mau ini dijadikan sejenis pembenaran). Otak seorang ibu yang sangat luar biasa, dan memang diciptakan untuk terus menjaga anaknya. Perubahan-perubahan hormon yang dialami perempuan sejak remaja, awal dewasa matang, saat jatuh cinta dan berpasangan, saat menikah dan berhubungan seksual, melahirkan, hingga saat masa matang. Saat membahas otak yang matang ini, sampai-sampai saya menyarankan seorang teman perempuan saya yang tadinya niat mau menikah lama. Mendingan segera. Soalnya, semakin tua dan mendekati kematangan, estrogen semakin melemah, naluri-naluri keperempuanan yang emosional, mementingkan hubungan dan orang lain juga semakin melemah. Masa ini, perempuan makin ‘egois’, dan akan baik untuk karir dan mencapai ambisi-ambisi pribadinya. Kan repot juga ketika waktu itu tiba, tapi anaknya masih kecil-kecil…Bukan apa-apa, kasihan anaknya, dan tak baik untuk evolusi manusia =p.

Buku ini juga menyisakan sebuah perenungan: semua karena hormon? Jadi, perdebatan lama tentang nature atau nurture itu dimenangkan oleh nature?

Pendapat saya sih, tidak. Saya percaya tiap manusia diberi amanah oleh ALLAH (Al-Ahzab:72), amanah yang hanya diterima manusia: untuk melakukan pilihan. Free will. Jadi, meskipun seorang pria jatuh cinta, misalnya, tapi ia tak mau jadi tak rasional dan tiba-tiba jadi dungu, ia bisa memilih untuk menjauh dahulu, tidak berinteraksi langsung, supaya dopamine-oksitosinnya tidak terkuatkan. Pada akhirnya, segala seluk beluk tentang hormon ini bukanlah suatu hal yang deterministik. Tetap berguna, minimal untuk input dalam melakukan pilihan-pilihan.

Very recommended reading!

Wallahu a’lam bis showaab.

Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui

Pada 21 April 2007, tidak diniatkan sebagai tulisan menjelang hari Kartini.

8 comments:

  1. ..meskipun seorang pria jatuh cinta..,tapi ia tak mau jadi tak rasional dan tiba-tiba jadi dungu, ia bisa memilih untuk menjauh dahulu, tidak berinteraksi langsung,..

    *jadi kamu 'memilih' seperti ini ky?

    ReplyDelete
  2. eh, eh...bisa minta tolong pinjemin nggak? ;))

    btw, tanggal 5 - 12 mei ada pameran buku di Be Mall, Luck. Awal bulan kan tuh, siapa tahu bisa ngeborong :p

    ReplyDelete
  3. Yah jadi apa jawaban dari pertanyaan "Bagaimana membuat wanita jatuh cinta??"??

    ReplyDelete
  4. tony pj10:08 AM

    Trian H.A said...
    ..meskipun seorang pria jatuh cinta..,tapi ia tak mau jadi tak rasional dan tiba-tiba jadi dungu, ia bisa memilih untuk menjauh dahulu, tidak berinteraksi langsung,..

    *jadi kamu 'memilih' seperti ini ky?


    Pilihan atau keterpaksaan?? hehehehe

    ReplyDelete
  5. pomzzz3:22 PM

    hmm, saat nya make jatah buat beli buku.. mumpung dibayarin :p

    beli aaaah

    ReplyDelete
  6. Trian: nggak =p
    Donny: udah dipinjem org tuh bos...ada yg nunggu lagih...
    Ikhsan: peluk lembut selama minimal 20 detik. Pastikan ketek anda tidak kena sabun/deodoran/parfum, biar feromon tidak tercemar.
    Tony PJ: nggak kedua-duanya =p
    Pomzz: ciee...yg dapet tunjangan buku,he33x =p

    ReplyDelete
  7. Estrogen itu bisa disebut juga "hormon cinta" karena ia adalah yang menentukan ciri sex sekunder wanita, kalo progesteron itu "hormon ibu" karena ia yang membantu persiapan sang jabang bayi dalam rahim dan laktasi.-Buku PEREMPUAN,Quraish shihab-
    Oksitosin-dopamin ? well, hubungan psikologi-fisiologi memang rumit tapi keren.ngantri pinjem bukunya dong..

    ReplyDelete
  8. Wah, udah scanning hormon lawan jenis nih. Ditunggu undangannya ya :P

    ReplyDelete