Catatan dari wisuda ITB 3 Maret 2007
Sekitar 4,67 tahun masa kuliah saya akhirnya secara resmi diakhiri pada Sabtu, 3 Maret 2007 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) . Selama kuliah di ITB, saya selalu diajarkan untuk menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Saya diajarkan untuk menulis kalimat-kalimat yang baik, tidak ambigu, singkat, dan tepat.Sewaktu Tahap Persiapan Bersama (TPB, tingkat satu), ada mata kuliah khusus yang menekankan tentang ini. Dulu namanya Bahasa Indonesia, sekarang namanya lebih seram lagi dalam menekankan pentingnya menulis dengan baik ini: Tata Tulis Karya Ilmiah. Saya hanya mendapat B, maka maklumi saja kalau Bahasa Indonesia saya tak terlalu baik, apalagi jika menulis.
Tapi coba baca kalimat ini:
Dr. Fenny, sebagai salah seorang wakil dari Asia pasifik, merupakan perempuan kedua dari Indonesia yang mendapat beasiswa serupa yang biasanya setiap tahun diberikan kepada 15 peneliti perempuan muda dari lima benua.
Aan, teman sebelah saya ketika di Sabuga, dengan teliti segera menyadari lucunya kalimat tersebut. Peneliti perempuan muda?
Kalimat itu saya kutip apa adanya dari Sambutan Rektor ITB pada Wisuda Lulusan ITB. Saat itu, Pak Djoko sedang bicara tentang prestasi warga ITB. FYI, Pak Djoko ini Profesor, yang terbitan karya ilmiahnya tentu lumayan banyak.
Namun, kalau kalimatnya seperti itu sih, saya rasa itu bukan prestasi. Peneliti perempuan muda? Teman-teman pria saya yang heteroseksual pun bisa…Bahkan akan dengan senang hati meneliti perempuan muda. Topik penelitiannya pun bisa kami pertajam: meneliti perempuan muda yang menarik. Untuk lebih memperumit dan memberikan kontribusi lebih secara akademis, saya mengusulkan meneliti perempuan muda yang menarik untuk dijadikan pasangan hidup. Jadilah saya peneliti perempuan muda yang menarik untuk dijadikan pasangan hidup. Hebat!
Lumayan, akhirnya ada yang lucu di wisuda ITB.
Hal unik lain sewaktu wisuda di Sabuga: wisudawan HMM yang dengan tegar meneriakkan yell boys sewaktu resmi diwisuda (yang paling bertanggungjawab tentu saja orang ini), Aming Supriyatna (SR ’00), bintang Extravaganza itu, yang akhirnya lulus dan disambut meriah hadirin, serta fotografer gadungan yang menipu saya dan keluarga. Semoga diberi jalan yang benar oleh-Nya.
Setelah itu, menunggu foto bersama, keluar dan disambut meriah anak-anak MTI, kabur dari perang air (sorry, tapi saya harus mengantar teman saya ke terminal…), makan malam bersama keluarga, acara malam wisuda MTI yang meriah, bertemu alumni tua dan menghabiskan malam di Dwi Lingga hingga jam 2.
What a day!
Alhamdulillah.
Selamat buat semua wisudawan, semoga dapat menjadi alumni yang berguna.
Mohon doa agar bisa istiqamah.