Thursday, December 28, 2006

I Want to Believe

Dulu, saya selalu cinta nonton the X-Files. Saya suka agent Dana Scully, perempuan cerdas yang selalu skeptis dengan kepercayaan-kepercayaan mitra kerja, sahabat, sekaligus lover (dengan hubungan yang aneh…): agent Fox Mulder. Saya juga selalu terpesona melihat poster yang ada di ruang kerja Mulder. Poster UFO, hitam putih, dengan tulisan besar di bagian bawahnya. “I Want to Believe” tulisannya..

Kalimat itu, dalam interpretasi saya, merepresentasikan kegamangan, suatu batas antara percaya sepenuhnya dengan ketidakpercayaan. Seolah-olah berkata: aku ingin percaya, tapi…entahlah. Karena UFO tidak sejelas hard science. So, batas kepercayaannya hanya bisa diungkap lewat gambar UFO besar hitam putih dan satu kalimat tersebut.

Menurut Wijana, teman saya (lebih tepat disebut sebagai partner in crime sih…;-p), kepercayaan (atau kegandrungan) bangsa Amerika (atau Barat lah…) pada UFO, atau keberadaan makhluk cerdas di luar sana sebenarnya merepresentasikan alam pikiran mereka yang memuja rasionalitas dan keserba-ilmiahan (mohon maaf untuk bentukan kata yang maksa). Bangsa Amerika menolak percaya sepenuhnya pada sejenis mistisme, skeptis pada Tuhan, tapi ingin percaya pada makhluk lebih cerdas daripada manusia. Karenanya pula, objek yang ingin dipercayanya pun mewujud dalam suatu makhluk yang dianggap lebih canggih teknologinya, lebih cerdas, dan lebih maju. Perhatikan, obyek yang ingin dipercaya yang dipilih: lebih cerdas, maju, dan canggih (pemujaan akan kemajuan yang menjadi ciri utama Barat sejak Renaissance dan modernisme), dan keberadaannya (atau diada-adakan?) dikemas dengan ilmiah (atau diilmiahkan).

Apakah UFO dan sejenisnya itu ada? Kita tidak tahu pasti. Ada bukti-bukti (Area 51, serombongan orang yang melihat UFO dengan mata kepala sendiri di Meksiko, atau Men In Black yang selalu menyertai kemunculannya. MIB ini bukan film atau fiksi saja, tapi dalam ‘folklore’ UFO, memang dikisahkan ada MIB yang selalu menyertai dan menjaga). Namun, setahu saya, proyek SETI (Search of Extra Terrestrial Intelligence) belum berhasil menemukan, apalagi berkomunikasi, dengan kecerdasan lebih tinggi itu. Jadi? Wallahu a’lam.

Mari kita beranjak kepada jenis-jenis kepercayaan lain yang mirip-mirip ini. Anda percaya santet? Teman saya sangat percaya, karena ia dengan mata kepala sendiri pernah melihat sinar-sinar berseliweran di udara. “Itu perang teluh”, katanya. Saudara saya percaya, karena pernah sakit aneh dan sembuh ketika dibawa ke orang pintar. Anda percaya jimat? Saya tidak. Namun, saya mendengar cerita kader PKI yang kebal peluru tapi meninggal ketika dicambuk dengan semacam jerami. Tentu saja fakta itu membuat tentara yang mengejarnya percaya bahwa sejenis jimat itu ada.

Di kedalaman, pada dua jenis kepercayaan itu, kita menyaksikan similaritas. I want to believe, but…Fakta dan buktinya tidak seterang matahari yang terbit dari timur. Tidak sekeras rumus-rumus Fisika.

Nah, sekarang ada pertanyaan lagi. Anda percaya bahwa logo coca-cola, kalau dibaca dengan cara tertentu, akan terbaca seperti sebuah penghinaan pada agama tertentu? Atau grup band Dewa, dalam penggunaan simbol-simbolnya, sebenarnya mendakwahkan simbol-simbol zionisme? Anda percaya conspiracy theory?

Sekali lagi, kalau anda adalah seperti Mulder, jawabannya ialah “I want to believe”. Jika anda mirip Scully, sebagai man atau woman of science, tentu akan skeptis. Dalam LOST, John Locke (Man of Faith) percaya bahwa ada yang dikehendaki oleh “The Island”, sementara Jack (Man of Science) menolak mentah-mentah.

Nilai-nilai kita, faith kita, yang pada akhirnya menentukan apa yang benar menurut kita. Bukan yang faktual dan real. Penganut agama yang fatalis membuat kisah konspirasi, dan karena ia juga kenal dengan nilai-nilai ilmiah, teorinya itu pun dikemas secara logis dan ‘ilmiah’. Di titik ini, “I want to believe” bukanlah tanda kegamangan untuk diteruskan dengan pencarian, tetapi ekspresi pemaksaan. Pokoknya saya pengennya percaya ini (sambil menyalahkan yang lain)!

Padahal ya, bahkan agama pun mengajari untuk selalu mencek dan cek lagi ketika ada informasi. Padahal kita diminta membaca, “membaca atas nama Tuhan yang menciptakan”. Kita disuruh membaca atas nama Tuhan, bukan atas nama nafsu, keinginan, atau ego kita. Termasuk nafsu yang menyelinap sebagai faith, yang malahan membuat kita berlaku tak adil, dan salah mempersepsi dunia.

Saya ingat nasihat guru saya yang menyitir Mustafa Mashur (Tulisannya bener gak ya?), bahwa suatu kejadian itu hendaknya dilihat dari dua kacamata: syukur dan waspada. Dari kacamata syukur, jelas. Dari kacamata waspada, yang juga perlu diingat, ‘waspada’ bukan hanya ‘curiga’, kewaspadaan pada pihak lain, tetapi juga ‘mawas diri’ atau self-aware, jangan-jangan kita dibutakan oleh kepercayaan, faith, konsepsi, atau pra konsepsi kita.

Bagaimanapun, evidence won’t lie, kata Gil Glossom di C.S.I. Juga, every insight I have to think by myself. I must rethink everything radically and without preconception, menurut Einstein.

Sisanya kita serahkan pada Yang Maha Mengetahui.
Wallahu A’lam bis Showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.