Saturday, October 28, 2006

Sejarah Kecil Keluarga

: catatan mudik idul fitri 1427 H

Ada yang bilang, sejarah selalu merupakan kisah manusia-manusia besar. Tentang orang-orang hebat yang berpengaruh pada zamannya masing-masing. Atau, kadang-kadang bukan orang yang hebat secara alamiah, tapi semata orang yang beruntung: orang yang tepat di tempat yang tepat di waktu yang tepat. Yang hebat adalah nasibnya, bukan orangnya. Apapun, tetap, menurut ujaran tersebut, sejarah adalah milik George Washington, Soekarno, atau Soeharto, misalnya. Sejarah hanya mencatat orang-orang seperti itu, dengan figuran-figuran di sekelilingnya. Yang lain, nothing, hanya dicatat di angka statistik. Jumlah penduduk Indonesia yang sering dikutip di pidato-pidato Soekarno adalah 60 juta, salah satunya tentu kakek atau ayah Anda juga saya.

Namun kemarin sempat saya baca tentang “sejarah yang lain”, sebuah sejarah kecil. Sejarah yang tak hanya berisi manusia hebat dan figurannya yang terlibat, tapi sebuah sejarah yang lebih intim, lebih personal. Alhamdulillah juga, jadinya lebih jujur dibanding dengan “sejarah besar”, yang saking hebatnya manusia dalam sejarah tadi, hingga ‘fakta’ pun bisa ia reka hingga jadi ‘sejarah’. Mulai kita baca buku-buku yang mencatat kesaksian orang kecil di masa “penumpasan antek PKI” di tahun 1965, misalnya. Mulai kita baca kisah cucu seniman murni terbunuh gara-gara kebetulan ia difasilitasi Lekra, tanpa terikat ideologinya.

Lebaran kemarin sempat saya dengar juga kisah sejarah kecil ini. Saya dengar langsung dari ayah dan ibu saya. Lumayan rame juga, sekalian lebih mengenal akar tradisi.

Seperti biasa, tiap lebaran saya dan keluarga pulang ke Ciamis. Meskipun setelah nenek saya meninggal, kami hampir selalu kesana di hari kedua dan tak lagi lama menghabiskan waktu disana, which is very good, soalnya kadang-kadang saya merasa bosen aja lama-lama disana, kurang kerjaan, selain silaturrahim dengan saudara-saudara yang juga berkumpul lagi. Tentu saja untuk mengobrol, menanyakan kabar, dan cukup sering nyerempet-nyerempet ke gosip…

Kadang, kalau memang momennya tepat, berkumpullah keluarga besar (yang benar-benar besar, karena patokan awalnya ialah kakek buyut saya hingga ke bawahnya). Nah, di momen seperti ini, saya kadang-kadang saya kaget karena menemukan orang yang saya kenal di sekolah adalah juga saudara saya, meskipun jauh. Waktu di SMA, misalnya, saya ternyata bersaudara dengan dua teman saya seangkatan yang adalah “cucunya adik nenek” saya. Entahlah saya harus memanggilnya apa. Pernah juga, ada dua orang yang sempat berseteru di kampungnya, dan kaget juga ketika di forum itu terungkap bahwa keduanya masih bersaudara jauh…

Selain fakta-fakta menarik itu, saya sendiri tak tertarik dengan pertemuan-pertemuan seperti ini. Karena biasanya jadi ajang narsis keluarga besar, “kita ini dipersatukan dibawah Aki xxxx”, misalnya. Sebuah tradisi borjuis tradisional, saya pikir. Mengingat-ingat jalur keturunan dan selalu menjaganya.

Namun ada cerita menarik lain dari pertemuan semacam itu, karena terkait satu hal yang selalu saya ikuti dengan antusias: sejarah.

Waktu zaman sekolah dulu, saya selalu mempersepsikan DI/TII adalah pemberontak, yang lalu dipersepsi lebih lanjut sebagai penjahat, the bad guys of our national history. Saat sudah lebih tua, saya jadi tahu juga bahwa yang selalu dibilang penjahat itu “not really that bad”. Ada beberapa orang yang bahkan bersimpati, malahan. Tujuannya bagus, kata teman saya, menegakkan Islam di Indonesia. Kok malah dibilang jahat? Entahlah, saya pikir. Kalau udah seperti ini, kebenaran entah bersembunyi dimana, yang ada hanya keberpihakan. Anda “Islam”, anda simpati pada Kartosuwiryo. Anda “Nasionalis”, anda benci Kartosuwiryo. Benar salah bukan tergantung fakta, tapi dimana anda berdiri. Yang disebut “fakta” pun jadi kabur. Repot.

Nah, ternyata, sewaktu ada perseteruan antara DI/TII-Pemerintah RI (saya memakai kata ‘perseteruan’ yang lebih netral, bukan ‘pemberontakan’ atau ‘perjuangan’ yang sudah menunjukkan keberpihakan), daerah asal ayah-ibu saya juga jadi salah satu medannya. Seperti yang kita baca di sejarah dulu, DI/TII paling marak di daerah Jawa Barat (Kartosuwiryo sendiri tertangkap di daerah sekitar Garut). Ibu saya bercerita, tahun 1958, ayah dan kakeknya (berarti kakek dan kakek buyut saya) itu tewas ditembak oleh “gorombolan”. “Gorombolan” itu (selanjutnya saya sebut ‘gerombolan’ saja, dalam bahasa Indonesia) adalah istilah warga Kawali untuk menyebut pasukan DI/TII yang bermarkas di gunung-gunung dan sering turun ke kampung-kampung untuk meminta secara paksa beras, makanan lain, atau uang ‘demi perjuangan’. Kisahnya, pada suatu malam, gerombolan itu datang (ibu saya masih kecil saat itu), lalu menggeledah rumah kakek saya sekeluarga. Kakek buyut saya, entah karena panik atau sebab lain, tiba-tiba saja keluar meninggalkan rumah. Nah, kakek saya juga ikut, mungkin bermaksud untuk membawanya kembali, karena pergi keluar akan sangat berbahaya, bisa-bisa dituduh akan melaporkan ke pasukan TNI. Gerombolan itu bereaksi khas pasukan militer: menembak langsung keduanya. Kakek buyut saya langsung meninggal, sementara kakek saya sempat dibawa ke rumah sakit, lalu meninggal. Kisah ayah saya juga serupa tapi tak sama. Dulu, rumah ayahnya ayah saya dipakai sebagai markas untuk TNI dalam operasinya menumpas DI/TII. Sebenarnya bukan markas juga sih, hanya tempat tinggal sementara pasukan TNI. Kakek saya dari ayah juga selain memberi tumpangan juga memberi sedikit makanan. Nah, rupanya hal itu diketahui oleh ‘gerombolan’. Pada suatu malam juga, tiba-tiba saja mereka menyerbu lalu membakar rumah kakek saya. Beruntung kakek saya keburu kabur, bersama dengan ayah saya (saat itu masih kecil), yang digendong oleh nenek saya.

Waktu mendengar ceritanya, terus terang saya merasa agak-agak syerem. Bayangkan malam yang gelap tanpa lampu listrik, di tengah-tengah konflik dimana sulit menentukan keberpihakan. Dan itu berlangsung lama, sejak 1946 hingga 1963. Ibu saya bercerita, setiap menjelang malam pasti ia akan merasa takut dan tegang. Saya juga berpikir, pastilah efek peristiwa itu mendalam buat yang terlibat. Nenek saya, misalnya, sempat menangis ketika melihat foto kakek saya, dan sedih campur bangga ketika melihat saya (mirip aki, katanya. Saya sih nggak tau…). Salah satu pekerja di kakek saya sampai sekarang selalu menangis kalau menceritakan peristiwa kematian kakek saya.

Tapi yang saya saksikan…hampir tak terasa aura dendam. Sedih, mungkin ada, tapi dendam, tidak. Ibu saya menceritakan peristiwanya dengan dramatis (khas ibu-ibu kalau ngegosip…), sedangkan bapak saya sambil menerawang (yang kadang-kadang diselingi hikmah dan wejangan-wejangan). Dan benar juga sih, mungkin hanya itu yang bisa dilakukan sebagai defense mechanism-nya. Let it go.

Situasinya, seperti yang disimpulkan oleh bapak saya, serba sulit. Apakah dengan menyediakan markas sementara dan makanan buat TNI, maka kakek saya ada di pihak pro-TNI? Tidak juga. Bayangkan saja, ketika ada orang bersenjata masuk rumah rakyat biasa. Tentu saja kakek saya, yang tak punya keberpihakan ideologis, akan melayani. Ini hanya masalah siapa yang duluan. Kalau saat itu pasukan DI/TII yang datang, perlakuan kakek saya juga sama (mungkin dengan akibat yang berbeda, mengingat pasukan TNI lebih pintar menghabisi musuhnya daripada DI/TII). Begitu juga dengan kakek dan ayah ibu saya, hanya rakyat biasa tanpa keberpihakan yang kebetulan rumahnya disatroni DI/TII. Tidak ada pilihan selain menderita dan meratapi nasib.

Apakah perbuatan masing-masing pihak yang bertikai itu salah? Sulit juga… Meskipun tidak ada ‘seandainya’ dalam sejarah, coba saja bayangkan ini: bagaimana kalau saat itu DI/TII yang menang? Maka semua menjadi sah! Dalam sejarah mereka, akan ditulis, ‘dengan bantuan rakyat, para pasukan DI/TII berhasil merdeka dari cengkraman penjajahan RI laknatullah’, sama seperti kalimat dalam buku sejarah SMP yang kita baca dulu, ‘dengan kerjasama rakyat, batalyon 3 Siliwangi berhasil memadamkan pemberontakan DI/TII’. Tetapi, bukankah tindakan menyabot harta orang lain secara paksa itu jelas salah? Ya, tapi coba pikirkan ini: apakah memberi makan TNI juga benar-benar perbuatan sukarela? Saya kira tidak. Rakyat biasa, yang tanpa keberpihakan, akan lebih suka menyimpan hasil usahnya untuk dirinya dan keluarganya.

Jadi, pada esensinya adalah sama: penggunaan kekerasan dan pemaksaan. Pada pihak DI/TII, karena ia tak punya legitimasi formal, kekerasan dan pemaksaan mewujud dalam bentuknya yang paling primitif: pemerasan dan perampokan serta penggunaan kekerasan secara fisik. Pada TNI, karena memiliki legitimasi formal (karena ia adalah alat negara, atau bahkan alat pemerintah), bentuk kekerasannya pun menjadi lebih halus. Tapi kan esensinya sama aja, semacam ketidakrelaan, atau minimal preferensi lain dari rakyat biasa.

Itulah kenapa, saya sadari, tidak ada dendam dari nada ayah dan ibu saya. Mau dendam pada siapa? Mereka hanyalah orang yang ada di tempat dan saat yang tidak tepat hingga harus menerima nasib buruk itu.

Lalu, pertanyaan berlanjut: adakah kebenaran? Apakah memang benar, kebenaran hanyalah masalah keberpihakan, yang terkait kekuasaan? Perlu diketahui juga, peristiwa DI/TII tidak lahir tanpa preseden. Awalnya ialah kekecewaan karena merasa kelompok Islam diperlakukan tidak adil. Nah, kalau kita dengar penjelasan ketidakadilannya juga, kita bisa teryakinkan bahwa yang mereka lakukan juga adalah benar dan dapat dimengerti.

Peristiwa semacam ini juga mungkin yang dialami di daerah-daerah konflik. Di Aceh kemarin-kemarin, di Poso, di Timor Leste, dan di daerah-daerah lain. Menunjukkan satu hal, bahwa saling silang berebut kekuasaan adalah niscaya.

Apa yang dapat kita lakukan? Saya sebenarnya skeptis dengan demokrasi, hanya saja mekanisme demokrasi yang sehat mungkin bisa memindahkan perebutan kekuasaan dari kekuatan senjata ke saluran-saluran lain yang ada. Ada pemilu, ada pers atau mimbar bebas, ada kesetaraan. Juga, gunakanlah bentuk-bentuk kuasa lunak (soft power) menurut Joseph Nye, bagaimana supaya penguasaan dapat dilakukan dengan suka rela. Apakah demokrasi adalah panacea-nya? Tentu saja tidak. Hanya media. (Jangan tanya “bagaimana bila kekuatan anti-demokrasi ikut mekanisme demokrasi?”. Itu butuh perbincangan panjang!).

Dan jangan tolol juga, memaksakan so-called demokrasi lewat mengebom negara orang lain. Itu sih sama aja bloonnya!

Masih ada lanjutannya sih, tapi sekarang sampai segini dulu aja. Punten udah kepanjangan.

Wallahu a’lam bis shawaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.
Mana Yang Benar.

Beberapa Catatan Tentang Idul Fitri 1427 H

Yang pertama, tentu saja, toleransi (tasamuh). Untuk anda yang merayakan di hari Selasa, 24 Oktober 2006, selamat hari raya. Untuk yang merayakan di hari Senin, 23 Oktober 2006, selamat hari raya. Bahkan pula, untuk saudara-saudara saya yang merayakan di hari Sabtu (saya lihat di berita ada jamaah Islam yang merayakan di hari Sabtu. Mereka juga memulai ramadhan 2 hari lebih awal), juga selamat hari raya.

Yang kedua. Lebaran kali ini, sama dengan lebaran 2 tahun yang lalu, saya dan keluarga merayakan lebih awal 1 hari dari yang ditetapkan pemerintah. Bapak saya, sebagai kepala keluarga yang jadi acuan, memang menetapkan seperti itu. Beliau mengikuti Muhammadiyah. Saya tidak mengikuti Muhammadiyah, saya mengikuti bapak saya, hehehe. Biar kata ada sms bahwa majelis atau dewan syariah ini-itu menetapkan hari Selasa, pemerintah juga, dan ada juga yang menyatakan “mengikuti pemerintah”, saya sih tetap: ikut keluarga ;-p. Juga, ukhuwah keluargaiyah (apa sih bahasa arabnya?) lebih penting! ;-D. Tapi tetap dong, catatan pertama berlaku.

Nah, penetepan lebaran hari Selasa ini juga ternyata tidak diikuti oleh masjid langganan bapak saya (tentunya jadi langganan saya juga). Ini membuat bapak saya misuh-misuh, karena biasanya itu masjid emang ngikutin Muhammadiyah. Mulailah bapak saya berteori konspirasi, “wah…banyak kepentingan nih penetapan lebaran selasa…”. Kepentingan politis, katanya. Juga kepentingan para kapitalis. “Tinggal lobi pihak-pihak terkaitnya aja tho? Dan masyarakat bisa punya tambahan satu hari untuk belanja persiapan lebaran! Siapa coba yang untung kalo gitu?”. Hehehe, tentu saja saya menolak keras. Ini hanya perbedaan metodologi, dan dua-duanya boleh. Debatnya lumayan lama, dan karena kedua pihak sama-sama keras kepala, kesimpulannya adalah…ikuti aja pendapat masing-masing.

Catatan ketiga. Semenjak nenek saya meninggal, saya merayakan lebaran di Cirebon. Agak beda sih, kurang kerasa lebarannya (apalagi saat tetangga-tetangga juga belum lebaran). Namun, besok pasti akan rame juga. Yang agak beda, baru kali ini rasanya saya merasakan ‘mudik’. Biasanya, paling-paling balik dari Bandung-Cirebon yang gak kerasa suasana mudiknya. Kali ini, saya mudik dari Gambir yang…mendebarkan. Soalnya, kereta saya berangkat jam 13.45, dan saya baru nyampe depan gerbang gambir jam segitu pula…mana tiketnya ada di kakak saya yang udah di atas kereta, dan dia jadi harus sibuk ngelobi petugas buat nungguin “satu orang lagi, namanya Lucky. Orangnya pake kacamata dan pasti keliatan buru-buru…”. Itu deskripsinya ke petugas. Udah gitu, saya masuk dari pintu utara, sementara kakak saya nunggu dan berpesan ke petugasnya di pintu selatan. Jadilah saya berantem dulu ama petugas di pintu utara, “pak, kakak saya udah nunggu di kereta, keretanya mo berangkat!”
“Panggil dulu kakaknya! Kamu nggak boleh masuk”, kata petugasnya galak.
Saya males, dan mendingan pergi ke pintu selatan. Untung si petugasnya kemudian luluh dan mengizinkan saya masuk, dengan catatan, “kalo bohong kamu kudu keluar!”. Whew, tegang banget. Tapi abis itu, saya selalu suka sensasi setelahnya. Lega, gembira, euforia. Makanya saya seneng banget jadi deadliner. Adrenalin kita akan meningkat, dan setelahnya pasti puas! Ini adrenaline game yang murah, daripada harus naik rollercoaster yang mahal, atau panjat gunung tanpa pengaman yang berbahaya, atau mengerjakan TA di deadline yang berisiko besar dan tak sebanding…

Keempat. Saya sholat id di lapangan sebuah sekolah muhammadiyah di Cirebon. Unik, karena…tanpa 7 & 5 kali takbir…hehehe, emang asyik nih ikut muhammadiyah. Serba cepat dan efisien! ;-D.

Kelima. Saya harus balik ke Jakarta di hari Minggu, 29 Oktober 2006, karena Senin-nya udah masuk kantor lagi. Huaaaaaa, sebel!!!

Udah ah. Hanya catatan-catatan ringan.
Selamat Hari Raya Idul Fitri.
Taqabbalallahu minna wa minkum.
Minal Aidin Wal Faizin.
Mohon Maaf Lahir Batin.

Tuesday, October 17, 2006

Pengumuman Penting!!!

Sodara-sodara,
Inilah tempat anak-anak paling keren se-ITB ;-p. Saya jamin, se-ITB. Atau mungkin lebih sih, hanya untuk ini perlu pembuktian lebih juga, di masa depan. Silakan saja dicek:
http://2002.ti.itb.ac.id

Seharusnya Igun yang mengumumkan, karena yang bersusah-payah bikinnya itu Igun (thx a lot Gun!). Semoga bisa jadi salah satu sarana lagi untuk silaturrahim kita.

Yang punya blog terus belum daftar, daftarin aja alamat blog-nya ke Igun (gunawan.prasetia@yahoo.com).

Terima Kasih atas perhatiannya.

Monday, October 16, 2006

Yang tak (pernah) terkatakan untuk Neng



Menurut seorang selebriti dalam sebuah wawancara, katanya, “orang Indonesia itu tidak romantis,”. Lanjut selebriti lain yang menikah dengan pria Eropa, “beda dengan orang barat yang lebih romantis”.

Saya tidak tahu apakah sterotipe itu benar adanya. Pendapat 2 selebriti, yang hanya berdasar pengalaman pribadi (apalagi mereka belum pernah menikah dengan orang Indonesia, karena memang baru menikahnya sama pria Barat. Jadi, bagaimana mereka bisa menyimpulkan pria Indonesia tidak romantis?) tentulah tak cukup sebagai sampel. Hanya, dalam keluarga saya, mungkin benar adanya.

Seingat saya, semenjak saya bisa mengingat, jarang sekali saya dengar seorang anggota keluarga saya bilang “aku cinta padamu”, atau “aku menyayangimu”, atau kalimat sejenisnya. Kalimat itu juga belum pernah saya ucapkan sampai sekarang…Atau, bahkan kalimat-kalimat yang menuju ke arah itu (semacam kalimat yang menunjukkan rasa sayang amat sangat) juga jarang saya dengar. Sebagai gantinya, ibu saya sering menggunakan kalimat atau pertanyaan klise yang tidak penting, tapi lebih konkret dan teknis.Pada suatu malam hari, misalnya, tiba-tiba saja ibu saya menelepon dan bertanya,

“A, udah makan belum?”. Ya jelas saya bengong, “Udah, mah”.
“Sama apa?”
“Sama ini, itu” (menjawab mnu makanan yang baru saya makan).
“Dimana?”
“Di sini-di situ”. (menjawab nama tempat saya makan).

Percakapan lalu berlanjut hingga 3-5 menit tentang…tetap makanan. Dan diakhiri dengan kalimat pamungkas, “hati-hati kalau makan…makan yng bener, yang sehat”. Saya otomatis mengiyakan, dan percakapan berakhir.
Nah, karena mungkin tak pernah terungkap secara verbal, rasanya aneh kalau mengucapkan atau mendengar kata cinta. It’s just…silly.

Begitu juga hubungan saya dengan seorang perempuan lain di keluarga saya, kakak perempuan saya. Bahkan lebih buruk.

Seharusnya saya memanggilnya teteh, sebutan untuk kakak perempuan dalam bahasa sunda. Namun saya tak pernah memanggilnya seperti itu, meskipun ia menyebut dirinya teteh kalau bicara dengan adik-adiknya. Saya tetap memanggilnya: neng, atau eneng, panggilan untuk gadis dalam bahasa sunda. Karena memang sudah terbiasa ia dipanggil seperti itu tadinya…Dan saya hanya mengikuti.

Kakak saya ini anak sulung, dan usianya lumayan terpaut jauh dari saya. Jadi, walaupun tinggal di bawah satu atap, saya memiliki lingkungan pergaulan, kehidupan, dan dunia yang agak jauh berbeda dengannya. Waktu zaman ia suka sekali F4, saya tak mungkin mengikuti perkembangan F4 atau film terbaru Jerry Yan, atau mengobrol tentang Vic Chou dengannya dong…meskipun saya sering ketiban sial disuruh membeli majalah, pictorial book, poster, atau vcd meteor garden edisi lengkap (yang sebenarnya, untuk kasus Meteor Garden 1, saya tonton juga…guilty pleasure nih. Saya menontonnya bareng teman-teman SMA, tepat saat besoknya harus UAN matematika, di kamar saya…hehehe). Terus, kami juga sangat berbeda dalam hal karakter, meskipun mengalir warisan gen dari orang-orang yang sama. Ia sangat rapi, extraordinary, sampai terkesan sangat freak karena benar-benar terobsesi dengan kerapihan dan kebersihan. Hal ini angat menjengkelkan saya, karena sering terjadi kasus-kasus kehilangan barang gara-gara kakak saya membereskan kamar saya. Atau tiba-tiba kamar saya, dan kadang seisi rumah, berubah layout-nya. TV dipindahkan, sofa juga, lemari yang berat juga! Atau, dalam kasus lain, waktu saya secara khusus membeli majalah karena ada poster Superman yang besar dan keren, lalu poster itu saya geletakkan begitu saja (dengan maksud nanti dipasang). Poster itu tiba-tiba raib, dan ternyata sudah bergabung dengan sampah yang dibakar di belakang rumah…

Nah, hal-hal itu membuat hubungan saya dengannya tak begitu baik. Sering sekali beradu mulut karena hal-hal kecil. Tak pernah bisa ngobrol bareng dengan enak. Apalagi berkata-kata yang menjurus ke cinta-sayang-sayangan atau perhatian. Enggak banget deh!

Hanya kemudian itu semua berubah saat kakak saya ini menikah, dan harus dibawa oleh suaminya ke Berau (dimana sih itu? Kalimantan ya?). Saya mulai agak khawatir. Kadang-kadang juga timbul rasa penasaran, terus ingin bertanya kabar, meskipun kalau ketemu, tak pernah saya tunjukkan rasa semacam itu. Saya juga mulai merasakan kebutuhan untuk ngobrol dengannya…saya kirim email, kadang saya telepon atau sms. Rasanya kakak saya juga sama…Mungkin karena jauh, jadinya ia juga lebih sering mengontak saya. Dan mungkin juga karena kebiasaan di keluarga kami yang sulit mengekspresikan cinta, kalimat-kalimatnya sama “tidak penting”-nya dengan ibu saya.

Pada hari Kamis, jam 2 siang, ia membuka dengan, “A, lagi dimana?”
“Lagi di Jakarta”, jawab saya.
“Oh di Jakarta. Kerja ya?”
“Iya”, jawab saya datar.
“Udah makan?”
Hehehe, saya menahan tawa, “iya udah.”
“Dimana?”, lalu berlanjutlah perbincangan tentang…tetap makanan.

Padahal tidak ada satu fakta pun dalam perbincangan itu yang tidak ia ketahui. Ia tahu bahwa pada hari kerja saya di Jakarta, weekend saya di Bandung, dan saya makan siang di kantin kantor. A useless dialogue, dalam pikiran saya yang insensitif. Nah, parahnya lagi, seperti kebanyakan perempuan, ia juga cenderung mendramatisir dan melebih-lebihkan segala sesuatu. Bertanya berlebihan tentang pulang-ntar-gimana, naik-keretanya-bareng-aja-ya-disini, tanggalnya-jangan-berubah-ya-tiketnya-udah-dipesan, dan hal-hal semacam itu. Seperti juga cinta seorang perempuan yang irasional, ia juga ternyata sama. Pada suatu malam, misalnya, waktu saya awal-awal di Bandung, kakak saya menangis mencari-cari saya karena sudah malam dan saya belum pulang. Mulailah overdramatization: gimana kalau nyasar, gimana kalo diculik, gimana kalo dirampok…Padahal waktu itu lagi Masa Orientasi Siswa, jadi ya wajar saja kalau saya pulang malem. Contoh lain lagi, yang ini ibu saya, pernah saya tulis dulu disini.

Inilah yang menyenangkan dalam sebuah keluarga. Bagaimanapun kesulitannya dalam mengekspresikan cinta atau sayang, kita tahu bahwa hal-hal itu sejatinya ada. Meskipun tak pernah terkatakan, atau sulit dikatakan, atau tak pernah terbiasa mengatakan, tapi tetap bisa dirasakan…Ini berbeda dengan sejenis cinta yang didoktrinkan film romantis atau komedi romantis, yang selalu mengajarkan untuk: say it! Bagaimana dia bisa tau kalau kamu nggak bilang??

Biasanya saya nyengir-nyengir aja kalau udah mulai lagi “dialog-tidak-penting”-nya. Namun setelah itu saya bersyukur, sangat bersyukur.

Hanya memang, kalau saya sekarang sih, sedang belajar untuk mengekspresikan sesuatu, atau banyak hal, secara verbal. Yang tadinya saya anggap konyol. Terima kasih untuk teman-teman saya yang sering dan bisa enak mengekspresikan perasaan-perasaannya langsung ke saya, sehingga saya bisa belajar bahwa mengatakan hal-hal yang dulu saya anggap konyol itu ternyata tak apa-apa. Termasuk juga rasa cinta atau sayang atau sejenis perhatian. Nanti, mungkin saya bisa secara serius dan natural mengatakan ‘cinta’ juga. Semoga.

NB:
- Akhirnya menulis lagi setelah sekian lama…Lagi banyak berpikir tentang diri, jadi tulisannya sangat personal.
- Saya tak pernah memasang foto di blog ini (selain, tentu saja, foto saya sendiri). Untuk kakak saya, kali ini saya pasang foto deh, dan rela hanya jadi latar samping dari kakak saya di foto di atas…hehehe.