Thursday, November 16, 2006

Tradisi Pendidikan (2-Selesai)

Sebenarnya kami tidak membincangkan hal yang abstrak dan gak konkret seperti filosofi pendidikan (ya, kami pikir itu bukan obrolan yang menarik di sore hari yang panas sambil telanjang dada…). Ia hanya menceritakan pengalamannya saja. Tentang betapa ia, dan guru-guru lain, yang mendapat otoritas dan kepercayaan penuh dari pihak penyelenggara pendidikan. Tentang kedisiplinan yang selalu menjadi ciri khas sekolahnya sejak dulu. Tentang murid-muridnya yang cerdas (dan karena cerdas, jadinya agak belagu), tapi sangat manut dengan guru yang bisa meng-impres mereka.

Dari beragam kisah ringan itu, saya bisa menyimpulkan, ada sesuatu, semacam sebuah prinsip atau pemikiran pendidikan, yang selalu tetap sejak awal berdirinya sekolah dan terjaga hingga sekarang. Saya simpulkan juga, dari ketahanannya terhadap zaman, pemikiran pendidikan itu bukanlah sebuah filosofi abstrak belaka, tapi berhasil dibuat sangat teknis hingga ke implementasi, sehingga tetap bisa dirasakan. Memang, katanya, sebuah pemikiran yang abstrak harus mempunyai blue print teknis yang implementatif, konsisten dan teruji, supaya bisa bertahan cukup lama. Ide kapitalisme yang berdasar konsep abstrak kompetisi-egoisme memiliki blue print yang sangat teknis, misalnya di sistem keuangan yang menjadi backbone-nya. Ada juga konsep teknis untuk menerjemahkan ide komunisme, lewat negara satu partai-nya atau ekonomi terpusatnya. Khomeini menerjemahkan pikiran-pikiran idealisnya lewat kerangka aturan teknis bernegara dengan vilayat e-faqih –nya. Tidak pernah ada hal-hal yang ‘kecil’ untuk sebuah ide besar. Makanya sekarang saya benci dengan orang yang bilang, “itu kan teknis…”. Justru yang teknis yang sangat penting!

Balik lagi ke perbincangan telanjang dadanya (hehehe…). Penjelasan beliau menerbitkan pikiran lain dalam diri saya: adakah pihak lain dengan pemikiran pendidikan yang sekokoh itu di Indonesia? Tradisi pendidikan yang kental sangat menguntungkan buat sistem pendidikan yang dirancangnya. Juga menguntungkan buat para stakeholder-nya. Oxford-Cambridge, sudah punya tradisi pendidikan yang baik sejak dulu, hingga sampai sekarang pun masih menjadi yang terunggul dan menguntungkan Inggris. Begitupun Harvard, Stanford, Princeton, atau MIT (yang sangat menguntungkan Amerika). Dan itu dibangun sejak lama! Paling muda yang membangun tradisi pendidikan yang mapan mungkin MIT. Menurut Sylvia Nasar (pengarang a beautiful mind), MIT baru membangun reputasi sebagai tempat scientist brilian sejak 1940-1950-an, saat Harvard agak-agak antisemit dan anti nonconservatif, sementara MIT tak ambil peduli dengan itu dan banyak mengambil ilmuwan muda brilian turunan Yahudi atau ilmuwan dengan prilaku ajaib. Mungkin juga Harvard dan Princeton membangun kembali tradisinya tahun-tahun itu, saat begitu banyak ilmuwan-ilmuwan turunan Yahudi dari universitas-universitas Eropa yang pindah ke Amerika (Einstein, von Neumann, Godel di Institute for Advanced Study, misalnya). Segera juga, Universitas Gottingen, yang dulu merupakan tempatnya para jenius ini, rontok. Tradisinya meluntur, gara-gara Hitler goblok. Dan Amerika juga yang diuntungkan. Para ilmuwan itu banyak berkontribusi untuk riset-riset militer canggih, termasuk Manhattan Project yang melahirkan bom atom. Yang lebih penting, memantapkan lagi dan membuat tradisi pendidikan universitas-universitas Amerika menjadi yang terbaik di dunia (lihat saja ranking universitas terbaik dunia Times, dan silakan hitung berapa yang merupakan univeritas Amerika. Melihat fakta ini, rasanya dominasi Amerika bakalan terus…).

Dunia Islam zaman dulu punya poros Mekkah-Madinah-Kufah untuk ilmu-ilmu agama. Ada Andalusia dan Baghdad, tempat penerjemah dan pengenal filsafat Yunani pada Barat, dan ilmuwan-ilmuwan Muslim dengan beragam keahlian. Sekarang? Tidak ada. Tradisi keilmuan dan pendidikan itu telah hilang dari dunia Islam…

Bagaimana dengan di Indonesia? Saya bisa mengatakan, selain kelompok Jesuit itu, tidak ada kelompok lain (termasuk negara via depdiknas) yang punya tradisi sekokoh itu. Taman Siswa, setahu saya, hanya bagus di Jogja (bahkan ini juga tak terlalu bagus…reputasinya masih kalah dengan sekolah lain). Kualitas Al-Azhar sangat variatif, dan tak seragam. Sekolah-sekolah negeri? Entahlah. Untuk yang unggulan, saya kadang merasa sekolah-sekolah itu hanya diuntungkan dengan reputasinya saja, sehingga bisa menarik murid-murid yang lebih baik secara alamiah. Proses internalnya sih mungkin sama saja buruknya dengan sekolah pemerintah lain, yang tanpa landasan filosofi pendidikan yang jelas. Berbeda dengan sekolah-sekolah kelompok Jesuit itu. Kualitasnya mungkin masih variatif, tapi rata-rata merupakan sekolah yang bagus, minimal dipandang bagus. Kanisius, de britto, loyola, dll. Sebelumnya saya tak terlalu mengenal, jadi tak pernah menjadi sekolah favorit buat saya, sehingga tak pernah juga kedengeran keren. Tapi, kalau kita melihat peringkat-peringkat sekolah di Jakarta aja, kita hanya akan menemukan SMA 8, sekolah yang katanya ‘bagus’, tidak di urutan 1 atau 2 (meskipun masih masuk 5 besar. Atau 10 besar?). Nomer 1 milik SMAK 1, no 2 Kanisius.

Saya kagum juga dengan kemampuan mereka menjaga tradisi sebegitu baiknya. Sekaligus sedih, karena tidak banyak yang mampu melakukannya, termasuk pemerintah. Berarti, tak banyak masyarakat Indonesia yang mampu menikmati pendidikan berkualitas. Berarti juga, orang-orang cerdas seperti anda, yang lulusan sekolah-sekolah negeri favorit, sebenarnya agak sial, karena dengan pendidikan yang baik anda bisa menjadi orang yang lebih tergali potensinya.

Sigh…Saya makin sedih kalau ingat ITB, beserta juga universitas-universitas lain, baru mulai membangun tradisi pendidikannya sendiri: tradisi pendidikan kapitalistis…

Kita bikin sekolah yuk!
(hehehe, mimpi! Salah satu impian saya juga nih, bikin sekolah dengan my own philosophy of education. Gimana tuh? Entah, in progress, hehehe…)

7 comments:

  1. And "your own philosophy of education" would be ... ?

    ReplyDelete
  2. seperti di sekolah akademi Wallmort :
    displin, tradisi, kehormatan, kerja keras (CMIIW)

    *Dead Poet Society

    ReplyDelete
  3. Welton Academy.....
    http://en.wikipedia.org/wiki/Dead_Poet_Society

    ReplyDelete
  4. @ikram: "my own philosophy of education"would be...
    in progress,hehehe...
    @trian: tuh dibenerin aan...
    @aan: thanx link-nya

    ReplyDelete
  5. what about pesantren? bertradisi juga kan?

    ReplyDelete
  6. bener.Van Lith tulisannya.
    Ada lagi yang fenomenal di Jogja. Stella Duce. Sekolah yang mewakili kualitas, prestise,dan sepertinya nantinya, bersama "pasangannya" yakni de britto, jadi kelas masy.baru yang jg memberi andil pada percepatan jumlah kalangan menengah-intelek di Indonesia..

    Soal emansipasi? Stella Duce jg dominan kali yee..

    Saya jadi inget pernah ditanya Ramce' di depan kelas Kontroversi Isu Sosial

    "Katolik merajai dunia pendidikan saat ini..Itu tidak bisa disangkal!Nah..konsep pendidikan menurut ANDA sendiri seperti apa?"

    Daassss..."Anda"nya teh meni dalemmmm pisaaaan, Ki

    ReplyDelete
  7. ehmm.... ko di artikel itu tertera angka 8 yah... jadi inget masa lalu... :P

    *ah... ga da yg bisa dibanggain.. wong sama2 negri ko.. hanya reputasi saja... hehehe...

    dah pernah nonton dorama Dragon Zakura blm?? keren tuh ide sekolahnya.. tapi gurunya jenius semua, trus cara ngajarnya juga diluar kebiasaan.. tapi hasilnya jadi luar biasa... walaupun itu hanya sebuah film, tp idenya menarik :-D

    ReplyDelete