Friday, November 10, 2006

Tradisi Pendidikan (1)

Sekitar 2 pekan lalu, saya pindah kosan. Keputusan yang cukup membingungkan juga pada awalnya. Ada beragam pertimbangan untuk pindah, dan untuk tetap menetap. Akhirnya saya memutuskan untuk pindah.

Pertama karena kamar yang baru ini lebih punya banyak akses ke sinar matahari dan udara luar. Kedua karena tidak ada ibu kos yang ‘sangat perhatian’ dan tak banyak aturan (ternyata saya selalu menemukan masalah dengan aturan…). Ketiga karena kamar yang baru ini lebih murah, dan lebih enak. Keempat, meskipun tempatnya lebih jauh dari kantor, tapi ada sepeda nganggur peninggalan penghuni kos lama yang diwariskan, yang saya pinjam untuk berangkat-pulang kantor. Asyik juga. Bike to work! Salah satu hal yang saya pengen tercapai, naek sepeda untuk kerja.

Juga karena alasan ini: penghuni kos lain yang kebanyakan guru. Saya selalu hormat pada sosok guru, apalagi dengan kualitas karakter yang memang ‘guru’. Nah, disini saya satu kosan dengan guru-guru muda (kebanyakan belum menikah) di salah satu sekolah swasta katolik di daerah Kelapa Gading. Saya membayangkan, akan ada percakapan-percakapan yang menyenangkan dan inspiring. Ternyata memang benar terjadi.

O iya, sebelumnya saya juga membayangkan mereka adalah sosok yang sangat jaim, dengan manner yang selalu baik dan terjaga (well, itulah anggapan saya untuk seorang guru). Ternyata, kalau di wilayah amannya, seperti di kosan ini, nggak juga tuh. Saya menemukan beberapa fakta yang mengejutkan…Seperti hobi hampir semuanya yang telanjang dada kemana-mana kalau di lingkungan kosan (wajar sih, Jakarta amit-amit panasnya!), atau seorang guru dengan tato laba-laba di bisep kiri, atau guru lain yang selalu memakai topi (tetapi tak memakai baju…), meskipun berada di dalam kosan, saat melakukan aktivitas apapun (termasuk nonton TV, makan, minum, bahkan mencuci baju! Kalau mau mandi, topinya diganti handuk…unik juga!).

Tapi sudahlah. Sekarang saya ingin membincangkan obrolan tadi sore (tentu saja sambil telanjang dada…hehehe) di depan TV yang menyala tapi tak mendapat perhatian. Tentang persekolahan.

Guru rekan saya mengobrol itu orang Jogja, lulusan Pendidikan Fisika UNY. Pengalaman mengajarnya lumayan. Ia pertama mengajar Fisika SMA di SMA Van Lith, Jawa Tengah (tulisannya bener gak ya?). Saya baru denger tentang sekolah ini. Menurut beliau sih, namanya mengambil dari pastor pertama yang menyebarkan katolik di Jawa Tengah. Sekolahnya cukup bagus juga, bonafid. Anaknya pinter-pinter. Lalu ia pindah ke Kanisius Jakarta, di Menteng. Terus ia pindah lagi ke sekolah katolik swasta lain di daerah Kelapa Gading (sengaja tidak saya sebutkan, karena berbeda dengan 2 sekolah terdahulu, sekolah tempatnya mengajar sekarang dimiliki sebuah Perseroan Terbatas. Saya tak mau promosi sekolah dengan keraguan apakah tujuannya sosial atau komersial).

Sekolah-sekolah yang dia ajar itu memiliki kesamaan-kesamaan ini: katolik, dan cukup bonafid, dilihat dari harga dan kualitas (terutama 2 sekolah awal). Karena pengalamannya itu juga, ia bisa berbicara tentang sebuah tradisi. Tradisi pendidikan Katolik Jesuit.

Kelompok Katolik Jesuit mungkin merupakan kelompok Katolik yang sangat berpengaruh di Indonesia. Alumni-alumninya, atau jaringannya cukup luas, termasuk konon di sebuah media arus utama, layanan kesehatan terpercaya, dan tentu saja di bidang pendidikan. Untuk praktek kepemimpinannya (hal yang memang menjadi prioritas juga dalam filosofi pendidikannya, seperti yang ia ceritakan), bisa dibaca di Heroic Leadership.

Tradisi pendidikan Katolik Jesuit ini di Indonesia dimulai sejak lama (sekitar 1927, menurut dia). Lebih awal dari SMA-SMA Negeri, dan hanya beda 7 tahun dari ITB (bukan ITB sih sebenernya, tapi Technische Hoogeschool Bandung. ITB ‘modern’, setelah terpisah dari UI, baru mulai sekitar 1950-an). Banyak yang berubah sejak zaman itu, tetapi ada yang menetap: filosofi pendidikan yang mentradisi.

(bersambung)

4 comments:

  1. Duh tanggung banget motongnya.

    ReplyDelete
  2. sekalinya pingin baca blognya luki,
    (sepakat ama ikram)...dipotong nanggung.

    ReplyDelete
  3. Jakarta amit-amit panasnya!

    Ah, luck...blm pernah ngerasain tidur di Bandung keringetan kan? Sekarang di Bandung dah mulai bikin keringetan tuh...;))

    ReplyDelete
  4. tadinya pengen dibuat jadi satu tulisan aja (setelah baca komen ikram), tapi begitu trian bilang hal yg sama...ga jadi ah. silakan diteruskan aja kalo mo baca di bag 2. tulisannya pnajang sih, tadinya sebenarnya 1 tulisan, tapi saya baru baca rata2 org tahan baca tulisan di internet sekitar 2 halaman folio aja, dgn font times 12. jadi dipotong dgn biadab. mohon maaf.
    @ k'donny
    iya, kemeren gw tidur n keringetan...

    ReplyDelete