Monday, October 16, 2006

Yang tak (pernah) terkatakan untuk Neng



Menurut seorang selebriti dalam sebuah wawancara, katanya, “orang Indonesia itu tidak romantis,”. Lanjut selebriti lain yang menikah dengan pria Eropa, “beda dengan orang barat yang lebih romantis”.

Saya tidak tahu apakah sterotipe itu benar adanya. Pendapat 2 selebriti, yang hanya berdasar pengalaman pribadi (apalagi mereka belum pernah menikah dengan orang Indonesia, karena memang baru menikahnya sama pria Barat. Jadi, bagaimana mereka bisa menyimpulkan pria Indonesia tidak romantis?) tentulah tak cukup sebagai sampel. Hanya, dalam keluarga saya, mungkin benar adanya.

Seingat saya, semenjak saya bisa mengingat, jarang sekali saya dengar seorang anggota keluarga saya bilang “aku cinta padamu”, atau “aku menyayangimu”, atau kalimat sejenisnya. Kalimat itu juga belum pernah saya ucapkan sampai sekarang…Atau, bahkan kalimat-kalimat yang menuju ke arah itu (semacam kalimat yang menunjukkan rasa sayang amat sangat) juga jarang saya dengar. Sebagai gantinya, ibu saya sering menggunakan kalimat atau pertanyaan klise yang tidak penting, tapi lebih konkret dan teknis.Pada suatu malam hari, misalnya, tiba-tiba saja ibu saya menelepon dan bertanya,

“A, udah makan belum?”. Ya jelas saya bengong, “Udah, mah”.
“Sama apa?”
“Sama ini, itu” (menjawab mnu makanan yang baru saya makan).
“Dimana?”
“Di sini-di situ”. (menjawab nama tempat saya makan).

Percakapan lalu berlanjut hingga 3-5 menit tentang…tetap makanan. Dan diakhiri dengan kalimat pamungkas, “hati-hati kalau makan…makan yng bener, yang sehat”. Saya otomatis mengiyakan, dan percakapan berakhir.
Nah, karena mungkin tak pernah terungkap secara verbal, rasanya aneh kalau mengucapkan atau mendengar kata cinta. It’s just…silly.

Begitu juga hubungan saya dengan seorang perempuan lain di keluarga saya, kakak perempuan saya. Bahkan lebih buruk.

Seharusnya saya memanggilnya teteh, sebutan untuk kakak perempuan dalam bahasa sunda. Namun saya tak pernah memanggilnya seperti itu, meskipun ia menyebut dirinya teteh kalau bicara dengan adik-adiknya. Saya tetap memanggilnya: neng, atau eneng, panggilan untuk gadis dalam bahasa sunda. Karena memang sudah terbiasa ia dipanggil seperti itu tadinya…Dan saya hanya mengikuti.

Kakak saya ini anak sulung, dan usianya lumayan terpaut jauh dari saya. Jadi, walaupun tinggal di bawah satu atap, saya memiliki lingkungan pergaulan, kehidupan, dan dunia yang agak jauh berbeda dengannya. Waktu zaman ia suka sekali F4, saya tak mungkin mengikuti perkembangan F4 atau film terbaru Jerry Yan, atau mengobrol tentang Vic Chou dengannya dong…meskipun saya sering ketiban sial disuruh membeli majalah, pictorial book, poster, atau vcd meteor garden edisi lengkap (yang sebenarnya, untuk kasus Meteor Garden 1, saya tonton juga…guilty pleasure nih. Saya menontonnya bareng teman-teman SMA, tepat saat besoknya harus UAN matematika, di kamar saya…hehehe). Terus, kami juga sangat berbeda dalam hal karakter, meskipun mengalir warisan gen dari orang-orang yang sama. Ia sangat rapi, extraordinary, sampai terkesan sangat freak karena benar-benar terobsesi dengan kerapihan dan kebersihan. Hal ini angat menjengkelkan saya, karena sering terjadi kasus-kasus kehilangan barang gara-gara kakak saya membereskan kamar saya. Atau tiba-tiba kamar saya, dan kadang seisi rumah, berubah layout-nya. TV dipindahkan, sofa juga, lemari yang berat juga! Atau, dalam kasus lain, waktu saya secara khusus membeli majalah karena ada poster Superman yang besar dan keren, lalu poster itu saya geletakkan begitu saja (dengan maksud nanti dipasang). Poster itu tiba-tiba raib, dan ternyata sudah bergabung dengan sampah yang dibakar di belakang rumah…

Nah, hal-hal itu membuat hubungan saya dengannya tak begitu baik. Sering sekali beradu mulut karena hal-hal kecil. Tak pernah bisa ngobrol bareng dengan enak. Apalagi berkata-kata yang menjurus ke cinta-sayang-sayangan atau perhatian. Enggak banget deh!

Hanya kemudian itu semua berubah saat kakak saya ini menikah, dan harus dibawa oleh suaminya ke Berau (dimana sih itu? Kalimantan ya?). Saya mulai agak khawatir. Kadang-kadang juga timbul rasa penasaran, terus ingin bertanya kabar, meskipun kalau ketemu, tak pernah saya tunjukkan rasa semacam itu. Saya juga mulai merasakan kebutuhan untuk ngobrol dengannya…saya kirim email, kadang saya telepon atau sms. Rasanya kakak saya juga sama…Mungkin karena jauh, jadinya ia juga lebih sering mengontak saya. Dan mungkin juga karena kebiasaan di keluarga kami yang sulit mengekspresikan cinta, kalimat-kalimatnya sama “tidak penting”-nya dengan ibu saya.

Pada hari Kamis, jam 2 siang, ia membuka dengan, “A, lagi dimana?”
“Lagi di Jakarta”, jawab saya.
“Oh di Jakarta. Kerja ya?”
“Iya”, jawab saya datar.
“Udah makan?”
Hehehe, saya menahan tawa, “iya udah.”
“Dimana?”, lalu berlanjutlah perbincangan tentang…tetap makanan.

Padahal tidak ada satu fakta pun dalam perbincangan itu yang tidak ia ketahui. Ia tahu bahwa pada hari kerja saya di Jakarta, weekend saya di Bandung, dan saya makan siang di kantin kantor. A useless dialogue, dalam pikiran saya yang insensitif. Nah, parahnya lagi, seperti kebanyakan perempuan, ia juga cenderung mendramatisir dan melebih-lebihkan segala sesuatu. Bertanya berlebihan tentang pulang-ntar-gimana, naik-keretanya-bareng-aja-ya-disini, tanggalnya-jangan-berubah-ya-tiketnya-udah-dipesan, dan hal-hal semacam itu. Seperti juga cinta seorang perempuan yang irasional, ia juga ternyata sama. Pada suatu malam, misalnya, waktu saya awal-awal di Bandung, kakak saya menangis mencari-cari saya karena sudah malam dan saya belum pulang. Mulailah overdramatization: gimana kalau nyasar, gimana kalo diculik, gimana kalo dirampok…Padahal waktu itu lagi Masa Orientasi Siswa, jadi ya wajar saja kalau saya pulang malem. Contoh lain lagi, yang ini ibu saya, pernah saya tulis dulu disini.

Inilah yang menyenangkan dalam sebuah keluarga. Bagaimanapun kesulitannya dalam mengekspresikan cinta atau sayang, kita tahu bahwa hal-hal itu sejatinya ada. Meskipun tak pernah terkatakan, atau sulit dikatakan, atau tak pernah terbiasa mengatakan, tapi tetap bisa dirasakan…Ini berbeda dengan sejenis cinta yang didoktrinkan film romantis atau komedi romantis, yang selalu mengajarkan untuk: say it! Bagaimana dia bisa tau kalau kamu nggak bilang??

Biasanya saya nyengir-nyengir aja kalau udah mulai lagi “dialog-tidak-penting”-nya. Namun setelah itu saya bersyukur, sangat bersyukur.

Hanya memang, kalau saya sekarang sih, sedang belajar untuk mengekspresikan sesuatu, atau banyak hal, secara verbal. Yang tadinya saya anggap konyol. Terima kasih untuk teman-teman saya yang sering dan bisa enak mengekspresikan perasaan-perasaannya langsung ke saya, sehingga saya bisa belajar bahwa mengatakan hal-hal yang dulu saya anggap konyol itu ternyata tak apa-apa. Termasuk juga rasa cinta atau sayang atau sejenis perhatian. Nanti, mungkin saya bisa secara serius dan natural mengatakan ‘cinta’ juga. Semoga.

NB:
- Akhirnya menulis lagi setelah sekian lama…Lagi banyak berpikir tentang diri, jadi tulisannya sangat personal.
- Saya tak pernah memasang foto di blog ini (selain, tentu saja, foto saya sendiri). Untuk kakak saya, kali ini saya pasang foto deh, dan rela hanya jadi latar samping dari kakak saya di foto di atas…hehehe.

13 comments:

  1. aya we lah moal beja-beja12:42 AM

    hoi lucky pakabar..
    kmu jago nulis jg ternyata. blog-nya bagus (maksud sy tulisannya) tampilannya sih one word deh: berantakan, huehehe :p.
    tulisan kmu bagus, tidak membosankan, kmu cocok jd penulis.
    oiya, gmana kabar sodara kembarmu tercinta, mulyadi?
    ky, masih aneh gak kalo ngomong 's'.
    wakakakakakakakakak!!

    ReplyDelete
  2. @aya we lah moal beja-beja...emang gk tau ya kalau lucky dah bener2 jadi penulis..? :p

    Btw, kunaon pada ngomongin kata ini sih : Romantis? Apa yang salah dengan Ramadhan kali ini ya, kok temen2 blog gua pada nulis tentang "Romantis"..? Jangan-jangan Ramadhan kali ini adalah Ramadhan Romantis?

    Ngomong2 soal romantis...gua kok malah bingung ya Romeo dan Juliet masuk kategori cerita paling romantis...? Gua malah setuju cerita itu adalah cerita paling tolol yang pernah ada di muka bumi...:p

    ReplyDelete
  3. Tulisannya enak dibaca,, gak terlalu puitis,, tapi mengalir,,,

    ReplyDelete
  4. ente mirip banget ama kaka' ente...
    kapannulis tentang ade ente :p

    3 bersaudara yang benar-benar beda karakter...

    ReplyDelete
  5. setubuh ama Bram. Lu mirip banget ama kakak lu luk..Termasuk ekspresinya juga.. Tapi keliatan sih kalo wataknya beda....

    ReplyDelete
  6. ente mun nulis sok mantep wae nya luk :)

    sip lah..

    ReplyDelete
  7. huahahaha..., gw ngakak baca tulisan lu. khu..khu... lu dah pernah nyoba bilang ke ibu atau kakak lu, "aku sayang sama ibu/teteh"? kalo belum, cobain aja, dan liat efeknya!
    waktu gwe yang nyobain, nyokap gue nangis.

    ps: untuk donny, setuju! cerita romeo n juliet itu paling goblok sedunia dan akhirat! orang bego aja yang mau ngelakuin hal semacam itu

    ReplyDelete
  8. He he he... "dialog2 ga penting" itu terbukti mengantar saya lulus sarjana dengan waktu yang kaga molor2 amat =D

    ReplyDelete
  9. kaka lo di berau???????? wah lo kudu ke sana ky.... slaha satu tempat terindah di Indonesia... salah satu wish list gue buat honey moon or at least liburan...

    kerennnnnnnnnnnn, kalo gue ke berau bisa dunk kaka lo memfasilitasi jadi guide,...

    ReplyDelete
  10. jadi teringat lagu,,more than wooooords.......

    ReplyDelete
  11. lucu ya...sangat jujur

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  13. wo..ternyata dah banyak postingan baru yang tentunya sifatnya lebih banyak yang "penting".Luki gitu lo

    Ehm...sebagai seorang kakak yahh..
    KAMU GA TAU SI LUK..GIMANA KHAWATIRNYA SEORANG KAKAK...terhadap adiknya.
    Apalagi model2 kaya adik saya, yang..serba ga jelas.SMS g djwb..miskol g dibales..



    hiks..
    curhatan seorang kaka

    ReplyDelete