Saturday, October 28, 2006

Sejarah Kecil Keluarga

: catatan mudik idul fitri 1427 H

Ada yang bilang, sejarah selalu merupakan kisah manusia-manusia besar. Tentang orang-orang hebat yang berpengaruh pada zamannya masing-masing. Atau, kadang-kadang bukan orang yang hebat secara alamiah, tapi semata orang yang beruntung: orang yang tepat di tempat yang tepat di waktu yang tepat. Yang hebat adalah nasibnya, bukan orangnya. Apapun, tetap, menurut ujaran tersebut, sejarah adalah milik George Washington, Soekarno, atau Soeharto, misalnya. Sejarah hanya mencatat orang-orang seperti itu, dengan figuran-figuran di sekelilingnya. Yang lain, nothing, hanya dicatat di angka statistik. Jumlah penduduk Indonesia yang sering dikutip di pidato-pidato Soekarno adalah 60 juta, salah satunya tentu kakek atau ayah Anda juga saya.

Namun kemarin sempat saya baca tentang “sejarah yang lain”, sebuah sejarah kecil. Sejarah yang tak hanya berisi manusia hebat dan figurannya yang terlibat, tapi sebuah sejarah yang lebih intim, lebih personal. Alhamdulillah juga, jadinya lebih jujur dibanding dengan “sejarah besar”, yang saking hebatnya manusia dalam sejarah tadi, hingga ‘fakta’ pun bisa ia reka hingga jadi ‘sejarah’. Mulai kita baca buku-buku yang mencatat kesaksian orang kecil di masa “penumpasan antek PKI” di tahun 1965, misalnya. Mulai kita baca kisah cucu seniman murni terbunuh gara-gara kebetulan ia difasilitasi Lekra, tanpa terikat ideologinya.

Lebaran kemarin sempat saya dengar juga kisah sejarah kecil ini. Saya dengar langsung dari ayah dan ibu saya. Lumayan rame juga, sekalian lebih mengenal akar tradisi.

Seperti biasa, tiap lebaran saya dan keluarga pulang ke Ciamis. Meskipun setelah nenek saya meninggal, kami hampir selalu kesana di hari kedua dan tak lagi lama menghabiskan waktu disana, which is very good, soalnya kadang-kadang saya merasa bosen aja lama-lama disana, kurang kerjaan, selain silaturrahim dengan saudara-saudara yang juga berkumpul lagi. Tentu saja untuk mengobrol, menanyakan kabar, dan cukup sering nyerempet-nyerempet ke gosip…

Kadang, kalau memang momennya tepat, berkumpullah keluarga besar (yang benar-benar besar, karena patokan awalnya ialah kakek buyut saya hingga ke bawahnya). Nah, di momen seperti ini, saya kadang-kadang saya kaget karena menemukan orang yang saya kenal di sekolah adalah juga saudara saya, meskipun jauh. Waktu di SMA, misalnya, saya ternyata bersaudara dengan dua teman saya seangkatan yang adalah “cucunya adik nenek” saya. Entahlah saya harus memanggilnya apa. Pernah juga, ada dua orang yang sempat berseteru di kampungnya, dan kaget juga ketika di forum itu terungkap bahwa keduanya masih bersaudara jauh…

Selain fakta-fakta menarik itu, saya sendiri tak tertarik dengan pertemuan-pertemuan seperti ini. Karena biasanya jadi ajang narsis keluarga besar, “kita ini dipersatukan dibawah Aki xxxx”, misalnya. Sebuah tradisi borjuis tradisional, saya pikir. Mengingat-ingat jalur keturunan dan selalu menjaganya.

Namun ada cerita menarik lain dari pertemuan semacam itu, karena terkait satu hal yang selalu saya ikuti dengan antusias: sejarah.

Waktu zaman sekolah dulu, saya selalu mempersepsikan DI/TII adalah pemberontak, yang lalu dipersepsi lebih lanjut sebagai penjahat, the bad guys of our national history. Saat sudah lebih tua, saya jadi tahu juga bahwa yang selalu dibilang penjahat itu “not really that bad”. Ada beberapa orang yang bahkan bersimpati, malahan. Tujuannya bagus, kata teman saya, menegakkan Islam di Indonesia. Kok malah dibilang jahat? Entahlah, saya pikir. Kalau udah seperti ini, kebenaran entah bersembunyi dimana, yang ada hanya keberpihakan. Anda “Islam”, anda simpati pada Kartosuwiryo. Anda “Nasionalis”, anda benci Kartosuwiryo. Benar salah bukan tergantung fakta, tapi dimana anda berdiri. Yang disebut “fakta” pun jadi kabur. Repot.

Nah, ternyata, sewaktu ada perseteruan antara DI/TII-Pemerintah RI (saya memakai kata ‘perseteruan’ yang lebih netral, bukan ‘pemberontakan’ atau ‘perjuangan’ yang sudah menunjukkan keberpihakan), daerah asal ayah-ibu saya juga jadi salah satu medannya. Seperti yang kita baca di sejarah dulu, DI/TII paling marak di daerah Jawa Barat (Kartosuwiryo sendiri tertangkap di daerah sekitar Garut). Ibu saya bercerita, tahun 1958, ayah dan kakeknya (berarti kakek dan kakek buyut saya) itu tewas ditembak oleh “gorombolan”. “Gorombolan” itu (selanjutnya saya sebut ‘gerombolan’ saja, dalam bahasa Indonesia) adalah istilah warga Kawali untuk menyebut pasukan DI/TII yang bermarkas di gunung-gunung dan sering turun ke kampung-kampung untuk meminta secara paksa beras, makanan lain, atau uang ‘demi perjuangan’. Kisahnya, pada suatu malam, gerombolan itu datang (ibu saya masih kecil saat itu), lalu menggeledah rumah kakek saya sekeluarga. Kakek buyut saya, entah karena panik atau sebab lain, tiba-tiba saja keluar meninggalkan rumah. Nah, kakek saya juga ikut, mungkin bermaksud untuk membawanya kembali, karena pergi keluar akan sangat berbahaya, bisa-bisa dituduh akan melaporkan ke pasukan TNI. Gerombolan itu bereaksi khas pasukan militer: menembak langsung keduanya. Kakek buyut saya langsung meninggal, sementara kakek saya sempat dibawa ke rumah sakit, lalu meninggal. Kisah ayah saya juga serupa tapi tak sama. Dulu, rumah ayahnya ayah saya dipakai sebagai markas untuk TNI dalam operasinya menumpas DI/TII. Sebenarnya bukan markas juga sih, hanya tempat tinggal sementara pasukan TNI. Kakek saya dari ayah juga selain memberi tumpangan juga memberi sedikit makanan. Nah, rupanya hal itu diketahui oleh ‘gerombolan’. Pada suatu malam juga, tiba-tiba saja mereka menyerbu lalu membakar rumah kakek saya. Beruntung kakek saya keburu kabur, bersama dengan ayah saya (saat itu masih kecil), yang digendong oleh nenek saya.

Waktu mendengar ceritanya, terus terang saya merasa agak-agak syerem. Bayangkan malam yang gelap tanpa lampu listrik, di tengah-tengah konflik dimana sulit menentukan keberpihakan. Dan itu berlangsung lama, sejak 1946 hingga 1963. Ibu saya bercerita, setiap menjelang malam pasti ia akan merasa takut dan tegang. Saya juga berpikir, pastilah efek peristiwa itu mendalam buat yang terlibat. Nenek saya, misalnya, sempat menangis ketika melihat foto kakek saya, dan sedih campur bangga ketika melihat saya (mirip aki, katanya. Saya sih nggak tau…). Salah satu pekerja di kakek saya sampai sekarang selalu menangis kalau menceritakan peristiwa kematian kakek saya.

Tapi yang saya saksikan…hampir tak terasa aura dendam. Sedih, mungkin ada, tapi dendam, tidak. Ibu saya menceritakan peristiwanya dengan dramatis (khas ibu-ibu kalau ngegosip…), sedangkan bapak saya sambil menerawang (yang kadang-kadang diselingi hikmah dan wejangan-wejangan). Dan benar juga sih, mungkin hanya itu yang bisa dilakukan sebagai defense mechanism-nya. Let it go.

Situasinya, seperti yang disimpulkan oleh bapak saya, serba sulit. Apakah dengan menyediakan markas sementara dan makanan buat TNI, maka kakek saya ada di pihak pro-TNI? Tidak juga. Bayangkan saja, ketika ada orang bersenjata masuk rumah rakyat biasa. Tentu saja kakek saya, yang tak punya keberpihakan ideologis, akan melayani. Ini hanya masalah siapa yang duluan. Kalau saat itu pasukan DI/TII yang datang, perlakuan kakek saya juga sama (mungkin dengan akibat yang berbeda, mengingat pasukan TNI lebih pintar menghabisi musuhnya daripada DI/TII). Begitu juga dengan kakek dan ayah ibu saya, hanya rakyat biasa tanpa keberpihakan yang kebetulan rumahnya disatroni DI/TII. Tidak ada pilihan selain menderita dan meratapi nasib.

Apakah perbuatan masing-masing pihak yang bertikai itu salah? Sulit juga… Meskipun tidak ada ‘seandainya’ dalam sejarah, coba saja bayangkan ini: bagaimana kalau saat itu DI/TII yang menang? Maka semua menjadi sah! Dalam sejarah mereka, akan ditulis, ‘dengan bantuan rakyat, para pasukan DI/TII berhasil merdeka dari cengkraman penjajahan RI laknatullah’, sama seperti kalimat dalam buku sejarah SMP yang kita baca dulu, ‘dengan kerjasama rakyat, batalyon 3 Siliwangi berhasil memadamkan pemberontakan DI/TII’. Tetapi, bukankah tindakan menyabot harta orang lain secara paksa itu jelas salah? Ya, tapi coba pikirkan ini: apakah memberi makan TNI juga benar-benar perbuatan sukarela? Saya kira tidak. Rakyat biasa, yang tanpa keberpihakan, akan lebih suka menyimpan hasil usahnya untuk dirinya dan keluarganya.

Jadi, pada esensinya adalah sama: penggunaan kekerasan dan pemaksaan. Pada pihak DI/TII, karena ia tak punya legitimasi formal, kekerasan dan pemaksaan mewujud dalam bentuknya yang paling primitif: pemerasan dan perampokan serta penggunaan kekerasan secara fisik. Pada TNI, karena memiliki legitimasi formal (karena ia adalah alat negara, atau bahkan alat pemerintah), bentuk kekerasannya pun menjadi lebih halus. Tapi kan esensinya sama aja, semacam ketidakrelaan, atau minimal preferensi lain dari rakyat biasa.

Itulah kenapa, saya sadari, tidak ada dendam dari nada ayah dan ibu saya. Mau dendam pada siapa? Mereka hanyalah orang yang ada di tempat dan saat yang tidak tepat hingga harus menerima nasib buruk itu.

Lalu, pertanyaan berlanjut: adakah kebenaran? Apakah memang benar, kebenaran hanyalah masalah keberpihakan, yang terkait kekuasaan? Perlu diketahui juga, peristiwa DI/TII tidak lahir tanpa preseden. Awalnya ialah kekecewaan karena merasa kelompok Islam diperlakukan tidak adil. Nah, kalau kita dengar penjelasan ketidakadilannya juga, kita bisa teryakinkan bahwa yang mereka lakukan juga adalah benar dan dapat dimengerti.

Peristiwa semacam ini juga mungkin yang dialami di daerah-daerah konflik. Di Aceh kemarin-kemarin, di Poso, di Timor Leste, dan di daerah-daerah lain. Menunjukkan satu hal, bahwa saling silang berebut kekuasaan adalah niscaya.

Apa yang dapat kita lakukan? Saya sebenarnya skeptis dengan demokrasi, hanya saja mekanisme demokrasi yang sehat mungkin bisa memindahkan perebutan kekuasaan dari kekuatan senjata ke saluran-saluran lain yang ada. Ada pemilu, ada pers atau mimbar bebas, ada kesetaraan. Juga, gunakanlah bentuk-bentuk kuasa lunak (soft power) menurut Joseph Nye, bagaimana supaya penguasaan dapat dilakukan dengan suka rela. Apakah demokrasi adalah panacea-nya? Tentu saja tidak. Hanya media. (Jangan tanya “bagaimana bila kekuatan anti-demokrasi ikut mekanisme demokrasi?”. Itu butuh perbincangan panjang!).

Dan jangan tolol juga, memaksakan so-called demokrasi lewat mengebom negara orang lain. Itu sih sama aja bloonnya!

Masih ada lanjutannya sih, tapi sekarang sampai segini dulu aja. Punten udah kepanjangan.

Wallahu a’lam bis shawaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.
Mana Yang Benar.

4 comments:

  1. "Yang disebut “fakta” pun jadi kabur. Repot."
    ngikutin kata2 gusdur: gtu aja koq repot. :-p

    ternyata lu kritis banget ya luk,hmm..yah,ga da gunanya berandai2, semua orang punya keyakinan sendiri2, jalanin aja, do the best and let God takes care of the rest..

    ReplyDelete
  2. Oi ki ieu urang - saha?- hehe ikhsan yeuh, eh add urang di friend list blog manehnya. Omong2 maneh teh orang Ciamis?? Karek nyaho urang, ckckck...

    ReplyDelete
  3. nah maslah seperti itu, ada tidaknya paksaan kepada masyarakat..
    trus masyarakt berpihak kepada siapa..
    dari cerita kakek gw yang juga terlibat kurang lebih cukup netral dengan peristiwa PRRI(Sumatera Tengah). keberpihakan masyarakt kepada pemerintah pusatpun disebabakan ketidaktahuan mereka tetnang perkembangan politik yang ada.
    Yan gmereka tahu adalah mereka bisa hidup, bisa makan, jadi tidak memperdulikan ketiadakadilan yang sifatnya lebih makro..
    dari cerita itu gw lihat bahwa 'pemebrontakan' yang terjadi disebabkan oleh ketidakadilan makro tersebut.
    jadi dilematis juga sih..
    emang sejarah itu buka lagi history, tapi his stories..

    ReplyDelete
  4. @ nico: iya, pada akhirnya emang gw selalu ngambil pilihan itu...what the hell lah! I get my own life,,,hehehe.
    @ Ikhsan: dinner at sureality? eh ntar minggu kita ngobrol2 lagi ya! ada ide nih...
    @ Febri: tidak, ada juga kok history yg beneran sejarah bener. (ada ga ya?hehehe, ragu...)

    ReplyDelete