Saturday, September 02, 2006

Televisi, Sinetron, dan Karakter Bangsa

Malam itu, seperti biasa saya pergi ke warteg terdekat untuk makan malam. Wartegnya, saat itu, cukup penuh juga. Sebuah TV 14 inci sedang menyiarkan sinetron yang saya tak tahu judulnya. Bintangnya Inneke Koesherawati.

Meskipun wartegnya lumayan penuh, tapi sedikit sekali terdengar suara manusia bercakap. Semuanya diam, tenggelam dalam penghayatan. Menghayati apa? Kepala-kepala mereka mendongak ke atas, ke arah TV. Oh, ke sinteron...Beberapa terlihat serius dan kadang-kadang geram terhadap tokoh antagonisnya. Saat iklan, semua kecewa, dan baru mengalihkan perhatian ke yang lain.

Karena penasaran, saya ikut-ikutan nonton sinetron tersebut. Selain Inneke, tak ada yang menarik...;-p (eits, jagalah hati!). Ceritanya khas sinetron. Plotnya juga dapat mudah ditebak. Menyaksikan sinetron ini semakin mengukuhkan anggapan orang tentang sinetron yang sering saya dengar atau saya baca: tayangan bodoh, penuh drama pertengkaran, air mata, konflik keluarga, dan tokoh-tokohnya yang selalu berada di dua kutub ekstrem, entah sangat jahat atau sangat baik.

Saya memutuskan untuk fokus pada makan malam saya lagi. Namun, kemudian saya tertarik pada suatu hal lain: kok yang lain masih bisa sangat antusias menyaksikan? Padahal tidak selalu ada Inneke di tiap adegannya...;-p (ya Allah, Lucky, Lucky...)

Saya baru sadar bahwa Ram Punjabi ada benarnya. Saya diceritakan Parni Hadi, ketika ia bertanya pada Pak Ram, ”Kenapa anda membuat tayangan macam itu?”.

Kata Pak Ram enteng saja, ”Pak Parni, mereka suka sinetron saya!”.

Mau bagaimana lagi? Lepas dari kontroversialnya sistem dan metodologi peratingan, bukankah pasar dan seleranya yang berkuasa?

Rating, dan Pak Ram benar: masyarakat (masih) suka. Tetapi kok, kenapa hampir tak ada teman-teman saya mahasiswa yang suka? Kenapa artikel-artikel atau opini yang saya baca, lebih banyak mengecam daripada memuji? Sehingga saya tidak ngeh dengan fakta ini sebelum menyaksikan sendiri khusuk-nya orang-orang menonton sinetron.

Karena posisi kita di masyarakat. Saya, yang mahasiswa, dan saya juga yakin termasuk anda yang berkesempatan membaca blog, adalah kelas menengah. Sebenarnya jumlahnya itu kecil, tapi mereka berpengaruh. Mereka yang aktif menjadi decision maker, mereka yang relatif berkecukupan. Mereka yang relatif lebih berpendidikan, mereka yang lebih punya banyak akses untuk sumber informasi sekaligus juga menentukan informasi. Sehingga menjadi opinion leader. Terkesankan bahwa banyak yang tak suka sinetron. Padahal, kenyataannya sebaliknya.

Kata senior saya dulu, kelas menegah inilah yang menentukan wajah suatu bangsa. Mungkin benar, tetapi ingat, hanya sebatas wajah! Hanya tampilan luar. Hanya yang terlihat dan teropinikan di media. Bagian dalamnya, bagian mentalnya, karakternya, kesadarannya, sama sekali tidak.

Dari mana kita bisa melihat kesadaran (atau malah bawah sadar) kolektif suatu bangsa? Dari televisi. Televisi mungkin merupakan alat elektronik paling sering yang dapat ditemukan pada keluarga-keluarga sekarang. Penetrasinya dalam dan meluas, mulai dari desa hingga kota, dari kalangan atas hingga bawah.

Lalu, kesadaran, karakter, atau malah bawah sadar suatu bangsa salah satunya bisa dilihat dari hasratnya. Semangat yang terasakan. Mimpi-mimpinya. Keinginannya. Yang menjadi favoritnya, dan yang dicintainya.

Nah, tesis sederhananya begini: karakter bangsa bisa dilihat dari tayangan TV yang menjadi favoritnya. Saya tadinya ingin bilang kesadaran bangsa bisa dilihat dari budaya populernya, tapi saya ingin membatasi diri pada tayangan televisi saja.

Di Amerika Serikat, TV serial paling populer adalah serial Prison Break. Kedua baru Lost. Tentang apa kedua serial itu? Prison Break menceritakan kisah Michael Scofield yang berusaha membebaskan kakaknya dari penjara. Kakaknya ini divonis mati karena difitnah oleh sebuah kekuatan besar di pemerintahan. Nah, si Michael ini, yang insinyur teknik sipil jenius, menatokan jalan keluar dari penjara pada seluruh badannya, menyengajakan diri masuk penjara, dan tiap episode menelusuri lorong-lorong penjara untuk kabur bersama kakaknya. Lost menceritakan tentang kisah penerbangan Oceanic 415 yang terdampar di pulau misterius, lalu membangun komunitas, dan tiap episode mengungkap misteri-misteri pada pulau tersebut sekaligus misteri masing-masing tokohnya. Cukup dua sampel, tapi kita bisa mengkonfirmasi para penulis yang sering menceritakan tentang karakter bangsa Amerika.

Bangsa Amerika adalah pemuja kepahlawanan, itu yang sering dikatakan. Mereka mencintai orang-orang hebat, extraordinary, dan melakukan tindakan mulia. Makanya, katanya lagi, calon presiden Amerika dipandang memiliki nilai plus di mata masyarakat bila pernah menjadi veteran perang, sebagai bukti patriotismenya membela negara. Nilai-nilai itulah yang bisa kita saksikan dengan mudah di hampir setiap produk tayangan amerika. Lihat film hollywood. Lihat TV serial amerika. (meskipun karena sekarang Amerika adalah melting pot, dan sekarang zamannya memberikan suara bagi para liyan, mulai terdengar nada yang relatif beragam dari produk-produk AS).

Seperti yang pernah dibahas oleh Vetri, kita juga bisa merasakan satu semangat yang sama, dan selalu ada, dari dorama-dorama jepang. Berbeda dengan orang Amerika yang senang betul para jagoan hebat, dengan generalisasi yang brutal bisa kita lihat tokoh-tokoh dorama jepang lebih sering orang-orang biasa. Beberapa malah memiliki kekurangan. Namun mereka tak pernah kekurangan satu hal: semangat yang menyala. Coba tonton One Litre of Tears, kisah seorang yang didiagnosa cacat tapi dengan tulisannya dan semangatnya sangat menginspirasi. Atau dragon zakura, tentang sekelompok anak dari SMA terbodoh di Tokyo yang kepingin masuk Universitas Tokyo. Sama seperti Lost & Prison Break, denger-denger kedua dorama ini populer juga di Jepang sana.

Bagaimana dengan bangsa kita? Lihat sinetron-sinetron kita. Apa boleh buat, kita belum beranjak dari kisah orang jahat yang balas dendam lalu merebut anak musuhnya. Belum beranjak dari tayangan dengki. Dengan kisah-kisah yang konyol. Tidak peduli yang terlihat atau terkesankan oleh kelas mengahnya yang berbeda, tetap saja yang populer dan lebih sahih dibilang karakter bangsa adalah yang semacam itu. Anak mudanya disibukkan tayangan-tayangan sinetron remaja yang aneh-aneh. Mungkin itulah karakter pemuda bangsa kita sekarang.

Bisakah kita mengubah karakter bangsa kita? Banyak yang berharap Ram Punjabi memproduksi sinetron dengan tema lebih cerdas. Tapi saya rasa, prosesnya tak bisa seperti itu. Pasar itu, meskipun kadang kejam, tetapi ia sangat jujur. Ia hanya merefleksikan keinginan dari konsumennya. Pak Ram pun, sebagai pebisnis, tentu kenal pasar. Jadi, kita tak bisa memproduksi sinetron cerdas dan berharap karakter bangsa kita jadi cerdas. Gejala tak akan mengubah sumbernya.

Banyak yang bilang tentang pemberdayaan, atau malah pengkonsolidasian kelas menengah. Nah, disinilah pendidikan akan berperan penting., karena pendidikan adalah tangga kelas. Teori sederhananya, semakin banyak kelas menengah yang berpendidikan, yang tadinya kelas menengah itu hanya menunjukkan wajah bangsa, ketika banyak, akan menunjukkan juga karakter bangsa. Nanti pun, produsen akan bereaksi. Akan kita lihat sinetron-sinetron yang lebih cerdas, dari Ram Punjabi sekalipun.

Ah, kenapa pula serumit itu? Pengalaman di warteg itu buat saya menunjukkan suatu hal: mau gimana lagi, wong mereka suka! Saya memutuskan untuk berhenti sinis pada Ram Punjabi atau melecehkan sinetron-sinetron. Malah bersyukur, mereka bisa memberi sedikit hiburan, biarpun semu, buat para pengunjung warteg seluruh Indonesia.

Wallahu a’lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui

NB: saya tidak sabar menunggu Dunia Tanpa Koma, TV serial yang katanya bagus dan cerdas. Hanya 14 episode, direncanakan matang, dan mengambil contoh TV-TV serial di Amerika sana. Tapi kayaknya ini yang akan terjadi: di media, serial tersebut akan mendapat ulasan yang baik. Saya dan Anda akan suka. Namun ratingnya akan berada pada tingkatan menengah saja, kalau tidak buruk. Tetapi, akan tetap banyak iklan! Kenapa coba?

Ya, kelas menengah ini punya purchasing power yang sangat powerful!


(akhirnya nulis di sela-sela jam kantor!)

11 comments:

  1. Anonymous3:44 PM

    nizar :

    oh gw mah gamau berhenti sinis luck..

    menurut gw klo lo berhenti sinis dan malah berterima kasih artinya lo puas ma "kebodohan" kalangan yg lebih banyak itu..

    menurut gw sih, yg pantes dihina ya dihina ajalah..

    biar mereka belajar jg..

    tp, klo emang mereka ga belajar2 jg yasudahlah.. gw anggap sinisme dan hinaan2 gw sebagai cara menghibur diri sendiri dan protes ga dapet tontonan yg bermutu sehingga gw terpaksa nyari dorama ato serial TV barat klo pengen dapet hiburan..

    ga salah kan klo gw punya keinginan dapet tontonan yg bermutu??

    ReplyDelete
  2. Wah, Luck, dengan kondisi media seperti sekarang ini, gua sih yakin aja kalau misalkan TV-TV di kita mau bikin sinteron yang cerdas, masyarakat nggak akan nolak...

    Bahkan, jika Raam Punjabi bikin sinetron yang lebih buruk sekalipun...pasti laku aja...

    Gua pernah berfikiran, andaikan semua stasiun televisi menghentikan tayangan sinetron2 yang ada sekarang, dan mengganti dengan sinetron yang lebih indah atau bahkan dengan program acara lain yg lebih bagus...nggak akan sepi...rating akan tetep naik!

    Tapi, memang dengan sistem kejar tayang seperti sekarang itu...sulit untuk bikin tayangan sinteron yang cerdas...apalagi, duitnya pas-pasan!!! Kok, ujung-ujungnya duit ya....? heu heu heu...

    ReplyDelete
  3. pemaparan yang menarik, luck...
    tapi kalo gw liat2, si raam punjabinya yang mesti diprotes...
    sebenernya bangsa kit atuh belum jelas karakternya apaan, jadi tontonan kayak apapun laku2 aja...
    mau yang jelek laku, yang bagus juga laku...so, 'sang pemegang kebijakan ini' yang memegang peranan penting. dan gw gak sepakat bahwa sinetron2 bodoh itu memberikan hiburan...itu namanya pembodohan massal,salah satu konspirasi global lagi neh kayaknya...ckckckck....

    ReplyDelete
  4. Dan jangan lupa soal konstruksi realitas di media massa juga...

    Kadang tidak bisa dipukul rata begitu, bahwa apa yang ada di televisi adalah refleksi masyarakat.

    Soalnya segala sesuatu bisa dikonstruksi..

    :)

    ReplyDelete
  5. Hmm...
    Kalo program ngetop di SCTV awards tahun lalu Liputan 6 trus sekarang jadi Mimpi Manis artinya apa dong?
    Hehehe..

    Gw si ga berharap banyak perubahan dari sinetron indonesia. Seragam sekolah dimasukin, rok sekolah agak dipanjangin sama rambut tokoh laki2 di sinetron ga gondrooong aja gw dah be'syukur...

    ReplyDelete
  6. Hemm... engga sepenuhnya juga kelas menengah tidak bisa terjebak kecanduan sinetron. Modifikasi sinetron-sinetron religi campur takhyul sudah banyak menarik perhatian bukan hanya kalangan bawah saja (bahkan saya sekali pun, he he).

    Bukan hanya sinetron luk, infotainment juga jadi ciri khas bangsa kita. Lebih kreatif lagi sekarang pasca fatwa NU; coba lihat espresso. Menghadirkan nara sumber langsung, jadi menganggap dirinya tidak jatuh ke dalam terminologi ghibbah.

    Jadi ciri bangsa kita adalah kreatif =D

    ReplyDelete
  7. Agung,

    Kreatif-putar-otak-biar-selamat?

    :)

    ReplyDelete
  8. Anonymous4:24 AM

    sinetron kita adalah kitsch? ga juga.
    disitu ada absurditas,parodi dan imajinasi. Kita selalu bisa tertawa untuk melihat sinetron seserius apapun.
    contoh nyata, kenapa bawang merah selalu berpakaian warna merah? atau ular blorong yang baru bisa disajikan setelah sutradara sinetron mengenal animasi. mengejawantahkan dengki dan balas dendam adalah parodi menarik(jadi tidak menarik mungkin karena repetitif dan redundansi).
    justru gw berpikir bahwa 'dunia tanpa koma' yang sengaja dibikin avant-garde tersebut yang nantinya kitsch, karena penuh manipulasi, manipulasi untuk dibikin berkualitas. sekaligus career suicade bagi dian satro, baadila, dan tora.
    kelas penguasa(menengah-) yang mendominasi tanda dan opini memang tidak pernah mengerti kalangan bawah. justru suatu kebodohan dan kejahatan yang amat-sangat, bila kelas menengah memaksakan kehendak atas nama pemberdayaan. kelas bawah malah dibiarkan mengkonsumsi barang kelas menengah, menikmati sintron namun tanpa kesadaran dari kelasnya sendiri,tanpa tahu,tanpa pernah mengerti.
    klo gw sih pengennya justru bahasa kelas menengah yang ada di dunia sinetron kita sekarang dihapuskan (revolusi sosial melalui dunia musik, cinta ala kelas menengah dan sebagainya), dan bukan diganti dengan sintron-sinetron yang kelas bawah tidak bisa melahap bukan karena mereka tidak cerdas, tetapi itu adalah bukan dari dunianya sehingga tedapat kesenjangan pemahaman.
    jangan sampai diganti dengan sinetron yang katanya 'bagus dan cerdas' namun kelas bawah merasa hampa dan sunyi, dan tak ada proses kesadaran dalam diri mereka. meskipun atas nama memajukan kelas, tetapi malah suatu kemunduran.
    justru kelas menengahlah yang harus maju. memahami budaya arus bawah dan menjadi bagian mereka.

    ReplyDelete
  9. to Nizar: elo banget dah! :D
    to Kang Donny: kok bisa? iya gitu? paling pada protes, dan itu gak mungkin terjadi juga. mekanisme pasar bakal menyeleksi mana sinetron yg terus tayang atau nggak...
    to Shilda: hmmm, tergantung kepercayaan kita sih jadinya...prcayakah dengan mekanisme pasar? Pasar akan menyeleksi mana sinetron yang boleh lanjut terus, sedangkan sinteron yang laku lanjut terus tergantung hasrat. hasrat itu bagian dari ungkapan karakter kita. Jadi, karakter kita yang dominan kelihatan dari semnagat yg ada di sinteron yg laku. Kudu di tes sih modelnya...
    to Ikram: bener, bener...tapi pengkonstruksi sinetron sih simple: selera pasar. Jadi pengkonstruksinya benar-benar masyarakat kita (?).
    to Agung: itu sih ngeles gung...
    to Ikram lagi: hehehe, bisa aja...
    to Anonymous: gw bingung deh. siapa yg menentukan sinteron itu kitsch? bukankah seni itu personal? Menurut lo bukan kitsch, menurut Nizar mungkin iya. gimana diterusin ga kuliah semiotika lo? Kaykanya pemberdayaan kelas mengah itu juga termasuk penegakan hak2 sipil dan pencerdasan dh...insyaAllah bukan pemaksaan kehendak. kalo kelas menengah yang harus turun kelas? susah kayaknya. Tetapi menghargai dan memahami itu mungkin!

    ReplyDelete
  10. Anonymous1:17 PM

    Luk..Luk..
    jangan ampe ketinggalan Prison Break Season 2..hehehe..
    di Rileks sih baru ampe episode 5...

    -fajar-

    ReplyDelete
  11. nah mengenai tulisan loe yang ini kemaren dibahas tuh di metro tv..temanya sinetron ramadahan, apakah komersialisme atau ga?
    nah disana memang diakui bahwa sinteron memang banyak yang tidak bermutu, tapi cenderung kepada pasar..
    tapi pas gw coba nonton GTO lagi tu berkualitas dan banak juga kok orang yang seneng.. tapi kelihatan sih semuanya berdasarkan kultur yang berkembang di masyarakt.

    ReplyDelete