Sunday, August 06, 2006

Dua Dunia

Thomas Friedman, kolumnis NY Times yang musuhnya sama banyaknya dengan penggemarnya, menulis tentang betapa frustasinya, merasa malunya para “arab-muslim” berada dalam flat world, yang terkoneksi dengan kebudayaan barat yang ‘terbuka’. Reaksinya ialah: ekstremisme, lalu terorisme.

Friedman, kali ini (tumben…), benar ketika menulis fenomena itu pada arab-muslim, arabs and muslim, dan tidak menisbatkannya pada seluruh muslim. Bahkan pada muslim dengan yang sealiran (cuma beda beberapa blok pemikiran), yang hidup di dunia-dunia lain. Asia terutama. Indonesia khususnya.

Saya tidak membicarakan yang liberal, yang memang jauh bloknya (busyet kayak ngomongin kompleks perumahan aja…;-p), yang kadang susah dibedakan dia demokrat-liberal atau Islam? Saya membicarakan tetangga-tetangga pemikiran, tetangga dekat ataupun jauh, dengan saudara-saudaranya di arab sana. Mereka yang sering dituduh ‘fundamentalis, radikal, konservatif, dan kolot’, yang berada di sisi kanan, terkadang paling kanan, dari tengah jalan.
Saya juga tak membicarakan kaum tuanya, bukan karena sudah semakin konservatif, tapi semata karena saya tak mengenal kondisinya. Maka yang saya bicarakan adalah kaum mudanya. Mereka yang di kampus. Oke, oke, akhirnya saya mengaku, sedikit-banyak saya juga membicarakan diri saya (dasar narsis!).


Bukan pemikiran politiknya, karena banyak diantara mereka yang sepakat dengan Ahmadinejad, dan cita-cita politik Al-Banna, Taqiyuddin, atau al-Maududi. Sudah jelas lah, meskipun ada beberapa perbedaan pandangan tentang demokrasi, dan lebih banyak lagi pertentangan tentang kebijakan-kebijakan politik apa yang seharusnya diambil.
Ini tentang budaya. Lebih jelasnya, cerapan dan apresiasi budaya. Dan tak perlu memperumit dengan pertanyaan “Budaya apa? Budaya pop? Budaya tinggi? Budaya massa. Budaya popular?” . Budaya, seperti yang akan tersirat disini. Entah akan dinamakan apa.


Apa boleh buat, generasi saya ini adalah generasi yang sudah sejak kecil dibesarkan Doraemon setiap hari minggu jam 8 dengan sponsor yang seabreg, dan ditampilkan secara khusus (ingat “acara ini disponsori oleh…”). Generasi yang dilahirkan dengan makin menjamurnya mall, dan mungkin merasa hanya mall satu-satunya alternatif ruang publik yang nyaman. Generasi yang cerita rakyatnya ialah Superman, Star Wars, saga Final Fantasy, atau kisah Dragon Ball Z yang 45 jilid. Penonton film hollywood, film eropa, film hongkong, film jepang, film korea, film india. Drama cinta amerika, amerika latin, jepang, korea. Beberapa mungkin penggemar Enno Lerian saat masih lucu sampai terkaget-kaget ketika hamil muda, atau Agnes Monica yang dengan mempesona terbang memakai pakaian putih-putih sewaktu kecil di salah satu klipnya hingga sekarang memakai baju ketat hitam-hitam yang serba terbuka. Generasi penggemar komik. Generasi yang paham evolusi video game: atari-nintendo-sega genesis-super nintendo- neo geo/panasonic 3DO/sega saturn/playstation/nintendo 64-playstation 2/x box/gamecube-playstation3-… dan entah apa lagi.

Generasi saya di sini, berbeda dengan yang dibilang Friedman, menjalani awal masa dewasa bebas dari rezim otoriter. Suharto turun saat saya kelas 3 SMP. Demokratisasi mulai, ide-ide berseliweran, kebebasan tiba-tiba menghantam. Kami, saat itu, tidak gagap, karena sejak timbul kesadaran dewasa (apa pula itu?), itulah dunia yang kami kenal. Maka beragam ide menjadi biasa, lumrah. Beberapa membaca Tan Malaka atau malah manifesto komunis, dengan niat beneran untuk memahami dan mengubah dunia, atau intellectual exercise, atau murni iseng-iseng kurang kerjaan. Beberapa mengenal ide-ide universalisme Islam, hingga ragam negara Islam, juga dengan beragam motif: untuk mendalami agama (kok malah belajar pemikiran politiknya duluan???), intelectual exercise, iseng-iseng kurang kerjaan, atau malah “dijebak”. Beberapa memilih melanjutkan kehidupannya dengan meneruskan berpacaran, film, video game, dan komik.

Nah, dimana area pertemuan beragam ide dengan kondisi konsumerisme itu? Kampus. Kampus sekolah SMP (?) hingga kampus universitas. Lalu, dengan globalisasi yang membuat dunia ini flat menurut Friedman (bohong ah! Yang menang tetep aja yang kuat!), bagaimana mereka bereaksi? Apa juga jadi ekstrem, meneror dan menghancurkan trust, yang bahkan hampir tak ada di masyarakat kita? Tidak. Kalaulah laporan tentang para pengebom itu benar, kebanyakan mereka bukan dari kampus, minimal tak mendapatkan kesadarannya di kampus. Apa juga larut, semata dalam budaya konsumer, dan 100% terbaratkan? Tidak juga, terutama dalam pemikiran politiknya. Lalu apa?

Jadinya ya hidup dalam dua dunia, dunia ide-nya dan dunia percik budaya popular. Mungkin sepanjang hidupnya, mereka akan terus menerus bergelut dengan soal-soal ini. Mereka masih mendengarkan Linkin Park, misalnya (saat saya menulis ini, winamp saya menunjukkan supermassive black hole, dari muse). Masih menonton fast and furious: tokyo drift (meski lewat video bajakan dari internet atau peer-to-peer). Masih suka nomat 7000 perak menonton the omen versi 2006, dan membandingkannya dengan versi lama (iya nggak, bro?hehehe…).
Meskipun bentuk konkret ide yang digelutinya pun mewujud dalam atribut-atribut budaya (entah lewat sastra realis-sosialis, lagu-lagu perjuangan, nasyid, atau novel-novel pop Islami), semua belum cukup membendung. Simply, because they (still) like it!


Tentu ini generalisasi berlebihan. Ada juga (dan cukup banyak) yang memang berubah sama sekali, pindah rumah ke pojokan lebih kanan. Terdengar juga tuduhan-tuduhan “kurang keyakinan ideologisnya”, “terseret budaya kapitalis”, “aqidahnya masih kurang” (busyet dah…).
Ini bukan pembelaan, tapi sekarang saya memutuskan untuk optimis. Keberadaan mereka di dua dunia itu, semoga makin menjadikan mereka paham. Selanjutnya, bisa mengambil langkah yang cerdas, tidak reaksioner, asal ngebom, asal boikot (meski, saya tahu, ada sedikit simpati mereka juga). Karena, beberapa dari mereka juga tak sekadar buta mencerna, tetapi menyelidiki. Menganalisa dengan perangkat-perangkat sains yang juga disediakan barat. Toh, pada akhirnya kebenaran terungkap, dan dengan paradigma yang masih dikuasai dunia ide-nya, mereka teryakinkan. Semakin teryakinkan. Seperti biasa dalam sejarah, seorang anak didik yang akan membunuh ayahnya sendiri.


Mengenai pernik-pernik budaya sekitar kita? Tak usah khawatir. Itu hanya cerminan ide, dan ide mana yang sekarang menghegemoni. In the long run, nanti pun berganti. Mereka juga berubah, generasi-generasi baru hadir. Masalah kekuasaan adalah masalah giliran, dan berusaha berjuang mendapat giliran.

(Waduh, di tempat kerjaan yang konkret malah mulai mikirin lagi yang nggak konkret kayak gini…padahal udah cukup lama saya tinggalkan yang begini-begini…)

4 comments:

  1. Hemm... pertanyaan-pertanyaan ini selalu ada juga di kepala saya. Ini belum lagi ditambah fenomena begitu cepat kondisi hati berubah. Pagi dengerin ceramah, sore udah lupa isinya =))

    Yah semoga lucky bener.. Semoga dunia2 di sekitarnya benar2 memberi proses pemahaman; bukan larut di dalamnya

    ReplyDelete
  2. terlalu terlarut dlm guilty feelin gr2 hdp di dua dunia tu seringnya malah bikin ga konkrit. malah bikin males ngapa2in, terjebak pada kejumudan yg fatal. iya ga sih?? jadi, gak sah terlalu dipikirin kali ya??just live life to the fullest...heheh..gak tau ketang...wallahua'lam bis shawwab..

    btw akhirnya beli juga ya lo totto chan

    ReplyDelete
  3. hidup di dua dunia bisa ngasih wawasan yg lbh objektif tentang pertentangan keduanya (pembenaran =p)soalnya yg gw liat mrk yg 'baek2' kadang jadi irrasional kalo ngadepin dunia real...n ga konkrit =p

    ReplyDelete
  4. Apa pendapat Gabriel Garcia Marquez untuk membuat filem telenovela dari “Kesunyian Seratus Tahun” ?
    Dapatkan jawabannya di dalam wawancara dengan Gabriel (imajiner) di “stenote-berkata” dot “blogspot” dot “com” di folder September 2017.

    ReplyDelete