Saturday, August 12, 2006

Asumsi, dan informasi asimetris

Terinspirasi freakonomics.

Asumsi adalah tanda ketidaktahuan. Atau lebih buruk, tanda ke-soktau-an. Kita tak tahu yang benar, tapi kita tahu sedikit dasar-dasar fakta sehingga menarik kesimpulan berupa asumsi. Kalau untuk laporan atau tugas kuliah, saya (seperti juga mahasiswa malas lain) paling suka memakai asumsi, yang paling sederhana. Mudah, dan dibolehkan.

Informasi asimetris, sebenarnya terjadi dalam hubungan yang transaksional, hubungan ekonomis. Namun, karena ekonomi dalam arti luas bisa diartikan “studi tentang insentif” (insentif bisa secara sederhana diartikan hal-hal yang kita ingin penuhi), maka hampir (atau semua?) jenis hubungan ialah hubungan ekonomis. Termasuk hubungan saya dan Anda. Saya membuka hubungan dengan Anda lewat tulisan ini mungkin untuk menyebarkan yang saya pahami dan dimengerti (sebuah insentif moral), mungkin pula agar saya bisa eksis di blogosphere dan mendapat komentar (insentif sosial), atau bahkan berharap suatu saat bisa menarik iklan dan dibayar (insentif material). Begitu juga dengan anda: berharap mendapat kelegaan saat mendapat hikmah atau malah marah saat yang didapati adalah sampah (insentif moral), mengetahui kabar terbaru saya untuk menjalin silaturrahmi atau untuk mencari momen pelampiasan dendam (insentif sosial), atau siapa tahu mendapat ide bisnis setelah membaca (insentif material, kalau bankrut pun tak dijamin…). Begitulah. Sepakat juga saya dengan Levitt -Dubner yang kira-kira bilang, kalau moralitas menunjukkan bagaimana seharusnya dunia ini berjalan, ekonomi adalah studi tentang bagaimana dunia ini sebenarnya berjalan. Meskipun tentu tak sesederhana itu.

Balik lagi ke hubungan kita. Masalah dalam hubungan kita adalah, sayang, kita tak memiliki cukup informasi tentang motif. Anda tak benar-benar tahu informasi tentang motif saya menulis ini, dan saya juga tak tahu motif anda membaca ini. Tapi, dari sisi saya, misalnya, saya benar-benar tahu apa motif saya, dan saya sedikit tahu profil pengunjung blog ini (thanks to google). Dengan pengetahuan itu, dari sisi marketing, saya bisa mem-positioning-kan blog ini, dan membentuk citra di depan Anda. Anda tidak benar-benar tahu, apakah citra yang Anda tangkap tentang Lucky itu benar atau tidak? Apakah anda sedang saya bohongi, diberi pencitraan palsu? Nah, ketika dalam hubungan ekonomis suatu pihak memiliki informasi lebih daripada pihak lain, disitulah terjadi informasi asimetris. Dengan mudah, pemilik informasi lebih itu bisa menipu atau memanipulasi hubungannya.

Tenang, saya berusaha jujur saat menulis, jangan khawatir diberi pencitraan palsu.
(Tapi, masa’ Anda percaya begitu saja informasi jaminan satu kalimat dari saya, mitra hubungan ekonomis Anda? ;-p ).

Huaduh, sebenarnya saya mau cerita kejadian-kejadian ringan di sekitar saya aja sih…kok pengantarnya jadi beribet gini ya?

Begini ceritanya.

***

Lingkungan tempat kosan saya di Jakarta merupakan lingkungan yang lumayan baik. Dekat masjid, tetangga yang tidak aneh-aneh, dekat pasar kecil yang hanya buka di pagi hari, dekat warung dan makanan seperti bubur atau mie ayam buat sarapan.

Di suatu sore, saya dan tarsono mengobrol tentang rencana bermain bulutangkis di sore hari. Masalahnya, kami tak punya raket disini. Tiba-tiba saja, tetangga saya bilang, “kalau raket pinjem aja ke rumah di ujung sana, terus pas 17-an ada lomba juga, ikut aja!”. Saya jelas kaget, karena tetangga itu hanya lewat saja, tak ikut obrolan, dan mungkin hanya mendengar sekilas obrolan kami. Wah, ramah juga ya tetangga-tetangga sini…

Ketika di sore hari saya dapati di belakang saya ada suara perempuan yang memanggil, “lucky, lucky, lucky…”, berbekal asumsi “tetangga disini sangat friendly”, dengan ge-er saya berbalik badan memenuhi panggilan itu (oke, oke, ditambah sedikit penasaran pengen kenalan dengan perempuan yang memanggil…;-p).

Tiba-tiba di samping saya, kucluk-kucluk-kucluk, lewat makhluk lain.

Berkaki empat. Ternyata ‘lucky’ adalah…nama anjing tetangga! SIIIAAALLL!!!
Inget, ‘lucky’ dengan ‘l’ kecil ya…

Langsung saya balik kanan bubar, jalan!

Saya berasumsi, dan tak memiliki cukup informasi tentang nama anjing tetangga. Tapi tak bisa disebut informasi asimetris, karena tak ada hubungan ekonomis disini. Kecuali, kalau perempuan itu tertawa melihat seorang bodoh tertipu…

(tambahan: memberi nama anjing ‘lucky’ adalah ide yang benar-benar buruk! Kenapa nggak blacky, atau bleki, atau apa kek…budy gituh? Untung anjingnya jenis anjing peking yang kecil-imut-lucu, kalo nggak gw paksa tuh anjing ganti nama!).

***

Lagi-lagi dengan anjing.

Tiap pagi dan sore, kalau saya berangkat atau pulang, saya dan Tarsono pasti melewati rumah dengan gerbang terbuka. Hampir pasti juga, ada anjing yang menggonggongi.

Anjing adalah makhluk yang paling bodoh berasumsi. Karena melihat orang lewat dan tak dikenal (apalagi kalau memakai baju oranye mencrang seperti baju magang kantor saya…), dengan seenaknya aja digonggongi. Padahal kan bukan maling.

Di suatu sore, entah karena stress dari kantor atau karena kesal digonggongi terus, ketika saya melewati rumah itu lagi dan digonggongi, dengan gagah berani saya hadapi. Saya berdiri diam dan bilang, “eh, anjing! Sini kalo berani! Sini!” (sambil masang pose menantang). Itu anjing masih menyalak. Tarsono udah lari. Terus saya tantang anjing itu.

Kok berani? Karena anjing itu bodoh, dan saya punya informasi lebih: anjingnya ada di lantai 3 rumah itu…hehehe. Pantes aja berani. Mo teriak-teriak gimanapun tuh anjing nggak bakal ngejer…Tarsono lari tentu saja karena malu punya temen yang nantangin anjing yang berada di lantai 3 depan rumah orang…;-p. Dasar anjing bego, orangnya lewat dibawah kok ngegonggongin dari lantai 3…

Skor Lucky vs Anjing: 1-1.

***

Ini kisah lain lagi.

Saya udah desperate nyari mouse di dekat lingkungan kosan saya. Di toko stationery gak ada, ngambil dari warnet takut dibilang maling, beli dari warnet juga nggak dijual, mau ngambil dari kantor, apa daya tas saya digeledah tiap keluar kompleks kantor, jadi gak berani.

Suatu malam, abis nyari mouse (yang nggak nemu) dan abis makan, iseng-iseng saya nanya ke kios rokok pinggir jalan, “bang, ada mouse ga?”. Iseng-iseng aja, lucu-lucuan dan sedikit ngerjain. Saya (lagi-lagi bersama tarsono) membayangkan tampang si abang-abang penjual rokok yang paling-paling cengo, dan kita berdua bisa ngakak. Ih, niatnya jahat.

Ternyata dibalas tukang kios:”Brengsek, lo kira ini toko komputer!”. Saya langsung ngacir. Huaduh, asumsi saya salah. Abang kios itu ternyata tau mouse, dan tau dimana saya seharusnya mencari, dan marah karena dikerjain.

Tetap aja kita berdua ngakak, dan dari kejauhan si abang itu juga senyum-senyum sepet dan geleng-geleng kepala. Yah, asumsi dan informasi asimetris juga bisa sama-sama menguntungkan: gw dan abang kios itu sama-sama terhibur.

***

Ini kisah lain yang serius, dan bisa berujung penipuan. Bentuk-bentuk informasi asimetris yang sering dimanfaatkan adalah yang seperti ini.

Minggu kemarin saya jalan-jalan ke glodok nyari MP3 player buat adik saya. Ada banyak merek yang ditawarkan, termasuk merek-merek dari china yang aneh-aneh: soundy, sun, sunny, dan, oh my god, audy…). Saya nanya harga. Merek benny yang bisa format MP4 512 Mb 350 ribu, Sun 300-an, audy saya lupa.
“wah, jelek nih bang.”, kata saya.
“ Ini aja mas, Ipod!”, kata abang penjual sambil menunjukkan ‘ipod’-nya.
“Berapa bang?”
“Wah, ini ipod mas, mahal ini. 550 deh buat mas”.

Sial. Penipuan.
Saya mungkin tak memiliki informasi sebanyak si abang penjual, tapi saya tau, tidak ada ipod seharga 500 ribu dengan 1 dolar Rp 9100 saat itu! Tidak ada juga ipod dengan tulisan ‘IPOD’ yang kebesaran dan tak proporsional serta dibuat di ghuangzhou, china sana.

Penjual itu, seperti kebanyakan penjual yang licik, bermaksud memanfaatkan informasi asimetris dalam hubungannya. Bukan hanya penjual saja sebenarnya. Mungkin kita pernah mendengar iklan dengan ‘pakar’ yang menakut-nakuti kita kalau tak memakai produknya? Atau pernah ke dokter lalu dianjurkan satu keluarga besar untuk diberi vaksin penyakit yang tak menular hanya karena salah satu anggota keluarganya kena?

Ketika saya pergi, penjual itu panik, “ayo mas, 400 deh…300 deh. Ya udah 200 deh!”. Sial. Dari 550 jadi 200. Saya tetap ngeloyor pergi.

***

Masih ada kisah lain, tapi tak bisa diungkap disini. Mungkin akan menyakiti pihak lain. Kemarin saya baru tahu ketika teman saya bilang ada mahasiswa ugm membaca blog ini bagian cara menjadi presiden KM-ITB dan tentang kunjungan saya ke ugm. Saya tak mau memberi ia kepuasan lagi karena melihat kampusnya dipuji-puji dan prihatin akan kondisi di itb…hehehe, dasar. Saya baru sadar lagi, blog kan bebas dibaca siapa aja ya? Jadinya self censorship saya lebih ketat sekarang.

Namun, buat saya sih, peristiwa-peristiwa kecil tadi cukup memberi pelajaran tentang betapa hebatnya kekuatan sebuah informasi. Ini era informasi, jelas.

Wallahu a’lam bis showaab.
Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.
Segala Informasi.

4 comments:

  1. he he..buku yang aneh, tapi menarik kok. ;). saya gak perlu pencitraan di blog supaya tahu siapa lucky kok :P

    ReplyDelete
  2. adit-bram5:30 PM

    tipikal anak itb ga sih??

    pengantar nya kepanjangan cuma buat bilang "hei, gw nulis jujur lho..."

    peace bro....

    ReplyDelete
  3. lucky5:02 PM

    to p'egi: ya iya lah...:p
    to adit: maksudnya bukan itu kok. tipikal itb banget ya: sok tau? hehehe, peace lagi bro.

    ReplyDelete
  4. Mungkin tuh cewek ngasih nama Anjing-nya lucky, siapa tau dia bisa lucky ketemu dengan cowok yang namanya Lucky.

    Sayangnya Lucky yang ini keburu sakit hati...;))

    ReplyDelete