Thursday, May 18, 2006

Tentang Memutuskan

Kehidupan zaman kita, adalah kehidupan dengan tonggak-tonggak yang similar. Buat zaman kita, buat anda dan saya, milestones penting itu adalah: sekolah. Sekolah membentuk kita. Sejak kita mulai baik-baik mengingat, sejak kita TK, kita berada di sistemnya. Pertama mungkin hanya 3 jam sehari (jam 7 hingga 10 di Taman Kanak-Kanak), tapi semakin anda berumur, jika anda cukup beruntung, semakin lama pula anda menyisihkan waktu dalam sistem ini. Selama kuliah, hampir sepanjang hari saya di kampus. Kalau dijumlahkan dengan waktu saya di luar kampus tapi tetap dicurahkan untuk urusan-urusan kampus, saya kira yang tersisa adalah waktu tidur saya dan sedikit waktu untuk yang lain. Masa SMU, jam 6.30 sampai dengan 13.00 minimal saya bersekolah, kadang-kadang lebih.

Mau tidak mau, anda dididik disini. Anda dibentuk disini. Anda belajar disini. Baik atau buruk itu lain hal, yang jelas anda menjadi diri anda sekarang, pengaruh besarnya ialah di sekolah anda. Tidak, saya tak membicarakan sistem pendidikan. Saya membicarakan tentang sekolah. Sekolah, dalam zaman kita, bersifat absolut. Sangat hegemonik, dan sangat ’berkuasa’. Karenanya, mengutip Ivan Illich (seorang yang saangat sinis dan pesimis dengan sistem sekolah kita) , inilah ”gereja abad pertengahan” di zaman kita. Ingat gereja abad pertengahan di Eropa kan? Itulah sekolah zaman kita, dengan cara berbeda.

Sebab itu pula, saya mengulang lagi, masa sekolah selalu menjadi milestone penting untuk hidup manusia zaman modern. Saat anda masuk TK, memilih SD mana, setelah itu memilih SMP mana, lalu SMA mana, Universitas mana, setelah lulus bagaimana...semua milestone itu tersangkut dengan sekolah zaman kita. Bahkan urusan jodoh pun mungkin tersangkut juga dengan sekolah ini. Anda jatuh cinta dan menikah dengan teman sekolah anda, misalnya.

Itu juga berlaku buat saya. Milestone penting hidup saya, tentu juga terkait dengan urusan sekolah ini. Saya ingat, dulu, memutuskan tentang ini begitu mudah. Saya tinggal mengikuti.

Kenapa kamu masuk TK, Lucky? Disuruh. Saya tidak seperti anak-anak lain yang mungkin ngebet ingin segera masuk TK. Saya tak terlalu ingat prosesnya, yang saya ingat ialah: saat itu saya 6 tahun, ibu dan ayah saya sedang pergi haji, dan saya menangis keras di hari pertama saya masuk TK. TK nol besar, dengan guru TK yang galak, dan saya yang sepanjang tahun itu menderita. Jadi orang aneh yang tak bahagia, sering menangis, dan masuk kelompok ”mobil” dalam pengelompokan oleh guru TK waktu itu (dan perlu anda tahu, masuk kelompok ”mobil” di TK itu hanya setingkat lebih baik dari kelompok ”becak”, kelompok paling terbelakang!). Sewaktu lulus TK, orang tua saya memutuskan saya belum cukup dewasa untuk masuk SD. Maka saya mengulang lagi satu tahun di TK nol besar. Kalau dipikir-pikir sekarang, aneh juga, mengulang kok TK...Tapi karena saat itu saya manut saja apa kata mamah, saya jalani lagi TK Nol besar. Karena mungkin sudah berpengalaman, masa TK kedua saya itu cukup bahagia.

Milestone kedua: lulus TK. SD mana yang dipilih? Well, it wasn’t me who chose. It’s my mom, again. Saya masuk SD sebelah TK saya, satu rangkaian: SD Islam Al-Azhar Cirebon. Lulus SD, lagi-lagi milestone itu datang: mau ke SMP mana? Lagi-lagi bukan saya yang memutuskan. Lagi-lagi mamah: A, kamu masuk SMP Al-Azhar aja...Ya sudah, saya masuk. 3 tahun sudah, setelah lulus, SMA mana? Benar, saya tak harus memutuskan. Mamah itu tipe wanita Sunda yang benar-benar menghayati sebuah bait lagu Sunda: geura gede, geura sakola ka Bandung (Cepatlah besar, cepatlah bersekolah ke Bandung...lagu apa ya? Lupa saya...). Saya pun mengikuti, ke SMA 3 Bandung.

Barulah saya mengambil sepenuhnya tanggungjawab memutuskan di milestone penting hidup yang menyangkut sekolah di masa SPMB. Dengan berbagai pertimbangan (jangka pendek, dan cukup bodoh saya rasa), saya memilih jurusan Teknik Industri ITB. Untuk pertama kalinya, orangtua saya tak ikut memutuskan. Terserah saja. Saat itu jelas bingung...Tapi ketemu juga: Teknik Industri, deh! Mungkin ayah saya agak kecewa (”kok gak milih IPS?”), tapi tetap mendukung, dan menyerahkan sepenuhnya ke saya. So, here I go!

Hampir 4 tahun saya di TI-ITB. Bahagiakah? Hmm...hard question. Saya bahagia dengan kehidupan di ITB, dan so-so dengan kuliah di TI. Apakah cukup bermakna? Ya! Saya menjumpai orang-orang luar biasa di angkatan saya, di TI, di ITB, saya belajar banyak, saya berubah juga. Besok Jumat, kalau semua lancar (termasuk tak ada lagi yang mengulang semester depan) merupakan hari terakhir saya menjalani kuliah di ITB, duduk di bangku keras 9308 dan mendengarkan dosen dan teman-teman yang presentasi (tentu saja seperti biasa saya membaca buku atau mengobrol, tidak benar-benar mendengarkan…). Tibalah lagi saatnya memutuskan, menyangkut sekolah juga. Lulus? Topik TA? Setelah itu?

Saya memikirkan, saya juga berencana, tapi kepastian dan ketetapan hati itu belum datang juga. Sedetil apapun rencana yang saya susun, terasa ada yang kurang. Betapa mudahnya kalau saat ini yang memutuskan adalah mamah, dan saya tinggal mengikuti...hehehe. Just like the old time.

Atau seperti itu saja? Kembali ke the old way setelah setua ini. Hmm…

Wah, sudah lama juga saya tidak menulis hal pribadi yang tidak penting ini. Maaf kalau menghabiskan waktu yang membaca.

Setelah saya pikir-pikir...apa saya ini menderita Oedipus Complex ya? Tidak ah. Hanya penghormatan dan cinta saya rasa.

...masih memikirkan....

6 comments:

  1. adit-bram12:14 AM

    apa mutusin siape istri mu juga ngikut kata mamah ??

    hehehehe

    ReplyDelete
  2. atau sepsrti yang "dikahawatirkan", ketika mamah tinggal bertanya, sareng saha? :p

    *ps:dit, blog ente ga keurus tuh..!

    ReplyDelete
  3. Bagaimana dengan homeschooling?
    http://en.wikipedia.org/wiki/Homeschooling

    Gw sedang tertarik dengan ide ini. Dimana gw sudah ga percaya lagi sama sekolah umum..
    he..he..he..

    -igun

    ReplyDelete
  4. Gak serius dulu:
    - Homeschooling?? Lab schooling kali Gun? Kan dah gak pernah pulang ke kosan lagi!! :-D

    - 6 tahun baru masuk TK luk?? Pantes lu tua hehehehe!!

    Rada serius dikit:
    Makanya pernah di suatu filem, ada yang ngomentarin: Itu lho manusia yang sepertiga hidupnya diabisin cuma untuk mempersiapkan diri buat 'hidup'.Jangankan kita yang cuma TK, sekarang ada preschool dari umur 2 tahun coba!!

    Menurut gw, yang jadi masalah adalah sistem sekolah itu dibuat dengan suatu aturan yang standar..Karena standar, maka dia hanya sesuai untuk orang yang berada dalam jalur/koridor en bisa dibilang orang rata2. Orang di luar rata-rata, orang dengan pemikiran yang beberbeda susah untuk merasa nyaman di situ.

    ReplyDelete
  5. Wah hampir sama dong luck =]
    Tidak ada yang harus dianggap memalukan ketika orang tua memberikan suara dalam keputusan anaknya..
    Mengutip pendapat seorang sahabat saya : "orang tua adalah pemegang saham terbesar kita (dewan komisaris-lah) pada awalnya..."
    Untuk pilihan2 hidup berikutnya pasca kampus, kayanya "saham" diri ini harus sudah mulai dilelang ke publik (go-public); sebagai tanggungjawab kita ke masyarakat..

    ReplyDelete
  6. Whew! lama juga nggak berkunjung kemari...:D

    Wah, nggak beda jauh ya jalan hidup kita selama masa sekolah...tapi kalau saya dulu nggak masuk TK dulu, gara-gara nya, sering ikut2an saudara ke TK...jadi aja ngerasa udah TK, padahal mah cuma ikut2an aja...heu heu heu...

    Eh, eh, nggak salah juga kan nentuin calon istri juga ke mamah...? ;)) atau biarin aja mamah yang milihin calon istri...hehehe...

    ReplyDelete