Tuesday, May 09, 2006

Masalah dengan Kesempurnaan

Ziauddin Sardar, ilmuwan muslim Inggris keturunan Pakistan menulis tentang Ikhwanul Muslimin di “desperately seeking paradise”, memoar pencariannya akan ‘surga’. Di bab- awal, ia menceritakan tentang Ikhwanul Muslimin. Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Islam yang paling berpengaruh abad ini, didirikan sekitar 1920-an (1921?) di Ismailiyah, Mesir, oleh Hasan Al-Banna. Jejak-jejaknya bisa dilihat dari metodologi atau manhaj gerakan-gerakan Islam yang ada di negara-negara berbeda sekarang: Refah di Turki, Partai AL-Islam Semalaysia (PAS) di Malaysia, PKS di Indonesia, atau Hamas di Palestina. Tentu saja ada perbedaan-perbedaan sesuai konteks lokalnya, namun metodologi umumnya relatif sama. Ada yang pernah bilang IM adalah wujud konkret kebangkitan Islam yang dicanangkan (idenya) oleh Jamaluddin Al-Afghani, menurun ke muridnya, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha. Hasan Al-Banna sendiri pernah menggantikan Rasyid Ridha, kalau tidak salah sebagai redaktur Al-Manar. Menarik juga membandingkan interpretasi ketiga tokoh ini terhadap ide Jamaluddin Al-Afghani. Abduh bergerak di pendidikan (menjadi rektor Al-Azhar, dan peletak fondasinya di zaman modern), Rasyid Ridha bergerak di media jurnalistik, dan Hasan Al-Banna membangun organisasi. Yang jelas, nama keempatnya akan abadi sebagai pembangun fondasi kebangkitan Islam di abad 20.

Kembali ke kritik Sardar...Menurut Sardar, sebagian besar anggota IM ’berada di tepi fanatisme, kecuali Said Ramadhan’. Said Ramadhan juga tokoh besar Ikhwan, putra dari Hasan Al-Banna yang sepanjang masa hidupnya berada di pengasingan. Putranya, Tariq Ramadhan, sekarang menjadi ilmuwan muslim sekaligus filosof lulusan Prancis. Namun, Sardar melanjutkan, ’ada sesuatu di matanya yang tidak benar, yang tak aku sukai, sesuatu yang aku dapati pula pada anggota Ikhwanul yang lain...”

Saya mencoba memahami kritik Sardar, yang dimulainya dengan kisah seorang teman Said Ramadan dengan tentara Israel pada perang Arab-Israel 1948 (pada perang ini, Ikhwanul Muslimin mengirimkan pasukannya ke Palestina, dan pasukan ini sangat ditaakuti Israel). Teman said itu bertanya pada tentara Israel, kenapa tak menyerang Sur Bahir (desa dekat Jerussalem yang dikelilingi dua pasukan Israel). Tentara itu menjawab, karena daerah itu diduduki pasukan Ikhwan. Teman tersebut heran, karena pasukan Israel kan sudahbiasa menyerang daerah dengan pasukan besar dan kondisi lebih berat. Tentara itu menjawab, itu karena tentara IM berperang dengan semangat untuk kematian. Jadi, merekaa tak hanya tidak takut mati, tapi menginginkan kematian (dalam perang).

Itu yang membuat tentara Israel itu emoh menyerang. Si teman tadi bertanya, menurut pendapat dia, apa yang membuat pasukan IM itu seperti itu. Jawab si tentara Israel:

”Itu dampak ajaib agama terhadap pikiran orang sederhana. Kemiskinan telah menghadirkan bayangan akan surga yang menanti mereka setelah mati...Mereka membahayakan tak hanya kami, tapi juga kalian umat muslim. Tapi, yang pertama terancam adalah kalian...”

Sardar lalu berdialog dengan Said Ramadhan tentang masalah ini. Ia bilang, bukankah mengejar kematian demi kematian adalah pertanda ketidakbijaksanaan yang lahir dari keputusasaan?

Kata Said, ’tidak, itu tanda kekuatan iman’.
”Tapi bukankah itu keimanan buta yang mengenyampingkan akal sehat? Bukankah kefanatikan terhadap suatu keyakinan, seperti kata tentara Israel tadi, akan berbalik memukul pengikut keyakinan itu sendiri, bahwa mereka melihat keimanan saudara-saudara seimannya lebih rendah dibanding mereka sendiri?”, lanjut Sardar. (Dan tolonglah, saya mohon, gak usah bilang: itu kan pendapat tentara Israel. Kok diikutin? Apalagi bilang: ini konspirasi Yahudi pasti....busyet dah, kenapa kita selalu menyalahkan konspirasi atau membuat teori konspirasi setiap ada masalah? Apa masalah selesai dengan membuat teori tersebut? Jangan jadi paranoid...Lihat aja apa pendapatnya).

Jadi, saat keimanan memang menjadi senjata, apa yang bisa menjamin senjata ini tak bisa disalahgunakan? Tulis Sardar, ”pada dasarnya, keyakinan itu terus bergerak mendekati keraguan” (mungkin bisa dibandingkan dengan pendapat Al-Ghazali, ”keraguan adalah peringkat pertama keyakinan”, dalam munqidz min al-Dhalal). Hanya orang sempurna yang memiliki kepercayaan sempurna nan pasti. Masalah IM adalah, kata Sardar, mereka melihat dirinya sempurna, mereka yakin akan segalanya. Thus, pada akhirnya akan menentang kemanusiaan (bukankah manusia tak sempurna?).

Pertama kali baca, saya tak menganggap ada masalah. Memangnya kenapa kalo ada orang yang menganggap keyakinannya itu sempurna? Bukannya itu wajar aja? Menjadi masalah, memang, kalo jadinya menganggap remeh saudara-saudaranya sendiri.

Lalu kemudian saya beranjak ke pertanyaan ini: bukankah perasaan sempurna akan membawa pada perasaan atau anggapan ’yang lain, yang tak seperti saya, tidak lah sempurna’. Ketika ada anggapan itu, berarti menganggap remeh saudara sendiri itu memang benar terjadi?

Apakah memang kritikan Sardar itu sedangkal ini: kader-kader Ikwan itu, karena perasaan kesempurnaan itu inheren dalam gerakannya, maka akan menjadi eksklusif secara alamiah?

Pertanyaan berlanjut: dalam dunia fana ini, adakah yang sempurna? Saya rasa ada, dalam pengertian kesempurnaan-pasca-aktualitas (sorry saya harus menciptakan istilah aneh, gak nemuin kata yang cocok soalnya). Maksudnya, kesempurnaan itu hanyalah klaim kita atas sesuatu yang pernah aktual terjadi dan ada. Nabi Muhammad, misalnya, adalah contoh manusia sempurna. Jadi, nabi Muhammad yang manusia biasa (menurut Al-Quran) menjalani hidupnya sesuai manusia yang biasa, lalu dianggap umatnya ”sempurna”. Maka, ’sempurna’ disini tidaklah dimaksudkan sebagai hal yang serba luhur-adiluhung-serba ideal, tapi presentasi aktual yang diidealisasikan setelah terjadi (bingung kan? Sama!).

Disinilah rasanya Sardar salah. Dan kesalahannya itu diulanginya berkali-kali (dalam bukunya, ia sering kecewa dengan corak Islam yang ditemuinya. Ia kecewa dengan Jamaatul Islam, dengan IM, dengan tarikat sufi, dengan Jamaah Tabligh, dengan Revolusi Iran dan Syiah...). Kenapa? Ia mencari surga. Surga yang sempurna (dalam pengertian ilahiah: serba benar-serba adiluhung-serba ideal). Ia mencari surga, dengan definisi sempurna seperti tadi, di dunia. Dalam konteks hidup manusia. Ya jelas nggak mungkin! Bagaimana mungkin kita mencari kesempurnaan sejati dalam dunia yang tak sempurna! Jadinya ya...Desperately seeking paradise.

Tentu saja dengan paradigma ”mencari kesempurnaan sejati”, yang akan kita temui adalah kekecewaan. Sama seperti kisah orang yang mencari jodoh yang sempurna. Gak bakal ada lah! Tapi ketika kita mau menerima, ketika kita menyerah mencari kesempurnaan sejati, baru deh kita dapet jodoh.

Pada akhirnya adalah penyerahan, pada akhirnya adalah pemilihan. Sardar pun di akhir bukunya menyadari ini: surga muslim bukanlah tempat kedatangan, tapi sebuah pengembaraan. Buat dia, ’proses pencarian’ adalah surganya. Akhirnya, ia menyerah, dan memilih serta memutuskan: dalam pencarian aku menemukan surga! Penyerahan dan pemilihan Sardar berbeda dengan Khomeini, misalnya, yang memilih Revolusi Islam a la Syiah. Atau Al-Banna dan pengikutnya, yang memilih jamaah Ikhwan.

Jika kata ’kesempurnaan’ itu digantikan dengan ’kebenaran’, bagaimana? Saya rasa sama, kebenaran pada akhirnya sebuah penyerahan, sebuah pilihan, sebuah keputusan. Buat saya juga, kalau kata ’kesempurnaan’ atau ’kebenaran’ itu diganti dengan ’cinta’ gimana? Sama saja: sebuah penyerahan, sebuah pilihan, sebuah keputusan.

Klaim kesempurnaan absolut, kesempurnaan a la Tuhan memang sudah semestinya ditinggalkan. Tapi tidak untuk dibalas dengan anti-klaim absolut, yang bahkan menjadi absolut lagi. Melainkan dengan sebuah kebijaksanaan: ya, inilah pilihan saya. Oh, itu pilihan anda. Harakah semacam IM pun tak sempurna, sama tak sempurnanya dengan tarikat, dengan organisasi Islam lain. Dengan memilih, dan menyadari pilihan yang lain, lahirlah kebijakan. Lalu juga melahirkan konsekuensi, hanya dengan soft power-lah cara yang paling etis membuat manusia lain teryakinkan dengan pilihan keyakinan kita.

Inilah surga dunia yang saya pahami.
Sekarang, apakah pilihan saya cukup mengakomodasi jenis surga ini?
Hmmm....

11 comments:

  1. Anonymous4:12 AM

    gila luh..
    masa nabi materialis siy??
    presentasi aktual berbau materialisme.
    presentasi aktual yang diidelisasikan setelah terjadi?
    idelisasi terjadi, dan ide tentang kesempurnaan dateng setelah kejadian berlangsung?
    ga banget deh.
    kesempurnaan nabi bukannya kerena prilakunya sesuai qur'an dan sunah kan?
    idenya sudah ada terlebih dahulu sepertinya.

    jangankan perasaan sempurna mas, dikotomi kata juga mengandung unsur yang tidak sejajar. misal ajam dan islam, elo dan gw,IM dan mungkin non IM kali?

    mungkin sardar juga tidak menyadari bahwa klaim dari pengkritik memiliki kebenaran absolut dimata pengkritik itu sendiri dan membawa pembaca mengiyakan apa yang di argumentasikan dari tanda baca, sehingga.....ya menganggap remeh,salah, ga bener dari sesuatu yang dikritik juga pasti terjadi,sepasti klaim sardar bahwa kader IM merasa sempurna. termasuk juga yang ngritik sardar. Jadi sah-sah saja.

    cinta, jodoh?....... ga banget....lo masih blm beranjak juga luk!!!!

    "dlm pencarian aku menemukan surga". bunyinya kan spt kepastian dan pernyataan akhir yang berupa kesimpulan. sama aja surga sebagai final journey dari kata-kata, jadi apa bedanya dengan tempat kedatangan? Tempat kedatangan adalah final dari kata juga yang diwujudkan melalui aksi.
    Surga sebagai "pengembaraan" seharusnya tidak ditemukan."pengembaraan" kan seharusnya sedang dan akan selalu terjadi. jika pengembaraan berakhir, yah sudah lah. Surga sudah ditemukan, terus mau apa lagi?
    Mati....
    Jd, lebih seru jika surga sebagai iming-iming paska proses ketimbang proses.

    Apalagi klo surga itu menentramkan jiwa dengan kata:
    "lo ke're',ga makan, sabaaaar....banyak ibadah...dunia cuma cobaan..didunia boleh susah, tapi diakhiratkan bisa masuk surga"

    Fuihhhh....mudah2an surga terbakar klo memang demikian.

    ReplyDelete
  2. menurut gw ni ya luk..sardar tu kudunya ikut pengajian Aa Gym aja..mgkn dy ga kan desperate..surga tu jadi sederhana..kaya tadi ada teh ninih di CC..nih ya... 3S; sapa, salam,santun.. 3M.. 7B.. ya itulah pokoknya.. gak apal gw, hehehe......

    ReplyDelete
  3. baca tulisan lu, gw jadi mulai yakin kalo laki2 tuh mikir dan perempuan merasa, I mean kita tuh ngebahas tema yg sama, but with a different approach..yups,,kaya tesis man from Mars women from Venus, tesis yg mati2an gw tolak :P
    hoho..akhirnya beli juga bukunya, sip dah :D

    ReplyDelete
  4. seperti syair lagu crisye dan dewa, kalau surga dan neraka tidak pernah ada apakah manusia akn tetap ingat kepadanya...
    atau dengan intisari dari rabiyah al adawiyah.. bahwa ibadahnya kepada tuhan semata2 karena ingin bertemu langsung dan membuka tabir sehigga bertemu dengan Sang Kekasih Sejati..
    tetapi bagaimanapun juga, surga dan neraka itu di butuhkan utk membuat manusia tetap berjalan dengan kaidah kehidupan yang ada..
    paling tidak utk orang awam seperti gw..

    ReplyDelete
  5. lucky5:16 PM

    to anonymous: gw ga memaksudkannya gitu kok...ide-nya tentu saja duluan, tapi ide-nya itu kan 'kesempurnaan ilahiah', karena quran kan qalamullah...tapi ketika dibumikan oleh Muhammad, jadilah kesempurnaan pasca aktualitas, dalam pandangan manusia...gitu. susah emang berurusan ama kata2..mengenai finalnya sardar...makanya gw bilang, pada akhirnya kan ialah pilihan. 'penyerahan", kerelaan menerima. "Pengembaraan" adalah final utk sardar, sperti Revolusi Iran utk khomeini atau manhaj ikhwan utk sayid quthb...itu bukan hanya sah2 saja, tapi ALAMIAH. Makanya Islam=penyerahan pda YANG Ilahiah. Cinta iya, tapi jodoh???hehehe, ga tau gw urusan itu. Sampe skrg emang itu sih yg gw pahamin. Kalo masalah smriwing-smriwing perasaan ke org2 sih hanya urusan kecenderungan hati aja, ga usah diseriusin. Tapi ketika udah diputuskan: ok, I love u, baru deh gw komitmen...Lebih logis, and gw yg memutuskan --> lebih nyaman buat gw...:p
    to liva: iya, sederhana itu selalu indah...
    to etchaa: hmm..iya gituh? tapi biasanya laki2 baru 'merasa' di akhir, dan perempuan baru mikirin di akhir...
    to febri: kata Dewa lagi: hawa tercipta di dunia, utk menemani sang adam...hehehe, lo sepakat?

    ReplyDelete
  6. soal adam dan hawa sepakat,
    kalo yang surga kaga ngarti dah

    ReplyDelete
  7. sepakat banget gw.. tuhh.
    tapi benarkah adam dan hawa dijatuhkan dari surga?
    dan kenapa kalau emang udah ditakdirkan di dunia, mereka diberi dulu kehidupan di surga..

    ReplyDelete
  8. hehe
    sebagai orang yang awam banget yah.. kesempurnaan emang ngebutuhin yang namanya ga sempurna. karena itu kita terus mencari..
    aku lebih seneng membahasakan sempurna dengan pilihan untuk menerima..
    karena itu aku puas dengan apa yang aku lakuin..
    lebih wise dengan sikap dah pilihan orang..
    kalo kita bisa milih knapa mereka enggak..
    egaliter lah..
    soal sardar.. rumit juga tuh orang.. tapi emang obsesi kesempurnaan bisa bikin kita rendahin orang laen..
    makanya aku masih percaya ama roja' dan khouf dalam ngejar kesempurnaan.

    ReplyDelete
  9. Irwan.K6:36 PM

    Sekedar formalitas saja..
    Boleh gw kutip (satu artikel ini) ke milis ye, bos?
    Thx..

    Wassalam,

    Irwan.K
    irwank2k2@gmail.com

    ReplyDelete
  10. lucky4:37 PM

    jelas boleh lah...namanya juga blog. ijin juga sebenarnya ga usah.
    makasih ya...

    ReplyDelete
  11. Anonymous7:40 PM

    Klo saya sih melihatnya ini bukan masalah kesempurnaan. Mencari surga di buku zia itu lebih seperti kita memberikan otokritik terhadap saudara2 kita sesama muslim.

    saya sudah membaca buku ini dan memang banyak hal yang kadang membuat kesan sang penulis ini tidak pernah puas dengan golongan2 muslim di berbagai belahan dunia. tapi kan semua golongan itu mengaku jalan mereka adalah jalan menuju surga.

    di sinilah letak otokritik itu... apakah surga yang kita tuju itu adalah surga yang berbeda? karena mengapa orang2 yang mengaku mendamba surga dan sedang menuju ke sana justru membunuhi mereka yang mengklaim hal serupa???

    apakah surga itu sebuah metafor yang sebenarnya terlalu "jahat" sehingga sesama muslim pun saling menghalalkan pembunuhan???

    where is heaven? what heaven are we persuing? kenapa jalan surga memecah muslim, apakah kita harus menghancurkan setiap hal yang tdk serupa dengan kita???

    sekali lagi, saya pribadi tidak memandang apa yang dipermasalahkan oleh zia adalah kesempurnaan, karena dia sendiri sudah menuliskan betapa kesempurnaan adalah tidak mungkin dijumpai. tapi zia mencoba menunjukkan realita bahwa memang muslim itu beragam, ada yang sangat dominan dan ada yang sangat puritan.

    sama seperti kita melihat para pemuda berteriak Allahu Akbar namun membantai orang2 tidak berdosa di tengah jalan ... Tuhan manakah yang ia sembah?

    siapkah kita menerima otokritik itu? bila belum ... jangan berharap banyak tentang surga yang kita semua damba di ujung hari masa nanti ^_^


    salam dan semoga berkenan,

    ReplyDelete