Friday, April 14, 2006

Cara Menjadi Presiden KM-ITB

Dulu, dalam sebuah perbincangan kurang kerjaan antara dua pengamat aktif politik kampus (saya dan seorang teman...;p), menyimpulkan bahwa: untuk menjadi presiden KM-ITB itu yang penting adalah marketing above the line selama kampanye. Ya, menurut kita dulu, yang penting itu jor-joran bikin spanduk, baligho, buletin ke kelas-kelas, stiker, atau media-media lain yang above the line.

Ternyata (hipo)tesis kami dibuktikan salah oleh Pemilu Raya sekarang ini. Marketing above the line paling jor-joran, paling eye-catching dan menarik pada masa kampanye ini jelas adalah marketingnya calon perempuan: Syahfitri Anita. Pihak incumbent pun kalah gemebyar.

Siapa yang menang Pemilu Raya? Bukan Syahfitri, dan prediksi kami agak salah. Tadinya saya kira, dengan hipotesis yang dipakai, yang akan bersaing adalah Dwi dan Syafit. Minimal, mereka yang akan menempati posisi 1 atau 2. Jelas, hasil dengan dasar hipotesis yang keliru tentu adalah kekeliruan. Posisi akhir Pemilu Raya: Dwi (2500 lebih suara!), Andi (700 lebih), Syafit (500 lebih), Hendrajaya (500 lebih), Lutfi (400-an?). Menarik sekali, dan sekali lagi membuktikan bahwa: politik itu bundar...hehehe, kayak bola aja.

Terus terang saya kaget dengan hasilnya. Melihat gemebyar kampanye Syafit, kerajinan Andi untuk turun ke bawah, Hendra yang jadi ’opinion maker’ di Rileks (hiperkomunitas di jaringan internal ITB), dan Luthfi yang membawa-bawa semangat angkatan 2003, Dwi masih bisa menang, dan telak lagi! Mungkin saya menduga kalo kata Jalu (promotor Dwi): ini masalah amal...hehehe.

Namun tentu saja bisa kita logis-rasionalisasikan. Ini yang saya coba tulis disini, jalan-jalan untuk menjadi (meraih posisi) Presiden KM-ITB.

Setidaknya saya mengidentifikasi 3 jalan, dan semua tak ada yang mudah.

Cara pertama. Kalimat sakti yang berlaku ialah: if you can’t beat them, join them. Di ITB, seperti juga di kampus-kampus besar lainnya, menurut info-info dari hiperkomunitas Rileks dan buku-buku karangan Ali Said Damanik & Aay M. Furqon, ada pihak ’besar, terorganisir’ yang menjadi incumbent. Kita sebut saja ini komunitas T. Nah, cara pertama kalau anda ingin menjadi Presiden KM-ITB ialah bergabung dengan mereka. Ingat, if you can’t beat them, join them.

Jelas tak bisa dengan hanya bergabung saja anda bisa jadi presiden KM-ITB. Kerja keras, disiplin, kompetensi dan terutama: keikhlasan lebih, diperlukan untuk jadi Presiden KM-ITB yang diusung komunitas T ini. Setiap komunitas punya aturan-aturannya sendiri, rule of the game yang unik, yang mau-nggak mau harus anda ikuti kalau mau jadi Presiden. Begitu juga dengan Komunitas T ini, yang bahkan bisa membangun subkultur sendiri, di kampus maupun di Indonesia. Follow the rule, ikuti sebaik-baiknya, dan berharaplah. Dari info-info yang saya dapat, tadinya ada beberapa calon untuk diusung (termasuk saudara baik saya yang luar biasa ikhlas), namun ’aturan’ internal menentukan satu calon. Jadi, ikuti aturannya sebaik-baiknya, tetap ikhlas, dan berharaplah untuk disetujui. Yang saya kira ini tak akan mudah. Ingat, innamal amalu bin niyat...Semua tindakan tergantung niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan. Kalau niat gabungnya mo jadi presiden, which mean keikhlasannya adalah untuk jadi presiden, yang artinya juga niatnya nggak ikhlas lillahi ta’ala, anda sudah melanggar anjuran saya: ikuti aturannya. Ikhlas lillahi ta’ala adalah aturan yang berlaku di komunitas T itu.

Untuk ikhlas, juga untuk istiqamah bukan pekerjaan mudah. Percayalah. Disinilah kerja kerasnya. Tapi, sekali anda menjadi calon dari komunitas T ini, anda mendapat beberapa keuntungan.

Komunitas ini punya traditional voter. Pemilih setia yang dari tahun ke tahun memilih calon dari komunitas ini. Jumlahnya saudara-saudara, banyak. Lumayan lah. Dari Pemilu Raya pertama sampai sekarang, kira-kira sekitar 1500-2000an suara. Coba aja itung jumlah suara yang diperoleh oleh kelompok ini. Bahkan saat kalah pun (karena ada 2 calon yang teridentifikasi dari komunitas yng sama, sehingga traditional voter terpecah), kalo dijumlahkan pun sekitar segitu.

Infrastruktur sosial, perangkat keras: manusia, organisasi, badan-badang kelengkapan, di segala jurusan telah ada. Demikian juga suprastruktur sosial, perangkat lunak: ideologi, aturan dan etika, norma-norma. Telah ada, telah cukup mapan, dan terbukti, minimal dari pemilu raya pertama hingga sekarang. Nah, kombinasi traditional voter ditambah marketing personal oleh infrastruktur yang ada (buzz marketing, peer-to-peer marketing, hubungan pertemanan, marketing langsung) rasanya cukup untuk menang. Di ITB, ternyata Marketing Below The Line yang lebih penting. Bagaimana anda, capres atau pendukung capres, secara personal dan langsung mendekati target pemilih. Tentu saja dengan kuatnya infrastruktur yang ada, Below The Line Marketing ini mudah dilakukan oleh pihak incumbent ini.

Cara kedua. Sejak TPB, tanamkan kesadaran bahwa anda akan menjadi Presiden KM-ITB saat tingkat 4 nanti! Itu harus selalu tertanam, ada sebagai landasan tiap aktivitas, tiap hubungan, tiap perkataan, tiap senyuman, tiap perbuatan. Anda adalah presiden nantinya! Aktiflah dimana-mana, jadilah hebat dimana-mana, make yourself heard n seen. Cari teman sebanyak-banyaknya, dan terus jaga hubungannya sepanjang masa kuliah. Identifikasi orang-orang hebat teman anda, dan beri perhatian lebih untuk dijadikan tim yang solid nantinya. Jadilah pemimpin mereka, buat mereka fanatik dan setia pada anda. Ini harus dilakukan konsisten, selama 4 tahun. Artinya, anda melakukan kampanye dan propaganda selama 4 tahun masa kuliah anda. Ini juga perlu tambahan: anda harus punya kualitas kepribadian yang mempesona, good looking lebih baik, kharismatik, jago ngomong, lihai poci-poci dan orasi, interpersonal skill yang baik, berprestasi akademik dan non-akademik, rajin menulis, aktif di segala forum, sekaligus kelihatan simpatik dan ikhlas. Ingat, anda melakukannya pada setiap orang mahasiswa ITB, angkatan tua atau muda. Pokoknya, hanya rektor ITB dan Pak Widyo yang bisa menyaingi ketenaran anda di mata seluruh mahasiswa ITB. Saat waktunya tiba masa pemilu raya, anda hanya tinggal mengkonsolidasikan seluruh sumber daya yang ada saja,dan menggerakkannya, serta sedikit strategi. Insya ALLAH, anda menang. Minimal, ada peluang menang.

Cara ketiga. Bangun kekuatan tandingan, yang serapi-seidelogis-secanggih komunitas T. Siapkan infrastruktur dan suprastrukturnya. Pilih ideologi yang mapan, lalu kembangkan sistemnya.Lebih baik kalo agama bisa dijadikan ideologinya...;-D. Cari kader, mulai dari satu orang hingga sebanyak-banyaknya. Buat kultur sendiri,kultur ideologi yang anda bangun. Lakukan rekayasa sosial yang signifikan, konsisten dan dalam jangka waktu yang panjang. Yang penting: sabar. Sebuah gerakan, apalagi dengan keyakinan ideologis dan kesetiaan fanatis, tidak dibangun dalam semalam. Komunitas T memerlukan 20 tahun lebih, padahal sebenarnya ’melanjutkan’ kekuatan Islam politik di Indonesia. Mungkin anda memerlukan lebih dari itu. Mungkin bukan anda yang nantinya jadi presiden, tapi tetap saja itu hasil dari didikan anda. Kader anda.

Sayang, saya tidak melihat cara instan. Mengutip seorang teman, mana bisa kampanye 2 minggu mengalahkan infrastruktur yang dibangun 20 tahun? Tidak, tak bisa. Gimanapun jor-jorannya anda kampanye, seberapa seringnya pun anda bertemu mahasiswa ITB, isu atau visi misi apapun yang anda bawa, sehebat atau sebaik apapun anda, tak ada jalan istan untuk menjadi presiden KM-ITB. Tidak bisa dengan ngakalin peraturan pemilu, bikin keributan dan kehebohan, kampanye 2 minggu atau 2 bulan, black campaign. Percayalah, anda tidak bisa, tidak akan bisa, tidak akan pernah bisa. Masalahnya adalah, you’re 20 years late. Tak ada jalan lain, selain lebih sabar, lebih bekerja keras, lebih konsisten. Mengutip sebuah quote di Mafia Manager: pada akhirnya, kemenangan adalah milik orang-orang yang sabar. Tokugawa Ieyasu menang dan mempersatukan Jepang karena lebih sabar daripada klan Toyotomi. Indonesia merdeka karena sabar berjuang sejak tahun 1500-an.

Bukankah kekuasaan dipergilirkan? Ya, tentu saja. Sebenarnya ada cara yang lain untuk menjadi presiden. Apakah itu? Berharaplah ada ’kecelakaan sejarah’. Sebuah kecelakaan, ketidaksengajaan, kelalaian di pihak incumbent, seperti kasus saat pihak incumbent ini kalah. Namun saya tak menganjurkan cara ini, karena sebenarnya bukan jalan yang di-create sendiri. Anda menunggu keberuntungan datang.

Gimana, masih mau jadi presiden KM-ITB? Berat kawan. Berat untuk menjadi presiden, lebih berat lagi saat menjabat presiden, dan paling berat ketika harus mempertanggungjawabkannya ke ”Tuhan, Bangsa, dan Almamater”. Butuh manusia ikhlas, dan sangat amanah. Masih mau juga? Bekerja keraslah mulai sekarang!!

Wallahu a’lam bis shawaab.

Salam Ganesha,
Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater.
Merdeka!

Untuk Dwi Arianto Nugroho, Presiden Terpilih KM-ITB 2006-2007
Selamat Berjuang!
Semoga Amanah dan tak mengkhianati amanah seluruh mahasiswa ITB!

16 comments:

  1. mmmhh, baca tulisan lucky, jadi seolah membaca pikiran yang (sebenarnya)telah lucky persiapkan bahkan dari awal kampanye PEMILU KM ITB 2006 untuk menyambut keadaan yang(sebenarnya) diprediksi akan terjadi...which is...(i thought u know what i mean, ;p). tetapi, secara garis besar, (masih)dibutuhkan pengalaman lebih lanjut untuk membuktikan tulisan lucky. well, keep innovating bro, good luck...

    ReplyDelete
  2. ...dan lucky pun membuktikan ke-TI-annya..hahaha..TI yg mana?? meminjam kalimat shilda: "i thought u know what i mean ;p"

    ReplyDelete
  3. traditional vote itu orang-orang yang nrimo titah dari dewan syuro ya?

    kampanye dua minggu tidak akan mampu mengalahkan infrastruktur komintas T yang sudah dibangun lebih dari 20 tahun ya?berarti pemilu kemaren sama kayak rave party...have fun go mad lah ya...

    BERARTI SATU2NYA CARA UNTUK MENJADI PRESIDEN KM ITB ADALAH DENGAN BERGABUNG DENGAN KOMUNITAS T.

    mungkin bisa dikasih tahu Luck, nama dan alamat lengkap komunitas T tersebut....siapa tahu ada pembaca blogger yang berniat untuk jadi presiden tahun depan =)

    ReplyDelete
  4. Anonymous6:29 PM

    Traditional vote di ITB hanya 2500 orang, hanya 25% jika dibandingkan dengan seluruh mahasiswa ITB yang konon berjumlah 10000 orang.
    Artinya, jika anda bisa mengkonsolidasikan "elemen" lain diluar "traditional vote" tadi (yang jumlahnya sekitar 75%), anda konsentrasi saja pada 75% diluar traditional vote itu, anda sangat berpeluang menjadi presiden KM.
    Sebenarnya tidak sulit untuk menjadi berkuasa dan menjadi presiden KM, yang sulit adalah menjaga agar kekuasaan yang kita peroleh tidak berbalik menjadi bencana, menjaga amanah dibalik kekuasaan itu. Karena kekuasaan ibarat pedang bermata dua...

    ReplyDelete
  5. Iya gitu "if you can beat them then join them?"
    Ini bukan masalah beat-beat-an (Bahasa campuran). Ini masalah siapa nama yang langsung terbayang di benak mahasiswa begitu mendengar Presiden KM-ITB... Dan pemenang pemilu pun sewajarnya adalah mereka yang menjadi tumpuan harapan (baik traditional voter maupun floating mass).
    ---Dan jabatan itu tergolong amanah.. Hal yang paling berat di dunia. Jadi jangan dicari.. Karena amanah akan mencari yang layak memikulnya..

    ReplyDelete
  6. duh pantes luck gue gak pernah jadi presiden KM...."cuma" kebgaian kastrat...
    soalnya i'm 5 years too late sih.....
    gimana yakin dah mau lulus nih...???
    gak pengen coba jadi konssultan politik dan statistik model LSI untuk politik kampus.....

    ReplyDelete
  7. to aliva + shilda: i don't what you two mean...;p
    to beni : kayak rave party?hehehe, bisa aja bang beni nih. Tapi rave party juga enak ditonton n diamati, just like pemilu km...waduh, daftar dimana ya?kayaknya beni lebih tau deh..;p
    to anonymous: menurut saya sih mau berkuasa di km itb aja sulit, apalagi pas udah, apalagi pas tanggungjawab...
    to amd: 'beat' disini dalam konteks marketing war, tentu saja fair dan sehat. iya sepakat bagian terakhir, makanya saran pertama saya buat yg mo jadi presiden: jangan. think about it!
    to catuy: lulus?nunggu sign. tapi tadi gw bimbingan bawah taangan, kalo maau topiknya susye...kayaknya gak dikasih 'sign'. jadi konsultan macem LSI di itb? pasarnya sedikit, n kagak ada duitnya men...hehehe. Ntar aja buat pilkada bandung atau jabar dah!hehehe...

    ReplyDelete
  8. Anonymous3:22 AM

    ach.. dangkal sekali..
    harta, tahta, wanita.. tak jauh-jauh dari itu!

    ReplyDelete
  9. woi anonymous..jangan asal ngegeblek aja lu ngoong harta, tahta dan wanita....
    emak lu kan juga wanita, lu pikir derajat lu lebih tinggi dari wanita, lu pikir wanita cuma penyebab masalah doank...
    lagi pula ini kan masih sekitaran hari kartini, ntar kalo Kartini baca nie blog do'i kan bisa sedih...

    ReplyDelete
  10. aing males macana
    wacana wae


    heheh, ngan rek mere nyaho, web aing pindah luk
    ka
    http://anbwijaya.web.id

    ReplyDelete
  11. ck..ck..
    kalo gitu selama ini ga ada presiden KM-ITB dong Ki,tapi presiden komunitas T.... hehe..

    ah, jadi berasa sia2 aja pemilunya.. yang 75% ga pada nyoblos, yang 25% dan punya kesadaran lebih untuk nyoblos sayangnya ga mau nyoba liat calon yang laen (eh, ga tau juga ding, kalo emang yang dipilih yang dipikir paling sesuai untuk KM-ITB ya yoo wiss..)

    ReplyDelete
  12. Lucky,

    Sungguh tulisan yang bagus, meski akan terasa pedih bagi mereka yang kebetulan berada di luar komunitas T.

    Semoga ini hanya buruk sangka saya, tapi tulisan ini tak lebih dari semacam champagne yang biasa disemprot-semprotkan Rossi atau Schummy setiap kemenangannya. "Lihat nih, kita menang lagi. Mau nandingin? Telat men. Telat 20 tahun."

    Sebuah kemenangan memang hasil kerja keras, dan karenanya patut dirayakan. Tapi di tengah kondisi kemahasiswaan seperti ini, tentu kita butuh lebih dari sekedar champagne, bukan?

    Sekali lagi, semoga ini hanya buruk sangka saya :)

    Ikram
    http://kramput.blogspot.com

    ReplyDelete
  13. to vetri: mo gimana lagi vet...lewat mekanisme 'demokrasi', jadi deh presiden semua...
    to ikram: terkesan seperti itu ya kram? soalnya waktu saya re-read lagi, terbaca seperti sinis dan putus asa...jadi gak enak sama teman2 saya.
    tentu saja kita butuh bukan hanya sekedar champagne. Kita butuh gala dinner dengan semua partisipannya! ;)
    tapi mau nggak ya, mereka? *siapapun lah mereka itu, tapi yang jelas kan 'mereka', kata ganti org ketiga, jadinya bukan saya...*hehehe ;p
    Salam juga..saya link blog-nya ya...

    ReplyDelete
  14. Sama, Lucky juga saya link.

    ReplyDelete
  15. Satu lagi cky..

    harus ngerti juga mekanisme pemilu nya.. jangan sampai dikadalin oleh panpel yang ternyata antek-antek komunitas T juga..

    Jadi kuasai Panpel dulu.. ha..ha..ha..

    *sigh.. gw nuduh lagi.. tapi emang pantes dituduh kok.. ha..ha..ha..

    -igun

    ReplyDelete
  16. komentar yang luar biasa terlambat...

    wah, kalo pake itung-itungan yang lengkap dong...

    traditional voter itu (kalo itungan sy), sebenernya 1500, yang 1000-nya lagi masih bisa digoyang (duuh, istilahnya, "digoyang" :p). Tapi jangan lantas menyimpulkan kalo ada 7500 suara yang tersisa. kenapa? karena, secara tradisional, jumlah seluruh pencoblos paling mentok ya di sekitar angka 5000 (50%).

    Maka untuk (setidaknya) bisa bersaing, capres diluar komunitas T harus yakin bisa ngerebut 1500 suara (biar sebanding dengan tradisional voter yang 1500 juga). sisanya (2000 suara), serahkan pada mekanisme pasar :p. Karena 1000 suara dari 2000 itu akan lebih condong ke T, maka harapan anda tinggal merebut sisanya. Setelah itu, berharap saja capres lain akan memecah suara dari seluruh massa mengambang. Yah, kalo semua skenario terjadi, minimal anda hanya akan KALAH TIPIS lah ... :p

    O iya, di ITB sebenernya ada satu komunitas yang bisa nandingin militansi komunitas T (kalau bisa dioptimalkan secara tepat), inisial dari komunitas tandingan itu adalah: L-S-S yang digabung dengan L-F-M :p (ketauan amat ya ngasih inisial kaya gini?)
    Perkaranya, untuk bisa gabung dengan komunitas ini, berarti akan lebih baik kalau anda adalah orang "S" (nama suku :p)

    ReplyDelete