Saturday, March 11, 2006

Lagi-Lagi Tentang Iqbal

Muhammad Iqbal, penyair legendaris Pakistan itu, selalu berhasil membuat saya melihat makna, memberi kesadaran, sekaligus semangat dan kegembiraan akan segala aktivitas yang sedang dan akan saya jalani. Tadi malam itu, setelah siangnya berseliweran kesana-kemari, mengobrol sana-sini, iseng-iseng saya baca lagi Iqbal yang Pesan dari Timur. Wah, memang bagus, dan sekali lagi mempesona.

Iskandar berkata dengan tepat kepada Khaidir,
”Menyelamlah ke dalam laut hidupmu yang bertopan
Dan kejarlah gelombang. Mengapa melihat dari pantai?
Menceburlah, matilah dan jadilah lebih hidup.”
(”Tulip dari Sinai”, no 33)

Dalam hikayat timur, Khaidir dipercaya sebagai wasir atau penasihat dari Iskandar Agung (Alexander the Great). Sajak ini mengingatkan saya: mengapa melihat dari pantai (saja) ? Mengapa tak turun ke gelanggang?

Mungkin karena saya lebih terobsesi jadi Khaidir daripada Iskandar.
Sebenarnya, saya mencari Iskandar yang benar.
Sayang, belum ada.

Lalu bait lain:
Seseorang yang tak pernah didera siksa rahasia
Mungkin punya tubuh, namun tak punya jiwa
Jika kauingin miliki jiwa, carilah
Hati membara yang tak sudi dirinya membeku

Atau:
Mengapa bertanya siapa aku dan dari mana?
Di laut ini aku ombak yang selalu mendebur
Menggerakkan diri dan karena itu aku hidup
Jika aku berhenti, akan berhenti pula menjadi

Masih banyak lagi untaian sajak Iqbal yang senada, mengajak bergerak, tidak diam, hidup dalam bahaya, mencari tantangan beragam. Ini pengingat yang baik untuk jiwa yang sedang malas...

Kemudian ini:

Kudengar suatu malam di perpustakaanku
Seekor ulat buku berkata pada laron, begini:
”Aku telah lama tinggal dalam buku tebal Ibn Sina
Dan banyak menghabiskan naskah al-Farabi
Namun aku tak memperoleh apa-apa
Tentang rahasia hidup,
Dan tetap dalam kegelapan
Seperti sebelum ini.”
Laron separuh terbakar memberi jawaban tulus:
”Kau tak akan mendapatkan rahasia hidup
Diterangkan dalam buku-buku.
Sekalipun begitu, ini kusampaikan:
Yang membuat hidup penuh kedahsyatan
Adalah keasyikan
Dipinjami sayap olehnya
Maka hidup pun terbang.”
(Ulat Buku dan Laron)

Hah..(menghela nafas). Keren. Rasanya saya merasa terlalu teoritis sekarang, dan malah berjarak dari kenyataan.

Maaf kalau banyak yang tak dimengerti. Saya hanya ingin, mungkin, bermonolog.
Sekedar memberi hiburan diri,
Meyakinkan diri,
Saya berada di jalan yang benar,
Minimal, sekarang ini.
Wallahu a’lam.
Akhirnya memang saya berkata: saya merasa benar (dan yakin)
Tapi, Allah lebih tahu.


NB: kayaknya kalo punya anak cowok gw mo ngasih namanya "Muhammad Iqbal Luqman Nurrahmat" (boleh gak nama keluarga 2 kata? ;P). Pasaran sih, tapi gpp lah...

2 comments:

  1. Oho..another penggemar Iqbal!!jadi inget Om gw luk, saking ngefansnya ma Iqbal, anak2nya emang dikasi nama yg berbau2 Iqbal gt.Spupu2 gw tu pada pake nama 'khudi', inspired by asraru khudinya iqbal.Nahwa rousyan khudi (menuju pencerahan diri) n Na-sumthin sumthin khudi (lupa gw,br lahir kmrn2 ini sih). Temen gw malah ada yg lebih parah lg,ngakunya pernah ktmu iqbal di mimpi,dapet wangsit pula,sebaris petuah yg sangat filosofis,pas bangun eeh dia msh inget kata2 itu.haha..mendingan juga mimpi ktm rasulullah.But sumhow that dream really changed his life in a very positive way...

    ReplyDelete
  2. Lucky,..Lucky..
    Td pagi iseng2 liat buku2nya bapakku, eh ternyata ada beberapa tentang Iqbal (biografinya, tulisannya, ada beberapa deh). Trus, mikir..
    OOhh..ini toh yang namanya Iqbal. Hehehe..
    jadi penasaran, kapan ya sempet baca..
    Hehehe..

    ReplyDelete