Tuesday, March 21, 2006

Burung-Burung Manyar & Pergeseran Kekuasaan

Saya baru saja selesai membaca novel roman indah karya Romo Mangun, Burung-Burung Manyar. Roman yang menceritakan Setadewa alias Teto dari zaman penjajahan Jepang hingga masa awal-awal Indonesia merdeka, sampai masa pembangunan. Bagian yang paling menarik adalah bagian III, bab 18, “Aula Hikmah”, saat Atik sedang menjalani sidang doktoralnya. Atik, kekasih lama dan sejati Teto (protagonista pria, anak Indo yang membela Belanda, membenci jepang, dan sebenarnya masih mencintai Indonesia) dalam sidangnya itu menjelaskan tentang burung manyar (dengan perubahan, biar lebih singkat):
…perilaku yang dramatis bahkan sering tragis dari manyar-manyar lelaki. Kalau mereka sudah akil-balik dan menanjak masa mereka berpasangan, mereka mulai membangun sarang, yang sangat rapi serta bercitra perlindungan yang meyakinkan. Manyar-manyar putri hanya melihat saja dengan enak-enak santai, tetapi penuh perhatian kepada kesibukan manyar-manyar lelaki.
Namun mulailah lakon mendramakan diri. Manyar-manyar betina itu menaksir hasil pembangunan para jantn itu, mempertimbangkan sejenak, dan memilih yang…berkenan di hati mereka. Berbahagialah yang dipilih. Alangkah sedihnya yang tak dipilih.

Apa yang dilakukan manyar lelaki yang sial sekali tak dipilih itu? Catat: mereka frustasi, mereka membongkar menghancurkan sarang yang tadi dibangun susah payah, hingga berkeping-keping di tanah. Dramatis dan tragis.

Setelah itu? Manyar-manyar lelaki selesai berputus asa, bangkit mengumpulkan alang-alang lagi, membangun sarang indah kembali dengan sebuah harapan yang bangkit hidup: semoga kali ini ada putri yang memilihnya…

Hehehe, dimanapun dalam level kehidupan manapun: women rules! Anda (dan saya), para lelaki, mengajukan diri, toh akhirnya yang berkuasa adalah tuan putri.

Tapi benarkah yang berkuasa hanya tuan putri saja? Saya membayangkan burung manyar lagi, saat manyar perempuan telah memilih sarang pejantannya. Kira-kira apa yang akan terjadi ya? Perkiraan saya (semoga ada ahli burung yang dapat mengkonfirmasi) seperti ini: Manyar lelaki akan merasa bahagia, sekaligus menerima kekuasaan dari manyar putri. Sekarang, ia yang berkuasa, karena ia yang membangun rumah perlindungan tempat dimana manyar putri mengharap perlindungan.

Kapan manyar putri berkuasa lagi? Saat mereka harus bertelur. Hanya manyar putri, yang secara tak sadar dan alamiah, menentukan bisa bertelur atau tidak. Itu kekuasaan alamiah dan tanpa sadar, yang ditentukan oleh ‘rahim’ si manyar putri.

Hubungan kekuasaan ini terus berlanjut, secara adil, saling mengisi, dan akhirnya…harmonis. Allah telah menciptakan alam ini dengan perhitungan, dengan adil.

Mungkin itu juga yang tersirat dalam fenomena ini: ketika pria dan wanita menikah, kebanyakan nama-nama yang menikah disebut dengan urutan nama mempelai wanita-nama mempelai pria. Kemarin tetangga saya ada yang menikah, dan di depan jalan rumah saya terpampang besar: Bella & Lucky, disertai janur kuning (Yang membuat seorang teman saya yang kebetulan lewat langsung SMS: luk, tadi saya lewat jalan Palem, ada tulisan Bella-Lucky, kamu nikah luk? Jawaban saya: I wish it was me…hehehe ;-p). Di kartu undangan pun urutannya: fulanah & fulan. Menjadi berbeda saat pasangan itu telah menikah. Putri yang menikah akan disebut sebagai nyonya putra. Mbak Bella dalam contoh saya tadi misalnya akan disebut Nyonya Lucky. Tanda pergeseran kekuasaan telah terjadi…

Namun, karena rumah (rumah tangga?) yang digunakan para putri tetaplah milik para jantan, maka “Ar-Rijaalu qawwamunna alan Nisaa”, laki-laki adalah qawwam perempuan. Qawwam bukanlah penguasa, apalagi tiran yang dapat berbuat seenaknya kepada para perempuan. Bukan pula sejenis pemimpin zalim. Ia adalah “yang menegakkan”, yang melindungi. Para pembuat dan pemilik sarang…

Wallahu a’lam bis shawaab.

7 comments:

  1. Hwuaaaa.....
    Akhirnya dapet juga bukunya Luck?
    Bagus ya bukunya..
    Hehehe..
    Kapan ya bisa baca..

    Hmm..Pernah denger ada yg bilang (tapi gak apal bgt):
    Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria..
    Bukan dari tengkorak. bukan dari tulang kaki (enggak banget..=p)
    Supaya bisa sejajar, tidak diinjak, tidak juga menginjak..
    Tulang rusuk itu deket ama hati&jantung..
    Jadi, supaya bisa saling melindungi dan saling menjaga..

    Hehehe..pake hati banget yak..

    ReplyDelete
  2. bukan saja wanita diciptakan untuk menjadi "teman" laki-laki,
    wanita juga manjadi sumber kedigdayaan laki-laki.

    makin kita mengenal wanita,
    makin kita tidak bisa mengendalikanya,
    justru laki-laki yang dikendalikan.

    wanita, makhluk yang mengendalikan tanpa sadar orang yang dikendalikanya


    trian-empunya buku

    ReplyDelete
  3. Donny7:52 PM

    Pernah denger tentang kisah Kerajaan Troy dan Kreta...? Saking keselnya perang terus...para wanita pada saat itu, sepakat untuk tidak melakukan hubungan seks dengan suami mereka...dan gara2 itu, jadi damai...heu heu heu...Itu kasus untuk wanita yang memiliki kekuasaan...

    Kalau untuk kasus lelaki yg memiliki kekuasaan...? Ya, sekarang ini...ketika jumlah lelaki kurang dari perempuan...itu menurut saya loh....

    ReplyDelete
  4. adit-bram2:06 AM

    kalo gitu yan, kalo ente nikah, yang ngendaliin sape bos...hehehe..biasanye kan ente paling bisa ngendaliin orang..jadi pengen liat mas trian kalo udeh nikah...hehheh..no offense bro.

    ReplyDelete
  5. pengandaian yang menarik,
    tapi, heran juga,makin kesini pengandaian itu makin tidak ideal ya?
    coba aja lihat berita2 selebritis;p

    ReplyDelete
  6. Menarik juga nih Luck...
    Kayaknya pembahasan ttg peralihan "kekuasaan" (baca:reposisi peran) yg berhubungan dgn gender, khususnya dlm rumah tangga kagak pernah ada abis2nya.
    Namun, sy percaya kalo harmonisasi itu akan terbentuk jika aturan/konsensus peran itu mengikuti sunnatullah, sesuatu yg udah digariskan.
    Kayak persepsi nt ttg cerita si burung manyar itu...
    wallahu a'lam

    ReplyDelete
  7. Oh Burung2 Manyar...cinta pertama gw ke Romo Mangun alm. Hehehe engga pernah kebayang kalo Burung2 Manyar bakal ditranslasikan ke pergeseran gender :) Tapi kreatif juga hehehehe...
    Anyway kalo terkesan sama buku Burung2 Manyar coba deh baca burung2 Rantau. Yang ini pas banget buat yg orang2 muda terutama mereka yg saat ini sedang di negeri orang. Bener2 bikin hati yg bolong2 terisi...

    salam
    dian

    ReplyDelete