Saturday, February 25, 2006

Yang final adalah relatif

Ini adalah era relativitas. Bukan, saya tidak membicarakan teori relativitas umum atau khusus dari Einstein, saya masih terlalu bodoh untuk mengerti. Saya hanya ingin membicarakan suatu hal yang rasanya menjadi semangat zaman ini, entah dinamakan zaman posmodernisme ataupun modernisme lanjut.

Porno atau tidak porno itu relatif. Benar atau salah itu relatif. Kafir atau beriman itu relatif. Baik atau buruk itu relatif. Lama atau sebentar itu relatif.
Bahkan, relatif atau tidak relatif itu relatif.

Lalu apa yang pasti? Adakah yang final? Dimanakah yang sejati?
Ya, relatif.

Yang final adalah relatif.

Pada kalimat di atas, saya tidak mengatakan ‘yang final’ itu ‘relatif’ (relatif menjelaskan yang final). Saya ingin mengatakan, bahwa akhirnya yang finalnya adalah ‘relatif’ itu. Yang serba relatif, akhirnya jadi suatu ‘kefinalan’ baru.

Ini aneh. Kata Lyotard, filsuf posmodern itu, zaman ini adalah zaman kematian Narasi Besar semacam ‘menuju classless society’, ‘terbentuknya khilafah Islam’, atau ‘membentuk masyarakat madani’. Zaman ini adalah zaman dimana narasi-narasi pinggiran patut diberi peran: kesediaan kita menyaksikan cowboy macho yang gay (terinspirasi resensi Brokeback Mountain), mendengarkan sejenis ‘kebenaran lain’ dari institusi agama resmi, juga komunitas dengan gaya berbeda dari umum. Ketika anda bisa memahaminya, maka serta merta anda adalah progresif, modern, liberal. Saat anda tak dapat bersepakat, anda adalah orang kolot, fundamentalis, fanatik dan intoleran.

Aneh lagi. Bukankah yang ‘serba relatif’ itu juga pada akhirnya menjadi Narasi Besar baru? Lalu, ketika saya tak mau sepakat dengan itu, segera pula saya distigmakan sebagai kolot, fanatis, fundamentalis dan intoleran? Lebih parah,saya disebut tidak liberal, tidak merdeka dari dogma. Bukankah, dengan keyakinan akan yang serba relatif yang anda yakini itu, seharusnya juga memberi ruang buat yang berbeda dari semangat zaman Anda? Jadi, hentikan juga teriakan-teriakan: tidak modern! Terbelenggu dogma! Tak membebaskan! Tentu saja anda tak mungkin menghentikan itu, karena ada sejenis keyakinan yang perlu anda suarakan. Kalau begitu, sama. Saya juga punya keyakinan yang perlu disuarakan.

Jadi, adakah relativitas itu? Pada akhirnya kan tidak ada. Yang serba relatif, serba banyak, dan serba lain itu juga pada akhirnya menjadi satu: keyakinan. Yang perlu disuarakan. Pada akhirnya, anda toh telah memilih suatu keyakinan: relatif.
Pilihan berbeda yang saya ambil, karena saya tak mau hidup tanpa kejelasan dalam dunia relatif. Seperti yang anda yakini, ya hargai juga pilihan lain seperti pilihan saya ini. Hentikan mengecap saya tidak toleran kalau menganggap yang saya yakini benar, dan yang lain tidak. Seperti yang sering anda bilang, pemikiran kok dihakimi! Berpendapat berbeda tak berarti tidak toleran, melainkan sebuah pilihan.

Jadi, tidak perlu gondok juga kalau saya memperjuangkan yang saya yakini, seperti saya juga yang bisa paham kalau anda tak akan puas kalau tak memperjuangkan yang anda yakini. Ya mari bertarung.

Namun saya memilih pertarungan yang beretika, seperti yang sering diajarkan kepada saya oleh suatu hal yang anda anggap dogma kosong atau keyakinan palsu.

Oke?
Saya sih oke-oke saja.

4 comments:

  1. jadi, relatif menjadi pledoi untuk tidak sama-sama bersepakat ki? ya..kalau tidak sepakat, minimla sepaham lah. atau ini hanya menjadi tumpahan kekesalan atas desakan "relativitas"?

    *jangan mudah "menjebakan" diri

    ReplyDelete
  2. Kebayang nggak kalau setiap sopir memandang Traffic Light secara relatif....?

    ReplyDelete
  3. duh filosofis banget sih aa lucky...
    lo ngomongin relatif aja pake literatur.. ITB banget sih lo....
    Relativitas itu relatif juga terhadap waktu lho

    ReplyDelete
  4. Anonymous10:34 AM

    gw g tw apa kita membicarakan hal yg sama, tp gw setuju ma statement trakhir lo luk!!

    ReplyDelete