Thursday, February 16, 2006

Lucky on Commenting

Pernah baca Stephen King? Bagaimana pendapat Anda?

Saya hampir tak pernah baca buku Stephen King. Pertama, karena saya lebih banyak membaca non-fiksi daripada fiksi. Kedua, karena buku-bukunya meskipun terjemahan harganya mahal. Ketiga, karena di tempat penyewaan buku di Cirebon dulu lebih banyak buku John Grisham, dan sedikit sekali buku Stephen King. Keempat, saya tak fanatik dengan kisah horor. Kelima, karena ia bukan Stephen Hawking, yang buku populernya a brief history of time (Riwayat Sang Kala, ‘l’-nya satu, bukan dua…) terasa lebih gaya kalau dibaca, meskipun gak ngarti (Anda tak dipandang intelek kalau membaca King, dibanding membaca Hawking)....

Baru satu buku novelnya yang saya baca: Insomnia. Kisahnya? Ya tentang orang yang insomnia. Tapi bukan sekedar insomnia, ada unsur thriller-nya juga kalo gak salah, dan orang-orang yang insomia itu entah kenapa selalu menjadi lebih muda dan melihat beragam warna di dunianya. Lumayan. Meskipun saat itu (saya baca waktu SMA), saya terpaksa membacanya karena males keluar kamar, yang lagi rame ama keluarga besar, lagi ngegosip…Terus, baru 6 tahun kemudian saya membaca buku King lagi, kali ini non-fiksi. On Writing. Yang ini, sangat bagus! (dan saya jadi tahu saya salah baca novel King kalau buat pengalaman pertama…King sendiri mengaku kurang suka novel Insomnia, “terlalu kaku”, katanya. Sial!).

Ia memberi resep jenius agar mampu menulis dengan baik:
“Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kau lakukan: banyak membaca dan menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini, dan tak ada jalan pintas”
Hehehe, itu sih semua juga tau…tapi susaaaahhhhh banget. King sendiri menghabiskan berjam-jam (lebih dari 3 jam tiap hari, bahkan di hari libur, untuk menulis. Belum lagi berjam-jam yang lebih banyak waktu membacanya). Yaa, wajar aja kalau saya sering dongkol dengan tulisan jelek saya sendiri. Saya menghabiskan berjam-jam buat ngerjain PLO dan tugas-tugas lainnya setiap minggu. Note: ini tulisan yang tercecer gara-gara lupa disimpan dimana waktu semester kemaren.

Sebenarnya sih, menurut saya, menulis itu personal, jadi tak pernah ada tulisan yang jelek (yang ada personality yang jelek???hehehe). Itu kan ungkapan diri, termasuk kegagalan pengungkapan diri (kalau kita tak bisa menulis lancar). Jadi, saran-saran tentang menulis juga sangat personal, dan tak bisa diilmiahkan dan ditetapkan dengan saklek. Namanya juga seni!

Namun, ada saran-saran bagus dari King buat kita yang mau buat novel atau cerita fiksi. Dulu, kalau saya mau buat fiksi, saya ingin semua terstruktur, ada tema, garis besar cerita, plot, tokoh dan penokohan, setelah semua jelas, baru dituangkan. Saya bukan orang yang rapi, tapi benci melihat tulisan yang tak terstruktur. Kata King, itu sih kalo kamu mo buat bangunan, bukan tulisan! Ia menganggap menulis fiksi itu situasional, di mulai dari ide atau suatu peristiwa dalam benak. Ia tak merencanakan tokoh-tokohnya, cukup menuliskan imajinasinya saja. Lalu, kisahnya berkembang biak, tokoh-tokohnya tercipta, dan jadilah cerita. Ia bahkan tak memikirkan plot, dan saat menulis, ia pun tak tahu akan bagaimana jadinya endingnya. Katanya, “kalau gw aja nggak tau gimana cerita ini mo berakhir, gimana bisa orang lain bakal tau??”. Hehehe, iya juga….saya terhenyak waktu baca ini. Menulis imajinatif-kreatif itu beda dengan menulis non-fiksi yang biasanya udah jelas tinggal menuangkan apa yang ada di kepala (atau yang tidak ada di kepala, saat kita tak mampu menulis).

Jadi, dari suatu ide, suatu situasi yang ia imajinasikan, ia mengembangkan ceritanya. Unplanned, mengalir, dan jujur. Dulu, saya menganggap penulis fiksi itu pembohong hebat. Tenyata, penulis fiksi yang baik selalu jujur, pada imajinasinya. Ia seolah tak melakukan apa-apa, tokoh-tokoh dan ceritanya yang melakukan sendiri. Ini seperti ada dunia lain dalam kepala kita, dan kita tinggal hanya mengamati lalu memindahkannya ke tulisan. Penulis fiksi sejati adalah reporter imajinasinya. Makanya jangan heran banyak penulis fiksi yang rada-rada gila…mungkin ia terjebak dalam dunia sendiri. Virginia Woolf, katanya, bisa lepas dari penyakit jiwanya sebentar saat ia sedang menulis. Ia berada di dunia yang berbeda saat menulis.

Saya pengen nyoba bikin fiksi, tapi gak pernah bisa…saya pernah bikin fiksi, dua cerita pendek yang saya sendiri malu membacanya lagi (apalagi menceritakannya di sini!). cerpen pertama lahir karena tugas bahasa indonesia, cerpen kedua lahir karena sedang mencinta...hehehe. Quoting Umberto Eco: setiap orang pernah jadi penyair, yaitu saat ia remaja dan mencinta...Dua-duanya jelek, terlalu kaku dan terstruktur.

Ya sudahlah...kalo King mengambil posisi sebagai pengajar di ”King on writing”, saya insya Allah mau istiqamah aja di posisi yang selalu sama: Lucky on commenting. Mengomentari dunia dan segala pernak-perniknya. Toh, itu juga sama menariknya.

Just keep commenting, all my friends!


1 comment:

  1. Yup! Setuju...tidak ada tulisan yang jelek sebetulnya.

    Saya pernah membicarakan tentang tulisan yang baik itu yang bagaimana dengan temen-temen Persma. Kalau saya lebih cenderung mengatakan, tidak ada tulisan yang jelek...itu kalau belum bicara isi. Tapi, kalau isinya bisa saja jelek. Artinya, setiap tulisan itu baik, minimal untuk individu yang menulisnya...nah, kalau bicara isi, menjadi relatif kan? Siapa saja memilikin penilaian sendiri...

    Bisa saja, tulisan saya ada yang mengatakan jelek, tapi tidak buat yang lain...

    Eh, asa ngaco kie ngasih komen teh....

    ReplyDelete