Saturday, January 14, 2006

ITB yang Merunduk

Jumat-Minggu kemaren gw nebeng temen-temen media dari ITB (Kominfo KM-ITB, Boulevard, Persma, Radio Kampus, Radio 8eh, G-TV, Lentera Gamais) studi banding ke Jogja. Kita ke Balairung UGM, Ekspresi UNY, Himmah UII. Gw sendiri mampir ke BEM KM-UGM, terus sempat ngobrol ama wakil ketua DPM (Dewan Perwakilan Mahasiswa) UII.

Sebenarnya studi banding ini lumayan kontroversial juga (buat yang tau). Bukan, bukan karena 5 jam diantara hari-harinya dihabiskan di Malioboro dan Parangtritis. Bukan juga karena studi banding ini juga disponsori dan disokong penuh oleh Pak Widyo Nugroho Sulasdi (”kegiatan ini sangat bagus. Kalian harus belajar bagaimana jurnalisme khas ITB. Jangan malu-maluin!”, kata pak Widyo di briefing awal). Bukan pula karena studi banding ini ditunggangi Kastrat Kabinet, Dept. Ekonomi, bahkan salah satu himpunan di ITB (hehehe...;-p). tapi karena yang laen deh...(edit version, 17 Januari 2006)


Namun sudahlah. Bukan itu yang ingin dibicarakan saat ini.

Kesimpulan saya (dan beberapa temen yang sempat ngobrol), media ITB (mungkin juga keseluruhan kemahasiswaannya?) harus banyak belajar pada mereka yang di Jogja. Kemaren itu banyak dari kita yang merunduk takzim sambil kagum, sekaligus sedih kalo melihat kondisi di ITB.

Balairung sih emang jelas kali ya...coba aja baca jurnalnya. Keren abis. Ngangkat satu tema, dan dikupas habis. Disertai riset, dan beragam pandangan teoritis dari berbagai aspeknya. Penulisnya mahasiswa-mahasiswa juga, kadang-kadang ahli nasional di bidangnya juga ikut nyumbang tulisan. Saya pertama baca dulu tentang ”sketsa kaum muda”, terus langsung beli. 12.000 saja (dulu), cetakan bagus, tulisan berkualitas, bisa jadi referensi. Dulu dijual di Tokema, tapi sekarang gak ada lagi.

Balairung lahir dari sebuah sekre sekaligus rumah sederhana di kompleks perumahan dosen UGM, beberapa ratus meter dari Masjid Kampus. Dari orang-orang yang seangkatan, kadang lebih muda atau lebih tua setahun dua tahun dari saya yang 2002. Tapi dengan kualitas yang jauh dari mahasiswa ITB.

Abis dari Balairung, gw ama beberapa temen gak ikut ke media Fisip UGM ama ke Ekspresi UNY, tapi ke BEM KM-UGM. Kita sempat diskusi beragam hal (tentang BHMN UGM dan ITB, sikap BEM ttg BHP, Agenda Gerakan BEM ke depannya, Pemilu Raya, struktur kemahasiswaan, dll). Presiden ama Menlunya anak 2001, Kastrat-nya anak 2003, menteri aksi dan propagandanya anak 2003. Tapi keliatan banget (selain kesan ”tua”...) matang. Sangat matang, hasil dari kaderisasi (sosial-politik) yang bagus dari Partai Bunderan, partai yang sekarang berkuasa di BEM. Beda jauh ama anak-anak ITB yang culun-culun, polos, naif, bodoh, tapi sok tau, sok pinter, dan belagu...Gw sering ngobrol ama anak-anak ITB yang katanya aktivis, dari banyak elemen. Kayaknya dari pengamatan sekilas they are better deh...

BEM KM-UGM memang sebuah Gerakan. Agendanya ya agenda sosial politik, gak ngurusin yang laen (yang laen ya diurus ama unit atau organisasi lain). Advokasi dlm rangka gerakan juga, misalnya advokasi yang ga bisa masuk UGM karena kurang duit. Media yang ada ya buat propaganda isu. Ada danus, sekaligus bendahara, dlm rangka mengelola keuangan buat mendukung gerakannya. Beda ama ITB, yang porsi kayak gitunya sekarang hanya di-handle ama sospol atau pendkesma n PM aja. Jadinya fokus. Yang gabung emang yang udah ngerti dan siap. Bagaimana proses pendidikan sosial-politiknya? Itu udah (hampir) selesai sebelum mereka masuk ke struktur BEM. Ga berarti juga yang di ITB jelek. Hanya beda saja.

Mahasiswanya juga relatif masih bergairah buat yang gitu-gituan. Emang ada penurunan jumlah, tapi tiap tahun organ-organ ekstra kampus atau pun representasinya di dalam (dalam bentuk partai) tidak kekurangan kader. Dalam ekskam itu, atau di partai itu lah proses kaderisasi yang kata Freire menumbuhkan ’kesadaran kritis’ dijalankan. Jelas ideologis, mendalam, dan sangat mewarnai pesertanya. So, yang aktif di BEM pusat atau fakultas juga rasanya bener-bener ngerti, dan tak jadi ’aktivisme’ kayak anak OSIS.

Coba bandingin dengan ITB, dengan KM-ITB. Organisasi apa yang secara sadar menumbuhkan kesadaran kritis? Hampir ga ada. Ekskam ga rame, lembaga kajian sepi. Yang ada di sospol jadinya punya tugas ganda untuk mengkader yang masuk. Kaderisasi yang dulu rame, di himpunan, mengajarkan fanatisme organisasi saja. Tanpa esensi, selain melestarikan perpecahan. Dan gawatnya, itu diseriuskan...kayak saya ini, atau yang mirip-mirip. Dulu, anak tingkat 1 sibuk di-os. Tingkat 2 sibuk nge-os. Tingkat 3 udah males, kalo masih mau pun bisa aja masih nge-os. Tingkat 4 ya udah mau lulus. Diskusi apa yang terjadi dalam proses itu? Diskusi teori kaderisasi atau teori pendidikan pun jarang. Yang ada ngurusin gimana jadi danlap yang bener, tadis yang suaranya kenceng. Semua di permukaan, semua tentang performance. D***! Sial, gw nyesel juga. Rasanya akan lebih baik kalo gw ngehabisin 3 tahun buat baca dan diskusi aja, dengan kadang-kadang aktif.

Darimana mahasiswa ITB bisa sadar secara kritis, sadar ada sistem dan pelaku sosial-politik yang tidak adil dan menindas rakyat? Ya dari pembelajaran pribadi akhirnya. Atau dari komunitas lain yang tak terstruktur. Dari perbincangan informal. By accident, bukan by design. Sementara Bandung hanya 2 jam dari Jakarta, mahasiswanya dari kota-kota besar, yang budaya urban itu menjadi biasa.

Jangan heran kalo sejak Dema dibubarkan (dulu, kaderisasi sospol-nya relatif bisa ditangani Dema) pada 1978, gak ada lagi gerakan yang fenomenal (kecuali 1989, tapi gak gede-gede amat juga). Di 98 itb cuma ngikut. Apalagi sekarang-sekarang. Ngeharapin mahasiswa ITB bergerak? You wish! Dengan WRM yang kayak sekarang aja, dan beragam ’paksaan perubahan’ juga masih adem-ayem aja.

Siapa yang paling berdosa? Sorry, but I must say: himpunan. Yang sebenarnya punya kesempatan mendidik tak hanya chauvinisme organisasi, tapi tak pernah dilakukan. Tentu saja yang nulis ini juga ikut berdosa besar.

Lalu dimana keunggulan ITB? Sainteks-nya? Hehehe, gw cuma senyum-senyum sepet kalo denger ini. Lihat ITS, deh. Coba bandingin.

Sayang, padahal ITB punya potensi: input mahasiswa yg dari SPMB bisa dibilang yang terbaik, sejarah kemahasiswaan, nama besar, dan publisitas media. Potensi yang malah menjadi resultan gaya negatif karena sistem di dalamnya yang tak mampu mengelola potensi itu. Maka jadilah kita seperti yang selalu kita keluhkan: apatis, pragmatis, kadang oportunis. Apalagi dengan kondisi akademis dan ambisi rektorat yang kayak sekarang. Saya khawatir tidak akan ada alumni ITB di sektor-sektor sosial-publik nantinya. Kalo ada pun nggak kompeten. Tidak ada lagi yang kayak Adi Sasono atau Rizal Ramli, misalnya. Yang ada kayak Ical semua....Jadi pengusaha gede, anak buah korporasi, tapi jauh dari masyarakatnya. Bukan, bukan salah mereka tak peduli. Ini salah kita semua yang gagal ’memberi’ pengetahuan terbaik saat mereka di kampus.

Sampai dengan getir gw ama seorang temen berkesimpulan: nanti serahin aja kursi kepemimpinan publik ke UGM atau UI, atau malah....Akmil. Kita jadi pengusaha aja. Jadi technopreneur aja! Kali aja emang disitu peran kita.Hanya tetap ada satu hal yang minimal harus ada: kesadaran kritis. Bentuk aksi sih bisa beragam.

Sayang, yang itu pun rasanya sulit.

Di UII juga menarik. UII tuh rasanya yang bener-bener jadi student government, bahkan dana kemahasiswaan (setengah miliar per 3 bulan) ditangani sendiri oleh lembaga perwakilan mahasiswa (DPM). Konflik dan dinamisasinya pun masih terasa...

Terus, kalo yang medianya...ah, gak enak kalo ditulis disini. Rasanya temen-temen media bisa banyak belajar kemaren itu.

Pesimis? Tidak. Sekarang ini, dengan beragam perubahan yang dicanangkan, kayaknya jadi critical path-nya. Apakah kita mau menjadi ’modern’ a la rektorat yang mengacu ke Stanford dan MIT (termasuk kemahasiswaannya), atau mau gimana? Ini kesempatan kita meredefinisi ulang tentang apa yang kita inginkan terhadap ITB versi mahasiswa.Termasuk kemahasiswaannya. Kita melakukan kesalahan saat ini, maka efeknya terus-menerus mengalir. Bukan, bukan hanya kepada generasi atau angkatan di bawah kita. Mungkin juga buat bangsa ini, di maasa depan. Siapa tahu?

Who control the present now, control the future! (RATM)

Wallahu a’lam bis shawaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui

10 comments:

  1. Gw. juga udah denger ceritanya dari fajar. He..he..he.. jangan setakjub seperti itu ki. biasa aja..

    ReplyDelete
  2. biasa aja si...nggak takjub juga, cuma sekedar membandingkan. kata orang jawa kan: ojo kagetan...hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ojo gumunan...*jangan terlalu keheranan

      Delete
    2. Ojo gumunan...*jangan terlalu keheranan

      Delete
  3. jogja..pembuktian kesadaran kritis dan rekonstruktif akan paradigma klaim validitas universal yang didesakkan, tanpa reflektif dan kontekstualisasi dalam ranah praksis yang indigenisatif..

    ReplyDelete
  4. Wah si Trian ama igun yang asli wong Jogja jadi agak tersanjung nih...
    Beda ki emang..Di sana gerakan mahasiswa itu ideologis dan bernuansa gerakan. kalo di ITB bernuanas OSIS........
    GUE TANTANG LO BIKIN PERUBAHAN YANG GAGAL GUE LAKUKAN

    ReplyDelete
  5. anak-anak ITB yang culun-culun, polos, naif, bodoh, tapi sok tau, sok pinter, dan belagu...

    waduduh, kok gw dibawa-bawa sih...
    =D

    ReplyDelete
  6. Si gua bukan anak ITB, tapi si gua juga pernah study banding ke balairung UGM dan Ekonomika UII...dan kami...merunduk!!

    Btw, 5 tahun terakhir ini, si gua juga pernah mempertanyakan "pada kemana atuh anak-anak ITB teh...?", di dalam kota Bandung pun kok kayak gak pernah terdengar gaungnya??...sepertinya asyik banget dengan dunia ITB nya...

    well, cuma pengen numpang comment aja...salam kenal

    ReplyDelete
  7. lucky8:47 PM

    waduh, mas donny...
    iya, jadi malu.ga enak juga udah ngebuka aib anak2 itb...tapi memang begitulah. kayaknya itb sedang menyambut 'zaman baru'-nya, dan hal2 yg kayak tadi itu old fashioned, ga zaman lagi...mungkin.
    Salam kenal juga.

    ReplyDelete
  8. Anonymous6:18 AM

    numpang comment..semuanya pasti punya kelebihan dan kekurangnnya:)..Dan akhirnya kita harus belajar dari guru kehidupan, belajar dari siapapun untuk menjadi pemimpin besar dinegeri ini yang akan membawa harum bumi pertiwi:)I(mhs angkatan '07 Politik Pemerintahan UGM)

    ReplyDelete