“Life must be understood backward, but it must be lived forward”
(Soren Kierkegaard, Filsuf eksistensialis-theistik)
Sekedar menengok ke belakang.
Saya inget tahun 2005 ini sempat membakar salah satu jurnal saya. Ga tau kenapa. Mungkin karena bete itu jurnal hampir semua isinya sampah. Jadi, dibakar aja. Nyesel juga, jadi gak bisa ngeliat apa yang dialami diri sepanjang tahun ini. Dan waktu saya ngebakar itu juga lupa bahwa itu jurnal bukan hanya tahun 2005, tapi dari tahun 2003. Lenyaplah sudah sebagian catatan hidup...
Tapi alhamdulillah ada satu lagi buku catatan, yang memang sejak awal saya niatkan tak akan menjadi catatan sampah. Khusus mencatat terutama apa yang saya pikirkan. Kebetulan, dimulainya juga pada 2 Januari 2005. Saya jadi punya alat untuk melihat ke belakang.
Catatan itu dimulai dengan tulisan tentang Nietszche. Rasanya saat itu titik puncak diracunin filsuf eksistensialis, dan saya bersyukur sampai sekarang masih punya iman. ”dunia ini nihil, yang ada hanya interpretasi-interpretasi. Lalu, interpretasi-interpretasi akan apapun itu saling bersaing dan berkontestasi dalam meraih kuasa, dalam pengertian luas/Foucaultian. Yang menang, lalu jadi ”kebenaran”, yang artinya seluruh kebenaran adalah human-constuct. Puncaknya pas baca Nietszche ini. Hidup hanyalah dirimu, tiada yang lain, karenanya bertanggungjawablah!
Itu di Januari. Sementara Februari adalah bulan beragam pelatihan dan upgrading. Dari yang ga jelas ampe yang jelas. Itu juga bulan pas saya ikut DAT, dan ’ngeh’ tentang yang biasa disebut ’aktivis’ ITB. Ternyata mengagetkan.
Sepanjang itu juga pas PPAB MTI,osjur-nya himpunan saya. Selesainya 20 Maret. Alhamdulillah, selesai juga. Abis selesai, pas bikin buku laporan, saya sempet ditanya ama seorang sekretaris panitia, yang kayaknya kasihan juga ama saya ini.
”Luk, lo nyesel gak sih jadi ketua?”
”Nggak”, dijawab tegas, dan (sok) heroik.
Tapi pas udah lama....sial, nyesel euy. Parah. Waktu itu saya bener-bener ga serius, males-malesan, ga niat. Asli deh. Tanggung juga bikin konsepnya. Belum selesai, dan jadinya ga jelas. Seharusnya gw berani sejak awal merombak sistem yang mapan itu. Harusnya gw ajuin aja lanjutan dari konsep kemaren. Harusnya gw ga usah kompromi di tengah-tengah. Nasib orang kok dikompromiin. Di awal sih mending, pas di akhir itu yang parah...
I’m sorry. Menyesal, sekaligus minta maaf.
Maret, April itu masa evaluasi PPAB, dan alhamdulillah di akhir evaluasi sempat mengalami forum yang sampai sekarang saya anggap yang terbaik yang pernah ada di MTI. Forum evaluasi PPAB. Yang malem, bukan yang siang. Ga terjebak jadi mengadili saya, yang ketua ini. Tapi keseluruhan panitia. Banyak pelajaran juga, yang rasanya gak pernah dijalankan, padahal klise banget. Manusia memang mudah berbicara...
April,Mei, awal Juni ...berlalu tanpa catatan berarti di catatan saya. Rasanya itu momen konsolidasi. Momen berjuang lagi melawan sisi gelap diri. O iya, bulan Mei juga mulai nge-blog. Asyik juga. Memberi kesempatan diri untuk lebih sehat secara psikologis dengan curhat kepada dunia.
Juni udah mulai lagi persiapan OSKM. Ini bulan paling stress...tugas, UAS, terus nyiapin buat OSKM...alhamdulillah, dengan pertolongan teman, gw sangat bersyukur bisa kuliah kerja bareng TI-2002. Ga harus ngurusin OS mulu...
Juni, Juli, Agustus. OSKM. Kali ini agak serius...Lumayan juga, banyak pelajaran di dapat. Banyak kata-kata bijak yang dari dulu saya dengar terbukti di sini, dan baru saya sadari. Kenalan dengan Pak Djoko, Pak Widyo, Pak Jaji, Bu Ciptati (Bu, sampe sekarang flash disk saya yang dipinjem ibu belum dibalikin lho...Saya jadi kudu beli lagi deh...:-( . Ngeliat dari dekat kemahasiswaan ITB yang mulai megap-megap. Ngeliat para ’intelektual-ilmuwan’ yang lebih mirip politisi...
Menurut saya sih lumayan berhasil juga. Dengan beragam keterbatasan dan represifnya rektorat, masih bisa ngelaksanain OSKM meski dengan beberapa adjustment. Kalo ngeliat kondisi kaderisasi ITB sekarang, saya khawatir rasanya kemaren itu OSKM dan ”OS” terakhir.
September, lagi-lagi bulan konsolidasi dan perjuangan melawan diri. Saat tak ada yang perlu ditaklukkan, yang tersisa hanyalah diri untuk dilawan.
Oktober, November, Desember: mulai di Kabinet KM-ITB. Status: orang ’proyekan’, mengutip seorang teman. Tadinya di ”Tim Analisis & Penyikapan” (TAP) RUU BHP.
Terus ganti nama jadi Kajian Strategis. Kerjaannya? Ngurusin BHP dan pendidikan, tetapi sejatinya sih freelancer. BHP & pendidikan diurus, terus ngebahas juga implikasi restrukturisasi ITB & perumusan sikap kabinet terhadap ART-ITB (Tolak, jelas dong...). Diajakin bahas materi DAT juga.
Asyik juga. Kerjaannya baca dan bacot, terus dikit nulis kalo perlu. Lebih banyak ngegosip. Ideal banget deh!Hehehe...rame, lebih kenal dengan dunia mahasiswa yang nyerempet-nyerempet politik (praktis). Lebih tau tentang beragam kebusukan dan potensi kebusukan mahasiswa-mahasiswa kita...Yang makin meyakinkan saya untuk mengambil posisi di belakang, selama diri ini belum kuat.
Itulah 2005. Tahun menarik.
That’s all folks...
Selamat Tinggal, 2005.
Selamat Datang, 2006!
Saturday, December 31, 2005
Monday, December 26, 2005
Pionir Bangsa: dari kiri & kanan, dibajak di tengah
catatan: pengkategorian 'kiri' dan 'kanan' disini sebagaimana yang biasa digunakan di Indonesia, terutama pada masa Orba. Bukan apa-apa, biar gampang plus 'simetris' aja...
Saya lagi baca bukunya Yudi Latif, intelegensia muslim dan kuasa. Terus, lagi intens juga baca sejarah komunisme awal di Indonesia. Saya lagi bandingin dengan pelajaran sejarah ‘resmi’ yang saya dapet dari jaman SD. Ini sedikit refleksinya.
Kalaulah boleh saya berterimakasih atas kemerdekaan dan pembentukan bangsa ini, saya ingin berterimakasih pada dua manusia: Muhammad Abduh dan....Karl Marx. Radikalisme, gelombang perlawanan sistematis dengan rasa “Indonesia” diinspirasi oleh keduanya.
Mari kita lihat dari kanan. Agus Salim, Hadji Rasul, Ahmad Dachlan (pendiri Muhammadiyyah), termasuk juga Hasyim Asy’ari (pendiri NU), pernah belajar ke Makkah sana, berinteraksi dengan ulama-ulama jawah disana, meneruskan tradisi orang-orang melayu yang belajar disana (sebelumnya, ada Achmad Khatib, Imam Nawawi al Bantani, Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai orang melayu yang sangat terpandang di Haramain). Beberapa dari mereka juga sempat ke Mesir, dan berkenalan dengan pemikiran Abduh (waktu itu rektor Al-Azhar). Pulang dari Mekkah, para guru kita tersebut mendirikan beragam organisasi dan gerakan, dan akhirnya merintis tradisi panjang intelegensia muslim Indonesia di abad ke-20.
Muhammad Abduh, merupakan tokoh penting reformis-modernis Islam, murid langsung dari Jamaluddin al-Afghani, bapak gerakan revivalisme Islam. Kelak, murid Abduh, Rasyid Ridha, membuat majalah al-Manar, dan konsep-konsep al-Afghani, Abduh, Rasyid Ridha ’diterjemahkan’ dengan baik oleh Hassan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin. Untuk Indonesia, pemikirannya mempengaruhi Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, Kahar Muzakkar, Ahmad Dahlan, termasuk juga ’antitesis’ gerakan reformasinya, Hasyim Asyari dan putranya, Wahid Hasyim. Saat itu, Sarekat Dagang Islam telah didirikan oleh Tirtoadisuryo, untuk kemudian berubah jadi Sarekat Islam yang dipimpin oleh Tjokroaminoto. Di SI inilah awal mula semangat ’melawan terhadap penjajahan sebagai suatu bangsa’ muncul.
Kita lihat dari kiri. Seperti dicatat oleh Marx & Engels, ”Eropa dihantui oleh hantu baru, hantu itu bernama Komunisme” (Communist Manifesto). Tak terkecuali juga di Belanda. Sneevliet, kader muda bersemangat partai sosialis demokrat Belanda tahun 1921 tiba di Jawa, lalu dengan beberapa kawannya, termasuk juga beberapa pribumi kader awalnya (Semaoen, Alimin, Darsono, dll) mendirikan ISDV (Indische Social Democratie Vereniging), Partai Sosial Demokrat Hindia. Diilhami oleh Marx, bahwa ”kolonialisme adalah anak dari kapitalisme”, karenanya harus dilawan, gerakan-gerakan kiri melawan pemerintah kolonial juga diinisiasi. Salah satu strategi dari Blok Komunis ini ialah strategi Blok Dalam, melakukan penyusupan ke berbagai organisasi, termasuk juga SI yang pada awalnya belum memiliki disiplin organisasi yang ketat. Maka perang ideologis Komunis-Islam pun dimulai di SI, antara SI Merah dan SI Putih. Sampai akhirnya SI Merah ini keluar, lalu menjadi Sarekat Ra’yat, terus jadi Partai Komunis Indonesia.
Yang perlu dicatat adalah ini: sebelum SI, tak pernah ada gerakan perlawanan radikal dan terang-terangan terhadap pemerintah kolonial. Organisasi yang ada, meskipun mungkin ada ‘rasa’ Indonesia-nya (seperti Perhimpunan Indonesia, Boedi Utomo), belum menemukan ide ‘melawan’ ini. PI hanya merumuskan tentang konsepsi awal ke-Indonesia-an saja, sementara Boedi Utomo tak lebih dari kumpulan borjuis priyayi Jawa yang melestarikan kepentingan kelasnya (yang akhirnya juga tak disepakati oleh sebagian anggotanya). Tanpa SI, tanpa pengaruh pemikiran Abduh dan Marx (lewat Sneevliet), gelombang perlawanan menuju kemerdekaan Indonesia mungkin baru lama akan dimulai (atau malah tak dimulai sama sekali!).
Kemudian apa yang terjadi? Saat gelombang perlawanan itu mengemuka di publik, baru datang kelompok ‘tengah’ ini, kelompok nasionalis-sekuler. Perjuangan mereka, yang banyak, bersemangat, dan yang lebih penting (dengan bahasa anak sekarang) lebih keliatan keren dan gaya di mata rakyat kebanyakan, sehingga menghadirkan banyak sekali simpati massa. Gimana gak keren? Soekarno, yang anak ITB, membacakan pledoi Indonesia Menggugat-nya di muka pengadilan kolonial, dengan setelan putih-rapi, dan ratusan massa rakyat menungguinya di luar. Sementara aktivis PKI dibuang dan kena Malaria di Digul, Agus Salim serta Tjokroaminoto berjuang dalam sepi, Soekarno dan kawan-kawan mendapat publisitas dan simpati yang sangat besar. Rakyat menempatkan icon perjuangannya pada diri Soekarno, dan sedikit melupakan pionirnya.
Keadaan terpinggirkan ini terus melanda...mungkin hingga sekarang. Yang ada di margin kiri dihajar lagi pada 1948, untuk kemudian dihabisi tahun 1965. Yang setia di margin kanan ‘kalah’ diplomasi pada 1945, dan terus dibiarkan di pinggir oleh Soeharto. “Kiri” dan “Kanan” memang selalu jadi yang dipinggirkan!
Peminggiran ini juga berlangsung lewat pelajaran sejarah resmi lewat sekolah-sekolah formal. Semaun, Muso, Alimin (dari pinggir kiri) dan Kartosuwiryo, Kahar Muzakkar, juga Amir Syarifuddin selalu dianggap penjahat dalam sejarah sekolahan. Awas bahaya laten PKI! Awas bahaya Islam ekstrem! Coba tanya anak SD, kenal kah ia dengan Tan Malaka? Tanya, seberapa kenal ia dengan HOS Tjokroaminoto dibandingkan dengan Sutomo, misalnya? Padahal apa sih yang dilakukan Sutomo?
Kalau para pionir aja dikhianati, bagaimana mereka gak mengkhianati bangsanya semua nanti? Lihat saja representasi Nasionalis-sekuler ini sekarang di pemerintahan sekarang. (Waduh, gw kok jadi gak berani nyebut langsung ya? ; p). Tanpa ideologi dan keberpihakan yang jelas, jadinya ya oportunis. Sementara yang di Kiri dan Kanan masih terpinggirkan sampai sekarang.
Rasanya, yang di pinggir ini juga perlu semacam tokoh yang ekstra-kharismatis, selain landasan ideologis yang sudah ada. Sayang, sampai sekarang kok nggak ada ya?
Kadang-kadang ‘gaya’ itu emang perlu....hehehe. Apalagi jaman sekarang!
Wallahu a’lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui
Saya lagi baca bukunya Yudi Latif, intelegensia muslim dan kuasa. Terus, lagi intens juga baca sejarah komunisme awal di Indonesia. Saya lagi bandingin dengan pelajaran sejarah ‘resmi’ yang saya dapet dari jaman SD. Ini sedikit refleksinya.
Kalaulah boleh saya berterimakasih atas kemerdekaan dan pembentukan bangsa ini, saya ingin berterimakasih pada dua manusia: Muhammad Abduh dan....Karl Marx. Radikalisme, gelombang perlawanan sistematis dengan rasa “Indonesia” diinspirasi oleh keduanya.
Mari kita lihat dari kanan. Agus Salim, Hadji Rasul, Ahmad Dachlan (pendiri Muhammadiyyah), termasuk juga Hasyim Asy’ari (pendiri NU), pernah belajar ke Makkah sana, berinteraksi dengan ulama-ulama jawah disana, meneruskan tradisi orang-orang melayu yang belajar disana (sebelumnya, ada Achmad Khatib, Imam Nawawi al Bantani, Muhammad Arsyad al-Banjari sebagai orang melayu yang sangat terpandang di Haramain). Beberapa dari mereka juga sempat ke Mesir, dan berkenalan dengan pemikiran Abduh (waktu itu rektor Al-Azhar). Pulang dari Mekkah, para guru kita tersebut mendirikan beragam organisasi dan gerakan, dan akhirnya merintis tradisi panjang intelegensia muslim Indonesia di abad ke-20.
Muhammad Abduh, merupakan tokoh penting reformis-modernis Islam, murid langsung dari Jamaluddin al-Afghani, bapak gerakan revivalisme Islam. Kelak, murid Abduh, Rasyid Ridha, membuat majalah al-Manar, dan konsep-konsep al-Afghani, Abduh, Rasyid Ridha ’diterjemahkan’ dengan baik oleh Hassan al-Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin. Untuk Indonesia, pemikirannya mempengaruhi Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, Kahar Muzakkar, Ahmad Dahlan, termasuk juga ’antitesis’ gerakan reformasinya, Hasyim Asyari dan putranya, Wahid Hasyim. Saat itu, Sarekat Dagang Islam telah didirikan oleh Tirtoadisuryo, untuk kemudian berubah jadi Sarekat Islam yang dipimpin oleh Tjokroaminoto. Di SI inilah awal mula semangat ’melawan terhadap penjajahan sebagai suatu bangsa’ muncul.
Kita lihat dari kiri. Seperti dicatat oleh Marx & Engels, ”Eropa dihantui oleh hantu baru, hantu itu bernama Komunisme” (Communist Manifesto). Tak terkecuali juga di Belanda. Sneevliet, kader muda bersemangat partai sosialis demokrat Belanda tahun 1921 tiba di Jawa, lalu dengan beberapa kawannya, termasuk juga beberapa pribumi kader awalnya (Semaoen, Alimin, Darsono, dll) mendirikan ISDV (Indische Social Democratie Vereniging), Partai Sosial Demokrat Hindia. Diilhami oleh Marx, bahwa ”kolonialisme adalah anak dari kapitalisme”, karenanya harus dilawan, gerakan-gerakan kiri melawan pemerintah kolonial juga diinisiasi. Salah satu strategi dari Blok Komunis ini ialah strategi Blok Dalam, melakukan penyusupan ke berbagai organisasi, termasuk juga SI yang pada awalnya belum memiliki disiplin organisasi yang ketat. Maka perang ideologis Komunis-Islam pun dimulai di SI, antara SI Merah dan SI Putih. Sampai akhirnya SI Merah ini keluar, lalu menjadi Sarekat Ra’yat, terus jadi Partai Komunis Indonesia.
Yang perlu dicatat adalah ini: sebelum SI, tak pernah ada gerakan perlawanan radikal dan terang-terangan terhadap pemerintah kolonial. Organisasi yang ada, meskipun mungkin ada ‘rasa’ Indonesia-nya (seperti Perhimpunan Indonesia, Boedi Utomo), belum menemukan ide ‘melawan’ ini. PI hanya merumuskan tentang konsepsi awal ke-Indonesia-an saja, sementara Boedi Utomo tak lebih dari kumpulan borjuis priyayi Jawa yang melestarikan kepentingan kelasnya (yang akhirnya juga tak disepakati oleh sebagian anggotanya). Tanpa SI, tanpa pengaruh pemikiran Abduh dan Marx (lewat Sneevliet), gelombang perlawanan menuju kemerdekaan Indonesia mungkin baru lama akan dimulai (atau malah tak dimulai sama sekali!).
Kemudian apa yang terjadi? Saat gelombang perlawanan itu mengemuka di publik, baru datang kelompok ‘tengah’ ini, kelompok nasionalis-sekuler. Perjuangan mereka, yang banyak, bersemangat, dan yang lebih penting (dengan bahasa anak sekarang) lebih keliatan keren dan gaya di mata rakyat kebanyakan, sehingga menghadirkan banyak sekali simpati massa. Gimana gak keren? Soekarno, yang anak ITB, membacakan pledoi Indonesia Menggugat-nya di muka pengadilan kolonial, dengan setelan putih-rapi, dan ratusan massa rakyat menungguinya di luar. Sementara aktivis PKI dibuang dan kena Malaria di Digul, Agus Salim serta Tjokroaminoto berjuang dalam sepi, Soekarno dan kawan-kawan mendapat publisitas dan simpati yang sangat besar. Rakyat menempatkan icon perjuangannya pada diri Soekarno, dan sedikit melupakan pionirnya.
Keadaan terpinggirkan ini terus melanda...mungkin hingga sekarang. Yang ada di margin kiri dihajar lagi pada 1948, untuk kemudian dihabisi tahun 1965. Yang setia di margin kanan ‘kalah’ diplomasi pada 1945, dan terus dibiarkan di pinggir oleh Soeharto. “Kiri” dan “Kanan” memang selalu jadi yang dipinggirkan!
Peminggiran ini juga berlangsung lewat pelajaran sejarah resmi lewat sekolah-sekolah formal. Semaun, Muso, Alimin (dari pinggir kiri) dan Kartosuwiryo, Kahar Muzakkar, juga Amir Syarifuddin selalu dianggap penjahat dalam sejarah sekolahan. Awas bahaya laten PKI! Awas bahaya Islam ekstrem! Coba tanya anak SD, kenal kah ia dengan Tan Malaka? Tanya, seberapa kenal ia dengan HOS Tjokroaminoto dibandingkan dengan Sutomo, misalnya? Padahal apa sih yang dilakukan Sutomo?
Kalau para pionir aja dikhianati, bagaimana mereka gak mengkhianati bangsanya semua nanti? Lihat saja representasi Nasionalis-sekuler ini sekarang di pemerintahan sekarang. (Waduh, gw kok jadi gak berani nyebut langsung ya? ; p). Tanpa ideologi dan keberpihakan yang jelas, jadinya ya oportunis. Sementara yang di Kiri dan Kanan masih terpinggirkan sampai sekarang.
Rasanya, yang di pinggir ini juga perlu semacam tokoh yang ekstra-kharismatis, selain landasan ideologis yang sudah ada. Sayang, sampai sekarang kok nggak ada ya?
Kadang-kadang ‘gaya’ itu emang perlu....hehehe. Apalagi jaman sekarang!
Wallahu a’lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui
Friday, December 23, 2005
Perlakukan sebagaimana perempuan!!
Diinspirasi dari tulisan di "kronika", buletin Jum'at Salman hari ini.
How do you define a woman?
Pasti cliche deh. Ngomongin beginian juga bosen, terjebak ke pengulangan tema. Ga pa-pa lah. Minimal, ini yang saya rasakan. Perubahan paradigmanya.
Ngomongin gender, apalagi ama yang beda 'aliran', hampir pasti jadi debat kusir. Gimana nggak? Dari mana asal mulanya (epistemologi?), apa sebenarnya asumsi (postulat?) awal yang melatarbelakanginya aja beda. Kok mau disamain, dan malah nge-klaim lagi. Repot.
Maka inilah pandangan subyektif. Dan saya hargai pendapat yang berbeda.
Dulu, saya berpendapat gak macem-macem tentang ini. Kok diributin sih? kan sama-sama manusia. Ya perlakukan saja sebagaimana manusia! gak usah diributin.
Hasilnya adalah mispersepsi. Yang saya anggap baik ternyata ditafsirkan berbeda. Yang saya anggap manusiawi malah dibilang kejam. Maunya efektif dan 'mencoba mengerti', eh malah bikin nangis. Berkali-kali lagi...
Sial!
Itu akibat paradigma 'perlakukan sebagaimana manusia'. Tidak, bukan berarti saya serukan perlakukan sebagaimana bukan manusia atau subhuman, tapi lebih jauh, lebih spesial. Perlakukan sebagaimana manusia yang perempuan. 'kata sifat' yang mengikuti di belakang 'manusia' malah yang penting. Penghormatan kepada perempuan tak bisa ditunjukkan dengan sekedar memperlakukannya sama, sebagaimana manusia. kalo cuma begitu, itu penghinaan buat perempuan, mungkin juga penghinaan buat Pencipta para perempuan.
Perlakukan sebagaimana perempuan! Yang manusia, yang istimewa, yang pantas dicintai, yang berbeda...Jangan pernah melecehkan, sebagai manusia, dan lebih jauh, sebagai perempuan...
Astagfirullah. Mo minta maaf sama semua perempuan yang pernah saya kenal, mungkin selama ini saya ini lelaki dogol yang berpikiran sempit. Manusiawi saja ternyata tak cukup.
Maaf ya, terutama sama mamah....
Selamat Hari Ibu!
How do you define a woman?
Pasti cliche deh. Ngomongin beginian juga bosen, terjebak ke pengulangan tema. Ga pa-pa lah. Minimal, ini yang saya rasakan. Perubahan paradigmanya.
Ngomongin gender, apalagi ama yang beda 'aliran', hampir pasti jadi debat kusir. Gimana nggak? Dari mana asal mulanya (epistemologi?), apa sebenarnya asumsi (postulat?) awal yang melatarbelakanginya aja beda. Kok mau disamain, dan malah nge-klaim lagi. Repot.
Maka inilah pandangan subyektif. Dan saya hargai pendapat yang berbeda.
Dulu, saya berpendapat gak macem-macem tentang ini. Kok diributin sih? kan sama-sama manusia. Ya perlakukan saja sebagaimana manusia! gak usah diributin.
Hasilnya adalah mispersepsi. Yang saya anggap baik ternyata ditafsirkan berbeda. Yang saya anggap manusiawi malah dibilang kejam. Maunya efektif dan 'mencoba mengerti', eh malah bikin nangis. Berkali-kali lagi...
Sial!
Itu akibat paradigma 'perlakukan sebagaimana manusia'. Tidak, bukan berarti saya serukan perlakukan sebagaimana bukan manusia atau subhuman, tapi lebih jauh, lebih spesial. Perlakukan sebagaimana manusia yang perempuan. 'kata sifat' yang mengikuti di belakang 'manusia' malah yang penting. Penghormatan kepada perempuan tak bisa ditunjukkan dengan sekedar memperlakukannya sama, sebagaimana manusia. kalo cuma begitu, itu penghinaan buat perempuan, mungkin juga penghinaan buat Pencipta para perempuan.
Perlakukan sebagaimana perempuan! Yang manusia, yang istimewa, yang pantas dicintai, yang berbeda...Jangan pernah melecehkan, sebagai manusia, dan lebih jauh, sebagai perempuan...
Astagfirullah. Mo minta maaf sama semua perempuan yang pernah saya kenal, mungkin selama ini saya ini lelaki dogol yang berpikiran sempit. Manusiawi saja ternyata tak cukup.
Maaf ya, terutama sama mamah....
Selamat Hari Ibu!
Wednesday, December 21, 2005
Mo lulus kapan? an unfinished story...
Gw kebanyakan nulis yang nggak-nggak. Sekarang saatnya lebih nyantei…
Hari minggu kemaren mamah ama bapak dateng, setelah cukup lama nggak menengok anak-anak lelakinya di Bandung. Dan tentu saja, rumah jadi rapi, pakaian-pakaian dicuci dan disetrika licin, kamar gw diberesin (yang sebenarnya gw gak pernah mau. Soalnya, kalo diberesin pasti susah nyari buku-buku yang tadinya tergeletak dimana-mana). Selalu gitu deh, kalo dateng malah jadinya ngerepotin…hehehe, dasar anak laki-laki! Kata orang, punya anak laki-laki itu sebenarnya ‘investasi’ tak menyenangkan. Banyak maunya, tapi pas ibu-bapak beranjak tua kurang perhatian, kalo dibandingin ama anak perempuan.
Waktu pamitan, mamah ama bapak nanya, “jadi mo kapan lulus?”. Gw bengong. Diucapkannya ringan saja, sekalian pamit. Tapi tetep gw gak bisa jawab.
“Kapan ya?”, kata gw sambil cengar-cengir.
“Kalo semester depan bisa kan?”
”Bisa sih, tapi gak tau juga...” (sambil ngebukain pintu keluar, seolah bilang ”udah deh jgn nanya yg itu...”)
It’s a big question. Untung aja gak nanya: bisa lulus ga? Hehehe…Selera humor orang tua gw gak sekelam anaknya.
Iya, ya, mo kapan lulus? Waktu ramadhan dulu, salah satu ramadhan wish gw adalah: bisa nentuin masa depan setelah ramadhan ini, mo lulus kapan, terus mo ngapain. Di akhir-akhir ramadhan gw selalu mikirin itu, sampe ketemu seorang kakak pas lagi i’tikaf, dan ngobrol. Lalu Eureka! Gw seolah menemukan jawabannya. Langsung nyari-nyari info, buat rencana, jadi! Yakin, deh!
Rencananya waktu itu gini: lulus secepatnya (semester depan ambil TA), tadinya mo langsung nikah, tapi pas mamah nanya : emang ada calonnya? Hehehe, good question, tadinya mo gw jawab asal: ”bisa diadakan…huehehehe...”. Jadi rencana gw berubah, abis lulus mo sekolah lagi, kali ini sesuai hobby (Ekonomi, atau bidang pendidikan, atau sosiologi, atau sejarah). Terus lulus, kerja atau wirausaha sambil nikah. Ya, nikah sih ’sambilan’ aje...hehehe.
Tapi sekarang? Ah, rasanya Lucky yang sekarang belum siap...Mungkin saja bisa sih lulus besok. Nanti Januari-Februari KP, ambil KP & TA semester depan. TA-nya yang bisa cepet aja, gak peduli topik. LSP pun gak pa-pa lah, asal cepet (LSP: Laboratorium Sistem Produksi, lab di TI yang mata kuliahnya paling gw benci). Tapi apa emang gw siap? Bisa-bisa malah bingung dan gak jelas.
Lha, kalo tetep di kampus emang mo ngapain?
Sebenarnya juga, hampir tak ada lagi di kampus yang masih menarik. Aktivitasnya gak rame dan kurang menggairahkan, temen-temen semua juga sekarang udah mikirnya mo cepet-cepet lulus aja, mata kuliah-mata kuliah (seharusnya) udah diselesaikan, dosen-dosen yang inspiratif udah pada mo pensiun. Apa lagi yang menarik dari kampus ini? Kalo anak-anak pada mo nurunin pak widyo sih gw tunda dulu kelulusan. Tapi semua pada diem, and life goes on...
Tapi gw tetep takut. Fear of freedom, mungkin. Takut kebebasan, takut menjadi dewasa dan harus menangani segala sesuatu sendiri, takut sendirian, takut gak tahan uji, takut gak bisa menjaga apa yang sekarang dipegang, takut…
Jadi?
Ini jenis tulisan lain yang tak terselesaikan.
Sorry, unfinished story. Belum mampu menyelesaikan.
Hari minggu kemaren mamah ama bapak dateng, setelah cukup lama nggak menengok anak-anak lelakinya di Bandung. Dan tentu saja, rumah jadi rapi, pakaian-pakaian dicuci dan disetrika licin, kamar gw diberesin (yang sebenarnya gw gak pernah mau. Soalnya, kalo diberesin pasti susah nyari buku-buku yang tadinya tergeletak dimana-mana). Selalu gitu deh, kalo dateng malah jadinya ngerepotin…hehehe, dasar anak laki-laki! Kata orang, punya anak laki-laki itu sebenarnya ‘investasi’ tak menyenangkan. Banyak maunya, tapi pas ibu-bapak beranjak tua kurang perhatian, kalo dibandingin ama anak perempuan.
Waktu pamitan, mamah ama bapak nanya, “jadi mo kapan lulus?”. Gw bengong. Diucapkannya ringan saja, sekalian pamit. Tapi tetep gw gak bisa jawab.
“Kapan ya?”, kata gw sambil cengar-cengir.
“Kalo semester depan bisa kan?”
”Bisa sih, tapi gak tau juga...” (sambil ngebukain pintu keluar, seolah bilang ”udah deh jgn nanya yg itu...”)
It’s a big question. Untung aja gak nanya: bisa lulus ga? Hehehe…Selera humor orang tua gw gak sekelam anaknya.
Iya, ya, mo kapan lulus? Waktu ramadhan dulu, salah satu ramadhan wish gw adalah: bisa nentuin masa depan setelah ramadhan ini, mo lulus kapan, terus mo ngapain. Di akhir-akhir ramadhan gw selalu mikirin itu, sampe ketemu seorang kakak pas lagi i’tikaf, dan ngobrol. Lalu Eureka! Gw seolah menemukan jawabannya. Langsung nyari-nyari info, buat rencana, jadi! Yakin, deh!
Rencananya waktu itu gini: lulus secepatnya (semester depan ambil TA), tadinya mo langsung nikah, tapi pas mamah nanya : emang ada calonnya? Hehehe, good question, tadinya mo gw jawab asal: ”bisa diadakan…huehehehe...”. Jadi rencana gw berubah, abis lulus mo sekolah lagi, kali ini sesuai hobby (Ekonomi, atau bidang pendidikan, atau sosiologi, atau sejarah). Terus lulus, kerja atau wirausaha sambil nikah. Ya, nikah sih ’sambilan’ aje...hehehe.
Tapi sekarang? Ah, rasanya Lucky yang sekarang belum siap...Mungkin saja bisa sih lulus besok. Nanti Januari-Februari KP, ambil KP & TA semester depan. TA-nya yang bisa cepet aja, gak peduli topik. LSP pun gak pa-pa lah, asal cepet (LSP: Laboratorium Sistem Produksi, lab di TI yang mata kuliahnya paling gw benci). Tapi apa emang gw siap? Bisa-bisa malah bingung dan gak jelas.
Lha, kalo tetep di kampus emang mo ngapain?
Sebenarnya juga, hampir tak ada lagi di kampus yang masih menarik. Aktivitasnya gak rame dan kurang menggairahkan, temen-temen semua juga sekarang udah mikirnya mo cepet-cepet lulus aja, mata kuliah-mata kuliah (seharusnya) udah diselesaikan, dosen-dosen yang inspiratif udah pada mo pensiun. Apa lagi yang menarik dari kampus ini? Kalo anak-anak pada mo nurunin pak widyo sih gw tunda dulu kelulusan. Tapi semua pada diem, and life goes on...
Tapi gw tetep takut. Fear of freedom, mungkin. Takut kebebasan, takut menjadi dewasa dan harus menangani segala sesuatu sendiri, takut sendirian, takut gak tahan uji, takut gak bisa menjaga apa yang sekarang dipegang, takut…
Jadi?
Ini jenis tulisan lain yang tak terselesaikan.
Sorry, unfinished story. Belum mampu menyelesaikan.
Film
Mo ngomongin yang enteng-enteng. kali ini tentang Film. Film Hollywood & film populer.
The Godfather, trilogi yang keren banget. Saya suka tokoh-tokoh mafia, gak tau juga kenapa…karena karakternya yang kuat, karena kisah tentang nasib yang tak bisa dilawan. Mungkin juga karena kemurungan dan rasa sepi yang ditimbulkan. Saya juga heran, saya ini menikmati suasana murung dan sepi…
The Matrix…bagus! Ceritanya dalem, dan somehow, sangat filosofis. Neo itu kayak Adam sekaligus Jesus atau Nabi Isa yang dalam agama-agama samawi dikisahkan akan datang di akhir zaman nanti. Agent Smith sendiri bisa ditafsirkan sebagai Iblis, yang tadinya mengabdi pada penciptanya (the Machine), tapi kemudian memberontak. Bisa pula memperbanyak diri, persis setan. Kisahnya sendiri mempertanyakan kehidupan dan kenyataan: what is real?, tanya Morpheus. Kalo kenyataan adalah kita hidup dan bernafas, maka itu hanyalah….(Morpheus melanjutkan). Apa itu kemerdekaan? Apa itu perjuangan? Denger-denger pula, pernah ada tokoh yang dengan sangat kurang ajar akan dinamai allah dan jesus, tapi gak jadi karena takut terlalu kontroversial dan dicekal…
Seri Spiderman…ini sih gara-gara romantisme masa kecil…dulu saya kagum banget, dan masih kagum sampe sekarang. Kisah Spiderman juga sangat manusiawi, dan sekarang kisah-kisah superhero juga banyak mengangkat sisi manusianya (Batman Begins kemaren buktinya).
Yang baru kemaren saya tonton: the Cinderella Man. Top banget! Kisah nyata James Braddock, petinju heavyweight jaman Great Depression, yang kebangkitannya menginspirasi se-Amerika.
Fight Club juga lumayan. Waktu saya nonton dulu (nomat, pas SMA, dulu masih 5 rebuan), abisnya ada perasaan aneh, perasaan sia-sia hidup…
Infernal Affair trilogy juga. Mirip Godfather, tapi beda. Mungkin lebih tragis.
21 grams. Idenya bagus: rata-rata manusia kehilangan 21 gram saat ia mati. Itukah berat sebuah nyawa atau jiwa?
Saving Private Ryan, dan film-film perang yang manusiawi.
Film-filmnya Jodie Foster, apalagi Silence of the Lamb. Jodie Foster itu mungkin wanita ideal: menarik, cerdas, mandiri.
Film-film cinta: Ada Apa Dengan Cinta (yah, seperti juga kebanyakan remaja Indonesia, saya dibesarkan dengan pemujaan dan pengidealisasian kecantikan remaja seperti Dian Sastro), komedi-komedi romantis.
Film-film yang seolah wajib tonton: seri James Bond (padahal kebanyakan sampah, tapi dari seri ini kita bisa tau kecenderungan zaman dan arus konsumerismenya), seri Harry Potter, Lord of the Ring, seri Star Wars.
Kebanyakan film, apalagi Hollywood, sebenarnya sampah. Cuma 0,00x persen aja yang menurut saya bagus. Tapi ada film-film yang sangat bagus, yang bisa memberikan sesuatu; entah perenungan, entah kegelisahan, entah pemikiran lebih lanjut, entah kemurungan…
Makanya sulit buat saya memutus rantai kesukaan terhadap film…sama kayak buku, film juga suatu bentuk pembacaan. Hanya memang lebih pasif, lebih santai, dan lebih dungu. Apalagi kalau kebanyakan.
Sekarang lagi nyari Good Will Hunting nih..film lama banget, gak sempat nonton dulu, dan katanya bagus. Ada rekomendasi film bagus laen?? Biasa, pinjem dong…he3x.
The Godfather, trilogi yang keren banget. Saya suka tokoh-tokoh mafia, gak tau juga kenapa…karena karakternya yang kuat, karena kisah tentang nasib yang tak bisa dilawan. Mungkin juga karena kemurungan dan rasa sepi yang ditimbulkan. Saya juga heran, saya ini menikmati suasana murung dan sepi…
The Matrix…bagus! Ceritanya dalem, dan somehow, sangat filosofis. Neo itu kayak Adam sekaligus Jesus atau Nabi Isa yang dalam agama-agama samawi dikisahkan akan datang di akhir zaman nanti. Agent Smith sendiri bisa ditafsirkan sebagai Iblis, yang tadinya mengabdi pada penciptanya (the Machine), tapi kemudian memberontak. Bisa pula memperbanyak diri, persis setan. Kisahnya sendiri mempertanyakan kehidupan dan kenyataan: what is real?, tanya Morpheus. Kalo kenyataan adalah kita hidup dan bernafas, maka itu hanyalah….(Morpheus melanjutkan). Apa itu kemerdekaan? Apa itu perjuangan? Denger-denger pula, pernah ada tokoh yang dengan sangat kurang ajar akan dinamai allah dan jesus, tapi gak jadi karena takut terlalu kontroversial dan dicekal…
Seri Spiderman…ini sih gara-gara romantisme masa kecil…dulu saya kagum banget, dan masih kagum sampe sekarang. Kisah Spiderman juga sangat manusiawi, dan sekarang kisah-kisah superhero juga banyak mengangkat sisi manusianya (Batman Begins kemaren buktinya).
Yang baru kemaren saya tonton: the Cinderella Man. Top banget! Kisah nyata James Braddock, petinju heavyweight jaman Great Depression, yang kebangkitannya menginspirasi se-Amerika.
Fight Club juga lumayan. Waktu saya nonton dulu (nomat, pas SMA, dulu masih 5 rebuan), abisnya ada perasaan aneh, perasaan sia-sia hidup…
Infernal Affair trilogy juga. Mirip Godfather, tapi beda. Mungkin lebih tragis.
21 grams. Idenya bagus: rata-rata manusia kehilangan 21 gram saat ia mati. Itukah berat sebuah nyawa atau jiwa?
Saving Private Ryan, dan film-film perang yang manusiawi.
Film-filmnya Jodie Foster, apalagi Silence of the Lamb. Jodie Foster itu mungkin wanita ideal: menarik, cerdas, mandiri.
Film-film cinta: Ada Apa Dengan Cinta (yah, seperti juga kebanyakan remaja Indonesia, saya dibesarkan dengan pemujaan dan pengidealisasian kecantikan remaja seperti Dian Sastro), komedi-komedi romantis.
Film-film yang seolah wajib tonton: seri James Bond (padahal kebanyakan sampah, tapi dari seri ini kita bisa tau kecenderungan zaman dan arus konsumerismenya), seri Harry Potter, Lord of the Ring, seri Star Wars.
Kebanyakan film, apalagi Hollywood, sebenarnya sampah. Cuma 0,00x persen aja yang menurut saya bagus. Tapi ada film-film yang sangat bagus, yang bisa memberikan sesuatu; entah perenungan, entah kegelisahan, entah pemikiran lebih lanjut, entah kemurungan…
Makanya sulit buat saya memutus rantai kesukaan terhadap film…sama kayak buku, film juga suatu bentuk pembacaan. Hanya memang lebih pasif, lebih santai, dan lebih dungu. Apalagi kalau kebanyakan.
Sekarang lagi nyari Good Will Hunting nih..film lama banget, gak sempat nonton dulu, dan katanya bagus. Ada rekomendasi film bagus laen?? Biasa, pinjem dong…he3x.
Saturday, December 10, 2005
Against Neoliberalism??
Kalau root of all evil-nya adalah neoliberalisme, lalu apa yang dapat kita lakukan? Melawan neoliberalisme?
Dulu, waktu saya TPB, tiap lewat SC Timur (atau SC barat ya? 3 tahun lebih di ITB saya gak bisa membedakan jelas mana barat-timur, 9024 itu di Oktagon atau TVST…), selalu saya lihat poster bertuliskan ini: “Against Neoliberalism, World Social Forum”. Posternya keren, tipe poster yang pengen saya pasang di dinding kamar. Slogannya juga keren, meskipun saat itu saya gak tau jelas dan cuma bisa ngomong,“apaan sih?sok-sok-an banget…”.
Gerakan melawan neoliberalisme adalah gerakan internasional. Kesannya memang ke-kiri-kiri-an, tetapi sekarang yang kapitalis (baca: agak propasar) pun ikut. Ini usaha perbaikan kapitalisme, katanya. Sebuah sistem yang terlalu mapan memang membahayakan, karena berpotensi melahirkan kejumudan, kehilangan sense of urgency, dan terjebak dalam masalah yang sama, sambil menghindari (menolak) masalah lain yang sebenarnya lebih mendesak.
“A Better World is Possible”, menjadi motto para pelawan ini di World Social Forum. Ada yang pernah menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan unik: Nirwana dunia itu niscaya. Dunia sekarang, yang sangat senjang (lihatlah statistik penguasaan kekayaan dunia yang makin senjang dikuasai oleh negara-negara maju, kelaparan di Afrika dan Asia sementara penduduk Amerika tiap tahun membuang volume sampah makanan yang cukup untuk memberi makan satu negara Afrika, dan beragam bentuk kesenjangan lain), sebenarnya masih bisa diselamatkan. Maka itulah yang dilakukan kumpulan NGO lokal maupun internasional, aktivis HAM, aktivis hak-hak perempuan, aktivis lingkungan hidup, ilmuwan dan intelektual, termasuk juga aktivis mahasiswa di Porto Alegre, tempat WSF. Mereka mengajukan kritik pada neoliberalisme sekaligus juga mengajukan alternatif-alternatif. Kenapa namanya World Social Forum? Emang dipake untuk menyindir World Economic Forum, yang pernah diselenggarakan di Davos, Doha, Cancun, yang selalu diwarnai demo-demo (katanya berikutnya di Hongkong? Pemerintah Hongkong juga udah khawatir ama demo-demonya…). Porto Alegre juga adalah kota yang dulu “dihidupkan” oleh tokoh pendidikan yang sering jadi alat legitimasi filosofis mahasiswa ITB dalam menyelenggarakan kaderisasi, Paulo Freire.
Dalam risalah ringkas hasil WSF (A better world is possible; alternatives to economic globalization. Saya cuma baca yang executive summary-nya. Aslinya lumayan tebel…), dibahas kritikan utama terhadap globalisasi ekonomi, tentang 10 pilar Democratic & Sustainable Society, komodifikasi barang-barang milik bersama, subsidiarity (prinsip untuk mengupayakan pemberdayaan masyarakat lokal), kritik pada kian kurang ajarnya korporasi dan perselingkuhannya dengan negara, kritik pada lembaga-lembaga Bretton Woods (IMF, WTO, World Bank). Tak hanya pembahasan atau mengkritik saja, tapi juga perumusan alternatif-alternatif (lebih jauh lihat website International Forum on Globalization, www.ifg.org). Itu dirumuskan bareng, termasuk oleh para “aktivis-selebritis” seperti Walden Bello atau Vandana Shiva.
Jadi, gerakan internasional melawan neoliberalisme ini sangat marak, malah bisa konkret menyediakan usulan alternatif, selain rajin demo dan rajin mengkritik. Isu-isu sosial juga mulai dibahas di agenda World Economic Forum (meskipun masih poci-poci doang…Bush ama Blair gak pernah konkret!), contoh lain betapa berpengaruhnya gerakan ini. Tapi kenapa gak pernah populer disini, di kampus ini?
Kayaknya karena terkesan kejauhan…gerakan internasional melawan neoliberalisme? Apaan tuh? Kurang membumi. Kadang-kadang juga disertai kecurigaan, “kiri banget”. Meskipun, efeknya itu sekarang bisa kita rasakan, tepat sekali kita rasakan di kampus ini dan di masyarakat Indonesia. Ingat bahwa neoliberalisme adalah sebuah “-isme” lain, yang masuk lewat pikiran, lewat paradigma kita. Ini jelas ghazwul fikri. Lagipula, masih banyak isu lain yang lebih dikenali, lebih dekat, tapi juga sekali lagi tak tertangani dengan baik. Apa kabar dengan gerakan anti korupsi, reformasi birokrasi, atau isu-isu perubahan struktural di kampus kita ini? Semuanya serba adem ayem aja…Mungkin kita sudah terlalu mapan, hingga kehilangan sense of urgency. Nanti pas udah terjadi, dan udah bingung, baru ribut….(hehehe, asyiknya jadi pengamat atau orang yang emang kerjaannya ngebahas yang nggak konkret kayak saya di Kastrat emang gini: kritik sana-sini…But that’s my job! ;-p).
Mungkin benar, against neoliberalism itu penting, tapi kejauhan…sebagai target gerakan mahasiswa, sifatnya kurang strategis. Namun, kesadaran tentang ini, pengetahuan tentangnya harus bisa diketahui secara publik. Kita percaya saja sama forum NGO internasional, insya Allah pada baek kok.
Pada titik inilah saya bisa bersepakat dengan gerakan “anti kapitalisasi pendidikan”, meskipun sebenarnya cuma turunan dari paradigma neoliberalisme. Pendidikan jelas adalah urusan kita, warga kampus dan para peserta didik. Kebijakan-kebijakan pendidikan di pusat, atau di tingkat yang lebih atas (rektorat misalnya), tentu saja sedikit banyak mempengaruhi keseharian kita. Jadi, bahkan secara pragmatis pun, semestinya kita peduli.
Tak perlu jauh mencari…kita bicarakan saja turunan dari turunan turunannya: praktek penyelenggaraan institusi pendidikan (formal). Turunannya lagi: kebijakan rektor ITB. Turunannya lagi (kalo di TI), hegemonnya salah satu lab yang seolah menyingkirkan keberagaman keilmuan TI…(hehehe). Turunannya lagi kalo dalam keseharian kehidupan saya: pilihan saya untuk mengerjakan tugas PLO daripada datang dan memulai diskusi pendidikan di kabinet, atau memulai menulis LPJ OSKM…(aduh, jadi malu…;-p)
Ini isu yang menyangkut kita bersama! Juga relatif gak ada perbedaan kepentingan disini. Semua kita mahasiswa, yang dididik dalam sebuah sistem pendidikan yang seragam. Tak perlu dipolitisir atau curiga-curigaan.
Mari mulai membicarakan pendidikan kita! Mari mulai membangun gerakan.
Silakan gabung di tim kajian pendidikan kabinet, hubungi Lucky (08122211945, mail to: lucky_luqman@yahoo.com). Nanti kita bicarakan bareng aplikasi strategis-taktisnya, sambil membahas teori.
Hehehehe, akhirnya malah promosi…;-p
Peace, ah!
Dulu, waktu saya TPB, tiap lewat SC Timur (atau SC barat ya? 3 tahun lebih di ITB saya gak bisa membedakan jelas mana barat-timur, 9024 itu di Oktagon atau TVST…), selalu saya lihat poster bertuliskan ini: “Against Neoliberalism, World Social Forum”. Posternya keren, tipe poster yang pengen saya pasang di dinding kamar. Slogannya juga keren, meskipun saat itu saya gak tau jelas dan cuma bisa ngomong,“apaan sih?sok-sok-an banget…”.
Gerakan melawan neoliberalisme adalah gerakan internasional. Kesannya memang ke-kiri-kiri-an, tetapi sekarang yang kapitalis (baca: agak propasar) pun ikut. Ini usaha perbaikan kapitalisme, katanya. Sebuah sistem yang terlalu mapan memang membahayakan, karena berpotensi melahirkan kejumudan, kehilangan sense of urgency, dan terjebak dalam masalah yang sama, sambil menghindari (menolak) masalah lain yang sebenarnya lebih mendesak.
“A Better World is Possible”, menjadi motto para pelawan ini di World Social Forum. Ada yang pernah menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan unik: Nirwana dunia itu niscaya. Dunia sekarang, yang sangat senjang (lihatlah statistik penguasaan kekayaan dunia yang makin senjang dikuasai oleh negara-negara maju, kelaparan di Afrika dan Asia sementara penduduk Amerika tiap tahun membuang volume sampah makanan yang cukup untuk memberi makan satu negara Afrika, dan beragam bentuk kesenjangan lain), sebenarnya masih bisa diselamatkan. Maka itulah yang dilakukan kumpulan NGO lokal maupun internasional, aktivis HAM, aktivis hak-hak perempuan, aktivis lingkungan hidup, ilmuwan dan intelektual, termasuk juga aktivis mahasiswa di Porto Alegre, tempat WSF. Mereka mengajukan kritik pada neoliberalisme sekaligus juga mengajukan alternatif-alternatif. Kenapa namanya World Social Forum? Emang dipake untuk menyindir World Economic Forum, yang pernah diselenggarakan di Davos, Doha, Cancun, yang selalu diwarnai demo-demo (katanya berikutnya di Hongkong? Pemerintah Hongkong juga udah khawatir ama demo-demonya…). Porto Alegre juga adalah kota yang dulu “dihidupkan” oleh tokoh pendidikan yang sering jadi alat legitimasi filosofis mahasiswa ITB dalam menyelenggarakan kaderisasi, Paulo Freire.
Dalam risalah ringkas hasil WSF (A better world is possible; alternatives to economic globalization. Saya cuma baca yang executive summary-nya. Aslinya lumayan tebel…), dibahas kritikan utama terhadap globalisasi ekonomi, tentang 10 pilar Democratic & Sustainable Society, komodifikasi barang-barang milik bersama, subsidiarity (prinsip untuk mengupayakan pemberdayaan masyarakat lokal), kritik pada kian kurang ajarnya korporasi dan perselingkuhannya dengan negara, kritik pada lembaga-lembaga Bretton Woods (IMF, WTO, World Bank). Tak hanya pembahasan atau mengkritik saja, tapi juga perumusan alternatif-alternatif (lebih jauh lihat website International Forum on Globalization, www.ifg.org). Itu dirumuskan bareng, termasuk oleh para “aktivis-selebritis” seperti Walden Bello atau Vandana Shiva.
Jadi, gerakan internasional melawan neoliberalisme ini sangat marak, malah bisa konkret menyediakan usulan alternatif, selain rajin demo dan rajin mengkritik. Isu-isu sosial juga mulai dibahas di agenda World Economic Forum (meskipun masih poci-poci doang…Bush ama Blair gak pernah konkret!), contoh lain betapa berpengaruhnya gerakan ini. Tapi kenapa gak pernah populer disini, di kampus ini?
Kayaknya karena terkesan kejauhan…gerakan internasional melawan neoliberalisme? Apaan tuh? Kurang membumi. Kadang-kadang juga disertai kecurigaan, “kiri banget”. Meskipun, efeknya itu sekarang bisa kita rasakan, tepat sekali kita rasakan di kampus ini dan di masyarakat Indonesia. Ingat bahwa neoliberalisme adalah sebuah “-isme” lain, yang masuk lewat pikiran, lewat paradigma kita. Ini jelas ghazwul fikri. Lagipula, masih banyak isu lain yang lebih dikenali, lebih dekat, tapi juga sekali lagi tak tertangani dengan baik. Apa kabar dengan gerakan anti korupsi, reformasi birokrasi, atau isu-isu perubahan struktural di kampus kita ini? Semuanya serba adem ayem aja…Mungkin kita sudah terlalu mapan, hingga kehilangan sense of urgency. Nanti pas udah terjadi, dan udah bingung, baru ribut….(hehehe, asyiknya jadi pengamat atau orang yang emang kerjaannya ngebahas yang nggak konkret kayak saya di Kastrat emang gini: kritik sana-sini…But that’s my job! ;-p).
Mungkin benar, against neoliberalism itu penting, tapi kejauhan…sebagai target gerakan mahasiswa, sifatnya kurang strategis. Namun, kesadaran tentang ini, pengetahuan tentangnya harus bisa diketahui secara publik. Kita percaya saja sama forum NGO internasional, insya Allah pada baek kok.
Pada titik inilah saya bisa bersepakat dengan gerakan “anti kapitalisasi pendidikan”, meskipun sebenarnya cuma turunan dari paradigma neoliberalisme. Pendidikan jelas adalah urusan kita, warga kampus dan para peserta didik. Kebijakan-kebijakan pendidikan di pusat, atau di tingkat yang lebih atas (rektorat misalnya), tentu saja sedikit banyak mempengaruhi keseharian kita. Jadi, bahkan secara pragmatis pun, semestinya kita peduli.
Tak perlu jauh mencari…kita bicarakan saja turunan dari turunan turunannya: praktek penyelenggaraan institusi pendidikan (formal). Turunannya lagi: kebijakan rektor ITB. Turunannya lagi (kalo di TI), hegemonnya salah satu lab yang seolah menyingkirkan keberagaman keilmuan TI…(hehehe). Turunannya lagi kalo dalam keseharian kehidupan saya: pilihan saya untuk mengerjakan tugas PLO daripada datang dan memulai diskusi pendidikan di kabinet, atau memulai menulis LPJ OSKM…(aduh, jadi malu…;-p)
Ini isu yang menyangkut kita bersama! Juga relatif gak ada perbedaan kepentingan disini. Semua kita mahasiswa, yang dididik dalam sebuah sistem pendidikan yang seragam. Tak perlu dipolitisir atau curiga-curigaan.
Mari mulai membicarakan pendidikan kita! Mari mulai membangun gerakan.
Silakan gabung di tim kajian pendidikan kabinet, hubungi Lucky (08122211945, mail to: lucky_luqman@yahoo.com). Nanti kita bicarakan bareng aplikasi strategis-taktisnya, sambil membahas teori.
Hehehehe, akhirnya malah promosi…;-p
Peace, ah!
Sunday, December 04, 2005
Root of All Evil
[catatan: tulisan ini agak panjang...tulisan terpanjang yg pernah gw publish di blog. katanya, tulisan di internet itu jangan panjang-panjang kalo mo dibaca, tapi mengingat kalo dipisah kayaknya ga utuh, jadi terpaksa panjang (sebenarnya sih males kalo dipotong...]
Terinspirasi oleh kawan-kawan yang bersemangat…
Begitu banyak keluhan yang sering kita dengar tentang kondisi kemahasiswaan dan mahasiswa sekarang. Tidak peduli lah, apatis lah, oportunis lah, pragmatis lah, bla-bla-bla. Semua mengeluh, tapi jarang yang mengajukan analisis bagus hingga menuju solusi. Jawabannya paling: salah sistem dari rektorat, tapi lebih banyak yang menyalahkan sesama daripada menjawab: hedonis, asyik sendiri, tak peduli. Seolah yang disalahkan (siapapun itu) akan peduli.
Beberapa kawan saya berdiskusi dan mencoba menjawab, serta merasa telah menemukan jawabannya. Dari perbincangan dan tulisan, begini logikanya.
Beberapa gejala (dari email pribadi seorang kawan):
1. Pendidikan semakin mahal, kualitas pendidikan diidentikkan dengan dana yang harus dikeluarkan
2. Kurikulum diperpadat dan diperketat, difokuskan pada pembangunan basis kompetensi, mengikuti konsep link and match terhadap kebutuhan dunia global.
3. Pembatasan masa kuliah, dan semakin diperpendek menjadi 6 tahun.
4. SPP 2 kali lipat bila lebih dari 5 atau 4 tahun
5. Adanya jalur khusus untuk masuk ke ITB dengan biaya mahal
6. Menciptakan opini bahwa kegiatan2 kemahasiswaan dapat mengganggu dan menghambat proses akademis (karena pendidikan memang hanya disempitkan untuk pemenuhan kompetensi keprofesian saja)
7. Memberangus proses kaderisasi mahasiswa, dan mengubahnya hanya menjadi semacam pelatihan dan training biasa. Padahal inti utama dari kaderisasi dan pendidikan adalah pembentukan karakter (character building)
8. Memberi hukuman keras yang menghancurkan psikologis dan karakter mahasiswa dengan penyegelan himpunan dan skorsing terhadap tokoh-tokoh mahasiswa
9. Mengancam mahasiswa baru agar tidak mengikuti kegiatan kaderisasi dan kegiatan2 kemahasiswaan lainnya yang dianggap ‘mengganggu’ akademis
10. Berusaha mengendalikan langsung kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, khususnya kaderisasi, seperti halnya OSKM dan kaderisasi himpunan.
11. Mengadakan sendiri pelatihan-pelatihan yang ‘mendoktrin’ mahasiswa untuk fokus ke akademis dan menghindari kegiata-kegiatan yang dianggap mengganggu
Dari gejala-gejala tersebut, terus lewat black box, menjadi simpulan:
“Saya menyimpulkan bahwa akar masalahnya adalah mulai bergeser dan berubahnya paradigma dan karakter pendidikan di Indonesia dan ITB khususnya ke arah bentuk kapitalisme. Pendidikan yanga ada sekarang hanya dikecilkan dan digeser kepada bagaimana bisa menghasilkan manusia2 yang berkualitas akademis baik dan berkompetensi tinggi agar bisa memeuhi kebutuhan sdm dunia keprofesian dan industri. Mahasiswa hanya diibaratkan mesin2 hidup yang akan menggerakkan globalisasi dunia.
Pendidikan yang sejatinya untuk membangun pribadi, karakter, dan pola pikir manusia dialihkan sebagai proses pencetak ‘mesin-mesin’ hidup itu.”
Itu berdasar email pribadi seorang kawan kepada saya (sorry bang, ada yang diedit dikit…). Lebih jauh, lanjutnya, hal-hal itulah yang akhirnya membuat mahasiswa ITB sekarang menjadi makin “apatis, pragmatis, individualis, oportunis dan juga menumbuhkan karakter budaya materialis dan hedonis”.
Jadi, akarnya ialah : KAPITALISASI PENDIDIKAN. Atau paradigma semacam itu.
Itu hipotesis (sekali lagi, hipotesis) yang sangat bagus tentang root of all evil dunia kita. Mari kita verifikasi sama-sama.
Bagaimana? Sebenarnya bisa aja sih dilakukan penelitian. Gara-gara baca TA, dengan memakai beberapa teknik analisis multivariat (Anmul) kita bisa membuktikan hipotesis itu benar atau salah. Kapitalisasi pendidikan dapat dijabarkan menjadi beberapa variabel, terus menjadi item dan jadi kuesioner. Lalu, yang kita rasakan (sebut saja “KONDISI MAHASISWA ITB SEKARANG”) juga dijabarkan menjadi beberapa variabel. Dibuat modelnya, dibuat kuesioner, terus diolah pake SPSS, dan kita buktikan: pengaruh kapitalisasi pendidikan terhadap kondisi mahasiswa ITB sekarang. Apakah benar hipotesis kita?
Ya, kira-kira semacam itulah metodenya (saya gak tau lebih teknisnya, kudu belajar lebih jauh lagi…maklum, probstat C, statistika industri B, Analisis multivariat amit-amit kalo diambil. Tapi kalo idenya mungkin benar). Temen saya ada yang pernah ngajakin bikin riset tentang ini. Ayo, jadi yuk! Kayaknya ini juga bisa jadi bahan kajian baru saya di Kastrat Kabinet. Yang jago Anmul, gabung ya…atau ntar saya nanya-nanya deh!
Balik lagi ke root of all evil. Kalau mau dilanjutkan, sebenarnya kita bisa mencari yang lebih fundamental dari itu. Begini ceritanya.
Dunia “digerakkan” oleh ide. Oleh pikiran, oleh meme. Ide tentang Tauhid mengubah bangsa Arab, ide revolusioner Marx terjemahan Lenin membuat Revolusi Oktober, ide Indonesia Merdeka oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda tahun 1921 terwujud tahun 1945. Ide Newton dan Descartes, kata Capra, melahirkan Paradigma Cartesian yaang mekanistis dalam memandang dunia. Ide yang diperoleh dari Fisika Baru juga melahirkan paradigma yang lebih holistik dan organis.
Ide bahwa sumber daya negara terbatas, maka negara harus meluaskan pasarnya, “menyerbu” negara lain, mengambil sumberdayanya, sekaligus juga menjadi pasar dan produsen, melahirkan merkantilisme. Menjadi penjajahan. Negara menjadi organ yang kejam dan totaliter, maen serbu dan ambil.
Dengan semangat pencerahan di Eropa, semangat individualisme dan humanisme, menginspirasi Adam Smith menulis The Wealth of Nation. Idenya: biarkan the invisible hands pada pasar yang bekerja, yang akan secara alamiah mendistribusikan kekayaan hingga suatu negeri pada akhirnya akan sejahtera. Market Rules! Merkantilisme punah (lebih tepatnya, berubah bentuk), dan ide baru ini disebut Marx sebagai Kapitalisme.
Kata Marx dan Engels yang melihat sendiri penderitaan buruh-buruh di masa kapitalisme awal: sistem ini ialah sistem yang kejam, menghisap. Ia bahkan meramalkan, tak mungkin ada manusia yang bisa bertahan dengan sistem ini. Nanti, katanya, bakal terjadi The Great Decline of Capitalism, dan saat itulah terjadi revolusi proletarian. Lalu akan ada the classless society, masyarakat yang sangat adil, dimana bekerja hanya sesuai dengan kebutuhan dan yang diinginkan, dimana tiap manusia berkesempatan beraktualisasi, mengembangkan seni, pengetahuan, tanpa penghisapan. (untung aja Marx nggak bilang saat itulah nabi Isa turun melawan Dajjal…hehehe. Ramalannya udah mirip doktrin agama aja!). Lenin, seorang Rusia yang sangat cerdas (ada bagian abnormal di otaknya yang membuat ia sangat ahli “berpikir asosiatif”, itu penyelidikan ilmuwan atas otak Lenin yng sekarang diawetkan), dan gawatnya, percaya berat dengan Marx, mewujudkan mimpinya lewat Kaum Bolsyewik, Revolusi Oktober 1917 yang menumbangkan Tsar Rusia. Sistem perekonomiannya etatisme, negara yang dianggap sebagai representasi kaum proletar dan seluruh rakyat (padahal, hanya representasi PKS…gak usah curiga apalagi marah, PKS ini: Partai Komunis Sovyet…hehehe) yang menguasai seluruh sektor perekonomian. Beberapa terinspirasi, untuk kemudian kecewa. Di Eropa, terutama Eropa Barat, para revolusioner ini lebih memilih jadi revisionis, melahirkan corak partai yang kekiri-kirian (Partai Buruh, partai demokrat-liberal di Jerman, di Amerika bisa dibilang Partai Demokrat). Sejak itu dunia mulai terbelah: kapitalis-liberalis dan Marxis-komunis (ini pengkategorian kasar ya…tentu saja banyak varian di dalamnya). Yang laen yang nggak mau ngikut-ngikut, memilih bikin Non-Blok. Saya sendiri sampai sekarang menganggap Indonesia bukan kapitalis-liberalis apalagi Marxis-komunis, tapi negara “fantastis”…dari dulu sampe sekarang: bikin NEFO dan GANEFO, monas dan hotel Indonesia saat rakyatnya gak mampu beli beras, dan bayarin utang koruptor saat penduduk miskinnya lebih dari 40 juta! Fantastis!
Dengan sistem baru ini ternyata berhasil membuat negara-negara pemeluknya maju. Sampai datang the Great Depression tahun 1930-an. Bursa saham tiba-tiba jatuh. Perekonomian kolaps. Penduduk Amerika tiba-tiba miskin dan butuh tunjangan sosial (silakan nonton Cinderella Man untuk gambaran tahun 1930-an yang dialami seorang petinju, atau baca The Grapes of Wrath). Orang-orang komunis udah seneng aja: liat tuh, great decline of capitalism datang! Tapi yang datang ialah John Maynard Keynes, lagi-lagi seorang ekonom jenius yang agak gay (kenapa orang jenius selalu aneh-aneh???!!!), dengan konsep ekonomi campurannya. Negara harus berperan lebih aktif dalam perekonomian. Roosevelt menerapkan ide-idenya, dan Amerika berhasil bangkit. Ide yang ini juga laku dijual dimana-mana. Semua negara maju menjadi welfare-state.
Ternyata ada yang dendam juga nih ama si Keynes. Friedrich August von Hayek sejak dulu terlibat berantem lewat tulisan dengan Keynes. Sebagai fundamentalis pasar, ia gak mau kalo pasar dicampurin apapun, termasuk juga oleh negara. Kalau ide Hayek ini gak diubah menjadi sebuah gerakan, rasanya dunia kita akan menjadi tempat yang berbeda sekarang.
Hayek yang lagi sebel mengorganisir pertemuan tertutup di Mont Pelerin, Swiss. Yang diundang yang sepemahaman dengan dia: ekonom mazhab chicago pro pasar bebas (Milton Friedman, Stigler), Karl Popper, Polanyi, dan beberapa nama lain. Mereka prihatin dengan “gelombang kolektivisme” di Eropa. Terus, ia cerai dengan istrinya, menikahi sepupu istrinya (contoh satu lagi jenius yang aneh!), lalu pindah ke Universitas Chicago, tempat teman-teman sealirannya kumpul. Pemikiran ekonomi yang sangat propasar bebas tetap bisa hidup. Hayek, Friedman dan kawan-kawan bahkan masih bisa menerbitkan banyak bukunya.
Sampai tibalah masanya…gara-gara heroisme King Faisal, harga minyak dunia tiba-tiba naik. Meski gak separah tahun 1930-an, sekali lagi ekonomi dunia krisis. Di Inggris, partai konservatif lewat kolaborasi dengan lembaga-lembaga think-tank canggih (Institute of Economic Affair, Centre for Policy Studies, Adam Smith Institute, dan Mont Pelerin Society, yang dibentuk Hayek dulu), ditambah dengan perempuan jenius lagi, Margaret Thatcher berhasil merebut kekuasaan di tahun 1979. Resep pemulihan ekonominya tentu saja memakai resep a la Hayek dan kawan-kawan. Thatcher, dengan mitranya yang kebijakannya juga mirip-mirip di AS sana, Ronald Reagan, mulai melakukan 3 hal sakti: privatisasi, deregulasi, liberalisasi. Perusahaan milik negara diswastakan, peraturan-peraturan yang mengikat perusahaan dihapuskan. “Kerja keras dan berusaha sendiri”, jadi etika moral zaman Thatcher dan seterusnya. Kalo gw kaya karena usaha sendiri, dan elo tetap miskin, masak gw salah??
Hasilnya emang bagus: 2/3 penduduk Inggris punya tempat tinggal sendiri (sebelum Thatcher, hanya setengahnya), standar hidup meningkat, penjualan TV, freezer, barang-barang elektronik naik drastis, 60 % populasi menjadi golongan kelas menengah, perekonomian booming. Negara-negara lain yang mengikuti resepnya pun sama. (Norena Heertz, the silent takeover, diterjemahkan jadi “Perampok Negara”)
Tapi efek lainnya: kesenjangan yang makin besar. Di dalam negara, dan antar negara maju-negara miskin. (untuk pengantar yang baik kepada Neoliberalisme, silakan baca “Neoliberalisme”, pustaka Cindelaras)
Ide inilah, ide Hayek dan kawan-kawan dan selingkuhannya di pemerintahan-pemerintahan, yang berkembang ke seluruh dunia, hingga sekarang. Ide ini lalu disebut NEOLIBERALISME. Apalagi, di era yang disebut globalisasi ini. Dengan perkembangan teknologi, neoliberalisme dan globalisasi mendefinisikan kehidupan denagn cara baru. Late Capitalism, kapitalisme yang menganggap konsumsi bukan karena kebutuhan, tapi karena keinginan, dan karena menjadi gaya hidup. Karena generasinya juga makmur-makmur, terus MTV dan produk sejenisnya laku, ditambah dengan merajalelanya konsumsi, melahirkan masyarakat yang konsumtif, berorientasi kesenangan (hedonis). Juga berpikiran pendek, demi mencapai status yang ditentukan oleh apa yang bisa dikonsumsinya. Merasa lebih gaya memakai Jaguar, HP Vertu, atau liburan ke Swiss.
Nah, itu efek virus neoliberal ke bidang budaya dan gaya hidup: pragmatis, konsumtif, hedonis.
Perselingkuhan virus neoliberal dengan kekuasaan tak berhenti sampai situ saja. Lewat World Bank, WTO, dan IMF, virus ini juga menyebar daan menginternasional. Saat negara-negara Amerika Latin dan Asia dalam krisis, IMF datang dengan beragam kebijakannya yang tengik beraroma neoliberal. Maka BUMN-BUMN pun diprivatisasi, deregulasi dimana-mana, dan apapun diliberalisasi.
Termasuk juga pendidikan kita…Maka berubahlah ITB jadi BHMN,lebih mandiri, lebih bebas, lebih otonom. Sekarang, semua lembaga pendidikan formal direncanakan menjadi Badan Hukum Pendidikan, format yang mirip-mirip BHMN. Lahirlah yang disebut kawan saya tadi: kapitalisme pendidikan.
Maka, apakah root of all evil?
NEOLIBERALISME!
Neoliberalisme ini, setidaknya merusak lewat 2 cara: cara budaya dengan menjadikan kita makin hedonis, pragmatis, konsumtif, apatis (ngapain ikutan begituan, mendingan kita maen ke mall…) dan cara-cara struktural lewat perundangan dan aturan-aturan. Sejak itb di BHMN, mulai timbul banyak aturan. Mulai terasa gejala-gejala yang disebut di atas.
Selanjutnya, what is to be done?
(bersambung)
Terinspirasi oleh kawan-kawan yang bersemangat…
Begitu banyak keluhan yang sering kita dengar tentang kondisi kemahasiswaan dan mahasiswa sekarang. Tidak peduli lah, apatis lah, oportunis lah, pragmatis lah, bla-bla-bla. Semua mengeluh, tapi jarang yang mengajukan analisis bagus hingga menuju solusi. Jawabannya paling: salah sistem dari rektorat, tapi lebih banyak yang menyalahkan sesama daripada menjawab: hedonis, asyik sendiri, tak peduli. Seolah yang disalahkan (siapapun itu) akan peduli.
Beberapa kawan saya berdiskusi dan mencoba menjawab, serta merasa telah menemukan jawabannya. Dari perbincangan dan tulisan, begini logikanya.
Beberapa gejala (dari email pribadi seorang kawan):
1. Pendidikan semakin mahal, kualitas pendidikan diidentikkan dengan dana yang harus dikeluarkan
2. Kurikulum diperpadat dan diperketat, difokuskan pada pembangunan basis kompetensi, mengikuti konsep link and match terhadap kebutuhan dunia global.
3. Pembatasan masa kuliah, dan semakin diperpendek menjadi 6 tahun.
4. SPP 2 kali lipat bila lebih dari 5 atau 4 tahun
5. Adanya jalur khusus untuk masuk ke ITB dengan biaya mahal
6. Menciptakan opini bahwa kegiatan2 kemahasiswaan dapat mengganggu dan menghambat proses akademis (karena pendidikan memang hanya disempitkan untuk pemenuhan kompetensi keprofesian saja)
7. Memberangus proses kaderisasi mahasiswa, dan mengubahnya hanya menjadi semacam pelatihan dan training biasa. Padahal inti utama dari kaderisasi dan pendidikan adalah pembentukan karakter (character building)
8. Memberi hukuman keras yang menghancurkan psikologis dan karakter mahasiswa dengan penyegelan himpunan dan skorsing terhadap tokoh-tokoh mahasiswa
9. Mengancam mahasiswa baru agar tidak mengikuti kegiatan kaderisasi dan kegiatan2 kemahasiswaan lainnya yang dianggap ‘mengganggu’ akademis
10. Berusaha mengendalikan langsung kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, khususnya kaderisasi, seperti halnya OSKM dan kaderisasi himpunan.
11. Mengadakan sendiri pelatihan-pelatihan yang ‘mendoktrin’ mahasiswa untuk fokus ke akademis dan menghindari kegiata-kegiatan yang dianggap mengganggu
Dari gejala-gejala tersebut, terus lewat black box, menjadi simpulan:
“Saya menyimpulkan bahwa akar masalahnya adalah mulai bergeser dan berubahnya paradigma dan karakter pendidikan di Indonesia dan ITB khususnya ke arah bentuk kapitalisme. Pendidikan yanga ada sekarang hanya dikecilkan dan digeser kepada bagaimana bisa menghasilkan manusia2 yang berkualitas akademis baik dan berkompetensi tinggi agar bisa memeuhi kebutuhan sdm dunia keprofesian dan industri. Mahasiswa hanya diibaratkan mesin2 hidup yang akan menggerakkan globalisasi dunia.
Pendidikan yang sejatinya untuk membangun pribadi, karakter, dan pola pikir manusia dialihkan sebagai proses pencetak ‘mesin-mesin’ hidup itu.”
Itu berdasar email pribadi seorang kawan kepada saya (sorry bang, ada yang diedit dikit…). Lebih jauh, lanjutnya, hal-hal itulah yang akhirnya membuat mahasiswa ITB sekarang menjadi makin “apatis, pragmatis, individualis, oportunis dan juga menumbuhkan karakter budaya materialis dan hedonis”.
Jadi, akarnya ialah : KAPITALISASI PENDIDIKAN. Atau paradigma semacam itu.
Itu hipotesis (sekali lagi, hipotesis) yang sangat bagus tentang root of all evil dunia kita. Mari kita verifikasi sama-sama.
Bagaimana? Sebenarnya bisa aja sih dilakukan penelitian. Gara-gara baca TA, dengan memakai beberapa teknik analisis multivariat (Anmul) kita bisa membuktikan hipotesis itu benar atau salah. Kapitalisasi pendidikan dapat dijabarkan menjadi beberapa variabel, terus menjadi item dan jadi kuesioner. Lalu, yang kita rasakan (sebut saja “KONDISI MAHASISWA ITB SEKARANG”) juga dijabarkan menjadi beberapa variabel. Dibuat modelnya, dibuat kuesioner, terus diolah pake SPSS, dan kita buktikan: pengaruh kapitalisasi pendidikan terhadap kondisi mahasiswa ITB sekarang. Apakah benar hipotesis kita?
Ya, kira-kira semacam itulah metodenya (saya gak tau lebih teknisnya, kudu belajar lebih jauh lagi…maklum, probstat C, statistika industri B, Analisis multivariat amit-amit kalo diambil. Tapi kalo idenya mungkin benar). Temen saya ada yang pernah ngajakin bikin riset tentang ini. Ayo, jadi yuk! Kayaknya ini juga bisa jadi bahan kajian baru saya di Kastrat Kabinet. Yang jago Anmul, gabung ya…atau ntar saya nanya-nanya deh!
Balik lagi ke root of all evil. Kalau mau dilanjutkan, sebenarnya kita bisa mencari yang lebih fundamental dari itu. Begini ceritanya.
Dunia “digerakkan” oleh ide. Oleh pikiran, oleh meme. Ide tentang Tauhid mengubah bangsa Arab, ide revolusioner Marx terjemahan Lenin membuat Revolusi Oktober, ide Indonesia Merdeka oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda tahun 1921 terwujud tahun 1945. Ide Newton dan Descartes, kata Capra, melahirkan Paradigma Cartesian yaang mekanistis dalam memandang dunia. Ide yang diperoleh dari Fisika Baru juga melahirkan paradigma yang lebih holistik dan organis.
Ide bahwa sumber daya negara terbatas, maka negara harus meluaskan pasarnya, “menyerbu” negara lain, mengambil sumberdayanya, sekaligus juga menjadi pasar dan produsen, melahirkan merkantilisme. Menjadi penjajahan. Negara menjadi organ yang kejam dan totaliter, maen serbu dan ambil.
Dengan semangat pencerahan di Eropa, semangat individualisme dan humanisme, menginspirasi Adam Smith menulis The Wealth of Nation. Idenya: biarkan the invisible hands pada pasar yang bekerja, yang akan secara alamiah mendistribusikan kekayaan hingga suatu negeri pada akhirnya akan sejahtera. Market Rules! Merkantilisme punah (lebih tepatnya, berubah bentuk), dan ide baru ini disebut Marx sebagai Kapitalisme.
Kata Marx dan Engels yang melihat sendiri penderitaan buruh-buruh di masa kapitalisme awal: sistem ini ialah sistem yang kejam, menghisap. Ia bahkan meramalkan, tak mungkin ada manusia yang bisa bertahan dengan sistem ini. Nanti, katanya, bakal terjadi The Great Decline of Capitalism, dan saat itulah terjadi revolusi proletarian. Lalu akan ada the classless society, masyarakat yang sangat adil, dimana bekerja hanya sesuai dengan kebutuhan dan yang diinginkan, dimana tiap manusia berkesempatan beraktualisasi, mengembangkan seni, pengetahuan, tanpa penghisapan. (untung aja Marx nggak bilang saat itulah nabi Isa turun melawan Dajjal…hehehe. Ramalannya udah mirip doktrin agama aja!). Lenin, seorang Rusia yang sangat cerdas (ada bagian abnormal di otaknya yang membuat ia sangat ahli “berpikir asosiatif”, itu penyelidikan ilmuwan atas otak Lenin yng sekarang diawetkan), dan gawatnya, percaya berat dengan Marx, mewujudkan mimpinya lewat Kaum Bolsyewik, Revolusi Oktober 1917 yang menumbangkan Tsar Rusia. Sistem perekonomiannya etatisme, negara yang dianggap sebagai representasi kaum proletar dan seluruh rakyat (padahal, hanya representasi PKS…gak usah curiga apalagi marah, PKS ini: Partai Komunis Sovyet…hehehe) yang menguasai seluruh sektor perekonomian. Beberapa terinspirasi, untuk kemudian kecewa. Di Eropa, terutama Eropa Barat, para revolusioner ini lebih memilih jadi revisionis, melahirkan corak partai yang kekiri-kirian (Partai Buruh, partai demokrat-liberal di Jerman, di Amerika bisa dibilang Partai Demokrat). Sejak itu dunia mulai terbelah: kapitalis-liberalis dan Marxis-komunis (ini pengkategorian kasar ya…tentu saja banyak varian di dalamnya). Yang laen yang nggak mau ngikut-ngikut, memilih bikin Non-Blok. Saya sendiri sampai sekarang menganggap Indonesia bukan kapitalis-liberalis apalagi Marxis-komunis, tapi negara “fantastis”…dari dulu sampe sekarang: bikin NEFO dan GANEFO, monas dan hotel Indonesia saat rakyatnya gak mampu beli beras, dan bayarin utang koruptor saat penduduk miskinnya lebih dari 40 juta! Fantastis!
Dengan sistem baru ini ternyata berhasil membuat negara-negara pemeluknya maju. Sampai datang the Great Depression tahun 1930-an. Bursa saham tiba-tiba jatuh. Perekonomian kolaps. Penduduk Amerika tiba-tiba miskin dan butuh tunjangan sosial (silakan nonton Cinderella Man untuk gambaran tahun 1930-an yang dialami seorang petinju, atau baca The Grapes of Wrath). Orang-orang komunis udah seneng aja: liat tuh, great decline of capitalism datang! Tapi yang datang ialah John Maynard Keynes, lagi-lagi seorang ekonom jenius yang agak gay (kenapa orang jenius selalu aneh-aneh???!!!), dengan konsep ekonomi campurannya. Negara harus berperan lebih aktif dalam perekonomian. Roosevelt menerapkan ide-idenya, dan Amerika berhasil bangkit. Ide yang ini juga laku dijual dimana-mana. Semua negara maju menjadi welfare-state.
Ternyata ada yang dendam juga nih ama si Keynes. Friedrich August von Hayek sejak dulu terlibat berantem lewat tulisan dengan Keynes. Sebagai fundamentalis pasar, ia gak mau kalo pasar dicampurin apapun, termasuk juga oleh negara. Kalau ide Hayek ini gak diubah menjadi sebuah gerakan, rasanya dunia kita akan menjadi tempat yang berbeda sekarang.
Hayek yang lagi sebel mengorganisir pertemuan tertutup di Mont Pelerin, Swiss. Yang diundang yang sepemahaman dengan dia: ekonom mazhab chicago pro pasar bebas (Milton Friedman, Stigler), Karl Popper, Polanyi, dan beberapa nama lain. Mereka prihatin dengan “gelombang kolektivisme” di Eropa. Terus, ia cerai dengan istrinya, menikahi sepupu istrinya (contoh satu lagi jenius yang aneh!), lalu pindah ke Universitas Chicago, tempat teman-teman sealirannya kumpul. Pemikiran ekonomi yang sangat propasar bebas tetap bisa hidup. Hayek, Friedman dan kawan-kawan bahkan masih bisa menerbitkan banyak bukunya.
Sampai tibalah masanya…gara-gara heroisme King Faisal, harga minyak dunia tiba-tiba naik. Meski gak separah tahun 1930-an, sekali lagi ekonomi dunia krisis. Di Inggris, partai konservatif lewat kolaborasi dengan lembaga-lembaga think-tank canggih (Institute of Economic Affair, Centre for Policy Studies, Adam Smith Institute, dan Mont Pelerin Society, yang dibentuk Hayek dulu), ditambah dengan perempuan jenius lagi, Margaret Thatcher berhasil merebut kekuasaan di tahun 1979. Resep pemulihan ekonominya tentu saja memakai resep a la Hayek dan kawan-kawan. Thatcher, dengan mitranya yang kebijakannya juga mirip-mirip di AS sana, Ronald Reagan, mulai melakukan 3 hal sakti: privatisasi, deregulasi, liberalisasi. Perusahaan milik negara diswastakan, peraturan-peraturan yang mengikat perusahaan dihapuskan. “Kerja keras dan berusaha sendiri”, jadi etika moral zaman Thatcher dan seterusnya. Kalo gw kaya karena usaha sendiri, dan elo tetap miskin, masak gw salah??
Hasilnya emang bagus: 2/3 penduduk Inggris punya tempat tinggal sendiri (sebelum Thatcher, hanya setengahnya), standar hidup meningkat, penjualan TV, freezer, barang-barang elektronik naik drastis, 60 % populasi menjadi golongan kelas menengah, perekonomian booming. Negara-negara lain yang mengikuti resepnya pun sama. (Norena Heertz, the silent takeover, diterjemahkan jadi “Perampok Negara”)
Tapi efek lainnya: kesenjangan yang makin besar. Di dalam negara, dan antar negara maju-negara miskin. (untuk pengantar yang baik kepada Neoliberalisme, silakan baca “Neoliberalisme”, pustaka Cindelaras)
Ide inilah, ide Hayek dan kawan-kawan dan selingkuhannya di pemerintahan-pemerintahan, yang berkembang ke seluruh dunia, hingga sekarang. Ide ini lalu disebut NEOLIBERALISME. Apalagi, di era yang disebut globalisasi ini. Dengan perkembangan teknologi, neoliberalisme dan globalisasi mendefinisikan kehidupan denagn cara baru. Late Capitalism, kapitalisme yang menganggap konsumsi bukan karena kebutuhan, tapi karena keinginan, dan karena menjadi gaya hidup. Karena generasinya juga makmur-makmur, terus MTV dan produk sejenisnya laku, ditambah dengan merajalelanya konsumsi, melahirkan masyarakat yang konsumtif, berorientasi kesenangan (hedonis). Juga berpikiran pendek, demi mencapai status yang ditentukan oleh apa yang bisa dikonsumsinya. Merasa lebih gaya memakai Jaguar, HP Vertu, atau liburan ke Swiss.
Nah, itu efek virus neoliberal ke bidang budaya dan gaya hidup: pragmatis, konsumtif, hedonis.
Perselingkuhan virus neoliberal dengan kekuasaan tak berhenti sampai situ saja. Lewat World Bank, WTO, dan IMF, virus ini juga menyebar daan menginternasional. Saat negara-negara Amerika Latin dan Asia dalam krisis, IMF datang dengan beragam kebijakannya yang tengik beraroma neoliberal. Maka BUMN-BUMN pun diprivatisasi, deregulasi dimana-mana, dan apapun diliberalisasi.
Termasuk juga pendidikan kita…Maka berubahlah ITB jadi BHMN,lebih mandiri, lebih bebas, lebih otonom. Sekarang, semua lembaga pendidikan formal direncanakan menjadi Badan Hukum Pendidikan, format yang mirip-mirip BHMN. Lahirlah yang disebut kawan saya tadi: kapitalisme pendidikan.
Maka, apakah root of all evil?
NEOLIBERALISME!
Neoliberalisme ini, setidaknya merusak lewat 2 cara: cara budaya dengan menjadikan kita makin hedonis, pragmatis, konsumtif, apatis (ngapain ikutan begituan, mendingan kita maen ke mall…) dan cara-cara struktural lewat perundangan dan aturan-aturan. Sejak itb di BHMN, mulai timbul banyak aturan. Mulai terasa gejala-gejala yang disebut di atas.
Selanjutnya, what is to be done?
(bersambung)
"Black Comedy" Life
Pernah ada kuis di internet, semacam kuis yang banyak di majalah-majalah, yang pengen ngejawab: kalau diibaratkan film, film apakah kehidupan anda?
Iseng-iseng nyoba. Gak ada jawaban bener salah, yang ada ialah yang Lucky banget atau nggak Lucky banget. Ternyata:
Your life is a black comedy!
Hehehe…langsung saya nolak, nggak ah! Sisi Lucky yang melankolis yang menolak semua, menganggapnya nggak ilmiah, kurang teliti, kurang merepresentasikan karakter…
Tapi emang saya suka black comedy sih. Kadang-kadang memandang hidup juga dari kacamata black comedy.
Dari kuis itu juga saya tahu kenapa bisa cocok banget dengan dua sahabat saya sejak SMA. Kalo dipikir-pikir, kita bertiga ini begitu berbeda. Tapi kok bisa nyambung and asyik banget kalo ngapa-ngapain? Ternyata kesamaannya: kita sama-sama memandang hidup seperti pembuat cerita black comedy.
Black comedy itu subgenre dari comedy (jelas lah!). Cuma, kelucuannya timbul karena ada suatu hal yang sangat tak terduga, dan tragis. Tapi gak jadi sedih, saking nggak terduganya, yang ada cuma lucu…bukan menertawakan ketragisan, tetap ketawa gara-gara lucu, yang ada unsur tragisnya.
Pernah nonton American Beauty? Ingat tokoh militer yang anti gay, sepanjang umurnya ia bilang “I’m not gay and I hate gay!”, punya istri yang kurus kering dan tak bahagia, tapi ternyata di akhir film ia merayu tetangganya yang disangka gay, padahal bukan…Tetangganya bingung, dan menolak. Tragis! Seumur hidup ia merepresi diri, terus pas dikeluarkan ternyata ditolak…(sekarang penonton tahu kenapa istrinya tak bahagia…).
Tapi lucu kan? Nggak? Wah, berarti selera humor Anda sehat, tidak hitam kayak saya dan 2 sahabat saya itu.
Paradigma black comedy dalam memandang peristiwa hidup juga kadang-kadang berguna. Humor, juga tertawa, adalah mekanisme yang sangat baik untuk sejenak melepaskan dari masalah. Suatu jalan eskapis. Saya pernah denger cerita dari temen-temen PRD yang dulu diculik dan ditahan aparat. Katanya, saat tertekan, mereka akan tertawa, sekedar menertawakan diri sendiri, menertawakan ketragisan yang harus mereka jalani…”itu menjaga kami tetap sehat dan tak jadi gila”, katanya.
Setelah bertegang-tegang, marilah lebih rileks…Selalu ada hal yang lucu, pasti, dibalik tiap peristiwa. Tinggal dicari dan ditertawai.
Busyet, malah nulis blog, padahal gw belum bikin tugas komprof,spp,plo…padahal itu tugas combo buat minggu besok.
Hehehe…
Iseng-iseng nyoba. Gak ada jawaban bener salah, yang ada ialah yang Lucky banget atau nggak Lucky banget. Ternyata:
Your life is a black comedy!
Hehehe…langsung saya nolak, nggak ah! Sisi Lucky yang melankolis yang menolak semua, menganggapnya nggak ilmiah, kurang teliti, kurang merepresentasikan karakter…
Tapi emang saya suka black comedy sih. Kadang-kadang memandang hidup juga dari kacamata black comedy.
Dari kuis itu juga saya tahu kenapa bisa cocok banget dengan dua sahabat saya sejak SMA. Kalo dipikir-pikir, kita bertiga ini begitu berbeda. Tapi kok bisa nyambung and asyik banget kalo ngapa-ngapain? Ternyata kesamaannya: kita sama-sama memandang hidup seperti pembuat cerita black comedy.
Black comedy itu subgenre dari comedy (jelas lah!). Cuma, kelucuannya timbul karena ada suatu hal yang sangat tak terduga, dan tragis. Tapi gak jadi sedih, saking nggak terduganya, yang ada cuma lucu…bukan menertawakan ketragisan, tetap ketawa gara-gara lucu, yang ada unsur tragisnya.
Pernah nonton American Beauty? Ingat tokoh militer yang anti gay, sepanjang umurnya ia bilang “I’m not gay and I hate gay!”, punya istri yang kurus kering dan tak bahagia, tapi ternyata di akhir film ia merayu tetangganya yang disangka gay, padahal bukan…Tetangganya bingung, dan menolak. Tragis! Seumur hidup ia merepresi diri, terus pas dikeluarkan ternyata ditolak…(sekarang penonton tahu kenapa istrinya tak bahagia…).
Tapi lucu kan? Nggak? Wah, berarti selera humor Anda sehat, tidak hitam kayak saya dan 2 sahabat saya itu.
Paradigma black comedy dalam memandang peristiwa hidup juga kadang-kadang berguna. Humor, juga tertawa, adalah mekanisme yang sangat baik untuk sejenak melepaskan dari masalah. Suatu jalan eskapis. Saya pernah denger cerita dari temen-temen PRD yang dulu diculik dan ditahan aparat. Katanya, saat tertekan, mereka akan tertawa, sekedar menertawakan diri sendiri, menertawakan ketragisan yang harus mereka jalani…”itu menjaga kami tetap sehat dan tak jadi gila”, katanya.
Setelah bertegang-tegang, marilah lebih rileks…Selalu ada hal yang lucu, pasti, dibalik tiap peristiwa. Tinggal dicari dan ditertawai.
Busyet, malah nulis blog, padahal gw belum bikin tugas komprof,spp,plo…padahal itu tugas combo buat minggu besok.
Hehehe…
Subscribe to:
Posts (Atom)