Saya lagi baca novel ringan yang cerita tentang kisah perjalanan ke Jawa Timur. Naik kereta api, kelas ekonomi. Yang digambarin disana mirip dengan yang saya rasain. Jadi pengen cerita.
Kalau gak salah waktu saya tingkat 2. Waktu itu saya masih jadi anak baik-baik (hehehe…), soalnya masih aktif di Kaderisasi & Pengembangan SDM Gamais-ITB. Mungkin karena ini juga, saya suka rada dendam kalo ada yang seenak udel bikin pengkotak-kotakkan politik di kampus: Gamais-PSIK. Sial. Saya yang waktu itu masih aktif di dalem, di PSDM lagi, tau jelas gak pernah pengurus-pengurus Gamais itu aktif maen politik praktis di kampus, sampe bisa digolongkan dan dipertentangkan kayak gitu. Hanya orang yang tolol dan tak mengerti yang masih menganggap seperti itu.
Waktu itu ada seorang kakak yang nawarin ikut pelatihan manajemen Forum Silaturrahmi Lembaga Da’wah Kampus Nasional (FSLDK). Saya yang masih polos dan serba bersemangat saat itu mau-mau aja, gak mikirin biaya, naek apa. Saya konfirmasi keberangkatannya sore, tapi jam 8-an malem kudu udah berangkat. Dari rumah ke kosan Miftah, yang waktu itu juga masih jadi anak baik-baik (aktif di Gamais juga ;-p), terus dianter ama temen-temen Miftah ke stasiun Kiaracondong.
Di jalan udah ditelpon-telpon ama rekan seperjalanan. Kemana nih, keretanya berangkat jam 8?!! Jam 8 kurang dikit nyampe, beli tiket (gak ngantri!). 25 rebu rupiah saja, sodara-sodara! Seharga tiket ke Cirebon naek Patas AC. Padahal kita mau ke Jogja. Naek kelas ekonomi.
Pertama masuk ke gerbong…panas banget. Padahal masih di Bandung (kereta belum berangkat). Belum apa-apa udah banjir keringet. Lumayan bau juga. Alhamdulillah, waktu itu masih agak sepi, masih dapet tempat duduk. Yah, masak 25 rebu minta nyaman!
Terus kereta berangkat…Angin mulai masuk, bersamaan dengan pengamen-pengamen yang hampir tak pernah jeda. Asli, beneran non stop. Paling berhenti pas lampu dimatiin, sekitar tengah malem sampe jam 3. Selain pengamen, ada yang ngebersihin tempat duduk (dan minta dibayar), mbok-mbok penjual makanan khas daerah yang dilewatin, yang jualan nasi, sampe jualan maenan buat anak-anak. Saya inget, waktu itu saya sempet heran, kesel, nyumpah-nyumpah dalam hati. Asli, saya ngantuk. Pengen tidur. Tapi ni pengamen-penjual-pembersih, dll gak pernah berhenti. Sampe akhirnya saya udah nyampe pada titik ketidakpedulian…dan bisa sedikit istirahat segimanapun ramenya. Waktu itu juga ke Jogja-nya bareng beberapa akhwat dari Gamais (tentu aja jauh duduknya!) yang juga ikut, semuanya berjilbab saangat rapi, dan kita bisa bayangkan betapa sabarnya mereka…saya ama Miftah aja ngerasa gak nyaman, padahal make celana panjang dan kaos tipis.
Jelas di kereta gak bisa tidur enak. Dulu waktu kecil saya pernah dipalak, sampe di bawa ke lorong di sebuah mal, dan itu menghadirkan sedikit trauma kalo ada orang tidak dikenal yang mendekat tiba-tiba. Kayak pengamen-penjual-pembersih tadi. Makanya di kereta selalu cemas, terganggu beragam suara, dan meskipun bisa istirahat, tapi selalu bangun lagi dan lagi.
Jam 5 kita udah nyampe di sebuah stasiun deket Jogja. Kita turun bentar, nyari mushola. Saat itu, biarpun Jogja panas, keluar dari kereta rasanya kayak bebas, biarpun cuma bentar. Wudlu pun terasa agak beda. Bener-bener seger.
Pengalaman terhebat saat di kereta itu jelas pas pagi hari. Saat kebanyakan penumpang udah turun, matahari mulai naik, cahaya kuning masuk ke jendela-jendela kereta. Di luar sawah, dan perumahan penduduk yang sederhana. Pagi berjalan seiring berjalannya kereta, jadi perubahan gelap ke terangnya terasa sekali. Dari stasiun tempat kita berhenti yang masih gelap, sampe ke stasiun-staiun berikutnya, terus berjalan ke timur, makin pagi, makin hangat, makin kuning…ditambah dengan perasaan hebat kalo kita kurang tidur (pernah merasakan? Kalo saya kurang tidur, tapi juga gak ngantuk, pas pagi-paginya pasti ada perasaan tertentu. Perasaan yang hebat, semacam perasaan serba-spiritual. Perasaan serba sadar).
Sekitar jam 7 akhirnya kita nyampe di Surakarta. Langsung bingung. Mau kemana ya? Karena waktu itu saya dan Miftah masih mahasiswa tingkat 2 yang lucu-lucu, kita nurut aja kemanapun. Yang penting nyampe.
Perasaan saya…Pagi di Surakarta itu aneh. Asing, tapi ada perasaan akrab. Gak tau kenapa. Sekitar setengah jam kemudian baru nyampe di UNS. Alhamdulillah.
Sepanjang pelatihan yang sekitar 4 harian itu juga menarik. Tapi yang itu ntar aja deh. Akhirnya, pulangnya kita naik eksekutif ke Bandung. 75 ribu, nyaman, bisa tidur enak, tapi entah kenapa…asing. Merasa sendiri. Tidak ada kehangatan.
Dan sekarang saya duduk membaca novel yang menceritakan perjalanan pake kereta ekonomi…Untuk yang nggak biasa kayak kebanyakan kita, cobain deh! Pasti ada cerita menarik. Saya kenal beberapa teman yang punya kesan sama setelah naek kereta kelas ekonomi.
Oh, I miss it!!! Rindu perjalanan lagi, rindu kereta kelas ekonomi…Mif, ntar kalo kita KP ke Semarang, pake ekonomi lagi yuk!! Atau naek motor aja, biar berasa kayak Che-Granada? Temen saya juga ada yang ngajakin tur de java, sampe Bali. Tapi bisa gak ya? KP, euy...
Yah, gimanapun, perjalanan itu selalu mengasyikkan. Apalagi kalau unik dan tak biasa. Perjalanan meninggalkan “diri”, dan mencari “diri’ yang lain yang selama ini tercecer…
Saturday, November 26, 2005
Ilmu dan Semangat
Jum’at, 18 September 2005. Nyesel juga saya gak jum’atan di Salman. Kata teman saya, khutbahnya lumayan provokatif (“sampai saya yang lagi tidur bangun!”). Saya denger sedikit isinya, dari cerita teman-teman. Tolong konfirmasi kalau ada yang salah.
Menurut khatib, berda’wah (menyeru menyebarkan agama Islam) tak bisa hanya bermodalkan “semangat” saja. Harus dengan ilmu. Dan tak bisa sembarang orang. Ketika banyak yang bersemangat, namun kurang ilmu, tang terjadi adaalah distorsi pemahaman (penafsiran?) Islam. Akar kekerasan beragama, bisa dilacak kesini: ketika yang bersemangat berdakwah banyak, namun tak disertai ilmu yang memadai.
Saya rasa yang dimaksud khatib ‘berilmu’ disini ialah yang mengetahui beragam ilmu (sekali lagi, beragam, berarti termasuk juga varian-varian dari suatu pemahaman). Kalau saya boleh menduga, mungkin ini refleksi khatib dari beragam kekerasan atas nama agama, termasuk terorisme yang marak akhir-akhir ini.
Yang menarik lagi, ia menyebut-nyebut kampus sebagai tempat orang bersemangat namun kurang ilmu (ini kesimpulan saya). Ia menyebut contoh maraknya Islam di kampus, termasuk juga halaqah-halaqah. Khatib dalam khutbahnya menyebut kata ini, yang membuat seorang teman saya jadi bangun dari tidurnya. (kalo gak salah, halaqah secara literal bermakna ‘lingkaran’. Merujuk pada metode satu orang fasilitator dengan beberapa orang yang melingkar mengelilingi dan bersama-sama belajar Islam).
Ada beberapa hal yang sempat terlintas. Berikut diantaranya.
Apakah benar akar kekerasan beragama karena “bersemangat, namun kurang ilmu (Islam)”? coba kita studi kasus: terorisme (menggunakan definisi yang biasa digunakan media di Indonesia). Azahari doktor statistik dari Inggris, Noordin M.Top muridnya di universitas yang sama di Malaysia. Para anak buahnya lulusan pesantren-pesantren. Setahu saya, hanya satu anak buahnya yang diketahui pernah tercatat di salah satu Universitas di Malang. Bersemangat? Jelas. Kurang ilmu (Islam)? Masih debatable. Yang dari pesantren saya rasa ‘ilmu’-nya bagus. Tapi kalau menggunakan definisi ‘berilmu’ = mengetahui beragam ilmu (termasuk juga varian-varian dari suatu pemahaman), bisa jadi benar kalo dikatakan para teroris itu kurang berilmu. Azahari baru ‘bersemangat’ setelah ia sakit dan sempat belajar Islam dari seseorang. Saya tidak percaya pesantren-pesantren di Indonesia mengajarkan pemahaman Islam seperti yang dipahami mereka-mereka, namun kalau pemahaman perorangan yang disebarkan, bisa saya percaya (jadi, bukan institusi pesantren, tapi santri yang mungkin pernah berkenalan dengan pemahaman seperti itu. Pemahaman Islam yang ‘keras’ bukan khas Islam indonesia, kalaulah saya boleh menggunakan istilah ini. Itu ‘imported thought’). Bin Laden, yang dituduh bosnya bos teroris, bukan orang yang concern dengan Islam dan belajar Islam sejak muda. Sebagai bagian dari keluarga konglomerat yang dekat dengan keluarga raja, gaya hidupnya mirip-mirip ama bangsawan Arab lain. Ia bahkan sempat jadi suporter fanatik Arsenal! (Kompas, 25 November. Arsenal punya penggemar-penggemar kontroversial: Osama bin Laden, pemimpin mafia John Gotti, PM China Zhou En-Lai, termasuk juga…Fidel Castro!).
Jadi, mungkin benar kalau para teroris itu lebih besar semangatnya, dengan pemahaman yang hanya satu jenis saja.
Kedua, kampus sebagai persemaian orang-orang bersemangat namun ‘kurang ilmu’. Sebenarnya agak paradoks, kalaulah benar civitas academica adalah manusia intelektual (tapi bahkan di kampus, intelektualitas itu jarang ditemui!). Lalu menjamurnya pengajaran Islam yang “seadanya” di kampus. Yang menularkan semangat, tapi alpa (belum) menularkan ilmu. Saya rasa, kalau masalah yang ini sih tergantung pemahaman bagaimana yang dibawa ke kampus. Jenis pemahaman yang rigid, kaku, dan gagal berdialog dengan orang kampus saya rasa kecil kemungkinan untuk berhasilnya. Itulah kenapa sedikit sekali anak buah Azahari dari kampus. Dari berita-berita juga, mereka sebenarnya tak memperoleh jenis pemahaman tersebut dari kampus, terbukti dengan tidak aktifnya si teroris tersebut di lembaga-lembaga dalam kampus. Namun, kalau balik lagi ke pernyataan “bersemangat, namun kurang ilmu”?. Hmm…gimana ya? Saya lebih sreg kalau bilang bersemangat, dengan satu corak pemahaman.
Ketiga, tentang semangat vs ilmu ini. Saya ingat waktu baca buku tentang Bang Imad yang menyelenggarakan LMD (Latihan Mujahid Da’wah, sampai sekarang masih ada di Salman) di Malaysia. Pesertanya ialah mahasiswa-mahasiswa universitas Islam yang canggih di Malaysia. Bang Imad sendiri adalah Doktor…bidang elektroteknik. Namun apa kesan salah seorang muridnya? “Saya belajar Islam puluhan tahun, tapi baru saya mengerti hari-hari ini (ketika mengikuti LMD)!”. Apa pesannya? Watak ilmuwan itu, kadang-kadang dingin, obyektif, skeptis, dan agak jauh dengan fanatisme dan semangat. Islam jenis ini…rasanya sulit tersebar, segimanapun media mempropagandakannya. Itulah kenapa Islam Liberal hanya jadi wacana intelektual aja, jauh dari pemahaman rakyat kebanyakan. Kalau ini terjadi, ya kalah dengan yang lain yang lebih ‘aplikatif’ dengan dukungan banyak media. Dengan hedonisme, misalnya. Islam juga perlu dipahami ilmunya dengan semangat. Karena semangat menular lewat hati, sedangkan ilmu lewat otak. Dan rata-rata otak kita itu malas kita pakai…;-p
Keempat, saya kira pada akhirnya pengalaman keberagamaan (seperti juga: pengalaman berideologi) adalah sangat personal, tak peduli pemahamannya satu corak atau tidak. Bahkan untuk satu orang yang sama. Sayyid Quthb pra Ikhwan, Quthb dengan Ikhwan, dan Quthb dengan Ikhwan lalu dipenjara, menghayati agama yang sama (Islam) secara berbeda. St. Augustinus saat masih bersama kekasihnya dan Augustinus saat mengarang confessiones menghayati kekristenan secara berbeda. Cara Umar bin Khatab dan Abdullah bin Umur bersikap dalam suatu masalah agama sangat berbeda, walaupun ayah dan anak. Pengalaman beragama dipengaruhi faktor luar yang ia hayati dan refleksikan, sikap-karakter diri (faktor internal), dan interaksinya. Apakah ia ingin memahami agamanya dengan bersemangat, dengan ilmu, dengan keduanya…sangat personal.
Lalu bagaimana menentukan yang benar? Anda bisa bilang: dengan Iman. Menurut saya, dengan memilih. Tapi sampai sekarang, ini masih pertanyaan yang sulit, yang belum bisa saya jawab dengan memuaskan. Mungkin, kalau yang ingin saya ambil jadi sikap sekarang, adalah apa dan bagaimana yang ia lakukan. “Mengapa”-nya saya serahkan pada Allah. Kita bisa melihat apa efek tindakannya, apakah baik atau buruk. Dari situlah kita menilai. Saya pikir itu lebih adil.
Waduh, pasti banyak yang salah dan keliru di tulisan ini. Ya…Wallahu a’lam bis showaab sajalah!
Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui
Mana yang Semangat-Ilmu-Semangat&Ilmu dan yang benar…
Menurut khatib, berda’wah (menyeru menyebarkan agama Islam) tak bisa hanya bermodalkan “semangat” saja. Harus dengan ilmu. Dan tak bisa sembarang orang. Ketika banyak yang bersemangat, namun kurang ilmu, tang terjadi adaalah distorsi pemahaman (penafsiran?) Islam. Akar kekerasan beragama, bisa dilacak kesini: ketika yang bersemangat berdakwah banyak, namun tak disertai ilmu yang memadai.
Saya rasa yang dimaksud khatib ‘berilmu’ disini ialah yang mengetahui beragam ilmu (sekali lagi, beragam, berarti termasuk juga varian-varian dari suatu pemahaman). Kalau saya boleh menduga, mungkin ini refleksi khatib dari beragam kekerasan atas nama agama, termasuk terorisme yang marak akhir-akhir ini.
Yang menarik lagi, ia menyebut-nyebut kampus sebagai tempat orang bersemangat namun kurang ilmu (ini kesimpulan saya). Ia menyebut contoh maraknya Islam di kampus, termasuk juga halaqah-halaqah. Khatib dalam khutbahnya menyebut kata ini, yang membuat seorang teman saya jadi bangun dari tidurnya. (kalo gak salah, halaqah secara literal bermakna ‘lingkaran’. Merujuk pada metode satu orang fasilitator dengan beberapa orang yang melingkar mengelilingi dan bersama-sama belajar Islam).
Ada beberapa hal yang sempat terlintas. Berikut diantaranya.
Apakah benar akar kekerasan beragama karena “bersemangat, namun kurang ilmu (Islam)”? coba kita studi kasus: terorisme (menggunakan definisi yang biasa digunakan media di Indonesia). Azahari doktor statistik dari Inggris, Noordin M.Top muridnya di universitas yang sama di Malaysia. Para anak buahnya lulusan pesantren-pesantren. Setahu saya, hanya satu anak buahnya yang diketahui pernah tercatat di salah satu Universitas di Malang. Bersemangat? Jelas. Kurang ilmu (Islam)? Masih debatable. Yang dari pesantren saya rasa ‘ilmu’-nya bagus. Tapi kalau menggunakan definisi ‘berilmu’ = mengetahui beragam ilmu (termasuk juga varian-varian dari suatu pemahaman), bisa jadi benar kalo dikatakan para teroris itu kurang berilmu. Azahari baru ‘bersemangat’ setelah ia sakit dan sempat belajar Islam dari seseorang. Saya tidak percaya pesantren-pesantren di Indonesia mengajarkan pemahaman Islam seperti yang dipahami mereka-mereka, namun kalau pemahaman perorangan yang disebarkan, bisa saya percaya (jadi, bukan institusi pesantren, tapi santri yang mungkin pernah berkenalan dengan pemahaman seperti itu. Pemahaman Islam yang ‘keras’ bukan khas Islam indonesia, kalaulah saya boleh menggunakan istilah ini. Itu ‘imported thought’). Bin Laden, yang dituduh bosnya bos teroris, bukan orang yang concern dengan Islam dan belajar Islam sejak muda. Sebagai bagian dari keluarga konglomerat yang dekat dengan keluarga raja, gaya hidupnya mirip-mirip ama bangsawan Arab lain. Ia bahkan sempat jadi suporter fanatik Arsenal! (Kompas, 25 November. Arsenal punya penggemar-penggemar kontroversial: Osama bin Laden, pemimpin mafia John Gotti, PM China Zhou En-Lai, termasuk juga…Fidel Castro!).
Jadi, mungkin benar kalau para teroris itu lebih besar semangatnya, dengan pemahaman yang hanya satu jenis saja.
Kedua, kampus sebagai persemaian orang-orang bersemangat namun ‘kurang ilmu’. Sebenarnya agak paradoks, kalaulah benar civitas academica adalah manusia intelektual (tapi bahkan di kampus, intelektualitas itu jarang ditemui!). Lalu menjamurnya pengajaran Islam yang “seadanya” di kampus. Yang menularkan semangat, tapi alpa (belum) menularkan ilmu. Saya rasa, kalau masalah yang ini sih tergantung pemahaman bagaimana yang dibawa ke kampus. Jenis pemahaman yang rigid, kaku, dan gagal berdialog dengan orang kampus saya rasa kecil kemungkinan untuk berhasilnya. Itulah kenapa sedikit sekali anak buah Azahari dari kampus. Dari berita-berita juga, mereka sebenarnya tak memperoleh jenis pemahaman tersebut dari kampus, terbukti dengan tidak aktifnya si teroris tersebut di lembaga-lembaga dalam kampus. Namun, kalau balik lagi ke pernyataan “bersemangat, namun kurang ilmu”?. Hmm…gimana ya? Saya lebih sreg kalau bilang bersemangat, dengan satu corak pemahaman.
Ketiga, tentang semangat vs ilmu ini. Saya ingat waktu baca buku tentang Bang Imad yang menyelenggarakan LMD (Latihan Mujahid Da’wah, sampai sekarang masih ada di Salman) di Malaysia. Pesertanya ialah mahasiswa-mahasiswa universitas Islam yang canggih di Malaysia. Bang Imad sendiri adalah Doktor…bidang elektroteknik. Namun apa kesan salah seorang muridnya? “Saya belajar Islam puluhan tahun, tapi baru saya mengerti hari-hari ini (ketika mengikuti LMD)!”. Apa pesannya? Watak ilmuwan itu, kadang-kadang dingin, obyektif, skeptis, dan agak jauh dengan fanatisme dan semangat. Islam jenis ini…rasanya sulit tersebar, segimanapun media mempropagandakannya. Itulah kenapa Islam Liberal hanya jadi wacana intelektual aja, jauh dari pemahaman rakyat kebanyakan. Kalau ini terjadi, ya kalah dengan yang lain yang lebih ‘aplikatif’ dengan dukungan banyak media. Dengan hedonisme, misalnya. Islam juga perlu dipahami ilmunya dengan semangat. Karena semangat menular lewat hati, sedangkan ilmu lewat otak. Dan rata-rata otak kita itu malas kita pakai…;-p
Keempat, saya kira pada akhirnya pengalaman keberagamaan (seperti juga: pengalaman berideologi) adalah sangat personal, tak peduli pemahamannya satu corak atau tidak. Bahkan untuk satu orang yang sama. Sayyid Quthb pra Ikhwan, Quthb dengan Ikhwan, dan Quthb dengan Ikhwan lalu dipenjara, menghayati agama yang sama (Islam) secara berbeda. St. Augustinus saat masih bersama kekasihnya dan Augustinus saat mengarang confessiones menghayati kekristenan secara berbeda. Cara Umar bin Khatab dan Abdullah bin Umur bersikap dalam suatu masalah agama sangat berbeda, walaupun ayah dan anak. Pengalaman beragama dipengaruhi faktor luar yang ia hayati dan refleksikan, sikap-karakter diri (faktor internal), dan interaksinya. Apakah ia ingin memahami agamanya dengan bersemangat, dengan ilmu, dengan keduanya…sangat personal.
Lalu bagaimana menentukan yang benar? Anda bisa bilang: dengan Iman. Menurut saya, dengan memilih. Tapi sampai sekarang, ini masih pertanyaan yang sulit, yang belum bisa saya jawab dengan memuaskan. Mungkin, kalau yang ingin saya ambil jadi sikap sekarang, adalah apa dan bagaimana yang ia lakukan. “Mengapa”-nya saya serahkan pada Allah. Kita bisa melihat apa efek tindakannya, apakah baik atau buruk. Dari situlah kita menilai. Saya pikir itu lebih adil.
Waduh, pasti banyak yang salah dan keliru di tulisan ini. Ya…Wallahu a’lam bis showaab sajalah!
Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui
Mana yang Semangat-Ilmu-Semangat&Ilmu dan yang benar…
Sunday, November 20, 2005
Cinta Minggu Ini
Rabu: denger berita teman sma yang nikah,
Kamis: nonton cinta Ron-Hermione, Harry-Cho Chang yang aneh, mendengarkan kisah cinta teman yang juga aneh…,
Jumat: nonton ‘love actually’, baca blog-blog yang entah kenapa banyak posting tentang cinta,
Sabtu: merencanakan suatu perayaan cinta dan menghadiri satu lagi perayaan cinta,
Minggu: I’m sick of it!
Too much love will kill you…
(I promise myself NOT to post about love again for now)
Kata Lucky yang lain: another ‘defense mechanism’? hehehe…
Kamis: nonton cinta Ron-Hermione, Harry-Cho Chang yang aneh, mendengarkan kisah cinta teman yang juga aneh…,
Jumat: nonton ‘love actually’, baca blog-blog yang entah kenapa banyak posting tentang cinta,
Sabtu: merencanakan suatu perayaan cinta dan menghadiri satu lagi perayaan cinta,
Minggu: I’m sick of it!
Too much love will kill you…
(I promise myself NOT to post about love again for now)
Kata Lucky yang lain: another ‘defense mechanism’? hehehe…
Sunday, November 13, 2005
Cantik
Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan selalu menjadi tiga hal yang membingungkan manusia. Kita suka kebenaran, kebaikan, keindahan, tapi apakah sejatinya yang benar, yang baik, yang indah?
Jawaban: kebenaran adalah yang logis, kebaikan adalah yang etis, keindahan adalah yang estetis? Namun, apakah logis, estetis, etis?
Pertanyaan-pertanyaan turunan dari tiga hal tadi juga membingungkan, tidak peduli telah begitu lamanya manusia berkutat dengan hal-hal tadi dan melimpahnya informasi. Dari kebenaran: apa itu keadilan? Apa agama benar? Apakah sains mutlak? Dari kebaikan: apakah tindakan saya memberi pengamen di jalan itu baik? Apakah bermasturbasi itu jahat, padahal tak ada seorang pun yang dirugikan? Mana yang lebih jahat, berzina suka-sama-suka atau korupsi? Dari keindahan: orang telanjang, seni atau pornoaksi? Bisakah ceceran darah dan kekerasan sekaligus juga indah dan menggetarkan?
Begitu juga tentang turunan dari keindahan yang ini: kecantikan. Apa itu cantik?
Kebanyakan media, termasuk sebagian dari kita, mendefinisikan kecantikan seperti ini: putih, tinggi, langsing, hidung mancung, rambut lurus atau sedikit ikal, tulang pipi wajah proporsional (ada juga beberapa anomali, tetapi ini debatable, tak berlaku umum. Contoh, apakah Iman, supermodel kulit hitam itu, cantik?). Lalu kita melakukan pengelompokan. Giselle Bundchen, Claudia Schiffer, Cindy Crawford, Nicole Kidman, Mariana Renata, Dian Sastro, Tamara Bleszynski, Marshanda itu cantik, sementara Tika Panggabean, Omas, Mpok Hindun itu “kurang cantik”. Di suatu kelompok atau komunitas, misalnya, si Fulanah, Fulanih, Fulanoh itu kita anggap paling cantik di antara sesamanya. Benarkah itu?
Apakah kata orang Papua atau hutan Amazon, yang tak pernah bertemu peradaban modern dan masih menjadi obyek kajian antropologi, mereka-mereka yang dianggap media cantik, akan tetap cantik? Cantik mana, bila dibandingkan dengan wanita ras negroid yang sehari-hari mereka temui, yang masih telanjang dada, berkulit hitam, berambut keriting?
Saya tidak tahu. Tapi saya bisa yakin, kalau saja mereka kelak punya akses pada televisi, mereka akan ikut bilang: Penelope Cruz adalah orang paling cantik sedunia!
Ya, cantik adalah komoditas, dan tak luput dari rengkuhan kapitalisme. Cantik juga ditentukan kekuasaan: kekuasaan media, kekuasaan alat-alat pembiak informasi umum, yang lalu merasuk kepada kesadaran publik, termasuk juga kepada saya dan Anda.
Sekarang, saya setuju saja kalau ada yang bilang Sharon Stone itu cantik.
Bagaimana dengan inner beauty? Kalau saya sedang sinis, atau berpikiran negatif, saya curiga itu cuma penghiburan untuk yang kurang cantik. Atau, untuk yang cantik, sekedar upaya menunjukkan bahwa ia lebih dari itu (lebih dari yang serba fisik), ia menghargai juga kecantikan hati, hingga kita berpersepsi: ia rendah hati. Namun tentu saja bukannya tak ada yang namanya “kecantikan hati” tadi, dan bukannya saya tak menghargai. Hanya saja, itu bukan pembahasan kali ini. Dalam filsafat pun, itu adalah permasalahan etika, sedangkan kita sedang mencoba membahas tentang estetika.
Balik lagi ke yang tadi…Kecantikan itu dikonstruksikan. Dirancang, disebarkan pada umum, hingga menjadi ingatan kolektif dalam masyarakat. Tentu saja mempropagandakan bahwa si ini cantik tak sevulgar seperti propaganda partai ini baik. (Propagandanya) Berjalan sangat halus, dari sebuah “penguasa” yang memiliki definisi tertentu tentang kecantikan. Karena mereka berkuasa, manusia-manusia yang menurut sang penguasa tadi cantik yang memiliki paling banyak akses ke publik. Maka, akhirnya terjadilah penerimaan publik. Benar, kita bersepakat bahwa Keira Knightley itu cantik.
Dalam dunia kita, sekarang dan sejak dulu, “penguasa”-nya adalah ras kaukasoid. Maka yang diterima umum sebagai yang cantik pun kecantikan khas kaukasoid: tinggi, langsing, putih, pirang, berhidung mancung, lurus/ikal sedikit. Karena tak semua ras punya akses untuk menjadi secantik orang kaukasoid (orang melayu, misalnya, susah sekali punya rambut blonde kecuali yang albino!), ada juga varian-varian dari yang cantik, tapi tetap ada jejak kaukasoidnya. Dian Sastro tidak pirang atau tinggi, tetapi putih bersih dan berhidung mancung. Beyonce Knowles, yang menurut banyak orang adalah wanita kulit hitam paling cantik, juga memiliki jejak kecantikan kaukasoid itu.
Ini juga dimanfaatkan oleh para pemilik modal. Maka, lakulah produk pemutih, peninggi badan, salon pelurus rambut, atau bedah plastik. Di kota-kota besar, makin bertebaranlah orang-orang cantik, atau orang yang tiba-tiba menjadi cantik.
Akhirnya, kecantikan itu diseragamkan, dan yang tak mau patuh atau yang tak mampu patuh harus menerima kenyataan dikelompokkan sebagai buruk rupa. Karena proses sosialisasi kecantikan itu pun menyentuh seluruh jenis kelamin, termasuk pria, dan kebanyakan pria mementingkan yang serba fisik, maka in a very looooonnnggggg run, yang tidak cantik akan punah. Ia tidak mendapat jodoh, tak bisa menikah dan bereproduksi, dan tak bisa melahirkan anak-anak yang mirip seperti dirinya. Dengan kemajuan rekayasa genetis sekarang, yang kurang cantik namun mampu bertahan mungkin juga akan merekayasa gennya agar bisa cantik, minimal buat anaknya. Tidak adil buat para wanita? Ah, sama aja buat cowok juga. Dengan makin mandirinya wanita memilih, konsep kecantikan juga bisa dengan mudah digantikan dengan “kegantengan”. Pria-pria kurang ganteng juga akan punah.
Kejam? Kalau anda seorang darwinian, inilah hidup kawan! Inilah seleksi alam. Maka jadilah cantik. Atau tetap ingin punah?
Repot, hidup dalam kuasa penguasa yang serakah dan cengkraman kapitalisme. Di era globalisasi lagi.
Ide hanya bisa dilawan dengan ide. Apa ide kecantikan menurut kita? Kalau masih manut aja sama dengan yang “cantik” menurut umum, ya ndak apa-apa juga. Itu pilihan Anda. Tapi kalau punya ide lain, apalagi jadi mampu dominan, itu bagus. Karena sudah lama mereka-mereka para “penguasa” itu sendirian.
Jadi, apakah yang tadi dijelaskan itu cantik? Apakah itu kecantikan? Terserah anda!
Kalau saya ditanya, yang cantik itu yang gimana? Saya akan jawab,“Saya tidak tahu”. Nanti, kalau udah ketemu dan saya menyerah, saya akan jawab: oh, yang ini yang benar, ini yang baik, ini yang indah. Dan yang seperti inilah yang cantik!
Tapi saya sepakat kalau bintang-bintang Lux, artis-artis sinetron atau Hollywood itu cantik. Dengan catatan: khas kaukasoid….
[contoh hasil mikir yang kurang kerjaan saat liburan…penting gak sih tulisan ini???]
Jawaban: kebenaran adalah yang logis, kebaikan adalah yang etis, keindahan adalah yang estetis? Namun, apakah logis, estetis, etis?
Pertanyaan-pertanyaan turunan dari tiga hal tadi juga membingungkan, tidak peduli telah begitu lamanya manusia berkutat dengan hal-hal tadi dan melimpahnya informasi. Dari kebenaran: apa itu keadilan? Apa agama benar? Apakah sains mutlak? Dari kebaikan: apakah tindakan saya memberi pengamen di jalan itu baik? Apakah bermasturbasi itu jahat, padahal tak ada seorang pun yang dirugikan? Mana yang lebih jahat, berzina suka-sama-suka atau korupsi? Dari keindahan: orang telanjang, seni atau pornoaksi? Bisakah ceceran darah dan kekerasan sekaligus juga indah dan menggetarkan?
Begitu juga tentang turunan dari keindahan yang ini: kecantikan. Apa itu cantik?
Kebanyakan media, termasuk sebagian dari kita, mendefinisikan kecantikan seperti ini: putih, tinggi, langsing, hidung mancung, rambut lurus atau sedikit ikal, tulang pipi wajah proporsional (ada juga beberapa anomali, tetapi ini debatable, tak berlaku umum. Contoh, apakah Iman, supermodel kulit hitam itu, cantik?). Lalu kita melakukan pengelompokan. Giselle Bundchen, Claudia Schiffer, Cindy Crawford, Nicole Kidman, Mariana Renata, Dian Sastro, Tamara Bleszynski, Marshanda itu cantik, sementara Tika Panggabean, Omas, Mpok Hindun itu “kurang cantik”. Di suatu kelompok atau komunitas, misalnya, si Fulanah, Fulanih, Fulanoh itu kita anggap paling cantik di antara sesamanya. Benarkah itu?
Apakah kata orang Papua atau hutan Amazon, yang tak pernah bertemu peradaban modern dan masih menjadi obyek kajian antropologi, mereka-mereka yang dianggap media cantik, akan tetap cantik? Cantik mana, bila dibandingkan dengan wanita ras negroid yang sehari-hari mereka temui, yang masih telanjang dada, berkulit hitam, berambut keriting?
Saya tidak tahu. Tapi saya bisa yakin, kalau saja mereka kelak punya akses pada televisi, mereka akan ikut bilang: Penelope Cruz adalah orang paling cantik sedunia!
Ya, cantik adalah komoditas, dan tak luput dari rengkuhan kapitalisme. Cantik juga ditentukan kekuasaan: kekuasaan media, kekuasaan alat-alat pembiak informasi umum, yang lalu merasuk kepada kesadaran publik, termasuk juga kepada saya dan Anda.
Sekarang, saya setuju saja kalau ada yang bilang Sharon Stone itu cantik.
Bagaimana dengan inner beauty? Kalau saya sedang sinis, atau berpikiran negatif, saya curiga itu cuma penghiburan untuk yang kurang cantik. Atau, untuk yang cantik, sekedar upaya menunjukkan bahwa ia lebih dari itu (lebih dari yang serba fisik), ia menghargai juga kecantikan hati, hingga kita berpersepsi: ia rendah hati. Namun tentu saja bukannya tak ada yang namanya “kecantikan hati” tadi, dan bukannya saya tak menghargai. Hanya saja, itu bukan pembahasan kali ini. Dalam filsafat pun, itu adalah permasalahan etika, sedangkan kita sedang mencoba membahas tentang estetika.
Balik lagi ke yang tadi…Kecantikan itu dikonstruksikan. Dirancang, disebarkan pada umum, hingga menjadi ingatan kolektif dalam masyarakat. Tentu saja mempropagandakan bahwa si ini cantik tak sevulgar seperti propaganda partai ini baik. (Propagandanya) Berjalan sangat halus, dari sebuah “penguasa” yang memiliki definisi tertentu tentang kecantikan. Karena mereka berkuasa, manusia-manusia yang menurut sang penguasa tadi cantik yang memiliki paling banyak akses ke publik. Maka, akhirnya terjadilah penerimaan publik. Benar, kita bersepakat bahwa Keira Knightley itu cantik.
Dalam dunia kita, sekarang dan sejak dulu, “penguasa”-nya adalah ras kaukasoid. Maka yang diterima umum sebagai yang cantik pun kecantikan khas kaukasoid: tinggi, langsing, putih, pirang, berhidung mancung, lurus/ikal sedikit. Karena tak semua ras punya akses untuk menjadi secantik orang kaukasoid (orang melayu, misalnya, susah sekali punya rambut blonde kecuali yang albino!), ada juga varian-varian dari yang cantik, tapi tetap ada jejak kaukasoidnya. Dian Sastro tidak pirang atau tinggi, tetapi putih bersih dan berhidung mancung. Beyonce Knowles, yang menurut banyak orang adalah wanita kulit hitam paling cantik, juga memiliki jejak kecantikan kaukasoid itu.
Ini juga dimanfaatkan oleh para pemilik modal. Maka, lakulah produk pemutih, peninggi badan, salon pelurus rambut, atau bedah plastik. Di kota-kota besar, makin bertebaranlah orang-orang cantik, atau orang yang tiba-tiba menjadi cantik.
Akhirnya, kecantikan itu diseragamkan, dan yang tak mau patuh atau yang tak mampu patuh harus menerima kenyataan dikelompokkan sebagai buruk rupa. Karena proses sosialisasi kecantikan itu pun menyentuh seluruh jenis kelamin, termasuk pria, dan kebanyakan pria mementingkan yang serba fisik, maka in a very looooonnnggggg run, yang tidak cantik akan punah. Ia tidak mendapat jodoh, tak bisa menikah dan bereproduksi, dan tak bisa melahirkan anak-anak yang mirip seperti dirinya. Dengan kemajuan rekayasa genetis sekarang, yang kurang cantik namun mampu bertahan mungkin juga akan merekayasa gennya agar bisa cantik, minimal buat anaknya. Tidak adil buat para wanita? Ah, sama aja buat cowok juga. Dengan makin mandirinya wanita memilih, konsep kecantikan juga bisa dengan mudah digantikan dengan “kegantengan”. Pria-pria kurang ganteng juga akan punah.
Kejam? Kalau anda seorang darwinian, inilah hidup kawan! Inilah seleksi alam. Maka jadilah cantik. Atau tetap ingin punah?
Repot, hidup dalam kuasa penguasa yang serakah dan cengkraman kapitalisme. Di era globalisasi lagi.
Ide hanya bisa dilawan dengan ide. Apa ide kecantikan menurut kita? Kalau masih manut aja sama dengan yang “cantik” menurut umum, ya ndak apa-apa juga. Itu pilihan Anda. Tapi kalau punya ide lain, apalagi jadi mampu dominan, itu bagus. Karena sudah lama mereka-mereka para “penguasa” itu sendirian.
Jadi, apakah yang tadi dijelaskan itu cantik? Apakah itu kecantikan? Terserah anda!
Kalau saya ditanya, yang cantik itu yang gimana? Saya akan jawab,“Saya tidak tahu”. Nanti, kalau udah ketemu dan saya menyerah, saya akan jawab: oh, yang ini yang benar, ini yang baik, ini yang indah. Dan yang seperti inilah yang cantik!
Tapi saya sepakat kalau bintang-bintang Lux, artis-artis sinetron atau Hollywood itu cantik. Dengan catatan: khas kaukasoid….
[contoh hasil mikir yang kurang kerjaan saat liburan…penting gak sih tulisan ini???]
Saturday, November 12, 2005
Sekat
Lebaran kemarin membuat saya men-trace back dan mengingat kembali teman-teman saya waktu kecil. Saya agak kaget juga mendengar kabar teman-teman saya dulu.
Kita (ya, saya dan anda yang bisa menikmati menulis dan menikmati blog di Internet) biasa digolongkan ke dalam kelas menengah, yang syukurnya bisa menikmati kehidupan yang layak, akses kesehatan dan gizi memadai, termasuk juga pendidikan yang relatif bagus. Sejak TK sampai SMP saya menuntut ilmu secara formal di franchise sekolah yang bereputasi bagus, Perguruan Islam Al-Azhar. SMA saya (dulu SMU) di sekolah negeri yang katanya ngetop juga (meski saya gak pernah ngerti ngetop dari mananya yak?), SMA 3 Bandung. Dan saya kira juga kebanyakan anda, apalagi yang mahasiswa (ITB pula!) menempuh jalur yang mirip-mirip. Di Bandung, karier pendidikan formal yang ideal mungkin seperti ini: TK (bisa dimana aja, yang Islam bermutu atau apapun yang bagus), lalu SD (SD Merdeka di jln merdeka deket gedung BI menjadi pilihan awal yg sangat baik, atau masih bisa dimana aja sih, asal bagus, mungkin dekat rumah), lalu SMP ke SMP Negeri yang favorit (SMP 5 dan 2 kalo di Bandung), dan dilanjutkan ke SMA yang juga negeri favorit (3,5,2,8,4 kalo di Bandung). Kuliah? ITB atau Unpad. Temen saya yang menjadi penempuh setia jalur ideal ini (SD Merdeka, SMP 5, SMA 3, TI-ITB) pernah cerita, ternyata yang dia jumpai adalah orang yang itu-itu aja…sejak SD/SMP sama-sama satu sekolahan. Coba lihat di sekitar! Semuanya tipikal: cerdas, relatif mampu, pendeknya, sangat beruntung.
Itu melahirkan perasaan “biasa aja lagi”. Menjadi mahasiswa adalah biasa. Abis SMA, terus ngapain? Ya kuliah, emang ngapain lagi?
Saya menemukan kenyataan yg berbeda pada teman-teman sepermainan saya di Cirebon dulu. Saya bersyukur, memiliki teman di dua dunia: dunia sekolah yang relatif tipikal dengan saya, dan teman di rumah yang sangat beragam, dari anak tukang becak sampe anak bos yang punya banyak pabrik. Terus terang (dan sebenarnya ini aneh…), saya heran juga ada teman saya di rumah yang abis lulus SMA banyak bekerja di toko-toko, jadi pelayan, atau di restoran, atau yang langsung nikah (biasanya perempuan), atau yang sampe sekarang gak jelas mo ngapain, kuliah nggak, kerja juga nggak. Semestinya saya gak perlu heran, lha wong cuma 14 % dari manusia Indonesia yang berumur 19-24 tahun yang berkesempatan menikmati perguruan tinggi.
Hanya saja, karena kita terbiasa bergaul dengan orang-orang yang tipikal dengan kita (yang kita temui sehari-hari di sekolah, di kampus, teman jalan di mall, teman nonton film-film terbaru, teman ngeband, teman les bahasa inggris, dll), menjadi aneh menyaksikan lebih banyak orang seumuran kita yang mempunyai pilihan yang sangat terbatas: kerja seadanya kalo dapet, menganggur, atau nikah. Dengan pilihan yang terbatas, kelak mereka pun berada di kubangan yang selalu sama: kubangan kemiskinan. Sulit untuk keluar dan melakukan mobilitas sosial. Kita semua tahu, kebanyakan sistem tak berpihak pada mereka, yang sebenarnya mayoritas itu. Malahan sangat menekan. Benar kata Eko Prasetyo dalam karikatur di bukunya: kata seorang anak pada ayahnya, “Pak, kita ini miskin ya…”. Ayahnya menjawab geram, “DIMISKINKAN, nak, DIMISKINKAN!”
Repotnya, kita tidak tahu! Saya masih husnuzhan masih banyak orang yang peduli, hanya saja masalahnya kita tidak tahu. Banyak tulisan, beragam statistik, berlimpah informasi…tapi tak membuat kita semakin cerdas dan aware. Sepertinya, sistem sosial yang ada di masyarakat yang menciptakan sekat tak terlihat, sehingga kita hanya benar-benar mengerti keadaan tempat kita intens hidup saja. Kemiskinan pengetahuan dalam keberlimpahan informasi (ironis ya?) membuat kita menciptakan realitas kita sendiri, dunia sendiri dalam persepsi kita. Yang sebenarnya hanya satu sisi, itu pun dengan wajah yang bopeng dan penuh luka. Makanya dunia seorang mahasiswa ITB berkutat dari tugas ke tugas, mahasiswa yang aktivis dari aktivitas ke aktivitas, mahasiswa yang hedonis dari satu kesenangan ke kesenangan lainnya. Saya ingin berhenti menyalahkan, saya hanya ingin menerima inilah keseharian kita sekarang.
Sekat-sekat tak terlihat dalam masyarakat itu alamiah…sulit untuk menerima gagasan classless society. Kebanyakan kita juga menjalani kehidupan yang memang seharusnya dijalani seseorang dalam sekat-sekatnya di masyarakat itu. Sama seperti orang-orang yang sebenarnya hidup dalam impian di The Matrix, sambil memberi energi pada mesin. Bukan berarti para pemberontak di Zion itu lebih baik: mereka juga terjebak dalam sekat-sekatnya sendiri. What is so bad being in the matrix? Itu judul artikel yang penah saya baca dulu pas lagi rame “The Matrix philosophy”. Apakah karena mereka tidak merdeka? Ah, kemerdekaan itu kan ada di pikiran, dan mereka tak pernah memikirkan sebenarnya mereka itu cuma tidur kok! Orang-orang di Zion (Neo, Trinity, Morpheus dan kawan-kawan) itu juga terperangkap dalam kehidupan di sekatnya sendiri (Intermezzo Note: The Matrix ini film yang sangat bagus, apalagi jika ditafsirkan lebih dari cerita di filmnya sendiri. Coba lihat aja nama-namanya: NEO: baru, juga berarti “the ONE”, sang Messiah. Trinity, Morpheus, Merovingian, Oracle, dan nama-nama lain, semuanya mengacu pada nama-nama dengan tafsiran tertentu, yang membuat kita bisa menafsir sangat beragam di balik cerita. Perhatikan pula dialog-dialognya, bahkan elemen paling kecil yang menjadi latar film: buku tempat menyimpan kunci milik Thomas Anderson a.k.a Neo adalah “simulation of Simulacra” karangan Jean Baudrillard, filsuf postmodern yang konsep Simulacra-nya rada analog dengan kisah Matrix…benar-benar film jenius!).
Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan adalah saling mengerti. Melihat menembus sekat-sekat kehidupan, mengerti keadaannya, dan menerimanya. Bagaimanapun dunia ini tidak monolitik.
Waduh, jadi pluralis gini….
Apakah kebenaran juga tidak tunggal?
Bingung, bingung ku memikirnya….
Wallahu a’lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui (tanpa terhalang sekat-sekat)
Kita (ya, saya dan anda yang bisa menikmati menulis dan menikmati blog di Internet) biasa digolongkan ke dalam kelas menengah, yang syukurnya bisa menikmati kehidupan yang layak, akses kesehatan dan gizi memadai, termasuk juga pendidikan yang relatif bagus. Sejak TK sampai SMP saya menuntut ilmu secara formal di franchise sekolah yang bereputasi bagus, Perguruan Islam Al-Azhar. SMA saya (dulu SMU) di sekolah negeri yang katanya ngetop juga (meski saya gak pernah ngerti ngetop dari mananya yak?), SMA 3 Bandung. Dan saya kira juga kebanyakan anda, apalagi yang mahasiswa (ITB pula!) menempuh jalur yang mirip-mirip. Di Bandung, karier pendidikan formal yang ideal mungkin seperti ini: TK (bisa dimana aja, yang Islam bermutu atau apapun yang bagus), lalu SD (SD Merdeka di jln merdeka deket gedung BI menjadi pilihan awal yg sangat baik, atau masih bisa dimana aja sih, asal bagus, mungkin dekat rumah), lalu SMP ke SMP Negeri yang favorit (SMP 5 dan 2 kalo di Bandung), dan dilanjutkan ke SMA yang juga negeri favorit (3,5,2,8,4 kalo di Bandung). Kuliah? ITB atau Unpad. Temen saya yang menjadi penempuh setia jalur ideal ini (SD Merdeka, SMP 5, SMA 3, TI-ITB) pernah cerita, ternyata yang dia jumpai adalah orang yang itu-itu aja…sejak SD/SMP sama-sama satu sekolahan. Coba lihat di sekitar! Semuanya tipikal: cerdas, relatif mampu, pendeknya, sangat beruntung.
Itu melahirkan perasaan “biasa aja lagi”. Menjadi mahasiswa adalah biasa. Abis SMA, terus ngapain? Ya kuliah, emang ngapain lagi?
Saya menemukan kenyataan yg berbeda pada teman-teman sepermainan saya di Cirebon dulu. Saya bersyukur, memiliki teman di dua dunia: dunia sekolah yang relatif tipikal dengan saya, dan teman di rumah yang sangat beragam, dari anak tukang becak sampe anak bos yang punya banyak pabrik. Terus terang (dan sebenarnya ini aneh…), saya heran juga ada teman saya di rumah yang abis lulus SMA banyak bekerja di toko-toko, jadi pelayan, atau di restoran, atau yang langsung nikah (biasanya perempuan), atau yang sampe sekarang gak jelas mo ngapain, kuliah nggak, kerja juga nggak. Semestinya saya gak perlu heran, lha wong cuma 14 % dari manusia Indonesia yang berumur 19-24 tahun yang berkesempatan menikmati perguruan tinggi.
Hanya saja, karena kita terbiasa bergaul dengan orang-orang yang tipikal dengan kita (yang kita temui sehari-hari di sekolah, di kampus, teman jalan di mall, teman nonton film-film terbaru, teman ngeband, teman les bahasa inggris, dll), menjadi aneh menyaksikan lebih banyak orang seumuran kita yang mempunyai pilihan yang sangat terbatas: kerja seadanya kalo dapet, menganggur, atau nikah. Dengan pilihan yang terbatas, kelak mereka pun berada di kubangan yang selalu sama: kubangan kemiskinan. Sulit untuk keluar dan melakukan mobilitas sosial. Kita semua tahu, kebanyakan sistem tak berpihak pada mereka, yang sebenarnya mayoritas itu. Malahan sangat menekan. Benar kata Eko Prasetyo dalam karikatur di bukunya: kata seorang anak pada ayahnya, “Pak, kita ini miskin ya…”. Ayahnya menjawab geram, “DIMISKINKAN, nak, DIMISKINKAN!”
Repotnya, kita tidak tahu! Saya masih husnuzhan masih banyak orang yang peduli, hanya saja masalahnya kita tidak tahu. Banyak tulisan, beragam statistik, berlimpah informasi…tapi tak membuat kita semakin cerdas dan aware. Sepertinya, sistem sosial yang ada di masyarakat yang menciptakan sekat tak terlihat, sehingga kita hanya benar-benar mengerti keadaan tempat kita intens hidup saja. Kemiskinan pengetahuan dalam keberlimpahan informasi (ironis ya?) membuat kita menciptakan realitas kita sendiri, dunia sendiri dalam persepsi kita. Yang sebenarnya hanya satu sisi, itu pun dengan wajah yang bopeng dan penuh luka. Makanya dunia seorang mahasiswa ITB berkutat dari tugas ke tugas, mahasiswa yang aktivis dari aktivitas ke aktivitas, mahasiswa yang hedonis dari satu kesenangan ke kesenangan lainnya. Saya ingin berhenti menyalahkan, saya hanya ingin menerima inilah keseharian kita sekarang.
Sekat-sekat tak terlihat dalam masyarakat itu alamiah…sulit untuk menerima gagasan classless society. Kebanyakan kita juga menjalani kehidupan yang memang seharusnya dijalani seseorang dalam sekat-sekatnya di masyarakat itu. Sama seperti orang-orang yang sebenarnya hidup dalam impian di The Matrix, sambil memberi energi pada mesin. Bukan berarti para pemberontak di Zion itu lebih baik: mereka juga terjebak dalam sekat-sekatnya sendiri. What is so bad being in the matrix? Itu judul artikel yang penah saya baca dulu pas lagi rame “The Matrix philosophy”. Apakah karena mereka tidak merdeka? Ah, kemerdekaan itu kan ada di pikiran, dan mereka tak pernah memikirkan sebenarnya mereka itu cuma tidur kok! Orang-orang di Zion (Neo, Trinity, Morpheus dan kawan-kawan) itu juga terperangkap dalam kehidupan di sekatnya sendiri (Intermezzo Note: The Matrix ini film yang sangat bagus, apalagi jika ditafsirkan lebih dari cerita di filmnya sendiri. Coba lihat aja nama-namanya: NEO: baru, juga berarti “the ONE”, sang Messiah. Trinity, Morpheus, Merovingian, Oracle, dan nama-nama lain, semuanya mengacu pada nama-nama dengan tafsiran tertentu, yang membuat kita bisa menafsir sangat beragam di balik cerita. Perhatikan pula dialog-dialognya, bahkan elemen paling kecil yang menjadi latar film: buku tempat menyimpan kunci milik Thomas Anderson a.k.a Neo adalah “simulation of Simulacra” karangan Jean Baudrillard, filsuf postmodern yang konsep Simulacra-nya rada analog dengan kisah Matrix…benar-benar film jenius!).
Pada akhirnya, yang bisa kita lakukan adalah saling mengerti. Melihat menembus sekat-sekat kehidupan, mengerti keadaannya, dan menerimanya. Bagaimanapun dunia ini tidak monolitik.
Waduh, jadi pluralis gini….
Apakah kebenaran juga tidak tunggal?
Bingung, bingung ku memikirnya….
Wallahu a’lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui (tanpa terhalang sekat-sekat)
Friday, November 04, 2005
Maaf Yusuf
Di Al-Qur’an, atau waktu kecil dulu, kita sering diceritakan tentang kedengkian saudara-saudara Yusuf dulu. Berbohong atas Yusuf, membuatnya menderita hebat.
Akhirnya tiba pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui (hehehe, kayak puisinya Gie), ketika Yusuf menjadi menteri di kerajaan Fir’aun sana. Setelah beragam uji coba, mulai dari kedengkian saudara, godaan istri raja, dan fitnah besar hingga dipenjara, Allah memberi nikmat yang sangat pada Yusuf.
Lalu datanglah saudara-saudaranya, pada Yusuf yang sekarang menjadi menteri. Mereka meminta perlindungan dan makanan. Kata Yusuf, bukankah kalian ingat apa yang telah dilakukan pada saudaramu sendiri (pada Yusuf).
Lalu dijawab oleh mereka: bukankah telah lebih banyak yang Allah berikan kepadamu, Yusuf (lebih banyak nikmat yang diterima Yusuf, dibandingkan kesusahan yang kami timbulkan dulu?). Seolah-olah mereka berkata, kenapa enggan memaafkan, bukankah nikmat yang Allah berikan lebih besar dibanding sedikit kemalangan yang mereka timbulkan?
Maka Yusuf melunak, “masuklah ke dalam negeri Mesir, Insya Allah dalam keadaan aman”.
Banyak yang telah saya lakukan dan mencederai hati teman-teman saya…Tapi bukankah nikmat Allah selalu lebih besar dari cedera hati yang saya timbulkan?
Maka saya mohon maaf.
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN.
Mohon Maaf Lahir Batin.
Selamat Meraih Kemenangan!
Akhirnya tiba pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui (hehehe, kayak puisinya Gie), ketika Yusuf menjadi menteri di kerajaan Fir’aun sana. Setelah beragam uji coba, mulai dari kedengkian saudara, godaan istri raja, dan fitnah besar hingga dipenjara, Allah memberi nikmat yang sangat pada Yusuf.
Lalu datanglah saudara-saudaranya, pada Yusuf yang sekarang menjadi menteri. Mereka meminta perlindungan dan makanan. Kata Yusuf, bukankah kalian ingat apa yang telah dilakukan pada saudaramu sendiri (pada Yusuf).
Lalu dijawab oleh mereka: bukankah telah lebih banyak yang Allah berikan kepadamu, Yusuf (lebih banyak nikmat yang diterima Yusuf, dibandingkan kesusahan yang kami timbulkan dulu?). Seolah-olah mereka berkata, kenapa enggan memaafkan, bukankah nikmat yang Allah berikan lebih besar dibanding sedikit kemalangan yang mereka timbulkan?
Maka Yusuf melunak, “masuklah ke dalam negeri Mesir, Insya Allah dalam keadaan aman”.
Banyak yang telah saya lakukan dan mencederai hati teman-teman saya…Tapi bukankah nikmat Allah selalu lebih besar dari cedera hati yang saya timbulkan?
Maka saya mohon maaf.
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN.
Mohon Maaf Lahir Batin.
Selamat Meraih Kemenangan!
Thursday, November 03, 2005
Khutbah
Ada yang menarik pas sholat Id di tempat saya di Cirebon tadi. Tentang khutbahnya, yang isinya agak kurang umum. Biasanya, khutbah idul fitri berisi tentang renungan setelah berpuasa satu bulan, tentang tetap banyak beramal setelah puasa, tentang kemenangan orang yang berpuasa.
Khutbah tadi? Back to syariat dan khilafah!
Beliau (khatib tadi) awalnya bercerita tentang kemenangan orang yang bershiyam yang dirasakannya di hari fitri. Tentang takbir khas idul fitri yang selalu berkumandang di tiap kemenangan Islam: mulai dari badar hingga hari ini. Lalu dilanjutkan, sebanarnya umat Islam tak pernah menang.
Dimulailah: tentang kenaikan harga BBM dan kenaikan gaji DPR, karena ketidak amanahan dan “kesalahan sistem”. Tentang liberalisasi migas, dan sudah masuknya 5 perusahaan asing yang akan ikut dalam industri migas.Jelas, ini karena sistem yang digunakan: kapitalisme (itu kata khatibnya). Berlanjut ke bom bali, yang segera saja JI disalahkan, padahal merupakan ulah intelejen asing, ulah negara-negara tertentu yang berkepentingan. Tidak ketinggalan kutukan kepada Amerika Serikat, Inggris, dan sekutu-sekutunya (dan kutukan ini juga secara spesial masuk dalam doa di akhir khutbah).
Saya ngebatin, cengar-cengir sendiri, sambil heran. Saya perhatikan jama’ah lain. Ada yang serius, ada yang kepanasan (khutbahnya lama), banyak yang terlihat tak sabar, atau kata adik saya: “nggak ngerti…”.Kata bapak saya: “khutbahnya berat dan salah tempat, kalo di Iraq sih mungkin cocok. Kayaknya dari ** (sambil menyebut kelompok Islam tertentu)”.
Khatib meneruskan: ini karena kita tak menerapkan syariat Islam! Kita sholat, berpuasa, nikah, sesuai Islam, tapi tak Islam tak tegak dalam bidang sosial, budaya, hukum, pemerintahan. Syariat dan khilafah adalah hal yang ditakutkan oleh ‘musuh-musuh Islam’ (entah yang mana yang disebut musuh ini…), karena kebangkitannya adalah keniscayaan. Kembali kepada fitrah, adalah kembali pada syariat secara total! (di akhir khutbah, saya baru sadar kalo khatibnya lupa syariat khutbah: duduk di antara dua khutbah…).
Waduh…jadinya lebih mirip propaganda daripada khutbah. Ya, memang khutbah itu propaganda sih…propaganda nilai-nilai Islam. Tapi agak susah juga kalo ada kepentingan dan agenda. Jadinya, mo khutbah di mana aja, dalam kesempatan apa aja, pesannya sama. Tidak peduli yang mendengarkannya adalah penduduk sebuah kampung yang polos, dari beragam latar belakang, dan mungkin untuk hidup biasa aja sulit…
Mendengar khatib tadi rasanya seperti mendengar cerita tentang Wonderland, kepada orang-orang yang bahasanya saja berbeda dari khatibnya…Mungkin memang benar, tapi sudahkah berbicara dengan bahasa kaumnya?
Pulang sholat, nyalain Tivi. Khutbah lagi, kali ini di Istiqlal, di hadapan presiden, pejabat tinggi dan menteri. Menarik, di hadapan para pejabat, khatib bicara tentang Indonesia yang sering dibilang bangsa yang terpuruk, bangsa yang korup. Ini bahaya, karena bisa menyebabkan inferioritas. Padahal, kita ini bangsa yang punya banyak potensi. Lalu tertuturlah lagu lama tentang negeri subur makmur yang kaya sumber daya alam…
Lagi-lagi saya cengar-cengir sendiri. Betapa berbeda! Di hadapan pejabat, khutbahnya menerbitkan harapan (sekaligus, mungkin, sedikit menyembunyikan kenyataan). Di kebanyakan rakyat, malah bicara hal-hal yang tak dipahami dan sangat berat.
Saya ingat, kita tak pernah lepas dari kekuasaan dan kepentingan, dan relasi-relasinya. Bahkan di arena yang ‘suci’ seperti di masjid, lapangan sholat, di atas mimbar. Seorang dari HT mungkin akan menyampaikan tentang back to khilafah, dari JIL atau Paramadina mungkin akan menyampaikan pentingnya pluralisme, di hadapan pejabat bicara tentang kebaikan negara, dari Tarbiyah bicara tentang da’wah di mana-mana, termasuk di parlemen.
Rasanya saya lebih nyaman seperti ceramah-ceramah yang saya dengar kemarin-kemarin di masjid PT. DI. Bukan, sama sekali bukan tentang kebaikan PT. DI. Tentang negeri akhirat, tentang kisah-kisah Qur’an, tentang pasca Ramadhan. Kalaulah ada kepentingan, saya yakin kepentingannya semata Ilahi.
Ini kenyataan, bukan sebuah keburukan atau kekurangan. Manusiawi koq. Gak masalah, fastabiqul khairat (berkompetisi dalam kebaikan) aja. Toh, waktu yang akan memberi tahu kita.
Wallahu a’lam. Mohon maaf jika ada prasangka yang terbersit.
Astagfirullah.
1 Syawal 1426 H.
Khutbah tadi? Back to syariat dan khilafah!
Beliau (khatib tadi) awalnya bercerita tentang kemenangan orang yang bershiyam yang dirasakannya di hari fitri. Tentang takbir khas idul fitri yang selalu berkumandang di tiap kemenangan Islam: mulai dari badar hingga hari ini. Lalu dilanjutkan, sebanarnya umat Islam tak pernah menang.
Dimulailah: tentang kenaikan harga BBM dan kenaikan gaji DPR, karena ketidak amanahan dan “kesalahan sistem”. Tentang liberalisasi migas, dan sudah masuknya 5 perusahaan asing yang akan ikut dalam industri migas.Jelas, ini karena sistem yang digunakan: kapitalisme (itu kata khatibnya). Berlanjut ke bom bali, yang segera saja JI disalahkan, padahal merupakan ulah intelejen asing, ulah negara-negara tertentu yang berkepentingan. Tidak ketinggalan kutukan kepada Amerika Serikat, Inggris, dan sekutu-sekutunya (dan kutukan ini juga secara spesial masuk dalam doa di akhir khutbah).
Saya ngebatin, cengar-cengir sendiri, sambil heran. Saya perhatikan jama’ah lain. Ada yang serius, ada yang kepanasan (khutbahnya lama), banyak yang terlihat tak sabar, atau kata adik saya: “nggak ngerti…”.Kata bapak saya: “khutbahnya berat dan salah tempat, kalo di Iraq sih mungkin cocok. Kayaknya dari ** (sambil menyebut kelompok Islam tertentu)”.
Khatib meneruskan: ini karena kita tak menerapkan syariat Islam! Kita sholat, berpuasa, nikah, sesuai Islam, tapi tak Islam tak tegak dalam bidang sosial, budaya, hukum, pemerintahan. Syariat dan khilafah adalah hal yang ditakutkan oleh ‘musuh-musuh Islam’ (entah yang mana yang disebut musuh ini…), karena kebangkitannya adalah keniscayaan. Kembali kepada fitrah, adalah kembali pada syariat secara total! (di akhir khutbah, saya baru sadar kalo khatibnya lupa syariat khutbah: duduk di antara dua khutbah…).
Waduh…jadinya lebih mirip propaganda daripada khutbah. Ya, memang khutbah itu propaganda sih…propaganda nilai-nilai Islam. Tapi agak susah juga kalo ada kepentingan dan agenda. Jadinya, mo khutbah di mana aja, dalam kesempatan apa aja, pesannya sama. Tidak peduli yang mendengarkannya adalah penduduk sebuah kampung yang polos, dari beragam latar belakang, dan mungkin untuk hidup biasa aja sulit…
Mendengar khatib tadi rasanya seperti mendengar cerita tentang Wonderland, kepada orang-orang yang bahasanya saja berbeda dari khatibnya…Mungkin memang benar, tapi sudahkah berbicara dengan bahasa kaumnya?
Pulang sholat, nyalain Tivi. Khutbah lagi, kali ini di Istiqlal, di hadapan presiden, pejabat tinggi dan menteri. Menarik, di hadapan para pejabat, khatib bicara tentang Indonesia yang sering dibilang bangsa yang terpuruk, bangsa yang korup. Ini bahaya, karena bisa menyebabkan inferioritas. Padahal, kita ini bangsa yang punya banyak potensi. Lalu tertuturlah lagu lama tentang negeri subur makmur yang kaya sumber daya alam…
Lagi-lagi saya cengar-cengir sendiri. Betapa berbeda! Di hadapan pejabat, khutbahnya menerbitkan harapan (sekaligus, mungkin, sedikit menyembunyikan kenyataan). Di kebanyakan rakyat, malah bicara hal-hal yang tak dipahami dan sangat berat.
Saya ingat, kita tak pernah lepas dari kekuasaan dan kepentingan, dan relasi-relasinya. Bahkan di arena yang ‘suci’ seperti di masjid, lapangan sholat, di atas mimbar. Seorang dari HT mungkin akan menyampaikan tentang back to khilafah, dari JIL atau Paramadina mungkin akan menyampaikan pentingnya pluralisme, di hadapan pejabat bicara tentang kebaikan negara, dari Tarbiyah bicara tentang da’wah di mana-mana, termasuk di parlemen.
Rasanya saya lebih nyaman seperti ceramah-ceramah yang saya dengar kemarin-kemarin di masjid PT. DI. Bukan, sama sekali bukan tentang kebaikan PT. DI. Tentang negeri akhirat, tentang kisah-kisah Qur’an, tentang pasca Ramadhan. Kalaulah ada kepentingan, saya yakin kepentingannya semata Ilahi.
Ini kenyataan, bukan sebuah keburukan atau kekurangan. Manusiawi koq. Gak masalah, fastabiqul khairat (berkompetisi dalam kebaikan) aja. Toh, waktu yang akan memberi tahu kita.
Wallahu a’lam. Mohon maaf jika ada prasangka yang terbersit.
Astagfirullah.
1 Syawal 1426 H.
Subscribe to:
Posts (Atom)