Yang kagak gw ngerti (tapi gak pa-pa kok..):
“Self examnation if its thorough engh, is nearly the 1st step twrd change. No1 whol learns 2knw himself rmains just what he was b4. MET MILAD LUK!Met jd lbh baik :)”
Yang kurang ajar (hehehe…):
“Bang Lucky, slamat ulang tahun ya! Smoga gak cuma tambah TUA, cepet lulus yak!klamaan kuliah ntar karatan lho :)”
“Geus 22thn kuduna geus dikawinkeun. Mana traktirana wan!!”
Yang beraaatttsss… dan memberi perenungan:
“Akh, semakin bertambah bilangan umur kita, semakin dekat kita dgn kematian. Siapa tau ini ramadhan terakhir kita. Met Milad.”
“Selamat milad akh…smoga sisa usia ini dapat dimanfaatkan utk semakin meningkatkan kualitas keimanan. Mudah-mudahan istiqomah di dunia persilaatan i*****…”
“Barakallah akhi, selamat milad, afwan telat…semoga keberkahan ramadhan menyertai antum”
“Luk, met ultah. Jgn cuma senangnya diambil, kslahan2 dlm 1 thn direnungi. Di bln yang suci ini, moga2 ditambah hidayah ke lu.God Bless U pren…”
Yang paling gw suka:
“lucky yang hari ini 22 th, I just wanna say smg lo tambah sbr ngerjain plo, tambah soleh, cepet lulus n dpt jodoh..aamiin.he2, godain lucky sblm minta maaf, minal aidin wal faidzin ya…” (bold-nya dari gw...hehehe)
Yang berisi doa…(Aamiin!):
“selalu dikasih yg terbaik oleh Allah, have a joyful&meaningful life!”
“4JJI snantiasa mcerahkan jlan khdupan lucky,mjernihkan pikran lucky, mjga dan selalu berada di dekat lucky..”
“umurnya berkah dan jd lebih baik lagi”
“moga-moga lo tambah…”
“dilimpahi rahmat dan hidayahnya”
“may all ur dreams come true and u get d best in ur life…”
“selalu dpt yg terbaik dan dalam lindungan & rahmat Allah”
“pjg umur, shat, dan membawa kebaikaan untuk semua…”
Dan doa-doa lain…Aamiin semuanya!
Yang paling lucu, ironis, tapi gw maklumi:
“20 sudah usiamu kini, doa dan harapan selalu kupanjatkan. Jadilah orang sukses dunia akhirat”
Kenapa? Karena dikirim 27 Oktober, pukul 22:31 (pas lg sibuk-sibuknya “i’tikaf” ngerjain spp)…From: Bapa…
Hehehehe, walah pa…aa nih 22 tahun, dan lahir 29 oktober…hehehehe
Makasih semuanya!!!
[tambahan: yg paling banyak ialah pada kategori “yang irit”, sambil ngucapin ulang tahun sambil ngucapin lebaran…hehehehe]
Monday, October 31, 2005
22 Tahun Keberuntungan
Sabtu, 29 Oktober 1983 yang lalu, sekitar tengah malam, saya diberi kesempatan oleh-Nya untuk pertama kali menghirup udara bumi. Setiap anak yang dilahirkan, kata Rabindranath Tagore, adalah bukti bahwa Tuhan belum putus asa menghadapi manusia. Termasuk manusia seperti saya ini, yang mungkin saja sering sekali bermaksiat kepada-Nya di kehidupan hari nantinya.
29 Oktober 2005 ini juga, tepat 22 tahun saya hidup, jatuh di hari Sabtu. Dan lebih mulianya lagi, bertepatan dengan malam ganjil Ramadhan, malam ke 25. Alhamdulillah-nya lagi, saya merayakannya dengan cara yang terbaik (menurut saya), bersama teman-teman. Itu suatu keberuntungan.
Banyak sekali yang sebenarnya bisa saya sesali dan saya salahkan sepanjang 22 tahun ini. Tentang 22 tahun tapi masih belum lulus. Tentang 22 tahun tapi belum jelas mau kemana. 22 tahun tanpa memberi sumbangan apa-apa. 22 tahun sehingga menjadi lebih tua dibandingkan teman-teman seangkatan…(hehehe, ini sering jadi bahan ejeken temen-temen gw nih…). 22 tahun dan masih single…:-p. 22 tahun, yang mungkin penuh kemalangan, putus asa, dan kesedihan.
Namun saya hanya ingin bersyukur. Kata keluarga saya, wajah saya mirip sekali dengan almarhum kakak saya yang meninggal secara tragis. Meskipun saya belum pernah mengkonfirmasi, sepertinya orang tua saya memutuskan telah cukup dengan 2 anak: kakak saya almarhum dan kakak saya yang perempuan. Lalu takdir itu datang: kakak saya meninggal, bapak saya sangat sedih (menurut nenek, waktu almarhum meninggal, baapak saya itu depresi berat…kerjanya pergi ke masjid, merenung, dan hampir tak melakukan apa-apa), untuk selanjutnya ia sadari: bahwa ia masih punya anak perempuan, bahwa masih panjang kehidupan yang bisa ia tempuh, dan tak tertutup kemungkinan untuk memiliki anak (laki-laki) lagi.
Maka lahirlah saya: Lucky Luqman Nurrahmat. ‘Lucky’, mungkin karena dianggap menjadi simbol keberuntungan. ‘Luqman’, nama manusia mulia dan ayah yang teladan dalam Al-Qur’an (mungkin juga dipilih agar namanya menjaadi berima dan puitis…), dan ‘Nurrahmat’, karena ‘Nur’ adalah nama keluarga (seluruh anggota keluarga saya ada nama ‘Nur’-nya, yang diikuti beragam sifat kebaikan: hayati, hidayati, syams, dien, dan Nurrahmat).
Beruntung juga saya dilahirkan di desa…momen yang paling saya ingat, lagi-lagi duduk di jendela, di tepi balong (kolam ikan), sambl melihat bajing (tupai) di pohon kelapa. Bermain tanah (sebenarnya, bermain di galian tanah yang akan dijadikan tempat sampah…) bersama teman-teman, berkunjung ke rumah teman masa kecil yang juga sangat sederhana (rumah panggung yang bagian bawahnya ada kandang ayam, berlantai kayu dan tanah, namun sangat rapi tertata). Saya juga sering bermain ke kampung bibik (pengasuh saya waktu kecil), yang jauh lebih ke desa, yang malam-malamnya tak pernah ada listrik dan keramaian.
Beruntung lagi, saya pindah ke Cirebon yang lebih ‘ngota’. Saya tak ingat apakah saya mengalami cultural shock atau tidak. Saya ingat masuk TK pertama kali: saya menangis keras, gak mau sekolah, daan gak dianter ama orang tua (karena saat itu, kalo gak salah, orang tua saya sedang Haji). Pengalaman sekolah pertama itu juga sangat traumatis, saya ingat saya tak pernah bahagia sekolah TK. Saya ingat saya masuk barisan yang terbelakang di kelas, dan didiskriminasi (kalo inget ini, saya bener-bener kesel. Dulu, di TK pertama saya itu, ada pembagian kelompok yang sangat kurang ajar. Murid-muridnya dibagi jadi kelompok ‘pesawat terbang’, ‘kereta api’, ‘mobil’ dan ‘becak’, sesuai dengan “tingkat kecepatan pengerjaan yang diinterpretasikan sebagai tingkat kecerdasan” penilaian subyektif ibu guru. Saya beruntung masuk kelompok ‘mobil’, yang berarti barisan kedua terbodoh dari kelas! Jangan pernah mendiskriminasikan anak sedikit pun! Itu akan tertinggal di pikiran selamanya…[untung gw nggak…]). Horor deh. Untungnya, orang tua saya cukup waras untuk memutuskan anaknya belum siap mentally untuk meneruskan ke SD. Saya ngulang TK lagi, dan dengan dukungan orang tua, saya jadi lulusan salah satu lulusan terbaik TK…hehehe…
Efeknya sampai sekarang, saya jadi telat setaun deh…hiks3x.
Beruntungnya lagi, sejak kecil bapak saya pelit membelikan mainan tapi gak pernah pelit memberi buku bacaan. Apapun. Beruntung pula bapak saya hobi baca, jadi saya bisa banyak baca buku-bukunya sejak kecil (soalnya buku-buku anak kecil sih cemen, dan gak bisa dinikmati…kecuali komik!). Dulu bapak saya berlangganan intisari, majalah dengan banyak tema yang menarik, yang rasanya membuat minat baca saya juga jadi macem-macem. Juga langganan kompas, yang waktu dulu rasanya gak bisa dibaca sambil duduk dengan rentang tangan saya yang kecil, sehingga harus dibaca dengan meletakkan koran di lantai, terus menunduk…
Waktu mau ke SMA juga, saya gak punya bayangan sama sekali tentng kehidupan. Disuruh Mamah aja ke Bandung, meskipun saya gak pernah tau apa alasannya. Dan ternyata itu sangat berguna…di Bandung ini masa-masanya lebih serius, dengan membaca dan belajar banyak hal. Belajar Islam, belajar kehidupan, termasuk juga belajar menjadi tidak baik, dengan teman-teman dulu…(hehehe, yang ini gak bakal diceritain. Aib!). Sampai sekarang masih terasa…astagfirullah! Yah, apapun, itu juga suatu keberuntungan tersendiri.
Ini baru beberapa milestones hidup. Masih banyak lagi yang mungkin sepele, tapi sebenarnya tak pernah sepele. Belum lagi kalau anugrah sehari-hai diperhitungkan.
Rasanya aneh kalau kita lupa bersyukur dan tak merasa beruntung…
“Fa bi ayyi aa laa i rabbikumaa tukaddzibaan…?”
“Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”
Astagfirullah.
Alhamdulillah.
Selamat Ulang Tahun.
29 Oktober 2005 ini juga, tepat 22 tahun saya hidup, jatuh di hari Sabtu. Dan lebih mulianya lagi, bertepatan dengan malam ganjil Ramadhan, malam ke 25. Alhamdulillah-nya lagi, saya merayakannya dengan cara yang terbaik (menurut saya), bersama teman-teman. Itu suatu keberuntungan.
Banyak sekali yang sebenarnya bisa saya sesali dan saya salahkan sepanjang 22 tahun ini. Tentang 22 tahun tapi masih belum lulus. Tentang 22 tahun tapi belum jelas mau kemana. 22 tahun tanpa memberi sumbangan apa-apa. 22 tahun sehingga menjadi lebih tua dibandingkan teman-teman seangkatan…(hehehe, ini sering jadi bahan ejeken temen-temen gw nih…). 22 tahun dan masih single…:-p. 22 tahun, yang mungkin penuh kemalangan, putus asa, dan kesedihan.
Namun saya hanya ingin bersyukur. Kata keluarga saya, wajah saya mirip sekali dengan almarhum kakak saya yang meninggal secara tragis. Meskipun saya belum pernah mengkonfirmasi, sepertinya orang tua saya memutuskan telah cukup dengan 2 anak: kakak saya almarhum dan kakak saya yang perempuan. Lalu takdir itu datang: kakak saya meninggal, bapak saya sangat sedih (menurut nenek, waktu almarhum meninggal, baapak saya itu depresi berat…kerjanya pergi ke masjid, merenung, dan hampir tak melakukan apa-apa), untuk selanjutnya ia sadari: bahwa ia masih punya anak perempuan, bahwa masih panjang kehidupan yang bisa ia tempuh, dan tak tertutup kemungkinan untuk memiliki anak (laki-laki) lagi.
Maka lahirlah saya: Lucky Luqman Nurrahmat. ‘Lucky’, mungkin karena dianggap menjadi simbol keberuntungan. ‘Luqman’, nama manusia mulia dan ayah yang teladan dalam Al-Qur’an (mungkin juga dipilih agar namanya menjaadi berima dan puitis…), dan ‘Nurrahmat’, karena ‘Nur’ adalah nama keluarga (seluruh anggota keluarga saya ada nama ‘Nur’-nya, yang diikuti beragam sifat kebaikan: hayati, hidayati, syams, dien, dan Nurrahmat).
Beruntung juga saya dilahirkan di desa…momen yang paling saya ingat, lagi-lagi duduk di jendela, di tepi balong (kolam ikan), sambl melihat bajing (tupai) di pohon kelapa. Bermain tanah (sebenarnya, bermain di galian tanah yang akan dijadikan tempat sampah…) bersama teman-teman, berkunjung ke rumah teman masa kecil yang juga sangat sederhana (rumah panggung yang bagian bawahnya ada kandang ayam, berlantai kayu dan tanah, namun sangat rapi tertata). Saya juga sering bermain ke kampung bibik (pengasuh saya waktu kecil), yang jauh lebih ke desa, yang malam-malamnya tak pernah ada listrik dan keramaian.
Beruntung lagi, saya pindah ke Cirebon yang lebih ‘ngota’. Saya tak ingat apakah saya mengalami cultural shock atau tidak. Saya ingat masuk TK pertama kali: saya menangis keras, gak mau sekolah, daan gak dianter ama orang tua (karena saat itu, kalo gak salah, orang tua saya sedang Haji). Pengalaman sekolah pertama itu juga sangat traumatis, saya ingat saya tak pernah bahagia sekolah TK. Saya ingat saya masuk barisan yang terbelakang di kelas, dan didiskriminasi (kalo inget ini, saya bener-bener kesel. Dulu, di TK pertama saya itu, ada pembagian kelompok yang sangat kurang ajar. Murid-muridnya dibagi jadi kelompok ‘pesawat terbang’, ‘kereta api’, ‘mobil’ dan ‘becak’, sesuai dengan “tingkat kecepatan pengerjaan yang diinterpretasikan sebagai tingkat kecerdasan” penilaian subyektif ibu guru. Saya beruntung masuk kelompok ‘mobil’, yang berarti barisan kedua terbodoh dari kelas! Jangan pernah mendiskriminasikan anak sedikit pun! Itu akan tertinggal di pikiran selamanya…[untung gw nggak…]). Horor deh. Untungnya, orang tua saya cukup waras untuk memutuskan anaknya belum siap mentally untuk meneruskan ke SD. Saya ngulang TK lagi, dan dengan dukungan orang tua, saya jadi lulusan salah satu lulusan terbaik TK…hehehe…
Efeknya sampai sekarang, saya jadi telat setaun deh…hiks3x.
Beruntungnya lagi, sejak kecil bapak saya pelit membelikan mainan tapi gak pernah pelit memberi buku bacaan. Apapun. Beruntung pula bapak saya hobi baca, jadi saya bisa banyak baca buku-bukunya sejak kecil (soalnya buku-buku anak kecil sih cemen, dan gak bisa dinikmati…kecuali komik!). Dulu bapak saya berlangganan intisari, majalah dengan banyak tema yang menarik, yang rasanya membuat minat baca saya juga jadi macem-macem. Juga langganan kompas, yang waktu dulu rasanya gak bisa dibaca sambil duduk dengan rentang tangan saya yang kecil, sehingga harus dibaca dengan meletakkan koran di lantai, terus menunduk…
Waktu mau ke SMA juga, saya gak punya bayangan sama sekali tentng kehidupan. Disuruh Mamah aja ke Bandung, meskipun saya gak pernah tau apa alasannya. Dan ternyata itu sangat berguna…di Bandung ini masa-masanya lebih serius, dengan membaca dan belajar banyak hal. Belajar Islam, belajar kehidupan, termasuk juga belajar menjadi tidak baik, dengan teman-teman dulu…(hehehe, yang ini gak bakal diceritain. Aib!). Sampai sekarang masih terasa…astagfirullah! Yah, apapun, itu juga suatu keberuntungan tersendiri.
Ini baru beberapa milestones hidup. Masih banyak lagi yang mungkin sepele, tapi sebenarnya tak pernah sepele. Belum lagi kalau anugrah sehari-hai diperhitungkan.
Rasanya aneh kalau kita lupa bersyukur dan tak merasa beruntung…
“Fa bi ayyi aa laa i rabbikumaa tukaddzibaan…?”
“Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”
Astagfirullah.
Alhamdulillah.
Selamat Ulang Tahun.
Friday, October 28, 2005
Menunggu Pencerahan...RAMADHAN.
Bismillah.
Nanti malam adalah malam ke-25 Ramadhan. Bisa jadi merupakan lailatul qadr.
Guru saya di SMP dulu pernah bercerita tentang malam lailatul qadr ini. Cerita yang sangat bagus. Pada cerita itu, malam lailatul qadr diceritakan secara fisik memang terjadi. Malam saat semua hening dan alam tunduk, lalu pagi yng sangat cerah, “malaikat-malaikat naik ke langit”. Katanya, matahari tertutup, tapi tidak gelap, melainkan cerah, namun tak juga terik. Tetapi, lailatul qadr sering dibicarakan dengan makna lain, selain yang fisikal seperti itu.
Dulu, saya pernah membaca tentang istri Subandrio (kalau tidak salah…), yang pada saalah satu malam di akhir ramadhan tidak tidur dan tak bisa tidur. Lalu ia keluar, dan ia saat itu merasakan malam yang berbeda dari biasa. Hening, dan indah. Saat itu ia berharap suaminya yang sedang dipenjara lama bisa kembali.
Ternyata, besoknya suaminya memperoleh grasi dari Presiden. Mungkin, itulah lailatul qadr-nya.
Kakak teman SMA saya punya pengalaman unik juga. Ia adalah artis indie, seorang rocker (kalo gak salah jadi bassis) di sebuah band underground yang dulu lumayan terkenal di Bandung. Band-nya itu alirannya mirip-mirip Korn, yang gelap dan sangar…Dulu sih keren (sekarang, “freak on a leash” juga masih sedikit keren sih…).
Pada suatu ketika yang tiba-tiba, setelah Ramadhan ia memutuskan cabut dari band-nya, yang notabene sudah cukup lama ia geluti, sekaligus meninggalkan kehidupan semacam itu yang merupakan kehidupan kesehariannya. Setelah Ramadhan juga, ia ingin sekali adiknya itu masuk universitas untuk belajar Islam secara benar. Pokoknya, beda jauh deh!
Kata temen saya, itu terjadi setelah ia beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Pengalaman teman saya sendiri (masih temen yang sama) juga cukup menarik. Saat Ramadhan, ia menyibukkan diri dengan aktivitas yang uar biasa. Jadi ketua suatu event, dan sibuk kesana-kemari. Lalu,seperti umumnya sekolah, kita menjalani libur Ramadhan dan idul fitri yang cukup lama. Saat saya bertemu lagi abis libur, entah kenapa, ia berbeda. Auranya tenang, dan…beda, lah!
Saya rasa, mungkin itulah lailatul qadr mereka: sebuah momen pencerahan yang mengubah hidup. Lailatul qadr juga bisa diartikan pencerahan. Dan, saya kira, melewati proses yang sama dengan proses-proses pencerahan lainnya: aksi-saturasi-tersinari: Pencerahan.
Sekarang saya bisa mengerti, kalau katanya shaum yang sukses akan terlihat pada kehidupan setelah ramadhan-nya. Saya juga bisa mengerti kenapa Nabi begitu gembira menyambut Ramadhan, dan kenapa pahala di bulan Ramadhan dilipatgandakan, serta banyak sekali amalan yang dianjurkan pada Ramadhan.
Perintah untuk mengintensifkan amalan mahdhah (ritual) juga lebih digalakkan di akhir-akhir Ramdhan, sampai pada tingkatan yang paling berat dan banyak. Bayangkan, dalam sebuah literatur ahlul bait (saya belum menemukan dari literatur yang sunni yang mirip seperti ini), anjuran amalan saat malam-malam ganjil di akhir Ramadhan ialah: Mandi pada permulaan malam Qadr, ber-tawasul dengan al-Qur’an, shalat 100 rakaat (pada tiap rakaat setelah fatihah, baca al-Ikhlas 10,7,5,3 atau 1 kali saja), shalat 2 rakaat (al-Ikhlas 7 kali pada surat pendek), setelah selesai shalat istighfar 70 kali, memperbanyak do’a, menahan diri untuk tidak tidur, membaca surah al-qadr 1000 kali, lalu doa-doa malam Qadr. Belum lagi tarawih dan tahajjud.
Bayangkan anda melakukan itu dalam satu malam, dan dikalikan 10 kali kesempatan.
Itulah tahap aksi. Tentu saja, bila optimal dan benar, tahap saturasi akan datang. Tahap dimana kita sadar seluruh dosa, tahap benar-benar menyesal, tahap frustasi dengan diri, nmun tak putus asa dari rahmat-Nya. Mungkin juga tahap saat kita kurang tidur, namun hanya kesegaran dan kebahagiaan yang kita rasakan.
Kemudian, selamat tersinari, anda tercerahkan! Kehidupan kita selanjutnya, insya Allah, lebih baik dari seribu bulan: kehidupan yang berbeda dan bermakna.
Haah…I’m waiting for the moment this Ramadhan. Meskipun ada yang menggangu, semoga masih bisa.
Semoga berhasil…doakan ya!
Wallahu a’lam bis shawaab.[ Ya ALLAH, izinkan diri ini untuk (lebih) egois lagi sejenak…]
Nanti malam adalah malam ke-25 Ramadhan. Bisa jadi merupakan lailatul qadr.
Guru saya di SMP dulu pernah bercerita tentang malam lailatul qadr ini. Cerita yang sangat bagus. Pada cerita itu, malam lailatul qadr diceritakan secara fisik memang terjadi. Malam saat semua hening dan alam tunduk, lalu pagi yng sangat cerah, “malaikat-malaikat naik ke langit”. Katanya, matahari tertutup, tapi tidak gelap, melainkan cerah, namun tak juga terik. Tetapi, lailatul qadr sering dibicarakan dengan makna lain, selain yang fisikal seperti itu.
Dulu, saya pernah membaca tentang istri Subandrio (kalau tidak salah…), yang pada saalah satu malam di akhir ramadhan tidak tidur dan tak bisa tidur. Lalu ia keluar, dan ia saat itu merasakan malam yang berbeda dari biasa. Hening, dan indah. Saat itu ia berharap suaminya yang sedang dipenjara lama bisa kembali.
Ternyata, besoknya suaminya memperoleh grasi dari Presiden. Mungkin, itulah lailatul qadr-nya.
Kakak teman SMA saya punya pengalaman unik juga. Ia adalah artis indie, seorang rocker (kalo gak salah jadi bassis) di sebuah band underground yang dulu lumayan terkenal di Bandung. Band-nya itu alirannya mirip-mirip Korn, yang gelap dan sangar…Dulu sih keren (sekarang, “freak on a leash” juga masih sedikit keren sih…).
Pada suatu ketika yang tiba-tiba, setelah Ramadhan ia memutuskan cabut dari band-nya, yang notabene sudah cukup lama ia geluti, sekaligus meninggalkan kehidupan semacam itu yang merupakan kehidupan kesehariannya. Setelah Ramadhan juga, ia ingin sekali adiknya itu masuk universitas untuk belajar Islam secara benar. Pokoknya, beda jauh deh!
Kata temen saya, itu terjadi setelah ia beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Pengalaman teman saya sendiri (masih temen yang sama) juga cukup menarik. Saat Ramadhan, ia menyibukkan diri dengan aktivitas yang uar biasa. Jadi ketua suatu event, dan sibuk kesana-kemari. Lalu,seperti umumnya sekolah, kita menjalani libur Ramadhan dan idul fitri yang cukup lama. Saat saya bertemu lagi abis libur, entah kenapa, ia berbeda. Auranya tenang, dan…beda, lah!
Saya rasa, mungkin itulah lailatul qadr mereka: sebuah momen pencerahan yang mengubah hidup. Lailatul qadr juga bisa diartikan pencerahan. Dan, saya kira, melewati proses yang sama dengan proses-proses pencerahan lainnya: aksi-saturasi-tersinari: Pencerahan.
Sekarang saya bisa mengerti, kalau katanya shaum yang sukses akan terlihat pada kehidupan setelah ramadhan-nya. Saya juga bisa mengerti kenapa Nabi begitu gembira menyambut Ramadhan, dan kenapa pahala di bulan Ramadhan dilipatgandakan, serta banyak sekali amalan yang dianjurkan pada Ramadhan.
Perintah untuk mengintensifkan amalan mahdhah (ritual) juga lebih digalakkan di akhir-akhir Ramdhan, sampai pada tingkatan yang paling berat dan banyak. Bayangkan, dalam sebuah literatur ahlul bait (saya belum menemukan dari literatur yang sunni yang mirip seperti ini), anjuran amalan saat malam-malam ganjil di akhir Ramadhan ialah: Mandi pada permulaan malam Qadr, ber-tawasul dengan al-Qur’an, shalat 100 rakaat (pada tiap rakaat setelah fatihah, baca al-Ikhlas 10,7,5,3 atau 1 kali saja), shalat 2 rakaat (al-Ikhlas 7 kali pada surat pendek), setelah selesai shalat istighfar 70 kali, memperbanyak do’a, menahan diri untuk tidak tidur, membaca surah al-qadr 1000 kali, lalu doa-doa malam Qadr. Belum lagi tarawih dan tahajjud.
Bayangkan anda melakukan itu dalam satu malam, dan dikalikan 10 kali kesempatan.
Itulah tahap aksi. Tentu saja, bila optimal dan benar, tahap saturasi akan datang. Tahap dimana kita sadar seluruh dosa, tahap benar-benar menyesal, tahap frustasi dengan diri, nmun tak putus asa dari rahmat-Nya. Mungkin juga tahap saat kita kurang tidur, namun hanya kesegaran dan kebahagiaan yang kita rasakan.
Kemudian, selamat tersinari, anda tercerahkan! Kehidupan kita selanjutnya, insya Allah, lebih baik dari seribu bulan: kehidupan yang berbeda dan bermakna.
Haah…I’m waiting for the moment this Ramadhan. Meskipun ada yang menggangu, semoga masih bisa.
Semoga berhasil…doakan ya!
Wallahu a’lam bis shawaab.[ Ya ALLAH, izinkan diri ini untuk (lebih) egois lagi sejenak…]
Saturday, October 22, 2005
"Academic Repression"
Pernah memelototi segitiga-segitiga yang sama sekali nggak lucu, terus di dalam segitiga-nya diisi satu-satu, sebanyak (37 x 37)/2 buah? Setelah itu, mungkin ditempel-tempel berwarna-warni atau diprint seharga 15.000 satu lembar? Dan itu baru satu kerjaan?
Itulah yang saya kerjakan kemaren: membuat tugas PLO yang amit-amit. Yang lebih bikin saya bete, setelah menghabiskan kurang-lebih 4 jam, punggung pegel, mata nanar, ternyata sodara-sodara: file-nya error, dan gak bisa kebuka. Kata Microsoft Visio: an error (125) occured during Open File operation...this file is damaged....yang bisa gw lakukan cuma melolong sedih......huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Belum berakhir sodara-sodara! Ternyata juga kerjaan kelompok gw (bareng fajar) ada yang salah semenjak modul 3. Kemaren salah, ternyata sekarang ditemukan kesalahan lain....kalo ini ga melolong lagi, tapi nangis....Teganya-teganya-teganya!!!!
itu baru SATU tugas, dengan average time pengerjaannya minimal 8 jam per minggu (belum termasuk nempel, motokopi, jilid, asistensi, beli macem-macem). SKS-nya? 3 SKS sodara-sodara! kontribusi terhadap keseluruhan nilai: 30 % saja sodara-sodara, dan itu pun masih dibagi menjadi sekitar 11 tugas. Minggu depan bakal jadi horror: 6 tugas dan 2 UTS. Termasuk tugas-tugas luar biasa kayak PLO dan SPP.
Apa yang bisa mahasiswa lakukan? Emang apa sih yang bisa dilakukan mahasiswa? jawabannya menjadi jelas dalam kepala saya: MENGERJAKAN TUGAS dan UTS! sesimpel itu!
Ini bukan keluhan (kalo ngeluh sih udah dari tingkat 2....), bukan pula curhatan (bosen!). Ini PROTES! (entah pada siapa..., dan entah mo didengar atau tidak). Ini kebiadaban. Ini penindasan.
Saat kita tak leluasa memikirkan apapun selain hal yang ditanamkan oleh si penindas, itulah penindasan. Penindasan intelektual. Repression of the mind. Dominasi meme. Parahnya, we can do nothing! Selain protes yang tak didengar dan: keep your mouth shut and do the job!
Apa hanya itu yang harusnya mendominasi hidup saya yang singkat ini? Gimana dengan membaca buku dan dunia, menikmati seni, mencermati masyarakat, diam dalam hening dan merenung, berdialog dengan kawan, mendengarkan dan didengarkan, mengaji dan mengkaji? Hal-hal seperti itulah yang sebenarnya membuat kita MENJADI manusia! Kalau kita manusia, tentulah hal-hal yang manusiawi yang seharusnya dilakukan, dan menjadi fokus hidup kita. Sekarang, dengan keseluruhan hal ini, apa fokus hidup kita? KULIAH!
Yang lain hanya menjadi aktivitas sampingan. Berkarya di organisasi, nge-OS atau mengkaderisasi (kalo maasih ada), berkawan, berkeluarga, bahkan mungkin pula: berkhidmat pada manusia dan pada-Nya, menjadi semua sampingan...Yang dikerjakan dengan sisa-sisa tenaga, pada waktu luang yang tersedia.
Hasilnya ialah alien: manusia cerdas yang tercerabut dari akar masyarakatnya, bahkan dari kemanusiaannya. Bukan homo sapiens, tapi alien sapiens.
Bukankah kamu punya pilihan, Lucky? bisa kan kamu tak memfokuskan diri? Mungkin. tapi dengan tugas kelompok dan beragam tuntutan, mau nggak mau kita harus kerjakan. Jadi, kita terjebak (dijebak??).
Kita terjebak, dan yang bisa kita lakukan menutup mulut dan mulai mengerjakan, sambil berdoa agar bisa survive.
Wallahu a'lam.
Allah, tolonglah...
[mencari cara memaknai tugas, ujian dan kuliah...]
Itulah yang saya kerjakan kemaren: membuat tugas PLO yang amit-amit. Yang lebih bikin saya bete, setelah menghabiskan kurang-lebih 4 jam, punggung pegel, mata nanar, ternyata sodara-sodara: file-nya error, dan gak bisa kebuka. Kata Microsoft Visio: an error (125) occured during Open File operation...this file is damaged....yang bisa gw lakukan cuma melolong sedih......huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Belum berakhir sodara-sodara! Ternyata juga kerjaan kelompok gw (bareng fajar) ada yang salah semenjak modul 3. Kemaren salah, ternyata sekarang ditemukan kesalahan lain....kalo ini ga melolong lagi, tapi nangis....Teganya-teganya-teganya!!!!
itu baru SATU tugas, dengan average time pengerjaannya minimal 8 jam per minggu (belum termasuk nempel, motokopi, jilid, asistensi, beli macem-macem). SKS-nya? 3 SKS sodara-sodara! kontribusi terhadap keseluruhan nilai: 30 % saja sodara-sodara, dan itu pun masih dibagi menjadi sekitar 11 tugas. Minggu depan bakal jadi horror: 6 tugas dan 2 UTS. Termasuk tugas-tugas luar biasa kayak PLO dan SPP.
Apa yang bisa mahasiswa lakukan? Emang apa sih yang bisa dilakukan mahasiswa? jawabannya menjadi jelas dalam kepala saya: MENGERJAKAN TUGAS dan UTS! sesimpel itu!
Ini bukan keluhan (kalo ngeluh sih udah dari tingkat 2....), bukan pula curhatan (bosen!). Ini PROTES! (entah pada siapa..., dan entah mo didengar atau tidak). Ini kebiadaban. Ini penindasan.
Saat kita tak leluasa memikirkan apapun selain hal yang ditanamkan oleh si penindas, itulah penindasan. Penindasan intelektual. Repression of the mind. Dominasi meme. Parahnya, we can do nothing! Selain protes yang tak didengar dan: keep your mouth shut and do the job!
Apa hanya itu yang harusnya mendominasi hidup saya yang singkat ini? Gimana dengan membaca buku dan dunia, menikmati seni, mencermati masyarakat, diam dalam hening dan merenung, berdialog dengan kawan, mendengarkan dan didengarkan, mengaji dan mengkaji? Hal-hal seperti itulah yang sebenarnya membuat kita MENJADI manusia! Kalau kita manusia, tentulah hal-hal yang manusiawi yang seharusnya dilakukan, dan menjadi fokus hidup kita. Sekarang, dengan keseluruhan hal ini, apa fokus hidup kita? KULIAH!
Yang lain hanya menjadi aktivitas sampingan. Berkarya di organisasi, nge-OS atau mengkaderisasi (kalo maasih ada), berkawan, berkeluarga, bahkan mungkin pula: berkhidmat pada manusia dan pada-Nya, menjadi semua sampingan...Yang dikerjakan dengan sisa-sisa tenaga, pada waktu luang yang tersedia.
Hasilnya ialah alien: manusia cerdas yang tercerabut dari akar masyarakatnya, bahkan dari kemanusiaannya. Bukan homo sapiens, tapi alien sapiens.
Bukankah kamu punya pilihan, Lucky? bisa kan kamu tak memfokuskan diri? Mungkin. tapi dengan tugas kelompok dan beragam tuntutan, mau nggak mau kita harus kerjakan. Jadi, kita terjebak (dijebak??).
Kita terjebak, dan yang bisa kita lakukan menutup mulut dan mulai mengerjakan, sambil berdoa agar bisa survive.
Wallahu a'lam.
Allah, tolonglah...
[mencari cara memaknai tugas, ujian dan kuliah...]
Thursday, October 13, 2005
Menunggu Pencerahan
Kuliah-kuliah dengan Prof. Gede Raka, Dosen Manajemen Inovasi saya, selalu inspiratif dan menyegarkan. Kalau anda mahasiswa ITB, kuliah pilihan ini sangat direkomendasikan. TI-5051, tiap semester ada. Penuh tugas, tapi benar-benar asyik. Banyak cerita, beragam inspirasi.
Termasuk tadi, ketika beliau menceritakan momen pencerahannya. Saat kuliahnya hampir selesai, Pak Raka ini tidak buru-buru (seperti kecenderungan mahasiswa sekaarang, yang juga didukung penuh rektorat) ingin lulus dan langsung mengisi pasar tenaga kerja, yang sebenarnya saat itu terbuka lebar: industrialisasi di Indonesia baru mulai dan membutuhkan banyak sumber daya. Sebelum mengambil Tugas Akhir-nya, beliau sempat ‘luntang-lantung’ selama 3 tahun (!!!) memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah lulus. Apa ‘panggilan’nya. Panggung mana yang akan diisinya. Sepanjang 3 tahun itu, beliau berbicara dengan banyak orang, nanya sana-sini, baca banyak buku, termasuk juga curhat ke orang tuanya (“saya mau pulang saja jadi petani…”). “Untung belum ada batas DO, kalau nggak udah DO saya…”.
Lalu datanglah momen itu. Beliau temukan: generousity sejati, ialah kedermawanan seorang guru kepada anak didiknya. Saat itulah (mungkin juga tiba-tiba dan unpredictable), beliau menemukan hidup dan panggilannya: inilah yang akan saya lakukan! Maka segera ia selesaikan TA-nya (6 bulan beres!), dan setelah itu, ada tawaran jadi dosen, ia segera menerimanya. Sampai sekarang. Padahal, saat itu gaji dosen Rp 2800, sedangkan gaji jadi pekerja di perusahaan sudah 20 kali lipatnya, dengan diberi mobil pula.
Pencerahan. Momen pencerahan ini selalu datang sekonyong-konyong tapi tak pernah tanpa proses yang mendahuluinya. Dari kisah-kisah orang-orang dengan hidup bermakna, saya teringat suatu ciri khas dari momen ini: tiba-tiba, unpredictable. Namun, saat datangnya momen ini, keadaan diri si penerima merupakan keadaan paling siap, sehingga setelahnya selalu ada perubahan drastis.
Ingat kisah Archimedes? Tiba-tiba saja momen itu datang saat ia sedang asyik berendam di bak mandinya. Proses yang mendahuluinya, diawali dengan pertanyaan dari raja yang selalu ia pikirkan tanpa lelah siang malam. Di Tao of Physics (buku yang optimistis dan mengisyaratkan bahwa masih ada harapan pada zaman kita ini…), Fritjof Capra bercerita tentang momen indahnya:
“ ketika sekonyong-sekonyong saya tersadar akan segenap lingkungan saya yang terikat tarian kosmis raksasa.”
Saat itu ia tidak sedang berpikir keras, tapi sedang berleha-leha di tepi pantai dan menyaksikan ombak pantai. Ia beristirahat sejenak dari riset fisika yang sedang ia jalani dan pembacaannya akan mistisme timur. Saat istirahat itu, saat ia tercerahkan.
Anda tahu kisah Richard Feynman, profesor eksentrik nobelis Fisika? Ia sedang makan di kantin dan melihat mainan, lalu begitu saja timbul ide, dan jadilah beragam persamaan yang menjelaskan dunia. Sudah nonton a beautiful mind? John Nash menemukan teori saat di bar, ketika ia menyaksikan gadis cantik yang diiringi gadis-gadis lain. Nash tak menemukan teori saat ia bertekun di kamarnya dan menulisi jendela.
Gandhi mulai berjuang saat ia merasakan pencerahannya karena diusir dari kereta, sementara Martin Luther King, Jr. menemukannya saat ia bertengkar hebat di bus.
Paling fenomenal tentu saja Nabi Muhammad SAW, yang menemukan momennya di Gua Hira di bulan Ramadhan. Saat itu Jibril tiba-tiba datang dan menyuruh nabi: Iqra! (Bacalah!). (intermezzo: ada pendapat menarik dari Fazlur Rahman, guru Cak Nur dan Buya Syafi’i Ma’arif. “Jibril datang” tidak ditafsirkan secara fisik seperti tamu mendatangi tuan rumah, tapi suara hati dan pikiran yang tiba-tiba “berbicara” dan mencerahkan Nabi. Wallahu a’lam bis shawaab). Saat itulah Muhammad bin Abdullah ditahbiskan menjadi orang paling berpengaruh bagi peradaban.
Sekali lagi, momen pencerahan selalu datang tiba-tiba, tapi tak pernah tanpa proses keras yang mendahuluinya. Pertama adalah proses berusaha, berpikir, merenung, bekerja, bergiat, beramal yang kontinu dan sekuat tenaga. Lalu saturasi: gelisah, bingung, jenuh, tak nyaman, “mentok”, kadang-kadang terasa putus harapan dan kehilangan arah. Menunggu…dan tiba-tiba: eureka! Ditemukan, dan nasib sang penemu (juga orang lain dan dunia) berubah drastis.
Nabi merenung lama di gua hira sebelum momennya datang, dan masa-masa itu pula puncak kegelisahan nabi akan bangsanya yang bodoh, bejat dan terbelakang. Archimedes, Feynman, Nash berpikir sangat keras sebelum menemukan yang ditunggu. Begitu juga dengan Capra. Gandhi dan King, Jr. tak pernah puas dan selalu bertanya-tanya tentang kondisi masyarakatnya.
Sederhananya: mereka menunggu. Tapi bukan jenis menunggu yang pasif. Meminjam konsep Syaria’ti tentang menunggu Imam Gaib, penungguan mereka adalah penungguan yang aktif: diisi dengan pencarian tak kenal henti. Saat dicari, ternyata tak ditemui. Tapi tiba-tiba saja yang ditunggu itu datang, ketika memang si pencari itu dalam keadaan paling siap untuk menerimanya.
Kalau dipikir-pikir, saya kira bukannya tak ada orang yang lebih brilian dari para tercerahkan ini. Hanya saja, mereka merasa nyaman. Life goes on. Mereka tidak benar-benar bekerja dan mencari. Maka jadilah seluruh yang ada pada dirinya, pada akhirnya sebuah statistik: ia hidup, didata sensus, lalu mati, dihapus dari sensus. Kebanyakan hidup kita adalah mengisi statistik. Hanya yang mengalami pencerahanlah yang menjadi orang besar, atau kalau pun tidak, menjalani kehidupan bermakna yang memang layak untuk dijalani (dan jangan berharap dapat pencerahan kalau kehidupan kita, seperti saya juga, berpindah dari satu channel TV ke channel lain, dari komik satu ke komik lain, dari ruang kuliah satu ke ruang kuliah lain, dari tugas satu ke tugas lain, dari pacar satu ke pacar lain, dari aktivitas yang aktivisme satu ke aktivitas lain: yang kesemuanya hampa pemaknaan. Bisa-bisa menjadi “penggelapan”, dan kita mungkin menjadi lawan para pencerah).
Astagfirullah! Betapa seringnya saya menyia-nyiakan hidup, dan kehilangan kesempatan to see beyond and grab the meaning…Kehidupan dunia ini cuma sekali, dan bukan untuk dinikmati (seperti kata kaum hedonis), tapi untuk dimaknai dan memaknai…
[tulisan akan dilanjutkan dengan konteks Ramadhan, tapi sekarang segini dulu aja, udah 12:28 AM…]
Wallahu a’lam bis shawaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui
Dan…Yang Maha Pemberi Pencerahan…
Termasuk tadi, ketika beliau menceritakan momen pencerahannya. Saat kuliahnya hampir selesai, Pak Raka ini tidak buru-buru (seperti kecenderungan mahasiswa sekaarang, yang juga didukung penuh rektorat) ingin lulus dan langsung mengisi pasar tenaga kerja, yang sebenarnya saat itu terbuka lebar: industrialisasi di Indonesia baru mulai dan membutuhkan banyak sumber daya. Sebelum mengambil Tugas Akhir-nya, beliau sempat ‘luntang-lantung’ selama 3 tahun (!!!) memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah lulus. Apa ‘panggilan’nya. Panggung mana yang akan diisinya. Sepanjang 3 tahun itu, beliau berbicara dengan banyak orang, nanya sana-sini, baca banyak buku, termasuk juga curhat ke orang tuanya (“saya mau pulang saja jadi petani…”). “Untung belum ada batas DO, kalau nggak udah DO saya…”.
Lalu datanglah momen itu. Beliau temukan: generousity sejati, ialah kedermawanan seorang guru kepada anak didiknya. Saat itulah (mungkin juga tiba-tiba dan unpredictable), beliau menemukan hidup dan panggilannya: inilah yang akan saya lakukan! Maka segera ia selesaikan TA-nya (6 bulan beres!), dan setelah itu, ada tawaran jadi dosen, ia segera menerimanya. Sampai sekarang. Padahal, saat itu gaji dosen Rp 2800, sedangkan gaji jadi pekerja di perusahaan sudah 20 kali lipatnya, dengan diberi mobil pula.
Pencerahan. Momen pencerahan ini selalu datang sekonyong-konyong tapi tak pernah tanpa proses yang mendahuluinya. Dari kisah-kisah orang-orang dengan hidup bermakna, saya teringat suatu ciri khas dari momen ini: tiba-tiba, unpredictable. Namun, saat datangnya momen ini, keadaan diri si penerima merupakan keadaan paling siap, sehingga setelahnya selalu ada perubahan drastis.
Ingat kisah Archimedes? Tiba-tiba saja momen itu datang saat ia sedang asyik berendam di bak mandinya. Proses yang mendahuluinya, diawali dengan pertanyaan dari raja yang selalu ia pikirkan tanpa lelah siang malam. Di Tao of Physics (buku yang optimistis dan mengisyaratkan bahwa masih ada harapan pada zaman kita ini…), Fritjof Capra bercerita tentang momen indahnya:
“ ketika sekonyong-sekonyong saya tersadar akan segenap lingkungan saya yang terikat tarian kosmis raksasa.”
Saat itu ia tidak sedang berpikir keras, tapi sedang berleha-leha di tepi pantai dan menyaksikan ombak pantai. Ia beristirahat sejenak dari riset fisika yang sedang ia jalani dan pembacaannya akan mistisme timur. Saat istirahat itu, saat ia tercerahkan.
Anda tahu kisah Richard Feynman, profesor eksentrik nobelis Fisika? Ia sedang makan di kantin dan melihat mainan, lalu begitu saja timbul ide, dan jadilah beragam persamaan yang menjelaskan dunia. Sudah nonton a beautiful mind? John Nash menemukan teori saat di bar, ketika ia menyaksikan gadis cantik yang diiringi gadis-gadis lain. Nash tak menemukan teori saat ia bertekun di kamarnya dan menulisi jendela.
Gandhi mulai berjuang saat ia merasakan pencerahannya karena diusir dari kereta, sementara Martin Luther King, Jr. menemukannya saat ia bertengkar hebat di bus.
Paling fenomenal tentu saja Nabi Muhammad SAW, yang menemukan momennya di Gua Hira di bulan Ramadhan. Saat itu Jibril tiba-tiba datang dan menyuruh nabi: Iqra! (Bacalah!). (intermezzo: ada pendapat menarik dari Fazlur Rahman, guru Cak Nur dan Buya Syafi’i Ma’arif. “Jibril datang” tidak ditafsirkan secara fisik seperti tamu mendatangi tuan rumah, tapi suara hati dan pikiran yang tiba-tiba “berbicara” dan mencerahkan Nabi. Wallahu a’lam bis shawaab). Saat itulah Muhammad bin Abdullah ditahbiskan menjadi orang paling berpengaruh bagi peradaban.
Sekali lagi, momen pencerahan selalu datang tiba-tiba, tapi tak pernah tanpa proses keras yang mendahuluinya. Pertama adalah proses berusaha, berpikir, merenung, bekerja, bergiat, beramal yang kontinu dan sekuat tenaga. Lalu saturasi: gelisah, bingung, jenuh, tak nyaman, “mentok”, kadang-kadang terasa putus harapan dan kehilangan arah. Menunggu…dan tiba-tiba: eureka! Ditemukan, dan nasib sang penemu (juga orang lain dan dunia) berubah drastis.
Nabi merenung lama di gua hira sebelum momennya datang, dan masa-masa itu pula puncak kegelisahan nabi akan bangsanya yang bodoh, bejat dan terbelakang. Archimedes, Feynman, Nash berpikir sangat keras sebelum menemukan yang ditunggu. Begitu juga dengan Capra. Gandhi dan King, Jr. tak pernah puas dan selalu bertanya-tanya tentang kondisi masyarakatnya.
Sederhananya: mereka menunggu. Tapi bukan jenis menunggu yang pasif. Meminjam konsep Syaria’ti tentang menunggu Imam Gaib, penungguan mereka adalah penungguan yang aktif: diisi dengan pencarian tak kenal henti. Saat dicari, ternyata tak ditemui. Tapi tiba-tiba saja yang ditunggu itu datang, ketika memang si pencari itu dalam keadaan paling siap untuk menerimanya.
Kalau dipikir-pikir, saya kira bukannya tak ada orang yang lebih brilian dari para tercerahkan ini. Hanya saja, mereka merasa nyaman. Life goes on. Mereka tidak benar-benar bekerja dan mencari. Maka jadilah seluruh yang ada pada dirinya, pada akhirnya sebuah statistik: ia hidup, didata sensus, lalu mati, dihapus dari sensus. Kebanyakan hidup kita adalah mengisi statistik. Hanya yang mengalami pencerahanlah yang menjadi orang besar, atau kalau pun tidak, menjalani kehidupan bermakna yang memang layak untuk dijalani (dan jangan berharap dapat pencerahan kalau kehidupan kita, seperti saya juga, berpindah dari satu channel TV ke channel lain, dari komik satu ke komik lain, dari ruang kuliah satu ke ruang kuliah lain, dari tugas satu ke tugas lain, dari pacar satu ke pacar lain, dari aktivitas yang aktivisme satu ke aktivitas lain: yang kesemuanya hampa pemaknaan. Bisa-bisa menjadi “penggelapan”, dan kita mungkin menjadi lawan para pencerah).
Astagfirullah! Betapa seringnya saya menyia-nyiakan hidup, dan kehilangan kesempatan to see beyond and grab the meaning…Kehidupan dunia ini cuma sekali, dan bukan untuk dinikmati (seperti kata kaum hedonis), tapi untuk dimaknai dan memaknai…
[tulisan akan dilanjutkan dengan konteks Ramadhan, tapi sekarang segini dulu aja, udah 12:28 AM…]
Wallahu a’lam bis shawaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui
Dan…Yang Maha Pemberi Pencerahan…
Tuesday, October 11, 2005
"Kampung-kampung" ironis
Kalau sedikit saja kita amati, banyak sekali hal-hal yang sebenarnya ironis, bertentangan, penuh paradoks, sekaligus semestinya aneh dan tak wajar, tapi sudah menjadi kewajaran. Sudah menjadi terlalu ‘biasa’ sehingga kita gagal tertawa dan mentertawakan sejenak diri sendiri. Contohnya ialah ‘kampung’ tempat saya tinggal di Bandung ini. Tapi saya mo cerita dulu waktu saya di Cirebon, terus dibandingin.
Di Cirebon, saya hidup di perkampungan yang lumayan enak. Kesannya akrab dan hangat. Tempatnya cuma 300 meter dari batas kotamadya-kabupaten, jadi masuknya wilayah kabupaten. Ini menyulitkan terutama kalo kudu urusan dengan pemerintah kabupaten, soalnya pusat pemerintahan kabupatennya sendiri 20 km dari tempat saya tinggal. Saya kenal baik sekeluarga dengan tetangga-tetangga: kenal gosip-gosipnya, kenal pembantu-pembantunya, kenal juga ama anak-anaknya, teman sepermainan saya. Temen-temen di sekeliling saya dulu cowok semua (ada satu cewek, tapi bisa dianggep cowok…). Dulu saya inget ada anak perempuan yang pernah tinggal tepat di sebelah rumah tiap liburan, dan kayaknya dia itu first love masa-masa TK…hehehe…Momen yang selalu saya inget (momen lainnya gak terlalu inget), yaitu saat kita berdiri di depan jendela di rumah saya, sementara di luar hujan gede. Romantis. Kita gak ngomongin apa-apa saat itu, tapi gambar memorinya masih ada kayak foto di kepala saya: Jendelanya warna coklat tua, dengan cat yang mengelupas, teralisnya garis-garis warna kuning pastel, satu daun jendelanya terbuka, di luar hujan besar, udara dingin, di seberang jendela saya bisa liat tembok putih rumahnya. Besoknya dia pulang ke kota asalnya (kayaknya Bandung deh…sayang, gw gak inget lagi namanya!). Saya gak pernah ketemu lagi.
Terus, biasanya kalo sore-sore ke ‘lapangan merah’ (tapi bukan di China…), maen bola ampe dijemput ama bibik karena udah maghrib (dan selalu saya tolak, tapi tak kuasa). Maghribnya ke masjid, nongkrong di warung sambil makan kerupuk sambel (di Bandung ada gak ya?). abis maghrib sebelum isya, selalu diisi beragam permainan: kejar-kejaran, petak umpet, “bentengan”, sampai nonton orang dewasa yang lagi berantem. Abis Isya pulang, dan selalu lari ketakutan di suatu sudut jalan dekat rumah yang gelap. O iya, saya juga ikutan sekolah di Madrasah. Madrasahnya al-irsyad, dan saya inget di pelantikan kelulusannya (khatam al-qur’an) saya baca puisi di stadion basket. Rasanya hebat betul!
Pokoknya asyik deh, biarpun gak terlalu ideal. Pas saya mulai gede sih udah rada rusak. Di ujung jalan sana ada rumah yang dicurigai tempat mangkalnya pemadat, 600 meter dari rumah ada tukang VCD yang menyewakan film-film “orang tua”. Sempet digrebeg ama polisi juga tuh rumah. Teman-teman sepermainan saya juga sudah menjadi orang yang berbeda, mulai naksir-naksiran, mulai nyobain rokok, termasuk juga mulai maen pelet…hehehe, serius! Ada temen saya yang ngaku pernah melet seorang cewek yang jadi kembang di kampung saya (saya cengar-cengir aja, peletnya gagal! :-D ).
Namun, saya benar-benar merasa grow up dan belajar ttg dunia sejak di Bandung ini. Di Bandung, saya tinggal di kompleks perumahan Palem Permai. Kompleks perumahan yang kalau anda cari di Soekarno-Hatta, harus selalu hati-hati supaya gak kelewat, soalnya billboard Palemnya tinggi banget, gak kebaca, dan kalo malem gak ada lampunya. Di awal-awal, saya juga sering bingung, dan terpaksa muter 1 kiloan lagi ke perapatan, gara-gara kompleksnya kelewat.
Di Palem ini sebenarnya tempatnya juga enak. Cul de sac. Hanya ada satu gerbang, yang mulai 5 tahun yang lalu diportal gara-gara pernah ada yang kemalingan. Sekarang sangat aman, kadang-kadang saya ninggalin rumah gak dikunci dan nothing happens.
Inilah hal-hal yang terjadi di kampung ironis ini. Rumah-rumah di sini tak berpagar, langsung dari halaman ke jalan. Jadi, anda bisa dengan bebas melihat aktivitas tetangga di luar. Hanya, itu tak membuat orang-orang disini saling kenal mengenal. Sangat terbuka, sekaligus sangat tak peduli. Saya tahu nama kepala keluarga depan rumah saya, itu juga karena banyak digosipin…Tahu nama “the girl front door”, karena…manis sejak SMP (hehehe…astagfirullah, jagalah hati!), dan juga karena sering digosipin. Sampai sekarang secara formal gak pernah kenalan, dan mau kenalan sekarang juga susah…alasannya apaan ya? Rasanya norak juga kalo tiba-tiba datang terus kenalan, lagian sangat tendensius (mentang-mentang cantik, terus kenalan…). Anak kecil yang nakal depan rumah juga saya kenal, gara-gara di suatu siang tiba-tiba aja ada di kamar saya, ngumpet dari pembantunya yang nyari-nyari dia untuk nyuapin makan…Padahal gw lagi tidur, tapi dia loncat-loncatan di atas tempat tidur! Gw jelas kaget, anak siapa nih tiba-tiba ada di kamar? Langsung gw balikin, dan tuh anak cengengesan aja. Di Palem Raya No 19, ada anak TI 2003, Ima Nurbani Rahmah. And guess what? Baru saya kenal pas ospek di jurusan, padahal cuma beda 3 rumah, dan SMA-nya sama ama saya!!!
Adik saya tahu tentang ibu rumah tangga baru 400 meter dari rumah saya, gara-gara:
“A, tau ibu-ibu muda di Palem 1 ga? Cantik bgt!”
Busyetttt! Ibu-ibu gitu lho…
“tapi masih muda A, baru nikah!”
Yeah, yah…
Di Palem juga ada masjid, namanya mirip nama-nama masjid yang biasa ada di penjara: At-Taubah. Seakan-akan menganjurkan warganya untuk taubat. Masjidnya di lokasi tanah paling tak menguntungkan: posisinya di bawah tegangan tinggi…dasar developer, tanah begituan yang dijadiin masjid. Di Ramadhan ini, at-taubah juga penuh. Di sinilah, saya merasakan sholat taraweh yang tercepat. Malam tadi rekor bgt: 07.50 sudah selesai! Khatibnya selalu impor dari desa sebelah, dan malem tadi juga ada yg unik…bahkan khatibnya ketinggalan sholat Isya. Hehehe, gw geleng-geleng kepala aja. Emang cepet banget sih disini, adzan, 3 menit nunggu, terus langsung Isya. Sholatnya paket 4-4-3, semua tanpa tahiyat awal. Benar-benar TI banget, efektif dan efisien.
Dari sisi sosial, tempat ini bener-bener gak layak hidup. Kalo kata Weber ada gemeinschaft & gesselschaft, saya gak tau tempat ini macem apa…kayaknya tempat alien-alien berkumpul dan tidur aja. Bangun, berangkat, pulang sore atau malam, terus tidur. Termasuk juga saya. Tidak ada kehangatan, sebagaimanapun terbuka lingkungannya.
Tapi saya lumayan bisa menikmati tinggal disini, biarpun begitu kondisinya. Rasanya kayak masuk gua sendirian kalo udah balik ke rumah : sepi, tenang, tak ada yang mengganggu. Sampe seorang teman seperjuangan saya pernah ngeluh, Lucky ni kalo lagi pundung, balik ke rumah, terus besoknya gak ke kampus…
O iya, saya juga pernah tinggal juga di suatu tempat di salah satu sudut Bandung ini, ngekos bareng Adit-Bram, Aan, Rangga Elektro, ama Aldi Kimia. Di situ juga gak kalah ndablegnya, tapi gak tega kalo nyeritain disini…(peace, dit, an!)
Home sweet home. Entah kenapa, saya gak pernah ngalamin home sick, dimanapun itu. Dimanapun saya tinggal, disitulah cinta…
[yah lucky, tulisan yg gak penting banget…]
Di Cirebon, saya hidup di perkampungan yang lumayan enak. Kesannya akrab dan hangat. Tempatnya cuma 300 meter dari batas kotamadya-kabupaten, jadi masuknya wilayah kabupaten. Ini menyulitkan terutama kalo kudu urusan dengan pemerintah kabupaten, soalnya pusat pemerintahan kabupatennya sendiri 20 km dari tempat saya tinggal. Saya kenal baik sekeluarga dengan tetangga-tetangga: kenal gosip-gosipnya, kenal pembantu-pembantunya, kenal juga ama anak-anaknya, teman sepermainan saya. Temen-temen di sekeliling saya dulu cowok semua (ada satu cewek, tapi bisa dianggep cowok…). Dulu saya inget ada anak perempuan yang pernah tinggal tepat di sebelah rumah tiap liburan, dan kayaknya dia itu first love masa-masa TK…hehehe…Momen yang selalu saya inget (momen lainnya gak terlalu inget), yaitu saat kita berdiri di depan jendela di rumah saya, sementara di luar hujan gede. Romantis. Kita gak ngomongin apa-apa saat itu, tapi gambar memorinya masih ada kayak foto di kepala saya: Jendelanya warna coklat tua, dengan cat yang mengelupas, teralisnya garis-garis warna kuning pastel, satu daun jendelanya terbuka, di luar hujan besar, udara dingin, di seberang jendela saya bisa liat tembok putih rumahnya. Besoknya dia pulang ke kota asalnya (kayaknya Bandung deh…sayang, gw gak inget lagi namanya!). Saya gak pernah ketemu lagi.
Terus, biasanya kalo sore-sore ke ‘lapangan merah’ (tapi bukan di China…), maen bola ampe dijemput ama bibik karena udah maghrib (dan selalu saya tolak, tapi tak kuasa). Maghribnya ke masjid, nongkrong di warung sambil makan kerupuk sambel (di Bandung ada gak ya?). abis maghrib sebelum isya, selalu diisi beragam permainan: kejar-kejaran, petak umpet, “bentengan”, sampai nonton orang dewasa yang lagi berantem. Abis Isya pulang, dan selalu lari ketakutan di suatu sudut jalan dekat rumah yang gelap. O iya, saya juga ikutan sekolah di Madrasah. Madrasahnya al-irsyad, dan saya inget di pelantikan kelulusannya (khatam al-qur’an) saya baca puisi di stadion basket. Rasanya hebat betul!
Pokoknya asyik deh, biarpun gak terlalu ideal. Pas saya mulai gede sih udah rada rusak. Di ujung jalan sana ada rumah yang dicurigai tempat mangkalnya pemadat, 600 meter dari rumah ada tukang VCD yang menyewakan film-film “orang tua”. Sempet digrebeg ama polisi juga tuh rumah. Teman-teman sepermainan saya juga sudah menjadi orang yang berbeda, mulai naksir-naksiran, mulai nyobain rokok, termasuk juga mulai maen pelet…hehehe, serius! Ada temen saya yang ngaku pernah melet seorang cewek yang jadi kembang di kampung saya (saya cengar-cengir aja, peletnya gagal! :-D ).
Namun, saya benar-benar merasa grow up dan belajar ttg dunia sejak di Bandung ini. Di Bandung, saya tinggal di kompleks perumahan Palem Permai. Kompleks perumahan yang kalau anda cari di Soekarno-Hatta, harus selalu hati-hati supaya gak kelewat, soalnya billboard Palemnya tinggi banget, gak kebaca, dan kalo malem gak ada lampunya. Di awal-awal, saya juga sering bingung, dan terpaksa muter 1 kiloan lagi ke perapatan, gara-gara kompleksnya kelewat.
Di Palem ini sebenarnya tempatnya juga enak. Cul de sac. Hanya ada satu gerbang, yang mulai 5 tahun yang lalu diportal gara-gara pernah ada yang kemalingan. Sekarang sangat aman, kadang-kadang saya ninggalin rumah gak dikunci dan nothing happens.
Inilah hal-hal yang terjadi di kampung ironis ini. Rumah-rumah di sini tak berpagar, langsung dari halaman ke jalan. Jadi, anda bisa dengan bebas melihat aktivitas tetangga di luar. Hanya, itu tak membuat orang-orang disini saling kenal mengenal. Sangat terbuka, sekaligus sangat tak peduli. Saya tahu nama kepala keluarga depan rumah saya, itu juga karena banyak digosipin…Tahu nama “the girl front door”, karena…manis sejak SMP (hehehe…astagfirullah, jagalah hati!), dan juga karena sering digosipin. Sampai sekarang secara formal gak pernah kenalan, dan mau kenalan sekarang juga susah…alasannya apaan ya? Rasanya norak juga kalo tiba-tiba datang terus kenalan, lagian sangat tendensius (mentang-mentang cantik, terus kenalan…). Anak kecil yang nakal depan rumah juga saya kenal, gara-gara di suatu siang tiba-tiba aja ada di kamar saya, ngumpet dari pembantunya yang nyari-nyari dia untuk nyuapin makan…Padahal gw lagi tidur, tapi dia loncat-loncatan di atas tempat tidur! Gw jelas kaget, anak siapa nih tiba-tiba ada di kamar? Langsung gw balikin, dan tuh anak cengengesan aja. Di Palem Raya No 19, ada anak TI 2003, Ima Nurbani Rahmah. And guess what? Baru saya kenal pas ospek di jurusan, padahal cuma beda 3 rumah, dan SMA-nya sama ama saya!!!
Adik saya tahu tentang ibu rumah tangga baru 400 meter dari rumah saya, gara-gara:
“A, tau ibu-ibu muda di Palem 1 ga? Cantik bgt!”
Busyetttt! Ibu-ibu gitu lho…
“tapi masih muda A, baru nikah!”
Yeah, yah…
Di Palem juga ada masjid, namanya mirip nama-nama masjid yang biasa ada di penjara: At-Taubah. Seakan-akan menganjurkan warganya untuk taubat. Masjidnya di lokasi tanah paling tak menguntungkan: posisinya di bawah tegangan tinggi…dasar developer, tanah begituan yang dijadiin masjid. Di Ramadhan ini, at-taubah juga penuh. Di sinilah, saya merasakan sholat taraweh yang tercepat. Malam tadi rekor bgt: 07.50 sudah selesai! Khatibnya selalu impor dari desa sebelah, dan malem tadi juga ada yg unik…bahkan khatibnya ketinggalan sholat Isya. Hehehe, gw geleng-geleng kepala aja. Emang cepet banget sih disini, adzan, 3 menit nunggu, terus langsung Isya. Sholatnya paket 4-4-3, semua tanpa tahiyat awal. Benar-benar TI banget, efektif dan efisien.
Dari sisi sosial, tempat ini bener-bener gak layak hidup. Kalo kata Weber ada gemeinschaft & gesselschaft, saya gak tau tempat ini macem apa…kayaknya tempat alien-alien berkumpul dan tidur aja. Bangun, berangkat, pulang sore atau malam, terus tidur. Termasuk juga saya. Tidak ada kehangatan, sebagaimanapun terbuka lingkungannya.
Tapi saya lumayan bisa menikmati tinggal disini, biarpun begitu kondisinya. Rasanya kayak masuk gua sendirian kalo udah balik ke rumah : sepi, tenang, tak ada yang mengganggu. Sampe seorang teman seperjuangan saya pernah ngeluh, Lucky ni kalo lagi pundung, balik ke rumah, terus besoknya gak ke kampus…
O iya, saya juga pernah tinggal juga di suatu tempat di salah satu sudut Bandung ini, ngekos bareng Adit-Bram, Aan, Rangga Elektro, ama Aldi Kimia. Di situ juga gak kalah ndablegnya, tapi gak tega kalo nyeritain disini…(peace, dit, an!)
Home sweet home. Entah kenapa, saya gak pernah ngalamin home sick, dimanapun itu. Dimanapun saya tinggal, disitulah cinta…
[yah lucky, tulisan yg gak penting banget…]
Friday, October 07, 2005
Maaf
Ketika seorang selebritas dipersalahkan karena mempertontonkan (hampir) seluruh tubuhnya, ia menukas singkat: saya minta maaf…
Maaf yang sama, tetapi mudah-mudahan berbeda, juga banyak terdengar di awal memasuki bulan mulia, Ramadhan ini. Dan akan lebih banyak lagi maaf, saat bulan ini genap 30 atau 29. Juga, maaf-maaf saja kalau ada yang beda-beda waktunya.
Mengingat maaf, saya juga teringat maaf-nya Umar bin Khatthab pada Sang Ilahi. Pernyataan maaf yang selalu menjadi maaf yang sejati, selalu ditangisi, tak lupa disesali. Teringat juga tokoh ibu yang sangat santun di Bajaj Bajuri: “maaf, bukannya saya…”.
Sebuah maaf bisa berharga sangat mahal (sudahkah Vatikan minta maaf karena ‘melukai’ masyarakat ilmu pengetahuan dengan menghukum Galileo?), namun bisa juga menjadi sangat murah (kartu ucapan mohon maaf lahir batin sekarang berharga sekitar 7000 rupiah saja, kualitas prima). Bisa sangat diobral, bisa menjadi barang langka.
Kalau kita menonton film Hollywood, kalimat “ I’m sorry”, sering ditafsirkan sebagai “aku minta maaf” atau satu tafsiran lain: “aku menyesal”. Namun, ini bukan ambiguitas, apalagi sulawan. Ini sebuah kebersamaan makna. Ketika kita mengatakan “I’m sorry”, berarti dua hal: saya menyesal (telah melakukan perbuatan tersebut) DAN saya minta kerelaan anda memaafkan. Ya, pernyataan maaf adalah penyesalan sekaligus permakluman.
Karena itulah menjadi aneh saat selebritas tadi menyatakaan maaf, dan seterusnya ia menyatakan tak menyesal, “karena itu seni”. Menjadi aneh juga saat kita menyatakan maaf menjelang bulan suci ini, namun tak menyesal dengan segala salah kita sebelumnya, dan parahnya lagi, tetap melakukan.
Kita perlu sedikit penghiburan: manusia adalah tempat salah dan lupa. Tentu saja Allah mengerti: ia menyediakan ‘slot’ spesial bagi umat untuk saling memaafkan. DIA sendiri selalu terbuka untuk tiap maaf dari hamba-Nya. Rosulullah SAW mencontohkan: banyak-banyaklah beristighfar (memohon maaf) kepada-Nya.
Astagfirullah.
Dan saya ingin meminta maaf pada seluruh makhluk-Nya.
Termasuk Anda.
Saya menyesal, minta maaf.
Have a nice Ramadhan!
Maaf yang sama, tetapi mudah-mudahan berbeda, juga banyak terdengar di awal memasuki bulan mulia, Ramadhan ini. Dan akan lebih banyak lagi maaf, saat bulan ini genap 30 atau 29. Juga, maaf-maaf saja kalau ada yang beda-beda waktunya.
Mengingat maaf, saya juga teringat maaf-nya Umar bin Khatthab pada Sang Ilahi. Pernyataan maaf yang selalu menjadi maaf yang sejati, selalu ditangisi, tak lupa disesali. Teringat juga tokoh ibu yang sangat santun di Bajaj Bajuri: “maaf, bukannya saya…”.
Sebuah maaf bisa berharga sangat mahal (sudahkah Vatikan minta maaf karena ‘melukai’ masyarakat ilmu pengetahuan dengan menghukum Galileo?), namun bisa juga menjadi sangat murah (kartu ucapan mohon maaf lahir batin sekarang berharga sekitar 7000 rupiah saja, kualitas prima). Bisa sangat diobral, bisa menjadi barang langka.
Kalau kita menonton film Hollywood, kalimat “ I’m sorry”, sering ditafsirkan sebagai “aku minta maaf” atau satu tafsiran lain: “aku menyesal”. Namun, ini bukan ambiguitas, apalagi sulawan. Ini sebuah kebersamaan makna. Ketika kita mengatakan “I’m sorry”, berarti dua hal: saya menyesal (telah melakukan perbuatan tersebut) DAN saya minta kerelaan anda memaafkan. Ya, pernyataan maaf adalah penyesalan sekaligus permakluman.
Karena itulah menjadi aneh saat selebritas tadi menyatakaan maaf, dan seterusnya ia menyatakan tak menyesal, “karena itu seni”. Menjadi aneh juga saat kita menyatakan maaf menjelang bulan suci ini, namun tak menyesal dengan segala salah kita sebelumnya, dan parahnya lagi, tetap melakukan.
Kita perlu sedikit penghiburan: manusia adalah tempat salah dan lupa. Tentu saja Allah mengerti: ia menyediakan ‘slot’ spesial bagi umat untuk saling memaafkan. DIA sendiri selalu terbuka untuk tiap maaf dari hamba-Nya. Rosulullah SAW mencontohkan: banyak-banyaklah beristighfar (memohon maaf) kepada-Nya.
Astagfirullah.
Dan saya ingin meminta maaf pada seluruh makhluk-Nya.
Termasuk Anda.
Saya menyesal, minta maaf.
Have a nice Ramadhan!
Subscribe to:
Posts (Atom)