Sunday, December 04, 2005

Root of All Evil

[catatan: tulisan ini agak panjang...tulisan terpanjang yg pernah gw publish di blog. katanya, tulisan di internet itu jangan panjang-panjang kalo mo dibaca, tapi mengingat kalo dipisah kayaknya ga utuh, jadi terpaksa panjang (sebenarnya sih males kalo dipotong...]

Terinspirasi oleh kawan-kawan yang bersemangat…

Begitu banyak keluhan yang sering kita dengar tentang kondisi kemahasiswaan dan mahasiswa sekarang. Tidak peduli lah, apatis lah, oportunis lah, pragmatis lah, bla-bla-bla. Semua mengeluh, tapi jarang yang mengajukan analisis bagus hingga menuju solusi. Jawabannya paling: salah sistem dari rektorat, tapi lebih banyak yang menyalahkan sesama daripada menjawab: hedonis, asyik sendiri, tak peduli. Seolah yang disalahkan (siapapun itu) akan peduli.

Beberapa kawan saya berdiskusi dan mencoba menjawab, serta merasa telah menemukan jawabannya. Dari perbincangan dan tulisan, begini logikanya.
Beberapa gejala (dari email pribadi seorang kawan):
1. Pendidikan semakin mahal, kualitas pendidikan diidentikkan dengan dana yang harus dikeluarkan
2. Kurikulum diperpadat dan diperketat, difokuskan pada pembangunan basis kompetensi, mengikuti konsep link and match terhadap kebutuhan dunia global.
3. Pembatasan masa kuliah, dan semakin diperpendek menjadi 6 tahun.
4. SPP 2 kali lipat bila lebih dari 5 atau 4 tahun
5. Adanya jalur khusus untuk masuk ke ITB dengan biaya mahal
6. Menciptakan opini bahwa kegiatan2 kemahasiswaan dapat mengganggu dan menghambat proses akademis (karena pendidikan memang hanya disempitkan untuk pemenuhan kompetensi keprofesian saja)
7. Memberangus proses kaderisasi mahasiswa, dan mengubahnya hanya menjadi semacam pelatihan dan training biasa. Padahal inti utama dari kaderisasi dan pendidikan adalah pembentukan karakter (character building)
8. Memberi hukuman keras yang menghancurkan psikologis dan karakter mahasiswa dengan penyegelan himpunan dan skorsing terhadap tokoh-tokoh mahasiswa
9. Mengancam mahasiswa baru agar tidak mengikuti kegiatan kaderisasi dan kegiatan2 kemahasiswaan lainnya yang dianggap ‘mengganggu’ akademis
10. Berusaha mengendalikan langsung kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, khususnya kaderisasi, seperti halnya OSKM dan kaderisasi himpunan.
11. Mengadakan sendiri pelatihan-pelatihan yang ‘mendoktrin’ mahasiswa untuk fokus ke akademis dan menghindari kegiata-kegiatan yang dianggap mengganggu


Dari gejala-gejala tersebut, terus lewat black box, menjadi simpulan:
“Saya menyimpulkan bahwa akar masalahnya adalah mulai bergeser dan berubahnya paradigma dan karakter pendidikan di Indonesia dan ITB khususnya ke arah bentuk kapitalisme. Pendidikan yanga ada sekarang hanya dikecilkan dan digeser kepada bagaimana bisa menghasilkan manusia2 yang berkualitas akademis baik dan berkompetensi tinggi agar bisa memeuhi kebutuhan sdm dunia keprofesian dan industri. Mahasiswa hanya diibaratkan mesin2 hidup yang akan menggerakkan globalisasi dunia.
Pendidikan yang sejatinya untuk membangun pribadi, karakter, dan pola pikir manusia dialihkan sebagai proses pencetak ‘mesin-mesin’ hidup itu.”


Itu berdasar email pribadi seorang kawan kepada saya (sorry bang, ada yang diedit dikit…). Lebih jauh, lanjutnya, hal-hal itulah yang akhirnya membuat mahasiswa ITB sekarang menjadi makin “apatis, pragmatis, individualis, oportunis dan juga menumbuhkan karakter budaya materialis dan hedonis”.

Jadi, akarnya ialah : KAPITALISASI PENDIDIKAN. Atau paradigma semacam itu.
Itu hipotesis (sekali lagi, hipotesis) yang sangat bagus tentang root of all evil dunia kita. Mari kita verifikasi sama-sama.


Bagaimana? Sebenarnya bisa aja sih dilakukan penelitian. Gara-gara baca TA, dengan memakai beberapa teknik analisis multivariat (Anmul) kita bisa membuktikan hipotesis itu benar atau salah. Kapitalisasi pendidikan dapat dijabarkan menjadi beberapa variabel, terus menjadi item dan jadi kuesioner. Lalu, yang kita rasakan (sebut saja “KONDISI MAHASISWA ITB SEKARANG”) juga dijabarkan menjadi beberapa variabel. Dibuat modelnya, dibuat kuesioner, terus diolah pake SPSS, dan kita buktikan: pengaruh kapitalisasi pendidikan terhadap kondisi mahasiswa ITB sekarang. Apakah benar hipotesis kita?

Ya, kira-kira semacam itulah metodenya (saya gak tau lebih teknisnya, kudu belajar lebih jauh lagi…maklum, probstat C, statistika industri B, Analisis multivariat amit-amit kalo diambil. Tapi kalo idenya mungkin benar). Temen saya ada yang pernah ngajakin bikin riset tentang ini. Ayo, jadi yuk! Kayaknya ini juga bisa jadi bahan kajian baru saya di Kastrat Kabinet. Yang jago Anmul, gabung ya…atau ntar saya nanya-nanya deh!

Balik lagi ke root of all evil. Kalau mau dilanjutkan, sebenarnya kita bisa mencari yang lebih fundamental dari itu. Begini ceritanya.

Dunia “digerakkan” oleh ide. Oleh pikiran, oleh meme. Ide tentang Tauhid mengubah bangsa Arab, ide revolusioner Marx terjemahan Lenin membuat Revolusi Oktober, ide Indonesia Merdeka oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Belanda tahun 1921 terwujud tahun 1945. Ide Newton dan Descartes, kata Capra, melahirkan Paradigma Cartesian yaang mekanistis dalam memandang dunia. Ide yang diperoleh dari Fisika Baru juga melahirkan paradigma yang lebih holistik dan organis.

Ide bahwa sumber daya negara terbatas, maka negara harus meluaskan pasarnya, “menyerbu” negara lain, mengambil sumberdayanya, sekaligus juga menjadi pasar dan produsen, melahirkan merkantilisme. Menjadi penjajahan. Negara menjadi organ yang kejam dan totaliter, maen serbu dan ambil.

Dengan semangat pencerahan di Eropa, semangat individualisme dan humanisme, menginspirasi Adam Smith menulis The Wealth of Nation. Idenya: biarkan the invisible hands pada pasar yang bekerja, yang akan secara alamiah mendistribusikan kekayaan hingga suatu negeri pada akhirnya akan sejahtera. Market Rules! Merkantilisme punah (lebih tepatnya, berubah bentuk), dan ide baru ini disebut Marx sebagai Kapitalisme.

Kata Marx dan Engels yang melihat sendiri penderitaan buruh-buruh di masa kapitalisme awal: sistem ini ialah sistem yang kejam, menghisap. Ia bahkan meramalkan, tak mungkin ada manusia yang bisa bertahan dengan sistem ini. Nanti, katanya, bakal terjadi The Great Decline of Capitalism, dan saat itulah terjadi revolusi proletarian. Lalu akan ada the classless society, masyarakat yang sangat adil, dimana bekerja hanya sesuai dengan kebutuhan dan yang diinginkan, dimana tiap manusia berkesempatan beraktualisasi, mengembangkan seni, pengetahuan, tanpa penghisapan. (untung aja Marx nggak bilang saat itulah nabi Isa turun melawan Dajjal…hehehe. Ramalannya udah mirip doktrin agama aja!). Lenin, seorang Rusia yang sangat cerdas (ada bagian abnormal di otaknya yang membuat ia sangat ahli “berpikir asosiatif”, itu penyelidikan ilmuwan atas otak Lenin yng sekarang diawetkan), dan gawatnya, percaya berat dengan Marx, mewujudkan mimpinya lewat Kaum Bolsyewik, Revolusi Oktober 1917 yang menumbangkan Tsar Rusia. Sistem perekonomiannya etatisme, negara yang dianggap sebagai representasi kaum proletar dan seluruh rakyat (padahal, hanya representasi PKS…gak usah curiga apalagi marah, PKS ini: Partai Komunis Sovyet…hehehe) yang menguasai seluruh sektor perekonomian. Beberapa terinspirasi, untuk kemudian kecewa. Di Eropa, terutama Eropa Barat, para revolusioner ini lebih memilih jadi revisionis, melahirkan corak partai yang kekiri-kirian (Partai Buruh, partai demokrat-liberal di Jerman, di Amerika bisa dibilang Partai Demokrat). Sejak itu dunia mulai terbelah: kapitalis-liberalis dan Marxis-komunis (ini pengkategorian kasar ya…tentu saja banyak varian di dalamnya). Yang laen yang nggak mau ngikut-ngikut, memilih bikin Non-Blok. Saya sendiri sampai sekarang menganggap Indonesia bukan kapitalis-liberalis apalagi Marxis-komunis, tapi negara “fantastis”…dari dulu sampe sekarang: bikin NEFO dan GANEFO, monas dan hotel Indonesia saat rakyatnya gak mampu beli beras, dan bayarin utang koruptor saat penduduk miskinnya lebih dari 40 juta! Fantastis!

Dengan sistem baru ini ternyata berhasil membuat negara-negara pemeluknya maju. Sampai datang the Great Depression tahun 1930-an. Bursa saham tiba-tiba jatuh. Perekonomian kolaps. Penduduk Amerika tiba-tiba miskin dan butuh tunjangan sosial (silakan nonton Cinderella Man untuk gambaran tahun 1930-an yang dialami seorang petinju, atau baca The Grapes of Wrath). Orang-orang komunis udah seneng aja: liat tuh, great decline of capitalism datang! Tapi yang datang ialah John Maynard Keynes, lagi-lagi seorang ekonom jenius yang agak gay (kenapa orang jenius selalu aneh-aneh???!!!), dengan konsep ekonomi campurannya. Negara harus berperan lebih aktif dalam perekonomian. Roosevelt menerapkan ide-idenya, dan Amerika berhasil bangkit. Ide yang ini juga laku dijual dimana-mana. Semua negara maju menjadi welfare-state.

Ternyata ada yang dendam juga nih ama si Keynes. Friedrich August von Hayek sejak dulu terlibat berantem lewat tulisan dengan Keynes. Sebagai fundamentalis pasar, ia gak mau kalo pasar dicampurin apapun, termasuk juga oleh negara. Kalau ide Hayek ini gak diubah menjadi sebuah gerakan, rasanya dunia kita akan menjadi tempat yang berbeda sekarang.
Hayek yang lagi sebel mengorganisir pertemuan tertutup di Mont Pelerin, Swiss. Yang diundang yang sepemahaman dengan dia: ekonom mazhab chicago pro pasar bebas (Milton Friedman, Stigler), Karl Popper, Polanyi, dan beberapa nama lain. Mereka prihatin dengan “gelombang kolektivisme” di Eropa. Terus, ia cerai dengan istrinya, menikahi sepupu istrinya (contoh satu lagi jenius yang aneh!), lalu pindah ke Universitas Chicago, tempat teman-teman sealirannya kumpul. Pemikiran ekonomi yang sangat propasar bebas tetap bisa hidup. Hayek, Friedman dan kawan-kawan bahkan masih bisa menerbitkan banyak bukunya.


Sampai tibalah masanya…gara-gara heroisme King Faisal, harga minyak dunia tiba-tiba naik. Meski gak separah tahun 1930-an, sekali lagi ekonomi dunia krisis. Di Inggris, partai konservatif lewat kolaborasi dengan lembaga-lembaga think-tank canggih (Institute of Economic Affair, Centre for Policy Studies, Adam Smith Institute, dan Mont Pelerin Society, yang dibentuk Hayek dulu), ditambah dengan perempuan jenius lagi, Margaret Thatcher berhasil merebut kekuasaan di tahun 1979. Resep pemulihan ekonominya tentu saja memakai resep a la Hayek dan kawan-kawan. Thatcher, dengan mitranya yang kebijakannya juga mirip-mirip di AS sana, Ronald Reagan, mulai melakukan 3 hal sakti: privatisasi, deregulasi, liberalisasi. Perusahaan milik negara diswastakan, peraturan-peraturan yang mengikat perusahaan dihapuskan. “Kerja keras dan berusaha sendiri”, jadi etika moral zaman Thatcher dan seterusnya. Kalo gw kaya karena usaha sendiri, dan elo tetap miskin, masak gw salah??

Hasilnya emang bagus: 2/3 penduduk Inggris punya tempat tinggal sendiri (sebelum Thatcher, hanya setengahnya), standar hidup meningkat, penjualan TV, freezer, barang-barang elektronik naik drastis, 60 % populasi menjadi golongan kelas menengah, perekonomian booming. Negara-negara lain yang mengikuti resepnya pun sama. (Norena Heertz, the silent takeover, diterjemahkan jadi “Perampok Negara”)

Tapi efek lainnya: kesenjangan yang makin besar. Di dalam negara, dan antar negara maju-negara miskin. (untuk pengantar yang baik kepada Neoliberalisme, silakan baca “Neoliberalisme”, pustaka Cindelaras)

Ide inilah, ide Hayek dan kawan-kawan dan selingkuhannya di pemerintahan-pemerintahan, yang berkembang ke seluruh dunia, hingga sekarang. Ide ini lalu disebut NEOLIBERALISME. Apalagi, di era yang disebut globalisasi ini. Dengan perkembangan teknologi, neoliberalisme dan globalisasi mendefinisikan kehidupan denagn cara baru. Late Capitalism, kapitalisme yang menganggap konsumsi bukan karena kebutuhan, tapi karena keinginan, dan karena menjadi gaya hidup. Karena generasinya juga makmur-makmur, terus MTV dan produk sejenisnya laku, ditambah dengan merajalelanya konsumsi, melahirkan masyarakat yang konsumtif, berorientasi kesenangan (hedonis). Juga berpikiran pendek, demi mencapai status yang ditentukan oleh apa yang bisa dikonsumsinya. Merasa lebih gaya memakai Jaguar, HP Vertu, atau liburan ke Swiss.

Nah, itu efek virus neoliberal ke bidang budaya dan gaya hidup: pragmatis, konsumtif, hedonis.
Perselingkuhan virus neoliberal dengan kekuasaan tak berhenti sampai situ saja. Lewat World Bank, WTO, dan IMF, virus ini juga menyebar daan menginternasional. Saat negara-negara Amerika Latin dan Asia dalam krisis, IMF datang dengan beragam kebijakannya yang tengik beraroma neoliberal. Maka BUMN-BUMN pun diprivatisasi, deregulasi dimana-mana, dan apapun diliberalisasi.


Termasuk juga pendidikan kita…Maka berubahlah ITB jadi BHMN,lebih mandiri, lebih bebas, lebih otonom. Sekarang, semua lembaga pendidikan formal direncanakan menjadi Badan Hukum Pendidikan, format yang mirip-mirip BHMN. Lahirlah yang disebut kawan saya tadi: kapitalisme pendidikan.

Maka, apakah root of all evil?
NEOLIBERALISME!


Neoliberalisme ini, setidaknya merusak lewat 2 cara: cara budaya dengan menjadikan kita makin hedonis, pragmatis, konsumtif, apatis (ngapain ikutan begituan, mendingan kita maen ke mall…) dan cara-cara struktural lewat perundangan dan aturan-aturan. Sejak itb di BHMN, mulai timbul banyak aturan. Mulai terasa gejala-gejala yang disebut di atas.

Selanjutnya, what is to be done?
(bersambung)

6 comments:

  1. bisa dijadiin ta ni ky..
    hahahaha

    ReplyDelete
  2. kalo di alkitab..
    'akar segala kejahatan adalah cinta uang...'

    hehehehe...

    ReplyDelete
  3. BUSET DAH...cuma mau bilang neolib aja panjang bener ceritanya.. Bisa dijadiin buku sejarah ekonomi..INI resultan buku ekonomi yang lo baca ya??????? gue pikir akar kejahatannya ape???
    Tapi boleh lah, gue suka usaha lo bikin tulisan sepanjang ini...
    BErisi dan bagus, cuma terlalu kronologis.. gue kurang suka baca yang kronologis...jadi terlalu membosankan.

    ReplyDelete
  4. gw cuma baca komen doan..dan gw menyumpulkan tulisan lu kali ini benar-benar....panjang ;)

    ReplyDelete
  5. to arif: buat TA sih kelamaan, sekarang aja yuk!
    vetrie: kayaknya senada...neoliberalism juga akarnya yg pencarian keuntungan dan greed...
    sang sangkuni: hehehe,,,enakan kronologis ah. keliatan konteks dan ngalirnya. selera orang emang beda ;p
    benx: kesimpulan yang paling tepat! panjang! ;p

    ReplyDelete
  6. maksud gw TA nya lu ,dicepetin jd sekarang bos...
    ngga bosen mang kuliah dijejalin sistem kapitalis mulu?
    hehehe lagi...

    ReplyDelete