Saturday, December 10, 2005

Against Neoliberalism??

Kalau root of all evil-nya adalah neoliberalisme, lalu apa yang dapat kita lakukan? Melawan neoliberalisme?

Dulu, waktu saya TPB, tiap lewat SC Timur (atau SC barat ya? 3 tahun lebih di ITB saya gak bisa membedakan jelas mana barat-timur, 9024 itu di Oktagon atau TVST…), selalu saya lihat poster bertuliskan ini: “Against Neoliberalism, World Social Forum”. Posternya keren, tipe poster yang pengen saya pasang di dinding kamar. Slogannya juga keren, meskipun saat itu saya gak tau jelas dan cuma bisa ngomong,“apaan sih?sok-sok-an banget…”.

Gerakan melawan neoliberalisme adalah gerakan internasional. Kesannya memang ke-kiri-kiri-an, tetapi sekarang yang kapitalis (baca: agak propasar) pun ikut. Ini usaha perbaikan kapitalisme, katanya. Sebuah sistem yang terlalu mapan memang membahayakan, karena berpotensi melahirkan kejumudan, kehilangan sense of urgency, dan terjebak dalam masalah yang sama, sambil menghindari (menolak) masalah lain yang sebenarnya lebih mendesak.

“A Better World is Possible”, menjadi motto para pelawan ini di World Social Forum. Ada yang pernah menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan unik: Nirwana dunia itu niscaya. Dunia sekarang, yang sangat senjang (lihatlah statistik penguasaan kekayaan dunia yang makin senjang dikuasai oleh negara-negara maju, kelaparan di Afrika dan Asia sementara penduduk Amerika tiap tahun membuang volume sampah makanan yang cukup untuk memberi makan satu negara Afrika, dan beragam bentuk kesenjangan lain), sebenarnya masih bisa diselamatkan. Maka itulah yang dilakukan kumpulan NGO lokal maupun internasional, aktivis HAM, aktivis hak-hak perempuan, aktivis lingkungan hidup, ilmuwan dan intelektual, termasuk juga aktivis mahasiswa di Porto Alegre, tempat WSF. Mereka mengajukan kritik pada neoliberalisme sekaligus juga mengajukan alternatif-alternatif. Kenapa namanya World Social Forum? Emang dipake untuk menyindir World Economic Forum, yang pernah diselenggarakan di Davos, Doha, Cancun, yang selalu diwarnai demo-demo (katanya berikutnya di Hongkong? Pemerintah Hongkong juga udah khawatir ama demo-demonya…). Porto Alegre juga adalah kota yang dulu “dihidupkan” oleh tokoh pendidikan yang sering jadi alat legitimasi filosofis mahasiswa ITB dalam menyelenggarakan kaderisasi, Paulo Freire.

Dalam risalah ringkas hasil WSF (A better world is possible; alternatives to economic globalization. Saya cuma baca yang executive summary-nya. Aslinya lumayan tebel…), dibahas kritikan utama terhadap globalisasi ekonomi, tentang 10 pilar Democratic & Sustainable Society, komodifikasi barang-barang milik bersama, subsidiarity (prinsip untuk mengupayakan pemberdayaan masyarakat lokal), kritik pada kian kurang ajarnya korporasi dan perselingkuhannya dengan negara, kritik pada lembaga-lembaga Bretton Woods (IMF, WTO, World Bank). Tak hanya pembahasan atau mengkritik saja, tapi juga perumusan alternatif-alternatif (lebih jauh lihat website International Forum on Globalization, www.ifg.org). Itu dirumuskan bareng, termasuk oleh para “aktivis-selebritis” seperti Walden Bello atau Vandana Shiva.

Jadi, gerakan internasional melawan neoliberalisme ini sangat marak, malah bisa konkret menyediakan usulan alternatif, selain rajin demo dan rajin mengkritik. Isu-isu sosial juga mulai dibahas di agenda World Economic Forum (meskipun masih poci-poci doang…Bush ama Blair gak pernah konkret!), contoh lain betapa berpengaruhnya gerakan ini. Tapi kenapa gak pernah populer disini, di kampus ini?

Kayaknya karena terkesan kejauhan…gerakan internasional melawan neoliberalisme? Apaan tuh? Kurang membumi. Kadang-kadang juga disertai kecurigaan, “kiri banget”. Meskipun, efeknya itu sekarang bisa kita rasakan, tepat sekali kita rasakan di kampus ini dan di masyarakat Indonesia. Ingat bahwa neoliberalisme adalah sebuah “-isme” lain, yang masuk lewat pikiran, lewat paradigma kita. Ini jelas ghazwul fikri. Lagipula, masih banyak isu lain yang lebih dikenali, lebih dekat, tapi juga sekali lagi tak tertangani dengan baik. Apa kabar dengan gerakan anti korupsi, reformasi birokrasi, atau isu-isu perubahan struktural di kampus kita ini? Semuanya serba adem ayem aja…Mungkin kita sudah terlalu mapan, hingga kehilangan sense of urgency. Nanti pas udah terjadi, dan udah bingung, baru ribut….(hehehe, asyiknya jadi pengamat atau orang yang emang kerjaannya ngebahas yang nggak konkret kayak saya di Kastrat emang gini: kritik sana-sini…But that’s my job! ;-p).

Mungkin benar, against neoliberalism itu penting, tapi kejauhan…sebagai target gerakan mahasiswa, sifatnya kurang strategis. Namun, kesadaran tentang ini, pengetahuan tentangnya harus bisa diketahui secara publik. Kita percaya saja sama forum NGO internasional, insya Allah pada baek kok.

Pada titik inilah saya bisa bersepakat dengan gerakan “anti kapitalisasi pendidikan”, meskipun sebenarnya cuma turunan dari paradigma neoliberalisme. Pendidikan jelas adalah urusan kita, warga kampus dan para peserta didik. Kebijakan-kebijakan pendidikan di pusat, atau di tingkat yang lebih atas (rektorat misalnya), tentu saja sedikit banyak mempengaruhi keseharian kita. Jadi, bahkan secara pragmatis pun, semestinya kita peduli.

Tak perlu jauh mencari…kita bicarakan saja turunan dari turunan turunannya: praktek penyelenggaraan institusi pendidikan (formal). Turunannya lagi: kebijakan rektor ITB. Turunannya lagi (kalo di TI), hegemonnya salah satu lab yang seolah menyingkirkan keberagaman keilmuan TI…(hehehe). Turunannya lagi kalo dalam keseharian kehidupan saya: pilihan saya untuk mengerjakan tugas PLO daripada datang dan memulai diskusi pendidikan di kabinet, atau memulai menulis LPJ OSKM…(aduh, jadi malu…;-p)

Ini isu yang menyangkut kita bersama! Juga relatif gak ada perbedaan kepentingan disini. Semua kita mahasiswa, yang dididik dalam sebuah sistem pendidikan yang seragam. Tak perlu dipolitisir atau curiga-curigaan.

Mari mulai membicarakan pendidikan kita! Mari mulai membangun gerakan.

Silakan gabung di tim kajian pendidikan kabinet, hubungi Lucky (08122211945, mail to: lucky_luqman@yahoo.com). Nanti kita bicarakan bareng aplikasi strategis-taktisnya, sambil membahas teori.
Hehehehe, akhirnya malah promosi…;-p
Peace, ah!

5 comments:

  1. ati-ati ki kalo ngomong, bahkan tembok pun bisa mendengar dan berbicara...hehehehe

    ReplyDelete
  2. sialan lo.... gue pikir serius.. nyatanya cuma mau promosi ... FYI: gue orang kiri lho, and always will. Definisi Kiri disini adalah melawan apapun yang bersifat mainstream (Ekonomi, politik, smpe yang itu tuh....)..

    ReplyDelete
  3. Kamis, 15 Desember 2005
    Neoliberalisme
    B Herry-Priyono

    Neoliberalisme itu istilah licin yang sering mengecoh pemakainya.
    Misalnya, ekonomi pasar dianggap identik neoliberalisme.
    Neoliberalisme memang melibatkan aplikasi ekonomi-pasar, tetapi tidak
    semua ekonomi-pasar bersifat neoliberal (ekonomi pasar sosial, bukan
    neoliberal). Atau, privatisasi sering dilihat identik dengan ciri
    kebijakan neoliberal. Padahal, tidak semua program privatisasi
    bersifat neoliberal.

    Mengapa istilah itu berawalan neo? Awalan neo (baru) pada istilah
    neoliberalisme menunjuk gejala kemiripan tata ekonomi 30 tahun
    terakhir dengan masa kejayaan liberalisme ekonomi di akhir abad ke-19
    dan awal abad ke-20, yang ditandai dominasi financial capital dalam
    proses ekonomi. Namun, apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir
    bercorak lebih ekstrem daripada seabad lalu.

    Reinkarnasi liberalisme ekonomi akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
    dalam bentuk lebih ekstrem itu berlangsung dengan mengakhiri era besar
    yang disebut embedded liberalism. Embedded liberalism merupakan model
    ekonomi setelah Perang Dunia II hingga akhir dekade 1970-an. Intinya,
    kinerja ekonomi pasar dikawal dengan seperangkat aturan yang membuat
    relasi antara modal dan tenaga-kerja tidak selalu berakhir dengan
    subordinasi labour pada capital. Seperti tata ekonomi seabad lalu,
    neoliberalisme berisi kecenderungan lepasnya kinerja modal dari
    kawalan, tetapi dalam bentuk lebih ekstrem.

    Dari hal kecil itu tampak, betapa sulitnya menunjuk persis arti
    neoliberalisme. Selain itu, neoliberalisme merupakan istilah yang
    lebih terpahami dalam konteks intelektual Eropa (istilah liberal punya
    arti lain di AS). Dalam perjalanan sejarah yang tumpang tindih,
    neoliberalisme banyak dikaitkan visi ekonomi kelompok seperti Mont
    Pelerin Society dan ekonom mazhab Chicago, seperti Milton Friedman,
    Gary Becker, dan George Stigler.

    Namun, neoliberalisme bukan sekadar ekonomi. Ia visi tentang manusia
    dan masyarakat, dengan cara pikir ekonomi yang khas sebagai perangkat
    utama. Mungkin dua lapis definisi yang saling terkait dapat membantu
    memahami jantung filsafat ekonomi neoliberalisme.

    Visi antropologis
    Lain dengan liberalisme abad ke-19, neoliberalisme berkembang melalui
    reduksi manusia sebagai makhluk ekonomi (homo oeconomicus). Tak ada
    yang aneh pada reduksi itu. Penciutan pengandaian itu tidak dengan
    sendirinya keliru. Keketatan berpikir dalam kinerja tiap ilmu biasanya
    melibatkan penciutan, seperti geografi berangkat dari pengandaian
    manusia sebagai makhluk ruang; ilmu hukum dari premis manusia sebagai
    makhluk tata aturan.

    Apakah visi antropologis yang telah diciutkan demi keketatan proses
    berpikir suatu bidang ilmu mengungkapkan seluruh dimensi manusia,
    tentu soal lain. Dari keragaman bidang akademis pun dari matematika
    hingga sastra, dari antropologi sampai teknologi sudah pasti penciutan
    asumsi bukan seluruh fakta dimensi manusia. Manusia pasti homo
    oeconomicus, tetapi homo oeconomicus pastilah bukan keseluruhan
    manusia.

    Yang menarik dari visi neoliberal adalah pengandaian manusia sebagai
    homo oeconomicus direntang luas untuk diterapkan pada semua dimensi
    hidup manusia. Pada gilirannya, perspektif oeconomicus itu direntang
    untuk menjadi prinsip pengorganisasian seluruh masyarakat. Inilah
    aspek yang mungkin paling tegas membedakan ekonomi neoliberal dari
    ekonomi liberal klasik. Tak ada yang lebih eksplisit dalam proyek
    perentangan ini daripada Gary Becker dalam The Economic Approach to
    Human Behavior (1976): pendekatan ekonomi menyediakan kerangka semesta
    untuk memahami semua tingkah laku manusia.

    Bagaimana mungkin sebuah visi, yang karena tuntutan bidang ilmu
    berdiri di atas penciutan asumsi, menjadi dominan? Tak ada teori yang
    berjalan sendiri.

    Virtualisasi ekonomi
    Dalam stagnasi ekonomi negara-negara maju pada dasawarsa 1970-an, dan
    dalam revolusi teknologi informasi sejak awal dekade 1980-an,
    kecenderungan itu mengalami evolusi lanjut dan menghasilkan ciri utama
    neoliberalisme. Perspektif oeconomicus bukan hanya direntang untuk
    diterapkan pada dimensi lain hidup manusia, bahkan dalam perspektif
    oeconomicus sendiri berkembang hierarki prioritas: prioritas sektor
    finansial (financial capital) atas sektor-sektor lain dalam ekonomi.

    Hasilnya adalah revolusi produk finansial, seperti derivatif,
    sekuritas, dan semacamnya. Tren ini lalu mempertajam pembedaan antara
    sektor virtual dan sektor riil dalam ekonomi, dengan prioritas yang
    pertama. Dalam bahasa sederhana, proses ekonomi bergerak dengan
    prioritas transaksi uang ketimbang produksi barang/jasa riil.

    Ada anggapan, maraknya transaksi produk-produk finansial akan mengalir
    langsung ke investasi di sektor riil (dalam bentuk pabrik atau
    sepatu), yang diharapkan menyediakan lapangan kerja dan mengurangi
    pengangguran. Ekonom Gerard Dumenil dan Dominique Levy punya temuan
    penting dengan data statistik menawan. Dalam karya baru, Capital
    Resurgent (2004), mereka menemukan tetesan itu amat minim, di AS
    maupun di Perancis. Simpulnya, finance finances itself, but does not
    finance investment. Pokok ini sentral karena kritik atas
    neoliberalisme biasanya dianggap sikap anti-investasi,
    antipertumbuhan, antiekonomi pasar, dan semacamnya.

    Dalam fakta, visi neoliberal yang berdiri di atas asumsi tentang
    manusia yang sudah amat diciutkan itu tentu penuh kontradiksi.
    Misalnya, bila dalam visi neoliberal tiap orang atau perusahaan
    bertanggung jawab atas diri sendiri, bagaimana harus dijelaskan
    bailout banyak bank dan perusahaan dengan uang setiap orang melalui
    dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)? Itulah mengapa tak
    sedikit ahli menyimpulkan, neoliberalisme merupakan cara para tuan
    besar modal merebut kembali kekuasaan, sesudah mereka terkekang dalam
    periode setelah PD II sampai dasawarsa 1970-an.

    Jadi, neoliberalisme baik atau buruk? Silakan menyimpulkan sendiri.
    Namun, untuk itu kita perlu berguru. Bulan Oktober 2005 terbit buku A
    Brief History of Neoliberalism karya David Harvey, mahaguru geografi
    dan ekonomi politik.
    Buku serius tetapi ringan itu amat perlu dibaca presiden, wakil
    presiden, para pengambil kebijakan publik, pelaku bisnis, dan khalayak
    pembaca di Indonesia.
    Seusai membaca buku itu, saya merasa Indonesia mirip negeri yatim piatu.

    B Herry-Priyono Peneliti, Sementara Tinggal di California

    ReplyDelete
  4. Tengkyu bos! saya kemaren baca & lagi nyari versi online-nya, eh dapet...nuhun pisan.

    ReplyDelete
  5. Memang banyak yang pergi
    Tidak sedikit yang lari
    Sebagian memilih diam bersembuyi
    Tapi… Perubahan adalah kepastian
    dan untuk itulah kami bertahan
    Sebab kami tak lagi punya pilihan
    Selain terus melawan sampai keadilan ditegakan!

    Kawan… kami masih ada
    Masih bergerak
    Terus melawan!
    www.pena-98.com
    www.adiannapitupulu.blogspot.com

    ReplyDelete