Thursday, November 03, 2005

Khutbah

Ada yang menarik pas sholat Id di tempat saya di Cirebon tadi. Tentang khutbahnya, yang isinya agak kurang umum. Biasanya, khutbah idul fitri berisi tentang renungan setelah berpuasa satu bulan, tentang tetap banyak beramal setelah puasa, tentang kemenangan orang yang berpuasa.

Khutbah tadi? Back to syariat dan khilafah!

Beliau (khatib tadi) awalnya bercerita tentang kemenangan orang yang bershiyam yang dirasakannya di hari fitri. Tentang takbir khas idul fitri yang selalu berkumandang di tiap kemenangan Islam: mulai dari badar hingga hari ini. Lalu dilanjutkan, sebanarnya umat Islam tak pernah menang.

Dimulailah: tentang kenaikan harga BBM dan kenaikan gaji DPR, karena ketidak amanahan dan “kesalahan sistem”. Tentang liberalisasi migas, dan sudah masuknya 5 perusahaan asing yang akan ikut dalam industri migas.Jelas, ini karena sistem yang digunakan: kapitalisme (itu kata khatibnya). Berlanjut ke bom bali, yang segera saja JI disalahkan, padahal merupakan ulah intelejen asing, ulah negara-negara tertentu yang berkepentingan. Tidak ketinggalan kutukan kepada Amerika Serikat, Inggris, dan sekutu-sekutunya (dan kutukan ini juga secara spesial masuk dalam doa di akhir khutbah).

Saya ngebatin, cengar-cengir sendiri, sambil heran. Saya perhatikan jama’ah lain. Ada yang serius, ada yang kepanasan (khutbahnya lama), banyak yang terlihat tak sabar, atau kata adik saya: “nggak ngerti…”.Kata bapak saya: “khutbahnya berat dan salah tempat, kalo di Iraq sih mungkin cocok. Kayaknya dari ** (sambil menyebut kelompok Islam tertentu)”.

Khatib meneruskan: ini karena kita tak menerapkan syariat Islam! Kita sholat, berpuasa, nikah, sesuai Islam, tapi tak Islam tak tegak dalam bidang sosial, budaya, hukum, pemerintahan. Syariat dan khilafah adalah hal yang ditakutkan oleh ‘musuh-musuh Islam’ (entah yang mana yang disebut musuh ini…), karena kebangkitannya adalah keniscayaan. Kembali kepada fitrah, adalah kembali pada syariat secara total! (di akhir khutbah, saya baru sadar kalo khatibnya lupa syariat khutbah: duduk di antara dua khutbah…).

Waduh…jadinya lebih mirip propaganda daripada khutbah. Ya, memang khutbah itu propaganda sih…propaganda nilai-nilai Islam. Tapi agak susah juga kalo ada kepentingan dan agenda. Jadinya, mo khutbah di mana aja, dalam kesempatan apa aja, pesannya sama. Tidak peduli yang mendengarkannya adalah penduduk sebuah kampung yang polos, dari beragam latar belakang, dan mungkin untuk hidup biasa aja sulit…

Mendengar khatib tadi rasanya seperti mendengar cerita tentang Wonderland, kepada orang-orang yang bahasanya saja berbeda dari khatibnya…Mungkin memang benar, tapi sudahkah berbicara dengan bahasa kaumnya?

Pulang sholat, nyalain Tivi. Khutbah lagi, kali ini di Istiqlal, di hadapan presiden, pejabat tinggi dan menteri. Menarik, di hadapan para pejabat, khatib bicara tentang Indonesia yang sering dibilang bangsa yang terpuruk, bangsa yang korup. Ini bahaya, karena bisa menyebabkan inferioritas. Padahal, kita ini bangsa yang punya banyak potensi. Lalu tertuturlah lagu lama tentang negeri subur makmur yang kaya sumber daya alam…

Lagi-lagi saya cengar-cengir sendiri. Betapa berbeda! Di hadapan pejabat, khutbahnya menerbitkan harapan (sekaligus, mungkin, sedikit menyembunyikan kenyataan). Di kebanyakan rakyat, malah bicara hal-hal yang tak dipahami dan sangat berat.

Saya ingat, kita tak pernah lepas dari kekuasaan dan kepentingan, dan relasi-relasinya. Bahkan di arena yang ‘suci’ seperti di masjid, lapangan sholat, di atas mimbar. Seorang dari HT mungkin akan menyampaikan tentang back to khilafah, dari JIL atau Paramadina mungkin akan menyampaikan pentingnya pluralisme, di hadapan pejabat bicara tentang kebaikan negara, dari Tarbiyah bicara tentang da’wah di mana-mana, termasuk di parlemen.

Rasanya saya lebih nyaman seperti ceramah-ceramah yang saya dengar kemarin-kemarin di masjid PT. DI. Bukan, sama sekali bukan tentang kebaikan PT. DI. Tentang negeri akhirat, tentang kisah-kisah Qur’an, tentang pasca Ramadhan. Kalaulah ada kepentingan, saya yakin kepentingannya semata Ilahi.

Ini kenyataan, bukan sebuah keburukan atau kekurangan. Manusiawi koq. Gak masalah, fastabiqul khairat (berkompetisi dalam kebaikan) aja. Toh, waktu yang akan memberi tahu kita.

Wallahu a’lam. Mohon maaf jika ada prasangka yang terbersit.
Astagfirullah.

1 Syawal 1426 H.

1 comment:

  1. mirip ky kaya khutbah di t4 gw...sbenernye bukan t4 gw sih, jauh banget dari rumah cuma gara gara babeh mo nyari yang nyelenggarain di lapngan..lucunye saking lamanye kali ye tu kutbah, eh di cut...entah karena klamaan ape isinye yang begitu..aneh bener deh ..
    lagi ada gejala apa ye?

    ReplyDelete