Saturday, November 26, 2005

Ilmu dan Semangat

Jum’at, 18 September 2005. Nyesel juga saya gak jum’atan di Salman. Kata teman saya, khutbahnya lumayan provokatif (“sampai saya yang lagi tidur bangun!”). Saya denger sedikit isinya, dari cerita teman-teman. Tolong konfirmasi kalau ada yang salah.

Menurut khatib, berda’wah (menyeru menyebarkan agama Islam) tak bisa hanya bermodalkan “semangat” saja. Harus dengan ilmu. Dan tak bisa sembarang orang. Ketika banyak yang bersemangat, namun kurang ilmu, tang terjadi adaalah distorsi pemahaman (penafsiran?) Islam. Akar kekerasan beragama, bisa dilacak kesini: ketika yang bersemangat berdakwah banyak, namun tak disertai ilmu yang memadai.

Saya rasa yang dimaksud khatib ‘berilmu’ disini ialah yang mengetahui beragam ilmu (sekali lagi, beragam, berarti termasuk juga varian-varian dari suatu pemahaman). Kalau saya boleh menduga, mungkin ini refleksi khatib dari beragam kekerasan atas nama agama, termasuk terorisme yang marak akhir-akhir ini.

Yang menarik lagi, ia menyebut-nyebut kampus sebagai tempat orang bersemangat namun kurang ilmu (ini kesimpulan saya). Ia menyebut contoh maraknya Islam di kampus, termasuk juga halaqah-halaqah. Khatib dalam khutbahnya menyebut kata ini, yang membuat seorang teman saya jadi bangun dari tidurnya. (kalo gak salah, halaqah secara literal bermakna ‘lingkaran’. Merujuk pada metode satu orang fasilitator dengan beberapa orang yang melingkar mengelilingi dan bersama-sama belajar Islam).

Ada beberapa hal yang sempat terlintas. Berikut diantaranya.

Apakah benar akar kekerasan beragama karena “bersemangat, namun kurang ilmu (Islam)”? coba kita studi kasus: terorisme (menggunakan definisi yang biasa digunakan media di Indonesia). Azahari doktor statistik dari Inggris, Noordin M.Top muridnya di universitas yang sama di Malaysia. Para anak buahnya lulusan pesantren-pesantren. Setahu saya, hanya satu anak buahnya yang diketahui pernah tercatat di salah satu Universitas di Malang. Bersemangat? Jelas. Kurang ilmu (Islam)? Masih debatable. Yang dari pesantren saya rasa ‘ilmu’-nya bagus. Tapi kalau menggunakan definisi ‘berilmu’ = mengetahui beragam ilmu (termasuk juga varian-varian dari suatu pemahaman), bisa jadi benar kalo dikatakan para teroris itu kurang berilmu. Azahari baru ‘bersemangat’ setelah ia sakit dan sempat belajar Islam dari seseorang. Saya tidak percaya pesantren-pesantren di Indonesia mengajarkan pemahaman Islam seperti yang dipahami mereka-mereka, namun kalau pemahaman perorangan yang disebarkan, bisa saya percaya (jadi, bukan institusi pesantren, tapi santri yang mungkin pernah berkenalan dengan pemahaman seperti itu. Pemahaman Islam yang ‘keras’ bukan khas Islam indonesia, kalaulah saya boleh menggunakan istilah ini. Itu ‘imported thought’). Bin Laden, yang dituduh bosnya bos teroris, bukan orang yang concern dengan Islam dan belajar Islam sejak muda. Sebagai bagian dari keluarga konglomerat yang dekat dengan keluarga raja, gaya hidupnya mirip-mirip ama bangsawan Arab lain. Ia bahkan sempat jadi suporter fanatik Arsenal! (Kompas, 25 November. Arsenal punya penggemar-penggemar kontroversial: Osama bin Laden, pemimpin mafia John Gotti, PM China Zhou En-Lai, termasuk juga…Fidel Castro!).


Jadi, mungkin benar kalau para teroris itu lebih besar semangatnya, dengan pemahaman yang hanya satu jenis saja.

Kedua, kampus sebagai persemaian orang-orang bersemangat namun ‘kurang ilmu’. Sebenarnya agak paradoks, kalaulah benar civitas academica adalah manusia intelektual (tapi bahkan di kampus, intelektualitas itu jarang ditemui!). Lalu menjamurnya pengajaran Islam yang “seadanya” di kampus. Yang menularkan semangat, tapi alpa (belum) menularkan ilmu. Saya rasa, kalau masalah yang ini sih tergantung pemahaman bagaimana yang dibawa ke kampus. Jenis pemahaman yang rigid, kaku, dan gagal berdialog dengan orang kampus saya rasa kecil kemungkinan untuk berhasilnya. Itulah kenapa sedikit sekali anak buah Azahari dari kampus. Dari berita-berita juga, mereka sebenarnya tak memperoleh jenis pemahaman tersebut dari kampus, terbukti dengan tidak aktifnya si teroris tersebut di lembaga-lembaga dalam kampus. Namun, kalau balik lagi ke pernyataan “bersemangat, namun kurang ilmu”?. Hmm…gimana ya? Saya lebih sreg kalau bilang bersemangat, dengan satu corak pemahaman.

Ketiga, tentang semangat vs ilmu ini. Saya ingat waktu baca buku tentang Bang Imad yang menyelenggarakan LMD (Latihan Mujahid Da’wah, sampai sekarang masih ada di Salman) di Malaysia. Pesertanya ialah mahasiswa-mahasiswa universitas Islam yang canggih di Malaysia. Bang Imad sendiri adalah Doktor…bidang elektroteknik. Namun apa kesan salah seorang muridnya? “Saya belajar Islam puluhan tahun, tapi baru saya mengerti hari-hari ini (ketika mengikuti LMD)!”. Apa pesannya? Watak ilmuwan itu, kadang-kadang dingin, obyektif, skeptis, dan agak jauh dengan fanatisme dan semangat. Islam jenis ini…rasanya sulit tersebar, segimanapun media mempropagandakannya. Itulah kenapa Islam Liberal hanya jadi wacana intelektual aja, jauh dari pemahaman rakyat kebanyakan. Kalau ini terjadi, ya kalah dengan yang lain yang lebih ‘aplikatif’ dengan dukungan banyak media. Dengan hedonisme, misalnya. Islam juga perlu dipahami ilmunya dengan semangat. Karena semangat menular lewat hati, sedangkan ilmu lewat otak. Dan rata-rata otak kita itu malas kita pakai…;-p

Keempat, saya kira pada akhirnya pengalaman keberagamaan (seperti juga: pengalaman berideologi) adalah sangat personal, tak peduli pemahamannya satu corak atau tidak. Bahkan untuk satu orang yang sama. Sayyid Quthb pra Ikhwan, Quthb dengan Ikhwan, dan Quthb dengan Ikhwan lalu dipenjara, menghayati agama yang sama (Islam) secara berbeda. St. Augustinus saat masih bersama kekasihnya dan Augustinus saat mengarang confessiones menghayati kekristenan secara berbeda. Cara Umar bin Khatab dan Abdullah bin Umur bersikap dalam suatu masalah agama sangat berbeda, walaupun ayah dan anak. Pengalaman beragama dipengaruhi faktor luar yang ia hayati dan refleksikan, sikap-karakter diri (faktor internal), dan interaksinya. Apakah ia ingin memahami agamanya dengan bersemangat, dengan ilmu, dengan keduanya…sangat personal.

Lalu bagaimana menentukan yang benar? Anda bisa bilang: dengan Iman. Menurut saya, dengan memilih. Tapi sampai sekarang, ini masih pertanyaan yang sulit, yang belum bisa saya jawab dengan memuaskan. Mungkin, kalau yang ingin saya ambil jadi sikap sekarang, adalah apa dan bagaimana yang ia lakukan. “Mengapa”-nya saya serahkan pada Allah. Kita bisa melihat apa efek tindakannya, apakah baik atau buruk. Dari situlah kita menilai. Saya pikir itu lebih adil.

Waduh, pasti banyak yang salah dan keliru di tulisan ini. Ya…Wallahu a’lam bis showaab sajalah!
Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui
Mana yang Semangat-Ilmu-Semangat&Ilmu dan yang benar…

No comments:

Post a Comment