Sunday, November 13, 2005

Cantik

Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan selalu menjadi tiga hal yang membingungkan manusia. Kita suka kebenaran, kebaikan, keindahan, tapi apakah sejatinya yang benar, yang baik, yang indah?

Jawaban: kebenaran adalah yang logis, kebaikan adalah yang etis, keindahan adalah yang estetis? Namun, apakah logis, estetis, etis?

Pertanyaan-pertanyaan turunan dari tiga hal tadi juga membingungkan, tidak peduli telah begitu lamanya manusia berkutat dengan hal-hal tadi dan melimpahnya informasi. Dari kebenaran: apa itu keadilan? Apa agama benar? Apakah sains mutlak? Dari kebaikan: apakah tindakan saya memberi pengamen di jalan itu baik? Apakah bermasturbasi itu jahat, padahal tak ada seorang pun yang dirugikan? Mana yang lebih jahat, berzina suka-sama-suka atau korupsi? Dari keindahan: orang telanjang, seni atau pornoaksi? Bisakah ceceran darah dan kekerasan sekaligus juga indah dan menggetarkan?

Begitu juga tentang turunan dari keindahan yang ini: kecantikan. Apa itu cantik?

Kebanyakan media, termasuk sebagian dari kita, mendefinisikan kecantikan seperti ini: putih, tinggi, langsing, hidung mancung, rambut lurus atau sedikit ikal, tulang pipi wajah proporsional (ada juga beberapa anomali, tetapi ini debatable, tak berlaku umum. Contoh, apakah Iman, supermodel kulit hitam itu, cantik?). Lalu kita melakukan pengelompokan. Giselle Bundchen, Claudia Schiffer, Cindy Crawford, Nicole Kidman, Mariana Renata, Dian Sastro, Tamara Bleszynski, Marshanda itu cantik, sementara Tika Panggabean, Omas, Mpok Hindun itu “kurang cantik”. Di suatu kelompok atau komunitas, misalnya, si Fulanah, Fulanih, Fulanoh itu kita anggap paling cantik di antara sesamanya. Benarkah itu?

Apakah kata orang Papua atau hutan Amazon, yang tak pernah bertemu peradaban modern dan masih menjadi obyek kajian antropologi, mereka-mereka yang dianggap media cantik, akan tetap cantik? Cantik mana, bila dibandingkan dengan wanita ras negroid yang sehari-hari mereka temui, yang masih telanjang dada, berkulit hitam, berambut keriting?

Saya tidak tahu. Tapi saya bisa yakin, kalau saja mereka kelak punya akses pada televisi, mereka akan ikut bilang: Penelope Cruz adalah orang paling cantik sedunia!

Ya, cantik adalah komoditas, dan tak luput dari rengkuhan kapitalisme. Cantik juga ditentukan kekuasaan: kekuasaan media, kekuasaan alat-alat pembiak informasi umum, yang lalu merasuk kepada kesadaran publik, termasuk juga kepada saya dan Anda.

Sekarang, saya setuju saja kalau ada yang bilang Sharon Stone itu cantik.

Bagaimana dengan inner beauty? Kalau saya sedang sinis, atau berpikiran negatif, saya curiga itu cuma penghiburan untuk yang kurang cantik. Atau, untuk yang cantik, sekedar upaya menunjukkan bahwa ia lebih dari itu (lebih dari yang serba fisik), ia menghargai juga kecantikan hati, hingga kita berpersepsi: ia rendah hati. Namun tentu saja bukannya tak ada yang namanya “kecantikan hati” tadi, dan bukannya saya tak menghargai. Hanya saja, itu bukan pembahasan kali ini. Dalam filsafat pun, itu adalah permasalahan etika, sedangkan kita sedang mencoba membahas tentang estetika.

Balik lagi ke yang tadi…Kecantikan itu dikonstruksikan. Dirancang, disebarkan pada umum, hingga menjadi ingatan kolektif dalam masyarakat. Tentu saja mempropagandakan bahwa si ini cantik tak sevulgar seperti propaganda partai ini baik. (Propagandanya) Berjalan sangat halus, dari sebuah “penguasa” yang memiliki definisi tertentu tentang kecantikan. Karena mereka berkuasa, manusia-manusia yang menurut sang penguasa tadi cantik yang memiliki paling banyak akses ke publik. Maka, akhirnya terjadilah penerimaan publik. Benar, kita bersepakat bahwa Keira Knightley itu cantik.

Dalam dunia kita, sekarang dan sejak dulu, “penguasa”-nya adalah ras kaukasoid. Maka yang diterima umum sebagai yang cantik pun kecantikan khas kaukasoid: tinggi, langsing, putih, pirang, berhidung mancung, lurus/ikal sedikit. Karena tak semua ras punya akses untuk menjadi secantik orang kaukasoid (orang melayu, misalnya, susah sekali punya rambut blonde kecuali yang albino!), ada juga varian-varian dari yang cantik, tapi tetap ada jejak kaukasoidnya. Dian Sastro tidak pirang atau tinggi, tetapi putih bersih dan berhidung mancung. Beyonce Knowles, yang menurut banyak orang adalah wanita kulit hitam paling cantik, juga memiliki jejak kecantikan kaukasoid itu.

Ini juga dimanfaatkan oleh para pemilik modal. Maka, lakulah produk pemutih, peninggi badan, salon pelurus rambut, atau bedah plastik. Di kota-kota besar, makin bertebaranlah orang-orang cantik, atau orang yang tiba-tiba menjadi cantik.

Akhirnya, kecantikan itu diseragamkan, dan yang tak mau patuh atau yang tak mampu patuh harus menerima kenyataan dikelompokkan sebagai buruk rupa. Karena proses sosialisasi kecantikan itu pun menyentuh seluruh jenis kelamin, termasuk pria, dan kebanyakan pria mementingkan yang serba fisik, maka in a very looooonnnggggg run, yang tidak cantik akan punah. Ia tidak mendapat jodoh, tak bisa menikah dan bereproduksi, dan tak bisa melahirkan anak-anak yang mirip seperti dirinya. Dengan kemajuan rekayasa genetis sekarang, yang kurang cantik namun mampu bertahan mungkin juga akan merekayasa gennya agar bisa cantik, minimal buat anaknya. Tidak adil buat para wanita? Ah, sama aja buat cowok juga. Dengan makin mandirinya wanita memilih, konsep kecantikan juga bisa dengan mudah digantikan dengan “kegantengan”. Pria-pria kurang ganteng juga akan punah.

Kejam? Kalau anda seorang darwinian, inilah hidup kawan! Inilah seleksi alam. Maka jadilah cantik. Atau tetap ingin punah?

Repot, hidup dalam kuasa penguasa yang serakah dan cengkraman kapitalisme. Di era globalisasi lagi.

Ide hanya bisa dilawan dengan ide. Apa ide kecantikan menurut kita? Kalau masih manut aja sama dengan yang “cantik” menurut umum, ya ndak apa-apa juga. Itu pilihan Anda. Tapi kalau punya ide lain, apalagi jadi mampu dominan, itu bagus. Karena sudah lama mereka-mereka para “penguasa” itu sendirian.

Jadi, apakah yang tadi dijelaskan itu cantik? Apakah itu kecantikan? Terserah anda!

Kalau saya ditanya, yang cantik itu yang gimana? Saya akan jawab,“Saya tidak tahu”. Nanti, kalau udah ketemu dan saya menyerah, saya akan jawab: oh, yang ini yang benar, ini yang baik, ini yang indah. Dan yang seperti inilah yang cantik!

Tapi saya sepakat kalau bintang-bintang Lux, artis-artis sinetron atau Hollywood itu cantik. Dengan catatan: khas kaukasoid….

[contoh hasil mikir yang kurang kerjaan saat liburan…penting gak sih tulisan ini???]

9 comments:

  1. ga ikut komentar bos...

    data base yang cantik di memori ane ga selengkap punya ente...

    ane kaga tau sapa itu Beyonce "yang kurang pengetahuan" Knowles ; keira "yang memiliki sifat seperti ksatria " Knightley ; sapa lagi luck???

    kalo ente taunye fulanah,fulanih, fulanoh, data base ane ada nye fulaneh ama sepupunye fulanuh...

    sory ga penting.. :p

    ReplyDelete
  2. yah, ente kan presiden miti, gak layak kalo tau yg begituan....hehehe...
    kalo ane yg 'sekuler' gini, kudu tau...;-p
    Kita nonton 'domino' deh, ada keira knightley...ceritanya juga bagus.
    Busyet sampah gini...

    ReplyDelete
  3. comment-nya gak penting..he3x..

    ReplyDelete
  4. cerdas-nyeleneh-cerdas

    ReplyDelete
  5. sebenarnya byk yg berubah dari lu luk,tapi gak sedikit jg yg masih kayak dulu..

    ReplyDelete
  6. jadi mencintai yang cantik atau mempercantik yang dicintai....
    ataukah harus cantik untuk mencintai...
    Emang cantik apaan sih??? Konsensus, ada indikator empirik yang disepakati atau masalah filing......kalo cuma filing, kenapa ada kata cantik.

    ReplyDelete
  7. ah..LUck, coba sekali2 liat reality show bikinan AMerika "The Swan" di TV 7 tiap jum'at malam jam 10.., bakalan sedikit miris melaihat perempuan2 itu rela ngejalanin bedah plastik sana-sini demi kecantikan. tapi, dari situ(acara The Swan itu), saya juga tahu, sebenarnya kenapa seorang perempuan ingin selalu menjadi cantik (entah dalam pengertian apapun, apakah dengan memancungkan hidung, merombak bagian tubuh sana-sini) karena mereka ingin lebih percaya diri, karena mereka ingin membahagiakan diri mereka sendiri. kadang perempuan ingin terlihat cantik buka untuk dikonsumsi oleh orang lain,dalam hal ini pria mungkin, tapi karena mereka sendiri senang melihat diri mereka cantik. mereka memiliki suatu kepuasan tersendiri bila wajah mereka cantik, bentuk tubuh mereka indah, dan sebagainya.
    yang penting..definisakn cantik menurut pandangan kamu sendiri, karena kamu akan lebih puas jika suatu saatmenemukan orang seperti itu (walau nggak akan sempurna banget)

    ReplyDelete
  8. definisi cantik menurut pandangan lucky...??
    cantik yang ga mutlak...iya ga ky?
    cantik yang jika didiskusikan bisa jadi ga cantik...hehehe

    ReplyDelete
  9. to mona: iya, nyampah...
    to arif: hehehe...
    to dedy: iya ya? gw baru sadar...
    to catuy: bukan, I prefer, yang saya cintai, cantik.jadi, cinta dulu, kecantikan mengikuti. segimanapun dia, kalo saya cinta sih cantik-cantik aja...tapi lahir lagi pertanyaan berikutnya: apa itu cinta???
    to muthe: iya bener...tapi saya pikir kecantikan itu mentally, a state of mind. sebenarnya bukan dia nggak cantik, pikirannya aja yg tak bahagia...iya ga sih??(ga ngerti..)
    to adit: yang saya cintai, cantik.bukan:mencintai yang cantik...(meskipun tiap liat dian sastro saya selalu kagum...hehehe) jadi inget ada yg pernah bilang, 'jangan mencintai yg cantik, karena saat tua kamu akan nyesel menikahi nenek tua bodoh'...

    ReplyDelete