Monday, October 31, 2005

22 Tahun Keberuntungan

Sabtu, 29 Oktober 1983 yang lalu, sekitar tengah malam, saya diberi kesempatan oleh-Nya untuk pertama kali menghirup udara bumi. Setiap anak yang dilahirkan, kata Rabindranath Tagore, adalah bukti bahwa Tuhan belum putus asa menghadapi manusia. Termasuk manusia seperti saya ini, yang mungkin saja sering sekali bermaksiat kepada-Nya di kehidupan hari nantinya.

29 Oktober 2005 ini juga, tepat 22 tahun saya hidup, jatuh di hari Sabtu. Dan lebih mulianya lagi, bertepatan dengan malam ganjil Ramadhan, malam ke 25. Alhamdulillah-nya lagi, saya merayakannya dengan cara yang terbaik (menurut saya), bersama teman-teman. Itu suatu keberuntungan.

Banyak sekali yang sebenarnya bisa saya sesali dan saya salahkan sepanjang 22 tahun ini. Tentang 22 tahun tapi masih belum lulus. Tentang 22 tahun tapi belum jelas mau kemana. 22 tahun tanpa memberi sumbangan apa-apa. 22 tahun sehingga menjadi lebih tua dibandingkan teman-teman seangkatan…(hehehe, ini sering jadi bahan ejeken temen-temen gw nih…). 22 tahun dan masih single…:-p. 22 tahun, yang mungkin penuh kemalangan, putus asa, dan kesedihan.

Namun saya hanya ingin bersyukur. Kata keluarga saya, wajah saya mirip sekali dengan almarhum kakak saya yang meninggal secara tragis. Meskipun saya belum pernah mengkonfirmasi, sepertinya orang tua saya memutuskan telah cukup dengan 2 anak: kakak saya almarhum dan kakak saya yang perempuan. Lalu takdir itu datang: kakak saya meninggal, bapak saya sangat sedih (menurut nenek, waktu almarhum meninggal, baapak saya itu depresi berat…kerjanya pergi ke masjid, merenung, dan hampir tak melakukan apa-apa), untuk selanjutnya ia sadari: bahwa ia masih punya anak perempuan, bahwa masih panjang kehidupan yang bisa ia tempuh, dan tak tertutup kemungkinan untuk memiliki anak (laki-laki) lagi.

Maka lahirlah saya: Lucky Luqman Nurrahmat. ‘Lucky’, mungkin karena dianggap menjadi simbol keberuntungan. ‘Luqman’, nama manusia mulia dan ayah yang teladan dalam Al-Qur’an (mungkin juga dipilih agar namanya menjaadi berima dan puitis…), dan ‘Nurrahmat’, karena ‘Nur’ adalah nama keluarga (seluruh anggota keluarga saya ada nama ‘Nur’-nya, yang diikuti beragam sifat kebaikan: hayati, hidayati, syams, dien, dan Nurrahmat).

Beruntung juga saya dilahirkan di desa…momen yang paling saya ingat, lagi-lagi duduk di jendela, di tepi balong (kolam ikan), sambl melihat bajing (tupai) di pohon kelapa. Bermain tanah (sebenarnya, bermain di galian tanah yang akan dijadikan tempat sampah…) bersama teman-teman, berkunjung ke rumah teman masa kecil yang juga sangat sederhana (rumah panggung yang bagian bawahnya ada kandang ayam, berlantai kayu dan tanah, namun sangat rapi tertata). Saya juga sering bermain ke kampung bibik (pengasuh saya waktu kecil), yang jauh lebih ke desa, yang malam-malamnya tak pernah ada listrik dan keramaian.

Beruntung lagi, saya pindah ke Cirebon yang lebih ‘ngota’. Saya tak ingat apakah saya mengalami cultural shock atau tidak. Saya ingat masuk TK pertama kali: saya menangis keras, gak mau sekolah, daan gak dianter ama orang tua (karena saat itu, kalo gak salah, orang tua saya sedang Haji). Pengalaman sekolah pertama itu juga sangat traumatis, saya ingat saya tak pernah bahagia sekolah TK. Saya ingat saya masuk barisan yang terbelakang di kelas, dan didiskriminasi (kalo inget ini, saya bener-bener kesel. Dulu, di TK pertama saya itu, ada pembagian kelompok yang sangat kurang ajar. Murid-muridnya dibagi jadi kelompok ‘pesawat terbang’, ‘kereta api’, ‘mobil’ dan ‘becak’, sesuai dengan “tingkat kecepatan pengerjaan yang diinterpretasikan sebagai tingkat kecerdasan” penilaian subyektif ibu guru. Saya beruntung masuk kelompok ‘mobil’, yang berarti barisan kedua terbodoh dari kelas! Jangan pernah mendiskriminasikan anak sedikit pun! Itu akan tertinggal di pikiran selamanya…[untung gw nggak…]). Horor deh. Untungnya, orang tua saya cukup waras untuk memutuskan anaknya belum siap mentally untuk meneruskan ke SD. Saya ngulang TK lagi, dan dengan dukungan orang tua, saya jadi lulusan salah satu lulusan terbaik TK…hehehe…

Efeknya sampai sekarang, saya jadi telat setaun deh…hiks3x.

Beruntungnya lagi, sejak kecil bapak saya pelit membelikan mainan tapi gak pernah pelit memberi buku bacaan. Apapun. Beruntung pula bapak saya hobi baca, jadi saya bisa banyak baca buku-bukunya sejak kecil (soalnya buku-buku anak kecil sih cemen, dan gak bisa dinikmati…kecuali komik!). Dulu bapak saya berlangganan intisari, majalah dengan banyak tema yang menarik, yang rasanya membuat minat baca saya juga jadi macem-macem. Juga langganan kompas, yang waktu dulu rasanya gak bisa dibaca sambil duduk dengan rentang tangan saya yang kecil, sehingga harus dibaca dengan meletakkan koran di lantai, terus menunduk…

Waktu mau ke SMA juga, saya gak punya bayangan sama sekali tentng kehidupan. Disuruh Mamah aja ke Bandung, meskipun saya gak pernah tau apa alasannya. Dan ternyata itu sangat berguna…di Bandung ini masa-masanya lebih serius, dengan membaca dan belajar banyak hal. Belajar Islam, belajar kehidupan, termasuk juga belajar menjadi tidak baik, dengan teman-teman dulu…(hehehe, yang ini gak bakal diceritain. Aib!). Sampai sekarang masih terasa…astagfirullah! Yah, apapun, itu juga suatu keberuntungan tersendiri.

Ini baru beberapa milestones hidup. Masih banyak lagi yang mungkin sepele, tapi sebenarnya tak pernah sepele. Belum lagi kalau anugrah sehari-hai diperhitungkan.
Rasanya aneh kalau kita lupa bersyukur dan tak merasa beruntung…

“Fa bi ayyi aa laa i rabbikumaa tukaddzibaan…?”
“Maka nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan?”

Astagfirullah.
Alhamdulillah.
Selamat Ulang Tahun.

No comments:

Post a Comment