Sunday, September 11, 2005

Tentang puisi

Saya ini sama sekali bukan orang yang nyeni, jadi mengalami kesulitan dgn hal-hal yang butuh perasaan artistik. Termasuk juga puisi.

Tapi, entah kenapa, sejak kuliah lumayan suka dan dikit-dikit bisa mengapresiasi. Ternyata emang indah ya...
Kalo bikin puisi sih...he3x...kagak bisa juga. Cuma bisa bikin puisi pas lagi kondisi emosi yang ekstrem, lagi marah banget, bingung banget, cinta banget,atau berasa gak jelas n kosong banget...jadi ada sekitar belasan sih, ada sejak SMA (jadi inget kata Umberto Eco: "minimal, seseorang pernah menjadi penyair sekali sepanjang hidupnya: saat ia remaja dan jatuh cinta". Lumayan bener...).

Tadinya gw kepikiran mo bikin blog lagi utk puisi-puisi kampring gw. Malah udah kepikiran buat judulnya: soliLUCKYui...he3x, narsis bgt ya? yah, sesuai tujuannya...;-p. Itu tuh plesetan dari 'solilokui', percakapan dengan diri sendiri. Puisi ini emang cuma gw yang ngarti, dan kadang-kadang gw jugak gak ngerti apa yang gw tulis, cuma curahan emosi ektrem yang terejawantah dalam kata-kata doang...

Tapi mengingat rasanya aib juga kalo mem-publish puisi-puisi biadab dan berisi aib..jadi gak jadi deh...

Balik lagi ke apresiasi puisi. Mulai kuliah sih dah lumayan bisa mengapresiasi, dalam artian mengerti keindahannya. Gw paling suka puisinya Iqbal (pelajaran hidup dan pelajaran jadi muslim-dunia banget dah! bener-bener jenius), Pak Sapardi Djoko Damono (kata-katanya sederhana, tapi nyengat banget, indah...), Rendra, Chairil (everybody's favourite...), Wiji Thukul (sangat memukul!!!), Pak Taufiq Ismail (getir, haru, sekaligus mengajak merenung...), Goenawan Mohammad (rumit...tapi kalo ngerti rasanya bangga bener!). Gw selalu pengen bisa nulis kayak mereka...

Di bawah ini ada puisi dari Iqbal, coba baca deh. Bagus banget, dan jadi motto hidup gw: "Hiduplah dalam bahaya!"

Nasehat Elang Pada Anaknya

Kautahu bahwa semua elang hanya pantas bagi sesama elang:
Dengan segenggam sayap, masing-masing memiliki hati singa.
Harus berani dan hormat diri, sergaplah mangsa yang besar saja.
Jangan bersibuk dengan ayam hutan, burung meliwis dan pipit
Kecuali jika kauingin melatih kepandaianmu memburu.
Adalah hina, pengecut, tanpa berusaha mengeram
Membersihkan paruh kotor dengan mengambil makanan dari tanah.
Elang tolol yang meniru cara hidup burung pipit yang pemalu
Akan menjumpai nasib malang sebab ialah yang menjadi mangsa buruannya
Kutahu banyak elang yang jatuh dalam debu di mata mangsanya
Oleh karena mereka memilih jalan hidup burung pemakan gandum.
Peliharalah martabatmu hingga hidupmu bahagia
Selalulah geram, keras, berani dan kuat dalam perjuangan hidup.
Biarlah ayam hutan yang malang punya tubuh indah dan langsing
Bangunlah dirimu kokoh seteguh tanduk rusa jantan.
Apa pun kesenangan yang berasal dari kehidupan fana di sini
Datang dari hidup yang penuh keberanian, kegiatan dan kecermatan.
Nasehat berharga yang telah diberikan elang pada anaknya:
Jadikan tetesan darah kemilaumu berkilat-kilat bagaikan manikam.
Jangan kehilangan diri dalam penggembalaan seperti domba dan kerbau
Jadilah dirimu seperti nenek-moyangmu semenjak dulu.
Kuingat dengan baik betapa orangtuaku senantiasa menasehatiku begitu.
“Jangan bangun sarangmu di dahan pohon, “ ujar mereka.
“Kita para elang tak mencari perlindungan di taman dan ladang manusia.
Surga kita di puncak-puncak gunung, gurun luas dan tebing jurang.
Bagi kita haram menjemput bulir-bulir jelai dari tanah
Sebab Tuhan telah memberi kita ruang lebih tinggi yang tak terbatas.
Penduduk kelahiran angkasa yang berdiam di bumi
Di mataku lebih buruk dari burung kelahiran bumi.
Bagi elang ladang buruannya adalah karang dan batu jurang
Karang baginya adalah batu gosok untuk mempertajam cakar-cakarnya.
Kau adalah salah seorang anak kebuasan yang bermata dingin
Keturunan paling murni dari burung garuda.
Jika seekor elang muda ditantang oleh seekor harimau
Tanpa mengenal takut ia akan membelalakkan matanya.
Terbangmu pasti dan megah seperti terbang malaikat
Dalam nadimu mengalir darah raja purba puncak-puncak gunung
Di bawah kolong langit yang luas ini, kau tinggal
Martabatmu terangkat oleh kekuatan, sasaran apa pun tak ditampik oleh matamu
Kau tak boleh meminta makanan dari tangan orang lain kapan pun saja.
Baik-baiklah kau membawa diri dan dengarkan selalu nasehat yang baik dan luhur


Muhammad Iqbal

Dari payam-i-mashriq (Pesan dari Timur)

Gile...Biarlah ayam hutan yang malang punya tubuh indah dan langsing/Bangunlah dirimu kokoh seteguh tanduk rusa jantan.
Selalu menyemangati, terutama di saat-saat susah dan menyusahkan (he3x, jadi inget pas OSKM...).Masih ada juga puisi-puisi Iqbal yang menyemangatkan ttg hidup dalam bahaya ini: Menyelamlah ke dalam laut hidupmu yang bertopan/dan kejarlah gelombang.mengapa melihat dari pantai?/menceburlah, matilah dan jadilah lebih hidup.

Beberapa juga sangat personal: Dari kolam ada dan tiada bebaskan dirimu/di dunia yang penuh kemungkinan ini/bangunlah ka'bah suci dalam dirimu/sebagai rumah Ibrahim yang abadi.

[Tapi kadang-kadang sering lupa juga sih...kayak sekarang-sekarang ini. HIduplah dalam bahaya!!!]



2 comments:

  1. knapa harus ngerasa itu aib, luck?? saya gak pernah memandang sebuah puisi atau karya orang sebagai aib. itu kan cuma cara mengekspresikan dan mengungkapkan perasaan serta cara berpikir mereka saja... . kenapa harus ngerasa aib??

    ReplyDelete
  2. yg aib itu isi puisinya, tersirat atupun tersurat...gak enak kalo dikasih tau...aib pribadi.;-p

    ReplyDelete