Wednesday, September 07, 2005

Paradigm shift: lebih positif!!!

Juga diinspirasi dari Pelatihan Putra Jawa Barat…
Yang selalu menjadi pertanyaan besar, sangat penting, dan sekaligus mengusik tiap kali hendak melakukan kegiatan yang termasuk pada wilayah pendidikan atau kaderisasi adalah: “Emang kita bisa ngapain? Dengan keterbatasan ini-itu, apa yang bisa mereka (yang mengalami kegiatan tersebut) dapat?”

Pertanyaan yang sama juga hinggap di saya: seminggu pelatihan, apa yang bisa diharapkan? Apa emang dengan seminggu bisa jadi pemimpin-pemimpin, seperti yang diinginkan dari judulnya: “Pelatihan Kepemimpinan”? Ah, paling juga jadi liburan, ajang ngumpul-ngumpul.

Tapi ternyata nggak senegatif itu. Setelah bete dan ngerasa gak nyaman gara-gara gak sepakat ama pembicara, gak mau dicekokin, dan gak bisa bahasa sunda halus, di hari kedua, pas lagi bosen-bosennya, saya nanyain temen, bawa buku bacaan apaan? Pinjem dong…Pas ke pelatihan itu begonya saya gak bawa bacaan sama sekali, gara-gara tas-nya penuh ama baju (padahal gak dipake juga…). Yang ada ternyata bukunya Dale Carnegie, jenis-jenis buku how to. Kalo gak salah judulnya: How to win people and…Sejenis itu deh, judul yang lumayan norak, tapi katanya ni buku jadi long time best seller, udah ada dari tahun 40-an (atau 30-an?) pas jamannya Rockefeller muda (sekarang Rockefeller udah jadi nama gedung…).

Jenis-jenis buku beginian ini (buku-buku How To) yang sebenarnya kemaren-kemaren ini agak-agak gw alergi. Dulu banget sih masih suka (gw inget buku yang pertama gw baca dan lumayan shocking itu buku Napoleon Hill, Think and Grow Rich, yang pertama gw baca pas kelas 2 SMP), tapi sekarang-sekarang ini alergi, soalnya kebanyakan isinya sterotipe, setipe: pertama mulai dengan memuji diri: anda adalah orang yang berpotensi, otak anda memiliki milyaran sel, anda baru menggunakan 4 % kemampuan otak anda, anda bisa melakukan perubahan, anda hebat, super, bisa!! Tujuannya biar kita tersugesti, dan percaya (sambil sedikit melupakan bahwa sebenarnya kita nggak segitu-gitu amat…). Terus abis gitu, selanjutnya: mulai dari pikiran anda…Ubah pandangan anda, anda adalah apa yang anda pikirkan, jika anda menganggap seperti ini, maka itu yang terjadi…de-el-el, de-el-el yang sejenis dengan itu. Selanjutnya, baru ke tips-tips yang bisa beda-beda, tergantung bidangnya, tergantung buku how to mana yang dibaca. Tipsnya macem-macem, ada yang pake angka (10 cara lebih cantik, 20 cara meningkatkan…), ada yang pake paragraf naratif dan deskriptif. O iya, jangan lupa selipkan cerita-cerita inspiratif. Selipkan cerita orang-orang “lemah” dan “tak terduga” yang bisa melakukan hal-hal luar biasa dengan mempraktekkan tips-tips yang dianjurkan dalam buku tersebut.

Kata temen gw, yang dilakukan buku-buku begituan dan juga training-training ialah meyakinkan diri kita (lebih tepatnya: persepsi tentang diri) bahwa kita juga bisa dan mampu. Jadi, persepsi kita tentang diri ‘diangkat’, hingga bisa mendekati diri yang ideal. Nah, yang diangkat itu kan persepsi tentang diri doang, sementara kemampuannya sih kagak terangkat atau makin baik juga...hal yang nyata yang ada pada diri kita sendiri tidak diapa-apakan dan tidak bertambah. Artinya, ada proses manipulasi disini...makanya jangan heran kalo kita semangat, merasa mampu, setelah ikut training kepribadian atau baca buku how to. Tapi setelah beberapa waktu, kita kembali menjadi biasa.
Makanya gw rada anti and defensif dgn jenis buku kayak gitu, begitu juga dgn training-training. Tambahan lagi, sebagai gantinya gw baca buku-buku kagak konkret dan abstrak bgt, yang gawatnya sangat berpengaruh, karena menusuk langsung ke hakikat, yang sayangnya, destruktif. Maka jadilah Lucky yang skeptis, sinis, pesimis, dan sangat negatif...

Balik lagi ke pelatihan...Karena cuma ada buku itu, setengah terpaksa gw baca-baca. Iya sih, penuh bahasa yang sugestif. Tapi isinya kok ngulang-ngulang ya? Gw jadi bisa nyimpulin keseluruhan isi buku itu, yang memuat tips-tips untuk win people dan membuat good relationship, cuma 2 hal: positive thinking& attitude dan mengutamakan yang lain terlebih dahulu. Positive thinking & attitude terejawantah dalam saran-saran seperti: jangan mengeluh, senyumlah, jangan mengkritik, menyindir atau menghina, dll. Mengutamakan yang lain: dengarkan dulu sebelum bicara, jangan memaksakan kehendak sendiri dulu, perlakukan dahulu orang lain sebagaimana anda ingin diperlakukan, dll.

Mulai ada yang berubah...lebih positif dong, Luk...Hentikan menilai, hentikan men-judge, senyum, dan nikmati. Berhenti mengkritik, dan lihat sisi baik mana yang ada dan bisa jadi hikmah.

Di Pelatihan itu juga ada seorang pembicara yang sebenarnya menyampaikan materi yang biasa-biasa aja (cuma ngebacain slide-slide presentasi), tapi entah kenapa, somehow, sangat-sangat inspiratif. Kok bisa? Padahal isinya biasa aja...Tapi setelah diamati singkat, orangnya emang sangat positif. Ia semangat, senyum, menyapa, ramah, dengan gesture yang meyakinkan dan percaya diri. Dan semuanya alamiah, agak beda dengan trainer-trainer yang kadang-kadang (beberapa sih) masih terlihat artifisial. Iya ya, ternya sikap positif itu menginspirasi, kalo alami dan telah jadi bagian dari diri.

Ada semacam paradigm shift. Gw pengen jadi orang yang lebih positif deh, minimal di pelatihan ini dulu!

Nah, sebenarnya, yang bisa dilakukan dalam training singkat kayak pelatihan tadi, atau jenis-jenis lainnya yang juga singkat dan peneuh keterbatasan gak perlu muluk-muluk...Membentuk kader yang beriman, bertaqwa dan mampu menyumbangkan sesuatu pada dunia! Busyet dah, seumur hidup atau sepanjang peradaban juga gak bakal berhasil. Yang bisa dilakukan, minimal adalah semacam paradigm shift.

Gw lumayan tahu teorinya (tapi baru ngerasain prakteknya kemaren). Kalo ngomong paradigm shift pasti deh nyangkut-nyangkut ama Thomas Kuhn, yang nulis the structure of scientific revolution. Kata Mas Thomas (misi mas, nama saya nimas, tapi kalo pagi jadi : Thomas…he3x, jadi inget lagu project pop…), seluruh revolusi ilmiah itu selalu dimulai dari paradigm shift. Ada pergeseran pemikiran dari yang sebelumnya diyakini. Einstein pernah ngomong yang kira-kira isinya gini: sebuah masalah baru tak mungkin diselesaikan dengan cara berpikir yang lama. Kudu ada lompatan pikiran, ada paradigm shift.

Inilah yang minimal bisa dilakukan. Tujuan panitia pelatihan puta sunda juga mungkin ini: ada pergeseran paradigma kesundaan...Saya cukup bahagia misalnya kalo ada peserta OSKM yang bilang: ih, beda ya, acara rektorat ama OSKM. Di Rektorat mah ”akademis” banget, disini ”bangsa” banget. Saya harap, ini menimbulkan paradigm shift, tentang wawasan dan ”rasa” kebangsaan. Ia bisa mengenali perbedaannya, akademis + rasa Indonesia.

Setelah bertekad lebih positif itu emang ada yaang beda. Tadinya kalo ada yel-yel: ”Urang Sunda??? Hudang, euy!!!”, gw paling males, dan selalu ngebatin: busyet chauvinis bgt...Setelah mentekadkan dan memaksa diri lebih positif (ternyata susah ya...otak ini tak pernah berhenti menilai dan mengkritik!!!), mulai rada enjoy. Bisa semangat, biarpun kadang-kadang masih ngerasa bego juga. Yah, minimal ngerasa lebih seneng deh!

Pas outbond juga gw ketemu Abah Iwan, aktivis mahasiswa 70-an dan pencipta lagu mentari. Beliau juga orang yang sangat positif! Orang yang benar-benar belajar dari alam dan sangat praktis, tapi membawa manfaat. Dan pastinya, sangat inspiratif.

Maka tekad gw abis pelatihan ini: tinggalkan sinisme (yaa, kalo skeptis sih tetep perlu, asal healthy skepticism), dan hiduplah lebih positif. Coba semangat atau sok-sok-an semangat, hentikan menilai, dan enjoy...

Sayangnya, lingkungan kita bukanlah lingkungan yang penuh aura positif (apalagi di kelas TI gw...). Kalo kata Pak Raka kemaren sih, kita itu hidup di cynical environment. Kalo ada yang maju ngerjain soal, reaksi kita: cieeee....gaya euy. Kalo ada yang nanya: busyet, yang gitu-gitu aja ditanyain! Jadinya rada sulit...Mana sok ilmuwan and engineer lagi, jadi bawaannya ga mudah percaya mulu. Dan ketika ada yang lucu juga nggak ketawa, tapi mentertawakan...

Walah,walah...repotnya diriku, bahkan saat mo jadi positif juga...
[tapi tetep optimis!!! Ayo, positive thinking!!!]

1 comment:

  1. luck, kritik itu tetep perlu kok, cuma mungkin cara penyampaiannya aja yang perlu diperhatikan. menjadi positif itu harus...harus banget malah. ayo...jadi positif. emang susah awalnya, lama2 pasti bisa!!

    ReplyDelete