Wednesday, September 28, 2005

ITB corp(se?). bagian 1 dari x tulisan

Gara-gara ketertarikan dengan dunia yang lebih konkret kayak ekonomi, bisnis, dan manajemen, ternyata bisa memberikan sudut pandang baru melihat masalah: sudut pandang pasar. Karena, percayalah, “paradigma pasar” ini biasanya dominan berpengaruh pada motif perorangan atau institusi.

Berubahnya ITB juga menjadi bisa lebih terang dimengerti. Berikut juga kesalahannya.

Sejak pemerintah bangkrut dan tak mampu menyokong banyak lagi untuk pendidikan (yang sebenarnya sudah sedikit sekali disokong pemerintah), konsep BHMN ini diperkenalkan. CMIIW, namun saat konsep ini dicanangkan, dasar hukumnya secara pemerintahan belum terlalu jelas. BHMN ini lembaga jejaden yang tak dikenal. Bukan BUMN, bukan pula institusi pemerintah (kepunyaan pemerintah dan dikontrol penuh pemerintah – punten saya gak tau istilah yang paling cocok). Kalo BUMN adalah memang perusahaan pemerintah, dan seperti umumnya perusahaan, tujuannya ya profit. Karena milik pemerintah, BUMN juga melayani publik atawa rakyat (seharusnya lho ya…). Karenanya, dalam kerangka pelayanan publik, tak hanya mengejar profit, dan profit bukan satu-satunya ukuran atau fokus (Kata guru ekonomi saya dulu, makanya untungnya kecil atau rugi pun gak pa-pa, asal social benefit-nya gede. Sayangnya, ini gak terjadi. PLN yang rugi, tapi bukan karena total melayani rakyat, malah sewenang-wenang. Entah gimana cara terbaik mengelola negara ini…). Pada konsep ekonomi campuran, seperti juga subsidi dan dana untuk pengaman sosial, hal ini memang jamak terjadi. Termasuk juga di negara-negara maju (dulu?). Inilah warisan Keynes yang ditinggalkan untuk peradaban: negara yang lebih bertanggungjawab secara aktif demi kemakmuran rakyatnya.

Waduh, udah banyak menyimpang. Balik lagi ke BHMN yang gak jelas. Sekarang, dengan undang-undang, lahirlah BHMN. Idenya mungkin mirip BUMN, cuma yang di-BHMN-kan bukan unit usaha pemerintah, tapi unit-unit sosial pelayanan publik yang sma sekali tak profit-oriented, termasuk juga institusi pendidikan. Sebagai pilot project, beberapa PTN (seperti ITB, UI), di-BHMN-kan, yang nantinya akan diikuti oleh PTN-PTN lain. Sebenarnya, saya sih ngira ini cuma akal-akalan pemerintah yang gak punya duit untuk menyokong rakyatnya di bidang pendidikan. Dengan seenaknya pemerintah melepas tangan: nih, gw BHMN-in, elo inovatif dan cari duit sendiri gih! Husnudzon-nya, pemerintah mengambil keputusan didasari kecenderungan dunia sekarang yang menuntut semua insitusi lebih cepat dan mudah bergerak, termasuk juga lembaga pendidikan. Nggak bisa dikelonin dan dimanja terus pemerintah, tapi udah mulai harus mandiri.

Lanjut…maka dimulailah era baru ITB. Era korporasi ITB. Korporasi (corporation), berasal dari kata corp: body, tubuh. Sedangkan corpse, seperti anda tahu, artinya dead body. Corporation: Biasa digunakan hampir mirip dengan organisasi: kumpulan orang yang berkumpul, dan bisa di anggap suatu “tubuh”. Sekarang, biasa dipakai mengacu pada organisasi perusahaan. Kalo mau lebih spesifik lagi, untuk perusahaan-perusahaan besar. Di era korporasi ini, ITB diberi kebebasan mengembangkan diri. Membuka program-program baru, mengusahakan sumber dana-sumber dana baru. Termasuk juga budaya baru.
Pemimpin yang mengawal ITB di era korporasi ini ialah Kusmayanto Kadiman. Pilihan yang sangat tepat, kalau melihat track record-nya. KK adalah seorang Doktor, akademisi, tapi sempat ‘meninggalkan kampus’ beberapa tahun untuk terjun di dunia bisnis, dunia korporasi. Di biografinya, KK berkisah tentang betapa banyak beliau belajar di dunia industri ini. Pilihan MWA juga tepat, untuk ITB yang lebih korporat, KK adalah pilihan terbaik (lepas dari beberapa ketidaksetujuan, personally saya lumayan kagum ama Pak Kus…).

Dimulailah perubahan-perubahan itu. Brand ITB diganti, dari stempel gajah duduk yang nyeremin jadi tulisan ITB dan lambang gajah disampingnya, dengan warna yang cerah dan bersahabat, biru muda. Budaya-budaya lama: nilai-nilai keluar lama, pengukuran kinerja gak jelas, dll diubah. Dari hasil ngobrol-ngobrol ama Pak Jaji, perubahan juga merembet ke dosen-dosen dan seluruh karyawan, semua diminta lebih gesit, lebih terukur, lebih jelas. ITB tak bisa diperlakukan sama lagi dengan organisasi pemerintahan yang lambat dan birokratis, itb harus menjadi korporasi yang gesit, tangkas dan cepat! Kultur birokrat harus berubah menjadi kultur korporat.

Makanya bisa kita pahami, dari sejak saya masuk, Pak Kus selalu mengumandangkan tentang “kampus gaul”. Dimanapun ia bicara itu. Itulah strategi komunikasinya untuk menunjukkan perubahan ITB menjadi lebih muda dan gesit. Saya ingat, pesan Pak Kus waktu pidato penyambutan di Sabuga: jadilah mahasiswa gaul. Dan, mahasiswa ideal bagi Kusmayanto adalah yang cerdas, gaul dan…kaya.

Bisa kita “pahami” juga, kenapa gerakan pembersihan kampus dimulai. PKL dan kantin-kantin ilegal digusur. Budaya korporat juga harus bisa terlihat secara fisik melalui kampus yang bersih, WC yang tidak mampet (dulu, katanya WC-WC di ITB jorok sekali, sampe-sampe susah buat mahasiswa-nya mencari tempat kencing). Termasuk juga bebas PKL. Bukan tidak bermoral atau tak berpihak pada rakyat kecil, tapi dalam rangka melanjutkan perubahan di ITB, ini tetap mesti dilakukan. (dan saya tak menyatakan kesetujuan saya disini! nanti liat bagian akhir banget dari seri tulisan ini).

(Rasanya, efek perubahan itu baru benar-benar dirasakan pertama oleh angkatan termuda saat itu, 2002. Angkatan saya. Rasanya juga, kultur pasar ini juga mulai banyak dan berkembangnya di 2002…Angkatan yang sial!).

Udah deh, satu bagian dulu. Kalo kepanjangan capek nulis dan bacanya. Nanti dilanjutin lagi.

Saya merasa telah mem-peyorasi-kan makna kata “pasar”. Bukan berarti kata itu tidak baik. Di bisnis, “pasar” adalah yang utama. Sayang, kehidupan kan bukan hanya bisnis…

See, paradigma pasar menjangkiti pemerintah, dan menular ke ITB. Kita tak bisa menolak arus zaman!

…bersambung…

No comments:

Post a Comment