Sunday, September 04, 2005

Identitas

Refleksi pertama dari Pelatihan Kepemimpinan Putra Jawa Barat.
Pertama kali menyadari diri ada di Pelatihan ini, saya merasa sangat jengah. Busyet, gw kagak Sunda banget...Bahasa Sunda yang bener aja kagak bisa, bisanya cuma sunda-sunda kasar and gaul tea...nu teu pararuguh. Sementara yang laen pake kata-kata yang aneh-aneh yang gw baru denger: kawit, wasta, tepang. Gw jadinya sok-sok-an ngerti aja (masak iya nanya untuk tiap kata yang diucapin?), dan mencoba menebak-nebak artinya.

Waduh, bad sign nih...saya ngerasa gak terlalu nyaman disini. Padahal saya ini orang Sunda asli, yang selalu ngerasa biasa aja, gak bangga, gak juga malu. Hal pertama yang saya pikirin adalah masalah ini: identitas.

Saya merasa agak terganggu ketika seorang pembicara bilang begini (waktu itu materi kedua, tentang masalah pertanian di Jawa Barat): Jabar ini tanahnya luas dan subur, tapi belum mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Malah masih harus dikirim dari Jawa atau provinsi lain. Sayang sekali orang Sunda tak bisa menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Atau, yang lebih provokatif: coba ke kampus ***, liat orang mana yang banyak di sana? Bukan Sunda! Coba yang jadi orang-orang kaya di Bandung, banyakan orang mana? Bukan Sunda!

Pertanyaan saya adalah: apa masalahnya? Saya tak merasa bermasalah kalau banyak yang jadi supir angkot adalah orang Batak, yang kuliah di ITB macem-macem, yang mencari penghidupan dan berhasil di tanah Sunda ini bukan hanya orang Sunda. Bukannya sama-sama orang Indonesia? Gak apa-apa, tho? Masih dalam bingkai ke-Indonesia-an. Sama juga gak masalahnya (dan saya gak mau dipermasalahkan!) kalo saya nanti ke Irian Jaya, terus sukses disana.

Baru menjadi masalah, saat ada sistem yang tidak adil disana...Ada sebuah sistem yang memang menindas penduduk asli, seperti yang diperlihatkan pada video di acara malam hari di pelatihan ini, tentang derita petani di Garut. Siapa yang menindasnya? Ah, sama-sama orang Sunda kok...

So, buat apa pelatihan orang Sunda ini? Menyadarkan tentang keadaan orang Sunda yang terpuruk, supaya bisa bangun terus membangun? Terus, membangun apa, untuk siapa, dan apa kebanggaannya bila berhasil? Adakah kebanggaan Sunda?

Rasanya saya tak akan pernah mengerti kalau belum memahami tentang identitas.

Apa identitas saya? Pertama-tama, dan ini terjadi bersamaan: saya adalah manusia-muslim. Menjadi muslim (orang yang berserah diri pada-Nya) adalah menjadi manusia dan menjadi manusia adalah menjadi muslim, yang tak bisa dipisahkan. Ini kalau memang anda muslim, dan percaya Al-Qur’an. Dalam al-A’raaf: 21:

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi"…

Ini adalah identitas yang ontologically right. Benar secara (adi)kodrati, dan melekat dalam tiap jati diri manusia. Maka menjadi aneh kalo ada muslim yang menindas dan tak berperikemanusiaan. Prinsip-prinsip kemanusiaan akan selau sesuai dengan Islam, karena menjadi muslim dan menjadi manusia terjadi bersamaan. Yang tak menyadari kemanusiaannya tak akan menjadi muslim.

Inilah identitas yang given...Bagaimana dengan kesukuan? Bukankah ini juga identitas yang tak bisa ditolak? Benar, tapi suku, adalah identitas pemberian yang bersifat otomatis dalam konstruk buatan manusia. Yang tak mungkin ada kalo tak ada pembedanya: kalo tak ada suku Jawa, Batak, Indian, Maori, dll, tak akan ada dan terdistinguished suku Sunda ini. Ini merupakan buatan, dan terus terwariskan. Karena buatan manusia, maka tak sepantasnya disakralkan atau dianggap lebih. Biasa aja....

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dengan Bangsa Indonesia ini? Bangsa, kata Benedict Anderson, adalah imagined communities. Komunitas berbayang, yang hanya ada dalam pikiran dan imajinasi, tapi membentuk ikatan yang kuat. Orang Papua yang sepakat dengan Indonesia merasa lebih sedih dengan tsunami di Aceh, daripada misalnya ada gempa di Papua Nugini, karena merasa ”sebangsa” dengan orang Aceh, Bangsa Indonesia. Meskipun, secara kesukuan, lebih dekat dengan orang-orang Papua Nugini. Aneh bukan? Tapi itu konsekuensi dari negara-bangsa (yang sebenarnya sekarang sudah luntur…Sekarang yang berlaku adalah “kebangsaan ekonomi”, “kebangsaan uang”).

Nah, gara-gara interaksi saya dengan wacana-wacana kebangsaan, saya merasa lebih terikat dengan Indonesia, dan itulah identitas kedua saya. Ke-Indonesia-an, yang saya tak ingin menyebutnya nasionalisme. Pokoknya Indonesia aja deh! Dan saat saya bikin tulisan ini, saya kesulitan menjelaskannya. Kenapa saya merasa bermasalah kalau ada orang asing yang mengeruk sumber daya Indonesia? Ya saya jawab, ada struktur yang tak adil dalam hubungan antar-bangsa di dunia ini, hubungan negara maju-negara miskin, hubungan Utara-Selatan, hubungan Timur-Barat, hubungan Asia & Afrika- Eropa & Amerika. Lalu kenapa hanya Indonesia? Karena itulah yang paling dekat dengan saya. Dan kenapa Indonesia dekat, padahal kan Aceh secara geografis jauh dari saya (mungkin lebih dekat ke Singapura?). Balik lagi ke imagined communities tadi (waduh, circular logic nih...). Susah menjelaskannya, tapi saya bisa bilang itu karena pengalaman saya. Pengalaman saya yang menumbuhkan kecintaan pada Indonesia ini, setelah menjadi manusia-muslim.

Tapi tetap saja, kecintaan akan Indonesia setelah kesadaran menjadi manusia-muslim. Jadi gimana dengan masalah MoU GAM-NKRI? Saya memilih mengedepankan prinsip kemanusiaan: damai kan lebih baik daripada perang...[Tapi gak rela juga kalo Aceh nantinya pisah...].

Balik lagi tentang masalah Pelatihan Kepemimpinan Putra Jawa Barat tadi...Saya tak mengerti dan tak akan pernah mengerti dengan motifnya (karena saya merasa berbeda, tapi Insya Allah bisa mengerti), tapi saya bisa menghargai dan bersimpati karena usahanya, karena kecintaannya pada tanah Sunda. Itu yang bisa saya katakan dan pahami sekarang ini.

Wallahu a’lam bis showaab.
Dan Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui

3 comments:

  1. kalo gitu dana yang mereka (panitia-red) keluarkan buat ngedoktrin ente gagal donk bos,,salah milih peserta euy..anak yang beginian mah ngincer liburan doank... :p peace bro

    ReplyDelete
  2. Fajar TI'003:14 PM

    hehe...pendapat aditya...mungkin betul mungkin salah..ternyata Lucky bukan nasionalis tp Indonesia-is....dan ternyata...Islamis...saya ngerti ko Ki...sebagai muslim...menurut saya kalo Lucky...merasa dekat dengan Indonesia...yang merasa tidak diberika keadilan oleh negara asing barat atau apa pun mungkin jawa Barat/Sunda juga analog yang penyebabnya memang sulit untuk terdeteksi...baik itu politis atau apapun...begitu juga dgn suku yg lainnya...misalnya suku2 di papua...Jadi saya merasa lebih dekat dengan Jawa Barat/Sunda..kan mulai dari yang kecil...Cag ah!

    ReplyDelete
  3. tentang nasionalisme dan kebanggaan suku bangsa yang semu ini, gw sulit sekali untuk menerimanya...

    kadang cuma jadi media propaganda doank soalnya..

    selama mendukung nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan baru bisa keterima...

    berhubung nilai kebenaran dan kemanusiaan juga dah banyak bergeser dan bernilai ganda...mau gak mau harus balik ke hukum Allah

    ReplyDelete