Tuesday, September 27, 2005

Gerakan Terbuka-Gerakan Tertutup

Dulu, Marx pernah merasa menemukan “Sosialisme Ilmiah”. Ilmiah, katanya, karena mampu meramalkan dengan akurat apa yang akan terjadi. Seilmiah mekanika Newton, yang bila bola dilempar dengan sudut tertentu pada kecepatan tertentu pada sistem tertentu akan diketahui dimana jatuhnya (dan berapa kecepatan jatuhnya? hehehe..inget SPMB dulu...). Klaimnya, kapitalisme akan berkembang, tapi karena sistemnya menghisap, lama-lama nanti akan ada the great decline of capitalism. Saat itulah revolusi proletar dimulai.

Lalu dunia akan adil makmur gemah ripah repeh rapih loh jinawi damai sejahtera sehat sentosa! (Hehehe, marxisme emang analog banget ama agama, ampe ada ramalan besarnya).

Pernahkah itu terjadi? Kapitalisme pasar (entah laissez-faire, campuran/Keynesian, atau yang ‘sosialistis’..apa pula ni ?) memang beberapa kali dilanda krisis. 1930-an : Great Depression (di Kompas kemaren saya baca katanya ada novel yang bagus banget ngegambarinnya : the grapes of wrath. Kalo ada yang punya, asli atau terjemahan, pinjem ya !!). 1970-an : krisis minyak, gara-gara perang Arab-Israel dan tindakan paling berani dari King Faisal, raja Saudi Arabia, yang mengembargo minyak (dan seperti anda tahu, orang baik tak pernah mati lama. Apalagi yang berani. Ia dikhianati dan dibunuh). Harga minyak naik, Frederick Hayek dan school of thought sejenisnya yang emang rada-rada dendam ama Keynes naik daun lagi, di masa Thatcher dan Reagan (pelajaran buat kita: kalau mau pengetahuan/konsep/ilmu/teori/ideologi/apapun yang anda punya berkembang, dekat-dekatlah dengan kekuasaan). Toh, kemajuan dicapai. Perekonomian kapitalis baik-baik saja.

Komunis malah runtuh. Ramalan dukun berjenggot itu gak pernah terbukti.
Kenapa?

Karena kapitalisme adalah sistem yang terbuka. Anda bebas masuk, membawa apa yang anda punya, dan biarkan pasar yang menentukan. Karena terbuka, ia menjadi fleksibel dan mudah beradaptasi. Kata Darwin, yang survive adalah yang adaptif, bukan yang kuat (Mas Yuyut temen saya pasti bete denger ini...).

Seperti sekarang, saat dinilai dunia bisnis makin amoral dan tidak etis, dan kalau begini terus akan hancur, muncul para penyelamatnya. Ada corporate social responsibility. Ada spiritual capital. Ada social responsible investing. Good cororate governance. Kapitalisme menjadi makin emosional, lalu beranjak ke makin spiritual.

Kok jadi bahas kapitalisme? Nggak, gini...Belakangan ini di kampus (bukan hanya ITB) makin rame lagi dengan gerakan-gerakan Islam (Jadi inget, saya pernah punya ide bikin buku atau sejenisnya tentang ”Ragam Islam di ITB”. Ide yang gak pernah konkret!). Komunitas yang menguasai (jelas lah, kalo di marketing, komunitas ini yang menjadi pionir, memasuki pasar kampus dan mahasiswa. Sejak 20 tahun lalu! Silakan baca buku Ali Said Damanik atau Aay M. Furkon biar lebih jelasnya) dan menjadi ”pemimpin pasar” diusik oleh pendatang baru, bercorak sama, dengan sedikit diferensiasi. Pendatang baru ini agresif sekali! Bisa datang dalam beragam bentuk dan kemasan, dari yang namanya paling Islami dan kearab-araban (sebagai major label-nya) hingga yang keliatan paling revolusioner. Yah, disesuaikan dengan mahasiswa target pasar dan minat aktivisnya juga!

Bagaimana hasilnya? (Saya nggak mau berpihak dan tendensius, gak mau juga sok serius. Makanya pake bahasa pasar alias marketing.) Hasilnya cukup baik. Mulai tumbuh dan berkembang. Tapi semestinya bisa lebih baik, kawan...

Sayang sekali, mestinya bisa lebih banyak lagi orang yang anda sadarkan. Mestinya kampus ini bisa penuh dengan kompetisi kesholehan, biarpun beda-beda, tapi sholeh-sholeh. Terinspirasi kata guru saya, jangan menyalahkan kompetitor dong! Ambil pelajaran, meskipun dari ideologi yang sering sekali anda kritik, kapitalisme.

Gerakan yang kedua ini sebenarnya mendarat di Indonesia tak lama sesudah Gerakan sang pionir. Jadi, semestinya hasil yang dicapai juga sedikit banyak sama, atau minimal tak beda jauhlah. Efek ke ummat-nya juga semestinya lebih besar. Tapi kalo yang pionir ini sekarang udah bisa jadi macem-macem, yang kedua ini kok belum ya...Yang pionir ini berhasil menjual produk-produknya (terakhir pada sekitar 9 juta lebih orang), memperkuat brand-nya hingga jadi emotional-cultural-bahkan spiritual-branding, dan bukan hanya buat pengikutnya, tapi juga untuk masyarakat umum. Yang kedua ini brand perception-nya masih sama: ngeri euy...

Yah, mungkin seperti juga sang pionir dulu, gerakan kedua ini masih bisa menghibur diri, ”memang begitulah kita: ghuraba...”. Boleh saja. Tapi menjadi ghuraba tak sama dengan teralienasi.

Yang paling menarik dari gerakan pertama, dan ini pula yang membuat saya yakin gerakan ini bisa terus eksis-membesar-menembus zaman, adalah fleksibilitasnya. Dan sifat ”fleksibel” ini tercantum jelas dalam pemahaman Islam-nya (punten, saya lupa istilah Arabnya). Jadi, sangat terbuka dalam batas tertentu yang masih sesuai nilai Islam. Gerakan pionir ini ialah gerakan yang terbuka. Adaptif. Saat zaman represif, bolehlah sembunyi, biar aman. Begitu ada kesempatan terbuka, kenapa tak dimanfaatkan? Saat sastra remaja atawa teenlit rame, gak pa-pa juga kan kalo gerakan ini ikut masuk? Tak perlulah sekarang berkoar-koar tegakkan khilafah. Yang ada dulu aja benerin (tapi kalo sangat fleksibel juga hati-hati kebablasan...).

Gerakan ini beruntung karena ’fleksibilitas’ memang masuk menjadi salah satu dari sifat Islam-nya. Hal yang tak dimiliki gerakan yang kedua, yang pendekatannya rigid, serba hukum, dan saklek.

Wah, ya sulit bang...kalo gak mau terbuka sih. Zaman akan menggilas anda. Selama masih mau berusaha, mungkin masih akan tumbuh. Tapi kecil...

Ayolah kawan, coba lebih terbuka, adaptif dan strategis...sayang tuh semangatnya!;-p. Kasian banyak umat yang harus diurus. Sudahi ”rivalitas”, jadikan co-opetition. Atau gabung aja sekalian gih, hehehe...

Untuk kawan-kawan yang bersemangat pembebasan!

1 comment: