Tuesday, September 20, 2005

curhatan frustasi tengah malam sunyi sepi...

Mo curhat nih…
Ini jam 12.24 malem, tapi gak mampu tidur…

Gara-gara pop 3 gratis buat g-mail, saya nge-download email-email-nya, tapi cuma yang baru-baru aja (thanx to Igun buat gmail-nya. And google emang top abissss!!!). E-mail-e-mail dari milis-milis dengan penghuni yang canggih-canggih (marketing-club, ekonomi nasional, keuangan, insist, filsafat) jadi terunduh (“unduh” adalah bahasa indonesia untuk “download”…keren ya?). Terus, kan ga perlu online tuh buat bacanya, jadi sempet baca-baca hampir semua.

Ada beberapa postingan, yang sebenarnya juga kadang-kadang fwd-an dari koran atau majalah (yang berarti itu adalah common knowledge, bukan pengetahuan yang aneh atau tersembunyi, tapi kadang-kadang tertutupi karena ketidakpedulian kita), yang bener-bener bikin sedih. Tentang subsidi bbm, tentang kelangkaan bbm & kurang tanggungjawabnya direksi pertamina, tentang hutang LN, tentang pemberian dana kompensasi bbm untuk keluarga miskin, tentang mental inlander, tentang para bandit penjual negara, tentang bandit perampok negara, tentang kelompok Islam yang melegalkan pernikahan sejenis secara fiqih (katanya, yg haram itu sodomi, bukan nikah sesama pria atau wanitanya…), tentang lagi-lagi percakapan gak konkret –tapi menarik!- di milis filsafat, tentang calo dan percaloan di dpr, tentang kekayaan polisi (ada yang 1 T lebih…), tentang TKI/TKW yang secara sistematis diperas di negeri sendiri, tentang pembela atheisme, tentang ribut-ribut gereja tanpa izin, tentang standar ganda beragama, tentang pluralisme yang kadang jadi pembenaran, tentang orang-orang Islam yang hoby nyalah-nyalahin sesama, tentang aborsi dan anti-aborsi, tentang…

Saya hanya bisa bilang: Masya Allah! Astagfirullah!
Dan merasa tak berdaya, paling cuma bisa curhat.

Sedikit merasa bersalah karena aktivitas saya sekarang hanya kuliah, tugas, paling banter ketemu adek-adek mentor nanti...Astagfirullah-astagfirullah-astagfirullah. Jadi teringat, esensi beraktivitas adalah tadhrib amal, latihan beramal. Dan amal berarti membagi pada orang lain, pengabdian, memberi sesuatu. Beramal berarti penerjemahan cinta, keprihatinan dan kasih-sayang menjadi tindakan nyata. Artinya, beraktivitas tak pernah menjadi rutinitas.

Tapi saya mikir lagi...ketika nanti kamu terjun, Lucky, selamat datang di dunia yang telah terkotakkan. Serba rutin-serba sama-serba dituntut. Sekaligus sangat tercerabut. Meributkan program ini yang belum selesai, itu yang dilarang rektor, ”suara kamu gak kedengeran kalo di depan”, ”kerjain laporan ini cepetan”....hampa pemaknaan. Belum lagi ketika udah rame saling menyalahkan. Belum politik dan politicking-nya. Belum gosip-gosipnya. Belum kecurigaan dan prasangka yang ada. Belum kalo ngeliat anak-anak yang asyik sendiri (kayak gw). Belum lagi kalau ngeliat ITB yang sedang bertransformasi jadi ”Institut Modern”, dengan mahasiswanya yang juga ”modern”. Belum lagi dengan ”aktivitas kemahasiswaan” yang aneh-aneh. Belum lagi kalo sadar ada anak yang sok-sok-an (kayak saya ini). Tak ada ruang untuk berhenti, menggali kearifan dan teori, supaya menjadi refleksi. Yang ada hanya aktivisme.

Jadinya bingung.

Saya kira, pesimisme adalah wajar (kalo kayak gini).
Haahhh....
[menarik nafas panjang, mengurut dada, dan mengeluarkannya kembali dengan nestapa]
Bangsaku...bangsaku!
[Diriku...diriku!]

01.07. tidurlah, besok kuliah jam 7....
(tuh kan, egois lagi...).


Dan gw gak kuliah. Padahal matrek, yang katanya ada batas absen. Waduh...
Hari ini GAGAL!!! (tapi besok tidak!!!)

1 comment:

  1. gak usah frustasi gitu dong akhi, dunia belum berakhir :) masih ada hari esok...
    Tapi memang, tidak banyak orang yang sense of crisisnya tinggi di masa sekarang...Semoga idealisme mahasiswa tetap terjaga, ditengah hiruk-pikuk dunia, yang tidak sempurna ini :)

    ReplyDelete